Malam itu udara Surabaya terasa lebih lembab dari biasanya. Hujan deras yang baru saja reda meninggalkan genangan air di sepanjang gang sempit Gang Melati Nomor 7, sebuah kompleks kost sederhana tapi rapi di pinggiran kota, tak jauh dari kampus swasta ternama. Rumah dua lantai berpagar besi hitam itu milik Bu Rina—seorang wanita berusia 42 tahun yang sudah sepuluh tahun terakhir menjadi “ibu kost” bagi puluhan anak muda yang datang dan pergi.
Bu Rina berdiri di teras depan, mengenakan daster batik longgar berwarna biru muda yang sedikit menempel di kulitnya karena keringat dan uap hujan. Rambutnya yang hitam panjang digelung asal ke atas, beberapa helai menempel di lehernya yang putih mulus. Matanya yang sipit tapi tajam menatap ke arah gerbang, menunggu. Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB, dan calon penghuni baru yang dia terima lewat WhatsApp pagi tadi seharusnya sudah sampai.
“Masih lama ya, Bu?” tanya suaminya, Pak Budi, dari dalam rumah sambil menonton berita di TV ruang tamu. Suaranya datar, seperti biasa. Pak Budi, 45 tahun, bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan ekspor-impor di kawasan industri Rungkut. Tiga hari lagi dia harus berangkat dinas ke Jakarta, lagi. Sudah hampir dua bulan ini dia jarang di rumah lebih dari seminggu sekali. Rina sudah terbiasa. Terlalu terbiasa.
“Sebentar lagi, Pak. Katanya lagi di perjalanan dari terminal,” jawab Rina tanpa menoleh. Suaranya lembut, tapi ada nada lelah yang tak bisa disembunyikan.
Dia menghela napas panjang, merapikan dasternya yang agak naik di paha saat angin malam berhembus. Tubuhnya sexy—hasil dari rajin senam pagi dan mengurus kost yang tak pernah sepi. Payudaranya yang besar kenyal tersembunyi di balik bra sport yang dia pakai di dalam daster. Pinggulnya lebar, perutnya rata meski sudah melahirkan satu anak perempuan yang kini kuliah di Malang. Kulitnya kuning langsat, bibirnya tebal alami, dan senyumnya selalu membuat para penghuni kost cowok merasa “nyaman”. Tapi malam ini, entah kenapa, hatinya berdegup sedikit lebih cepat.
Tak lama kemudian, suara motor matic mendekat. Lampu sorotnya menyapu pagar besi. Seorang pemuda turun dari motor, membawa tas ransel besar dan koper kecil. Tingginya sekitar 175 cm, tubuh atletis tapi tidak terlalu besar—hasil dari main basket di kampus lama. Kulitnya sawo matang, rambutnya pendek rapi, wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata yang ramah. Usianya baru 21 tahun. Namanya Riko.
Riko mematikan mesin motor, melepas helm, dan tersenyum lebar saat melihat Bu Rina di teras.
“Bu Rina ya? Maaf telat, Bu. Macet parah di Jalan Raya Darmo,” katanya sambil mendekat, suaranya jernih dan sopan.
Rina tersenyum balik. Senyum yang biasa dia berikan kepada semua penghuni baru—ramah, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Matanya tanpa sadar menelusuri tubuh pemuda itu dari atas ke bawah. Kaos hitam ketat yang basah kena hujan menempel di dada bidangnya. Celana jeans yang sedikit longgar tapi tetap memperlihatkan bentuk paha yang kuat.
“Ndak apa-apa, Nak Riko. Masuk dulu, sudah malam. Ayo, Biar Tante bantu angkat barangnya,” kata Rina sambil melangkah mendekat. Dia sengaja menyebut “Tante” seperti biasa kepada penghuni cowok muda, tapi malam ini kata itu terasa agak aneh di lidahnya sendiri.
Riko menggeleng cepat. 1601Please respect copyright.PENANA4nwxRDV2jm
“Nggak usah, Bu. Berat-berat ini. Saya bisa sendiri.” Tapi Rina sudah mengambil tas ransel kecil yang ringan, jarinya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Riko saat mengambil tali tas. Sentuhan itu hanya sepersekian detik, tapi Rina merasakan hangat kulit pemuda itu. Hangat yang berbeda dari kulit suaminya yang selalu terasa dingin akhir-akhir ini.
Mereka masuk ke dalam rumah. Ruang tamu kost itu sederhana tapi bersih: sofa cokelat tua, meja kayu jati, vas bunga plastik di tengah, dan foto keluarga kecil di dinding—Rina, Budi, dan anak mereka yang masih kecil dulu. Pak Budi bangkit dari sofa, menyapa Riko dengan jabat tangan singkat dan sopan.
“Selamat datang, Nak. Kost ini aman kok. Kalau ada apa-apa bilang ke Bu Rina aja. Saya sering dinas luar kota,” kata Pak Budi sambil tersenyum tipis sebelum kembali duduk di depan TV.
Rina mengantar Riko ke kamar yang sudah disiapkan di lantai dua, kamar nomor 3—kamar paling ujung, dekat tangga, dengan jendela menghadap halaman belakang yang sepi. Kamar itu lumayan luas untuk ukuran kost: kasur single, lemari kecil, meja belajar, kamar mandi dalam, AC, dan kipas angin cadangan. Rina sudah memasang seprai baru berwarna putih bersih dan menaruh vas kecil berisi bunga melati di meja.
“Ini kamarnya, Nak. Kunci ada di laci meja. WiFi passwordnya ‘rinakost123’, sudah Tante tulis di kertas itu. Kalau mau makan malam, Tante masak rendang tadi siang. Bisa ambil di dapur bawah, gratis untuk penghuni baru,” jelas Rina sambil membuka jendela agar angin malam masuk.
Riko meletakkan barang-barangnya, mengusap keringat di dahi. “Makasih banyak, Bu. Tante baik sekali. Saya baru pindah ke Surabaya ini, kuliah semester 5 di UNAIR. Agak bingung cari kost yang nyaman.”
Rina tertawa kecil. Suaranya renyah, seperti lonceng kecil. “Panggil Tante aja, Nak. Semua anak kost di sini panggil gitu. Tante sudah biasa. Kalau ada yang kurang, bilang ya. Tante tinggal di kamar utama lantai bawah, nomor 1. Kalau malam-malam butuh apa-apa, ketuk aja pintunya.”
Mereka berdiri berhadapan di tengah kamar. Jarak mereka hanya satu meter. Rina bisa mencium aroma sabun mandi Riko yang masih segar bercampur keringat perjalanan. Riko juga tanpa sadar menatap leher Rina yang berkeringat tipis, melihat denyut nadi kecil di sana, dan turun sedikit ke belahan dada yang samar-samar terlihat dari kerah daster yang agak longgar.
“Baik, Bu… eh, Tante. Saya langsung beres-beres dulu ya,” kata Riko, suaranya sedikit serak.
Rina mengangguk. “Iya, Nak. Istirahat aja. Besok pagi Tante bikinin sarapan. Ada roti bakar sama telor ceplok, suka?”
“Suka banget, Tante.”
Rina berbalik hendak keluar, tapi langkahnya terhenti sejenak di pintu. Dia menoleh lagi. “Oh iya, Nak Riko… kalau cuci baju, mesin cuci ada di belakang. Tante biasa bantu cuciin kalau anak kost lagi sibuk ujian. Gratis kok.”
Riko tersenyum. “Wah, Tante beneran baik. Makasih banyak.”
Malam itu, setelah Rina turun kembali ke lantai bawah, dia merasa tubuhnya agak panas. Pak Budi sudah tidur di kamar mereka, mendengkur pelan seperti biasa. Rina duduk di meja makan, menuang air putih dingin ke gelas. Pikirannya melayang ke pemuda di lantai atas. Masih muda sekali… energinya pasti beda, gumamnya dalam hati. Dia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran itu. Apa-apaan sih, Rin. Dia anak kost. Kamu sudah punya suami.
Tapi suaminya… sudah berbulan-bulan ini jarang menyentuhnya. Dinas luar kota yang semakin sering, alasan capek, alasan ini itu. Rina sudah terbiasa tidur sendirian, memeluk bantal, kadang-kadang tangannya sendiri yang harus bekerja di bawah selimut saat malam terlalu sepi.
Sementara itu, di kamar nomor 3, Riko sedang membongkar barang. Dia melepas kaosnya, tubuh atasnya terlihat di cermin—dada bidang, perut six-pack samar karena rajin gym kampus. Dia tersenyum sendiri mengingat Bu Rina. Cantik banget buat ukuran ibu-ibu, pikirnya. Lebih mirip kakak kelas yang hot daripada ibu kost. Dia menggeleng, mencoba fokus. Besok ada orientasi mata kuliah baru. Dia harus istirahat.
Malam semakin larut. Hujan kembali turun tipis-tipis. Suara tetesan air di genteng menjadi irama pelan yang menenangkan seluruh rumah kost. Hanya ada empat kamar yang terisi saat ini: dua cowok di lantai bawah, satu cewek di lantai dua sebelah kamar Riko, dan kamar Riko sendiri. Rumah terasa sepi.
Pukul 23.15, Rina belum bisa tidur. Dia bangkit dari kasur, mengenakan kardigan tipis di atas daster, dan naik ke lantai atas dengan alasan “memeriksa apakah AC di kamar Riko nyala”. Padahal AC sudah dia cek tadi. Kakinya tanpa suara menapaki tangga kayu yang sudah familiar. Di depan pintu kamar nomor 3, dia berhenti. Cahaya dari bawah pintu masih menyala. Riko belum tidur.
Rina mengetuk pelan. “Nak Riko? Masih bangun? Tante cek AC-nya aja, takut rusak.”
Dari dalam terdengar suara Riko yang agak terkejut. “Oh, iya Tante. Masuk aja, nggak dikunci.”
Rina mendorong pintu perlahan. Riko sedang duduk di meja belajar, hanya memakai celana pendek olahraga hitam dan kaos oblong tipis. Rambutnya masih agak basah setelah mandi malam. Bau sabun mandi Dove yang dia pakai menyebar di kamar.
“AC-nya nyala kok, Tante. Dingin banget malah,” kata Riko sambil berdiri, tersenyum.
Rina pura-pura memeriksa remote AC, mendekat ke arah pemuda itu. Jarak mereka semakin dekat. Dada Rina hampir menyentuh lengan Riko saat dia meraih remote di meja. Riko bisa mencium parfum Rina yang manis, campuran sabun colek dan sedikit keringat malam.
“Bagus kalau sudah nyaman,” kata Rina pelan. Suaranya lebih lembut dari biasanya. “Kalau ada apa-apa… Tante selalu ada di bawah. Jangan sungkan ya, Nak.”
Riko menatap mata Rina. Ada sesuatu di tatapan itu—kehangatan yang bukan sekadar keramahan ibu kost. “Iya, Tante. Makasih banyak. Tante… baik sekali.”
Mereka diam sejenak. Hanya suara hujan dan dengkuran AC yang mengisi ruangan. Rina merasa jantungnya berdegup kencang. Dia mundur selangkah, tapi tangannya tanpa sengaja menyapu lengan Riko. Kulit pemuda itu terasa keras dan hangat.
“Ya sudah, Tante turun dulu. Selamat malam, Nak Riko. Mimpi indah ya,” kata Rina sambil tersenyum, matanya sedikit menunduk malu.
“Selamat malam, Tante Rina.”
Rina menutup pintu pelan. Saat berbalik di koridor, dia menyandarkan punggungnya ke dinding sejenak, menarik napas dalam-dalam. Apa yang kamu lakukan, Rin? batinnya. Tapi senyum kecil muncul di bibirnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia merasa… hidup.
Di kamarnya sendiri, Pak Budi masih mendengkur pulas. Rina berbaring di sampingnya, mematikan lampu, tapi matanya terbuka lebar menatap langit-langit. Pikirannya melayang ke lantai atas, ke kamar nomor 3, ke pemuda yang baru saja dia temui beberapa jam lalu. Tubuh muda itu, senyum itu, sentuhan tak sengaja itu.
Sementara Riko di atas, setelah Rina pergi, dia berbaring di kasur. Tangannya diletakkan di dada. Dia tersenyum sendiri. Bu Rina… beda dari ibu-ibu kost lain. Dia memejamkan mata, tapi gambar wanita itu masih terbayang di balik kelopaknya—daster biru muda yang sedikit menempel di tubuh, leher yang putih, dan senyum yang membuat dadanya terasa hangat.
Malam pertama Riko di kost itu berlalu dengan hujan yang semakin reda. Tapi di dalam hati dua orang yang berbeda generasi itu, sesuatu mulai tumbuh. Pelan, diam-diam, seperti bibit yang ditanam di tanah basah setelah hujan.
Pagi harinya, matahari Surabaya muncul terang. Rina sudah bangun sejak jam 05.30, seperti biasa. Dia memasak sarapan di dapur: roti bakar, telur ceplok, sambal terasi, dan teh manis hangat. Aroma masakan menyebar ke seluruh rumah. Satu per satu penghuni kost turun—dua cowok dari lantai bawah, cewek dari kamar sebelah Riko. Lalu Riko muncul di tangga, masih mengenakan kaos oblong dan celana pendek, rambut acak-acakan tapi tetap tampan.
“Pagi, Tante,” sapanya ramah, matanya langsung bertemu dengan mata Rina yang sedang menuang teh.
“Pagi, Nak Riko. Duduk sini. Sarapan dulu sebelum berangkat kuliah,” jawab Rina sambil menaruh piring di depannya. Jarinya lagi-lagi menyentuh punggung tangan Riko saat meletakkan piring. Kali ini lebih lama sedikit.
Riko duduk. Mereka makan bersama di meja panjang dapur. Obrolan ringan mengalir: tentang kuliah Riko, tentang kota Surabaya yang panas, tentang kost-kost lain yang pernah dia tinggali. Rina tertawa saat Riko bercerita lucu tentang teman sekamarnya dulu yang suka ngorok. Tawa Rina renyah, membuat garis-garis halus di sudut matanya terlihat—tanda usia yang justru membuatnya semakin menarik di mata Riko.
Pak Budi sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Hanya ada mereka berdua di meja saat penghuni lain sudah selesai makan dan kembali ke kamar masing-masing. Rina membersihkan meja, membungkuk sedikit saat mengambil piring kotor. Dasternya naik sedikit, memperlihatkan paha mulusnya yang putih. Riko menelan ludah, cepat mengalihkan pandangan ke gelas tehnya.
“Tante… kalau saya boleh bantu cuci piring?” tanya Riko tiba-tiba, berdiri di samping Rina di depan wastafel.
Rina menoleh, tersenyum. “Nggak usah, Nak. Kamu tamu baru. Biar Tante aja.”
“Tapi Tante sudah masakin sarapan. Saya bantu dong, biar adil,” kata Riko sambil mengambil spons cuci piring. Mereka berdiri berdampingan. Bahu Riko menyentuh bahu Rina. Tubuh mereka hampir bersentuhan. Rina bisa merasakan panas tubuh pemuda itu. Riko bisa mencium aroma shampoo Rina yang masih menempel di rambutnya.
Mereka mencuci piring dalam diam yang nyaman. Sesekali jari mereka bersentuhan di bawah air mengalir. Rina merasa ada getar kecil di perutnya setiap kali itu terjadi. Riko merasa jantungnya berdegup lebih cepat.
“Selesai,” kata Riko akhirnya, menyeka tangan dengan lap piring.
Rina menatapnya lama. “Makasih ya, Nak. Kamu anak baik.”
Riko tersenyum. “Tante juga… orangnya baik banget. Saya senang pindah ke sini.”
Mata mereka bertemu lagi. Kali ini lebih lama. Tak ada kata-kata. Hanya senyum kecil yang saling terbalas. Rina merasa pipinya sedikit memanas. Dia cepat membalikkan badan, pura-pura menyimpan piring ke rak.
“Ya sudah, Nak Riko berangkat kuliah sana. Hati-hati di jalan ya,” katanya pelan.
“Iya, Tante. Sampai jumpa nanti sore.”
Riko berjalan menuju motornya di halaman. Rina mengantar sampai teras, berdiri di sana sampai motor Riko menghilang di ujung gang. Angin pagi meniup dasternya, membuat kain tipis itu menempel di tubuhnya. Dia menyilangkan tangan di dada, merasakan detak jantung yang masih cepat.
Hari pertama Riko di kost itu berlalu seperti biasa. Kuliah, makan siang di kantin kampus, pulang sore. Tapi setiap kali dia melewati ruang tamu atau dapur, ada Bu Rina yang selalu menyapa dengan senyum hangat. Sore itu, Rina sedang menyiram tanaman di halaman belakang saat Riko pulang. Kaos Riko basah kena keringat, menempel di tubuhnya. Rina berdiri di dekat pagar, menyiram bunga mawar dengan selang air. Air menyiprat sedikit ke dasternya, membuat kain itu semakin menempel di dada dan perutnya.
“Capek ya, Nak? Mau minum es jeruk? Tante baru buat,” tawar Rina.
Riko mengangguk. Mereka duduk berdua di teras belakang, di kursi bambu panjang. Angin sore bertiup sepoi-sepoi. Obrolan mereka mengalir lagi—kali ini lebih dalam. Riko bercerita tentang keluarganya di Malang, tentang ayahnya yang sudah meninggal, tentang ibunya yang sendirian. Rina mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menyentuh lengan Riko saat menghibur.
“Kamu kuat ya, Nak. Tante salut,” kata Rina lembut. Tangannya masih berada di lengan Riko lebih lama dari yang seharusnya.
Riko menatapnya. “Tante juga… pasti banyak yang Tante tanggung sendiri. Pak Budi sering dinas kan?”
Rina menghela napas. “Iya… sudah biasa. Kadang sepi juga rumah ini.”
Hening sejenak. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit jingga. Cahaya jingga itu menyinari wajah Rina, membuat kulitnya terlihat semakin glowing. Riko merasa ada tarikan aneh di dadanya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri.
Malam harinya, setelah makan malam bersama semua penghuni, Rina naik lagi ke lantai atas dengan alasan “mengecek kamar mandi”. Dia mengetuk pintu Riko. Kali ini Riko sedang belajar, kacamata tipis di hidungnya membuatnya terlihat lebih intelek.
“Masuk, Tante,” kata Riko.
Rina masuk, membawa sepiring potong buah pepaya dan semangka. “Tante bawain ini. Biar tambah semangat belajarnya.”
Mereka duduk di tepi kasur. Riko mengambil potongan buah, jarinya menyentuh jari Rina saat mengambil garpu kecil. Mereka berbincang tentang kuliah, tentang mimpi Riko menjadi arsitek, tentang bagaimana Rina dulu juga pernah kuliah di Surabaya sebelum menikah muda.
“Waktu itu Tante umur 22, langsung nikah sama Pak Budi. Sekarang sudah 20 tahun lebih,” cerita Rina pelan, matanya agak menerawang. “Kadang ngerasa… masih muda di hati, tapi badan sudah ini-ini.”
Riko menatapnya. “Tante masih cantik kok. Beneran. Banyak yang salah kira Tante kakaknya penghuni kost.”
Rina tertawa malu, pipinya merona. “Kamu bisa aja. Tante kan sudah tua.”
“Bukan tua, Tante. Justru… matang. Cantiknya beda.”
Kata-kata itu keluar begitu saja. Riko sendiri agak kaget. Rina menunduk, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Udara di kamar terasa lebih hangat meski AC menyala.
Rina bangkit perlahan. “Ya sudah, Tante turun dulu. Jangan begadang ya belajarnya. Besok pagi sarapan lagi bareng.”
“Iya, Tante.”
Di pintu, Rina berhenti sejenak. “Nak Riko…”
“Ya, Tante?”
“Terima kasih ya… sudah mau dengerin cerita Tante tadi. Jarang ada yang mau denger.”
Riko berdiri, mendekat satu langkah. “Kapan pun Tante mau cerita, saya ada. Kamar ini deket kok.”
Mereka berdiri sangat dekat. Napas mereka bercampur. Rina bisa merasakan panas tubuh Riko. Riko bisa melihat bulu mata Rina yang panjang. Tangan Rina terangkat sedikit, seolah ingin menyentuh dada Riko, tapi akhirnya hanya merapikan kerah kaos pemuda itu.
“Selamat malam, Nak.”
“Selamat malam, Tante Rina.”
Pintu tertutup. Rina turun tangga dengan langkah pelan, tangan kanannya memegang dada. Jantungnya berdegup kencang seperti remaja. Di kamar bawah, Pak Budi sudah tidur lagi, tas kerjanya sudah dikemas untuk dinas besok pagi.
Rina berbaring, mematikan lampu, tapi tak bisa memejamkan mata. Dia membayangkan wajah Riko, senyumnya, suaranya yang lembut, tubuh mudanya yang penuh energi. Tangan Rina turun perlahan ke perutnya, lalu lebih bawah, tapi dia menghentikan diri. Belum, Rin. Belum… batinnya.
Sementara di lantai atas, Riko juga tak bisa tidur. Dia menatap langit-langit kamar, mengingat sentuhan jari Rina, aroma tubuhnya, tatapan matanya yang penuh rahasia. Dia tersenyum dalam gelap. Ini baru hari pertama…
Dan begitulah awal dari sesuatu yang tak terduga di kost kecil di Gang Melati Nomor 7. Sebuah tarikan yang pelan, diam-diam, tapi semakin kuat setiap harinya. Rina tak tahu bahwa di balik keramahannya sebagai ibu kost, ada kerinduan yang selama ini dia kubur dalam-dalam. Riko tak tahu bahwa di balik sikap sopannya sebagai penghuni baru, ada ketertarikan yang semakin hari semakin sulit dibendung.
Bab pertama ini baru permulaan. Besok, lusa, dan seterusnya… cerita mereka baru akan benar-benar dimulai. Saat Pak Budi berangkat dinas panjang, saat rumah kost semakin sepi, saat sentuhan tak sengaja menjadi semakin sering, dan saat batas antara “ibu kost” dan “wanita yang kesepian” mulai kabur.
ns216.73.216.105da2


