Malam Sabtu itu, setelah Ibu berbisik di teras belakang bahwa besok dia mau mencoba “rasain kontol kamu dengan mulut… cuma ujungnya dulu”, aku hampir tidak bisa tidur sama sekali. Dewi tidur sangat pulas di sebelahku, perutnya yang sudah sangat besar naik-turun pelan, sesekali bayi di dalamnya menendang pelan. Aku berbaring telentang, kontolku tegang sepanjang malam hanya karena membayangkan bibir Ibu yang lembut menyentuh kepala kontolku. Aku tidak berani mengocok sendiri. Aku ingin menyimpan semuanya untuk besok malam.
Minggu pagi, cuaca Surabaya kembali panas dan lembab. 4609Please respect copyright.PENANAllTvBC4brH
Hujan semalam membuat tanah halaman basah, aroma tanah bercampur bau masakan dari dapur. Ibu sudah bangun lebih awal, memasak bubur untuk Dewi yang semakin sering mual di pagi hari. Saat aku turun ke bawah, Ibu sedang mengaduk bubur di kompor. Dasternya longgar seperti biasa. Saat dia membungkuk mengambil mangkuk, belahan dadanya terlihat dalam. Matanya sebentar bertemu denganku, ada senyum kecil yang malu-malu tapi penuh arti.
“Ko, sarapan dulu. Ibu buatin nasi goreng spesial pagi ini,” katanya pelan, suaranya biasa saja di depan Dewi yang baru turun dari kamar.
Sepanjang hari, ketegangan terasa seperti listrik di udara. Dewi banyak tidur siang di sofa ruang tamu karena pinggangnya semakin pegal. Ibu membersihkan rumah dengan gerakan biasa, tapi setiap kali kami lewat berdekatan di koridor sempit atau di dapur, bahu kami hampir bersentuhan dan pandangan kami saling mengunci beberapa detik lebih lama. Aku bisa mencium aroma sabun mandi Ibu yang manis, campur bau keringat ringan karena cuaca panas. Kontolku sering setengah tegang seharian.
Sore hari hujan deras kembali turun, membuat rumah terasa lebih pengap. Dewi naik ke kamar lebih awal karena capek dan mau istirahat panjang. Jam delapan malam, rumah sudah sunyi. Hanya suara hujan deras yang mengguyur atap dan selokan di luar. Aku duduk di ruang tamu pura-pura nonton TV, tapi pikiranku melayang ke kamar mandi bawah.
Jam 10.25 malam, aku turun pelan-pelan. Kamar mandi bawah sudah gelap. Aku masuk, menutup pintu tapi sengaja meninggalkan celah kecil, mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu emergency yang cahayanya samar kekuningan. Aku duduk di kloset, celana pendek diturunkan sampai mata kaki. Kontolku sudah berdiri tegak sempurna, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap karena precum yang sudah keluar banyak sejak sore.
Pintu kamar mandi bergerak pelan. Ibu masuk tanpa suara. Malam ini dia pakai daster tidur tipis warna merah marun yang sudah sangat familiar. Rambutnya terurai panjang sampai pinggang. Wajahnya merah, bibirnya sedikit basah. Dia berdiri di depanku, jarak hanya sekitar 50 cm.
“Ko… malam ini Ibu mau coba seperti yang Ibu bilang kemarin,” bisik Ibu dengan suara gemetar tapi penuh tekad.4609Please respect copyright.PENANAdCYzzG8N26
“Ibu mau rasain kontol kamu dengan mulut. Cuma ujungnya dulu… pelan-pelan. Ibu belum berani semuanya.”
Aku mengangguk, napasku sudah memburu. 4609Please respect copyright.PENANAWtgb0KVsBI
“Iya, Ibu… lakukan sesuka Ibu. Saya siap.”
Ibu menarik napas dalam-dalam. Tangan kanannya naik ke kerah daster, membuka beberapa kancing lagi sampai dada terbuka lebar. Payudara besarnya yang montok langsung terbebas, bergoyang pelan. Puting cokelat tuanya sudah keras menonjol. Dia tarik daster lebih rendah lagi sampai pinggang, memperlihatkan perut rata dan pinggul lebar. Celana dalam tipis putihnya sudah basah sekali di tengah, garis memeknya terlihat jelas karena kain yang menempel.
Ibu berlutut pelan di lantai kamar mandi yang dingin. Lututnya menyentuh ubin. Wajahnya sekarang tepat di depan kontolku yang tegang. Napasnya yang hangat menerpa kepala kontolku, membuatnya berdenyut lebih keras. Ibu memandang kontolku dari jarak sangat dekat, matanya lebar penuh kekaguman dan nafsu.
“Ya Tuhan… dari dekat begini… kontol kamu benar-benar besar dan indah, Ko,” bisik Ibu. 4609Please respect copyright.PENANAVq1OWGCbPw
“Kepalanya besar sekali… dan sudah basah.”
Tangan kanan Ibu memegang pangkal kontolku dengan lembut. Dia angkat batangnya sedikit ke arah mulutnya. Bibirnya yang tebal dan merah muda mendekat perlahan. Pertama, hanya hembusan napas hangatnya yang menyentuh kepala kontol. Kemudian, bibir bawahnya menyentuh ujung kepala kontolku dengan sangat pelan, seperti ciuman ringan.
Sentuhan pertama bibir itu membuat seluruh tubuhku menggigil. “Ahh… Ibu…”
Ibu tersenyum malu, lalu lidahnya keluar sedikit. Ujung lidahnya yang basah dan hangat menyentuh lubang kecil di kepala kontol, menjilat precum yang keluar pelan. Rasa asin itu membuat Ibu mendesah pelan di tenggorokannya. 4609Please respect copyright.PENANAgL3rXt1zvB
“Enak… asin sedikit,” gumamnya pelan.
Kemudian Ibu membuka mulutnya lebih lebar. Bibirnya melingkari kepala kontolku dengan hati-hati, hanya ujungnya saja yang masuk ke dalam mulut hangatnya.4609Please respect copyright.PENANAxhbOVyKP4r
Mulut Ibu sangat basah, lidahnya bergerak pelan di bawah kepala kontol, memutar-mutar mengelilingi mahkota yang sensitif. Dia tidak langsung menelan dalam, hanya mengulum ujungnya sambil tangan kanannya mengocok batang pelan.
“Mmhh…” desah Ibu di mulutnya, suara itu teredam karena mulutnya penuh dengan kepala kontolku. Getaran suaranya membuat sensasi semakin enak.
Aku memegang pinggiran kloset dengan tangan kuat, menahan diri agar tidak mendesah terlalu keras.4609Please respect copyright.PENANAnqytJmG5jK
“Ibu… enak sekali… mulut Ibu hangat banget…”
Ibu semakin berani. Dia masukkan kepala kontol lebih dalam sedikit, sekitar 3-4 cm, lalu keluar lagi. Lidahnya terus bekerja, menjilat dari bawah ke atas, memutar di sekitar kepala. Sesekali dia hisap pelan, membuat bunyi “slurp” kecil yang basah. Tangan kirinya memegang bola zakarku, meremasnya lembut, merasakan beratnya yang penuh sperma.
Kami begitu selama hampir 25 menit. Ibu mencoba ritme yang berbeda: kadang mengulum pelan sambil lidah berputar, kadang hisap lebih kuat sebentar, lalu keluar dan menjilat sepanjang batang kontol dari bawah sampai atas. Matanya sesekali naik menatap mataku, penuh nafsu dan sedikit malu. Payudaranya yang besar bergoyang pelan setiap gerakan kepalanya maju mundur.
“Ko… kontol kamu terlalu besar… Ibu cuma bisa ujungnya dulu,” katanya saat sebentar melepas mulutnya. Air liurnya menetes dari bibir ke kepala kontolku, membuatnya semakin mengkilap.
Aku mengangguk,4609Please respect copyright.PENANA4RjxqT7USV
“Iya, Ibu… pelan saja. Jangan dipaksa.”
Ibu kembali mengulum. Kali ini dia lebih dalam sedikit, hampir setengah batang masuk ke mulutnya. Tenggorokannya terasa sempit dan hangat. Dia agak tersedak pelan, tapi tidak mundur. Malah dia tahan dan terus menggerakkan kepala naik-turun dengan ritme stabil. Tangan kanannya mengocok bagian yang tidak masuk ke mulut.
Desahanku semakin sulit ditahan. 4609Please respect copyright.PENANA7pKIbtYlVt
“Ahh… Ibu… saya sudah dekat…”
Ibu tidak melepas. Malah dia mengocok lebih cepat dan mengulum lebih erat. Lidahnya menekan kuat di bawah kepala kontol. Aku merasakan klimaks mendekat dengan cepat.
“Ibu… saya mau keluar… di mulut Ibu boleh?” tanyaku dengan suara tersengal.
Ibu hanya menggumam 4609Please respect copyright.PENANAZbujy45Yao
“Mmmhh…” tanpa melepas mulutnya. Itu artinya ya.
Tubuhku menegang keras. “Ahhhh… Ibuuu!!” Sperma putih kental muncrat pertama kali langsung ke dalam mulut Ibu. Ibu tersentak sedikit tapi tetap mengulum. Muncratan kedua, ketiga, keempat… banyak sekali karena sudah ditahan seharian. Beberapa sperma lolos dari sudut bibir Ibu, menetes ke payudaranya yang telanjang. Ibu menelan sebagian besar dengan susah payah, tenggorokannya bergerak naik-turun. Dia terus mengulum pelan sampai denyutan kontolku berhenti, membersihkan sisa-sisa dengan lidahnya.
Setelah selesai, Ibu melepas mulutnya pelan. Bibirnya basah oleh campuran air liur dan sperma. Dia memandang kontolku yang masih setengah tegang, lalu tersenyum malu sambil mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan.
“Panas… dan banyak sekali, Ko,” bisik Ibu dengan suara serak.4609Please respect copyright.PENANAte6WgQ5o5L
“Ibu… Ibu belum pernah rasain yang segini banyak.”
Dia berdiri pelan, lututnya agak goyah. Dasternya masih terbuka lebar, payudaranya basah oleh tetesan sperma yang jatuh tadi. Ibu mengusap sperma itu dengan jari lalu menjilatnya pelan sambil memandangku.
“besok malam kita bicara di teras lagi,” katanya pelan. Sebelum keluar, dia mencondongkan tubuh dan mencium keningku sebentar — ciuman pertama yang lembut dan penuh kasih sayang campur nafsu.
Aku duduk lemas di kloset, membersihkan lantai dan kontolku. Mulut Ibu terasa luar biasa. Hangat, basah, dan penuh perhatian. Tapi nafsu kami semakin tidak terkendali.
Keesokan harinya, Senin, obrolan malam di teras belakang menjadi lebih panas dari biasanya. Hujan deras lagi. Ibu duduk sangat dekat, lutut kami bersentuhan. Dia cerita dengan suara pelan betapa dia merasa bersalah tapi juga sangat terangsang semalaman. “Mulut Ibu masih terasa penuh sama kontol kamu, Ko. Rasanya asin dan panas… Ibu basah sekali sampai pagi,” akunya malu-malu.
Aku cerita betapa enaknya lidah Ibu yang lincah. Kami saling cerita fantasi yang semakin liar.
Selasa malam, oral Ibu sudah lebih berani. Di kamar mandi, Ibu berlutut lagi, buka daster sampai pinggul. Dia masukkan kontolku lebih dalam ke mulutnya, hampir tiga perempat batang. Dia belajar menahan muntah, lidahnya bekerja lebih mahir. Kali ini aku berani memegang rambut Ibu pelan sambil dia menyepong. Ibu mendesah di mulutnya setiap kali aku mendesah.
Rabu malam, Ibu sudah berani mencoba deepthroat sebentar-sebentar meski tersedak. Air liurnya menetes banyak ke payudaranya. Saat aku muncrat, Ibu menelan semuanya tanpa tumpah, lalu menjilat kontolku bersih dari pangkal sampai ujung.
Kamis malam, ritual oral semakin lama. Ibu menyepong sambil meremas payudaranya sendiri, sesekali memandang mataku dengan mata setengah terpejam. Aku berani menyentuh payudara Ibu sambil dia menyepong, memilin putingnya pelan. Ibu mendesah lebih keras di mulutnya.
Jumat malam, Dewi tidur sangat pulas karena obat. Di kamar mandi, Ibu berlutut lebih lama. Dia coba variasi: menyepong cepat, lambat, hanya ujung, sampai pangkal. Saat aku hampir keluar, Ibu bilang, “Keluar di mulut Ibu lagi, Ko… Ibu suka rasanya sekarang.”
Muncratanku lagi-lagi banyak, dan Ibu menelan dengan lahap.
Sabtu malam berikutnya, setelah hampir seminggu oral pertama, Ibu duduk di teras dengan napas memburu. “Ko… Ibu sudah tidak tahan lagi. Besok malam… Ibu mau coba yang lebih. Ibu mau rasain kontol kamu di memek Ibu. Tapi pelan-pelan… kita lihat nanti apakah Ibu berani.”
Ketegangan sudah mencapai puncak. Dewi semakin dekat dengan hari persalinan, semakin sering tidur nyenyak. Sementara di lantai bawah, perselingkuhan kami sudah masuk tahap oral yang intens, dan sekarang siap melangkah ke penetrasi pertama.
Perselingkuhan terlarang ini semakin dalam, semakin panas, dan semakin sulit dihentikan.
ns216.73.216.105da2


