Malam itu, setelah Ibu berjanji akan “buka daster sedikit lebih” besok malam, aku hampir tidak bisa tidur. Dewi mendengkur pelan di sebelahku, perutnya yang besar terasa hangat saat menyentuh lenganku. 4797Please respect copyright.PENANAzUH9bi6gWx
Tapi pikiranku jauh di lantai bawah. Aku membayangkan Ibu membuka daster tipisnya, memperlihatkan payudara besarnya yang sudah lama aku impikan, dan mungkin… memeknya yang sudah basah karena melihat kontolku. Kontolku tegang sepanjang malam, tapi aku tahan. Besok malam adalah malam yang ditunggu.
Minggu pagi datang dengan cuaca cerah setelah hujan semalam. Rumah terasa lebih pengap karena kelembaban Surabaya. Ibu sudah di dapur sejak pagi, memasak bubur ayam untuk Dewi yang masih sering mual. Saat aku turun, Ibu menyambutku dengan senyum biasa, tapi matanya ada kilatan nakal yang hanya aku pahami.
“Ko, sarapan. Ibu buatin telur mata sapi seperti biasa,” katanya sambil meletakkan piring. Saat membungkuk, belahan dada dasternya sedikit terbuka. Aku bisa melihat garis putih payudaranya. Aku cepat alihkan pandangan karena Dewi sudah turun juga.
Sepanjang hari, ketegangan terasa di udara. Dewi banyak tidur siang karena capek. Ibu membersihkan rumah dengan gerakan biasa, tapi setiap kali kami berpapasan di koridor atau dapur, pandangan kami bertemu lebih lama. Sore hari, saat hujan rintik mulai turun lagi, Ibu berbisik pelan saat lewat di belakangku, 4797Please respect copyright.PENANAnPCWFKDGED
“Malam ini, jam sepuluh lewat. Ibu siap.”
Aku hanya mengangguk, jantungku berdegup keras.
Malam itu, Dewi naik ke kamar lebih awal karena besok ada kontrol ke dokter. Jam 10.20 malam, rumah sudah sunyi total. Hujan deras mengguyur atap, membuat suara yang menenangkan sekaligus menutupi segala desahan. Aku turun ke kamar mandi bawah, mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu emergency yang samar. Aku duduk di kloset, celana pendek diturunkan. Kontolku sudah tegang penuh, berdenyut menunggu.
Pintu kamar mandi bergerak pelan. Ibu masuk. Malam ini dia pakai daster tidur yang sama, tapi terlihat lebih longgar di bagian depan. Rambutnya terurai, wajahnya sudah merah. Dia berdiri di depanku, jarak hanya sekitar 60 cm.
“Ko… seperti janji Ibu kemarin,” bisik Ibu dengan suara gemetar. 4797Please respect copyright.PENANA2KUzGzKyi4
“Ibu buka daster sedikit lebih. Kamu lihat semuanya. Tapi… masih jangan sentuh dulu ya.”
Aku mengangguk cepat. 4797Please respect copyright.PENANAatHnmkjCpv
“Iya, Ibu.”
Ibu menarik napas panjang. Tangan kanannya naik ke kerah daster. Pelan sekali, dia tarik kain itu ke bawah. Satu tombol dilepas, lalu dua. Daster terbuka lebar di bagian dada. Payudara Ibu yang besar dan berat langsung terbebas hampir sepenuhnya. Dua buah payudara montok berwarna kuning langsat muncul di depan mataku. Putingnya cokelat tua, sudah keras dan menonjol karena nafsu. Payudaranya bergoyang pelan saat Ibu bernapas. Ukuran DD atau lebih, masih kencang meski usia 43 tahun.
Ibu terus menarik daster ke bawah sampai pinggang. Sekarang seluruh tubuh bagian atasnya telanjang. Perutnya yang rata meski pernah melahirkan, pinggang ramping, dan pinggul lebar terlihat jelas. Dia tarik daster lebih rendah lagi, sampai ke paha. Celana dalam tipis putih yang dia pakai sudah basah di tengah. Garis memeknya terlihat samar karena kain yang menempel karena cairan.
Ibu membuka kaki sedikit.4797Please respect copyright.PENANAb6QhFEAJ4I
“Lihat, Ko… ini memek Ibu. Sudah basah sekali karena lihat kontol kamu setiap malam.”
Aku menelan ludah. Kontolku berdenyut keras. Aku mulai mengocok pelan sambil memandang tubuh telanjang Ibu dari atas ke bawah. Payudara besar itu naik-turun, putingnya semakin keras. Memeknya yang ditutupi bulu halus tipis terlihat mengkilap karena basah.
“Bagus sekali, Ko… kocok kontol kamu sambil lihat Ibu,” bisik Ibu. Matanya tidak lepas dari kontolku yang naik-turun di tanganku.
Gerakanku semakin cepat. Bunyi basah kocokan terdengar jelas. Ibu memandang dengan lapar, tangannya memegang pinggiran daster yang terbuka, seolah menahan diri agar tidak meremas payudaranya sendiri.
Setelah beberapa menit, Ibu maju selangkah lebih dekat.4797Please respect copyright.PENANAc1bFfwrsOa
“Ko… malam ini Ibu mau coba sentuh. Tapi pelan-pelan ya.”
Jantungku hampir copot. 4797Please respect copyright.PENANABTkZlarYVK
“Iya, Ibu… pelan saja.”
Ibu mengulurkan tangan kanannya dengan gemetar. Jari-jarinya yang lembut dan hangat pertama kali menyentuh paha dalamku, dekat bola zakarku. Sentuhan itu seperti listrik. Aku menggigil. Ibu tersenyum malu, lalu jarinya naik pelan, menyentuh bola zakarku yang berat. Dia memegangnya lembut, merasakan beratnya.
“Besar sekali… penuh sperma,” gumam Ibu pelan.
Kemudian tangannya naik ke batang kontolku. Dia tidak langsung pegang erat, tapi jari telunjuk dan jempolnya menyentuh urat-urat yang menonjol. Sentuhan pertama itu membuat kontolku melonjak. Ibu terkesiap pelan.
“Panas… dan tebal,” bisiknya. Matanya penuh kekaguman.
Aku berhenti mengocok, membiarkan Ibu menjelajah. Tangan Ibu sekarang memegang batang kontolku sepenuhnya. Jarinya melingkar, tapi masih longgar. Dia naik-turun sangat pelan, merasakan tekstur kulit kontolku, kepala yang besar, dan lubang kecil yang mengeluarkan precum.
“Ko… kontol kamu benar-benar indah,” katanya dengan suara serak. Tangan kirinya masih memegang daster agar tetap terbuka, memperlihatkan payudara dan memeknya yang semakin basah.
Aku mendesah pelan. 4797Please respect copyright.PENANAOSKiZ6hGj3
“Ibu… enak sekali tangan Ibu.”
Ibu tersenyum, lalu mulai mengocok dengan ritme lambat. Naik-turun, pelan tapi mantap. Jarinya kadang memilin kepala kontol, menyebar precum yang keluar. Sesekali dia menekan bola zakarku lembut dengan tangan yang lain.
Kami begitu selama hampir 20 menit. Ibu mengocokku sambil memandang kontolnya sendiri yang terbuka. Aku memandang payudaranya yang bergoyang pelan setiap gerakan tangannya. Tidak ada ciuman, tidak ada pelukan. Hanya tangan Ibu di kontolku dan pandangan mata kami yang saling lapar.
Saat aku merasa mau muncrat, aku bilang, 4797Please respect copyright.PENANA19ZOryeHCe
“Ibu… saya mau keluar…”
Ibu tidak melepaskan tangannya. Malah dia mengocok sedikit lebih cepat.4797Please respect copyright.PENANAG2SO2GZyVj
“Keluar di tangan Ibu, Ko. Ibu mau rasain panasnya.”
Aku tidak tahan lagi. Tubuhku kejang. “Ahhh… Ibuuu…” Sperma putih kental muncrat keras di tangan Ibu. Beberapa muncratan mengenai telapak tangannya, jari-jarinya, bahkan sedikit ke perut Ibu yang terbuka. Ibu terus mengocok pelan sampai habis, merasakan denyutan kontolku saat keluar.
Setelah selesai, Ibu menarik tangannya pelan. Sperma masih menetes di jarinya. Dia memandangnya lama, lalu mengusapnya ke perutnya sendiri dengan malu-malu.
“Ibu… kembali ke kamar dulu,” katanya dengan napas tersengal. 4797Please respect copyright.PENANATFub41b4d2
“Besok kita bicara di teras. Ini… sudah terlalu jauh malam ini.”
Dia menutup daster pelan, keluar dari kamar mandi dengan langkah goyah. Aku duduk lemas, membersihkan sisa-sisa. Sentuhan tangan pertama Ibu terasa luar biasa. Tapi nafsu kami malah semakin besar.
Keesokan harinya, Senin, obrolan di teras belakang setelah Dewi tidur menjadi lebih intens. Ibu cerita betapa dia merasa panas dan bersalah tapi juga sangat terangsang setelah memegang kontolku. 4797Please respect copyright.PENANA5iLgRXMgmO
“Tangan Ibu masih terasa panas semalaman, Ko,” akunya pelan. Aku cerita betapa enaknya tangan Ibu yang lembut.
Selasa malam, ritual di kamar mandi berlanjut. Ibu buka daster lebih lebar lagi, sampai hampir seluruh tubuhnya terbuka. Payudara besarnya bergoyang bebas. Memeknya yang basah terlihat jelas, bibir memeknya sedikit terbuka karena nafsu. Tangan Ibu sudah lebih berani memegang kontolku. Dia mengocok dengan dua tangan, satu di batang, satu meremas bola zakarku pelan. Aku juga berani menyentuh paha Ibu untuk pertama kali, merasakan kulitnya yang halus dan hangat. Tapi masih tidak naik ke payudara atau memek.
Rabu malam, hujan deras. Di kamar mandi, Ibu sudah berani duduk di pangkuanku yang telanjang, tapi kontolku tidak masuk. Hanya duduk di paha, kontolku terjepit di antara perut kami. Tangan Ibu mengocok kontolku sambil payudaranya menekan dada ku. Aku memegang pinggul Ibu dengan kedua tangan, merasakan kelembutan pantatnya yang montok. Sentuhan semakin intim, tapi masih belum penetrasi.
Kamis malam, Ibu sudah berani meremas payudaranya sendiri sambil mengocok kontolku. Aku menyentuh payudaranya untuk pertama kali — hanya memegang dari samping, merasakan berat dan kehangatannya. Putingnya keras di telapak tanganku. Ibu mendesah pelan pertama kali, “Ahh… Ko… pelan saja.”
Jumat malam, sentuhan tangan kami semakin liar. Ibu mengocok kontolku dengan tangan yang sudah mahir, kadang memilin kepala, kadang menekan urat di bawah. Aku berani meremas payudara Ibu lebih berani, memilin putingnya pelan. Ibu mendesah lebih keras, memeknya menetes cairan ke paha ku. Tapi kami masih berhenti di situ. Tidak ada oral, tidak ada ngentot.
Sabtu malam berikutnya, setelah hampir seminggu sentuhan tangan pertama, Ibu bilang di teras,4797Please respect copyright.PENANAzuIjEqyFsK
“Ko… Ibu sudah tidak tahan lagi. Besok malam… mungkin kita coba lebih. Tapi Ibu masih takut. Kita lihat nanti.”
Ketegangan di rumah semakin tebal. Dewi semakin dekat dengan hari persalinan, semakin sering tidur. Sementara di lantai bawah, perselingkuhan tangan kami semakin panas setiap malam. Sentuhan pertama sudah terjadi, dan tubuh kami saling merindukan lebih dari itu.
Tapi malam itu, di kamar mandi, saat Ibu mengocok kontolku dengan tangan yang basah oleh precum dan sperma sebelumnya, dia berbisik di telingaku:
“Ko… besok Ibu mau coba sesuatu yang lebih berani. Ibu mau… rasain kontol kamu dengan mulut. Tapi cuma ujungnya dulu. Masih pelan-pelan ya.”
Jantungku berdegup kencang. Perselingkuhan ini sudah tidak bisa dihentikan lagi.
ns216.73.216.105da2


