Malam itu, setelah obrolan di teras belakang, aku naik ke kamar dengan dada berdegup kencang. Dewi sudah tidur sangat pulas, perutnya yang besar naik-turun pelan di bawah selimut tipis. Aku berbaring di sebelahnya, tapi tidurku gelisah. Pikiranku terus berputar ke kata-kata Ibu tadi: 5275Please respect copyright.PENANA93oRXneL8e
“Besok malam… Ibu ikut di kamar mandi. Cuma lihat.”
Apa maksudnya? Apakah Ibu benar-benar akan berdiri di depanku sambil aku mengocok kontol? Apakah dia akan memandang kontolku terang-terangan? Aku membayangkan tubuh Ibu yang montok di balik daster tipis, payudaranya yang besar naik-turun karena napasnya memburu, matanya yang tidak bisa lepas dari batang kontolku yang tegang. Kontolku langsung keras lagi di dalam celana pendek. Aku menahan diri untuk tidak mengocok malam itu juga. Besok malam adalah janji kami. Aku ingin menyimpan semua nafsu untuk saat itu.
Sabtu pagi datang dengan cuaca Surabaya yang lembab. Hujan semalam membuat udara terasa segar, tapi panas matahari sudah mulai menyengat dari pagi. Ibu sudah sibuk di dapur sejak subuh. Aroma telur dadar dan nasi goreng tercium sampai ke lantai atas. Aku turun dengan Dewi yang masih mengantuk, perutnya semakin terlihat besar. Ibu menyambut kami dengan senyum biasa, seolah malam tadi tidak pernah terjadi.
“Ko, sarapan dulu. Ibu buatin yang banyak biar kamu kuat kerja,” kata Ibu sambil meletakkan piring di depanku. Matanya sebentar bertemu dengan mataku. Ada kilatan sesuatu di sana — campuran malu dan antisipasi. Aku hanya mengangguk, 5275Please respect copyright.PENANAF13HsDRV5y
“Terima kasih, Ibu.”
Sepanjang sarapan, kami bertiga ngobrol ringan tentang janji dokter Dewi minggu depan. Tapi di bawah meja, kakiku tanpa sadar bergetar. Setiap kali Ibu membungkuk mengambil sesuatu, daster rumahnya yang longgar sedikit terbuka di bagian dada, memperlihatkan belahan payudara yang putih dan dalam. Aku cepat-cepat alihkan pandangan.
Siang harinya, Dewi minta dipijat karena pinggangnya pegal. Ibu duduk di sofa, tangannya yang lembut memijat kaki dan pinggang Dewi dengan sabar. Aku duduk di kursi seberang, pura-pura baca koran, tapi mataku sering mencuri pandang ke arah Ibu. Saat Ibu membungkuk untuk memijat lebih dalam, pantatnya yang montok terlihat jelas bentuknya di balik kain daster. Aku bayangkan bagaimana pantat itu akan bergoyang kalau suatu saat… Aku langsung gelengkan kepala. Belum. Masih “cuma lihat” malam nanti.
Sore hari aku pulang lebih awal dari kantor. Hujan rintik-rintik lagi turun, membuat jalanan Surabaya macet dan basah. Begitu masuk rumah, Dewi sudah naik ke kamar karena capek. Ibu sedang menyapu teras belakang. Aku mendekat pelan.
“Ibu… malam ini?” tanyaku pelan, suaraku hampir hilang ditelan suara hujan.
Ibu berhenti menyapu. Dia menoleh, wajahnya sedikit merah. 5275Please respect copyright.PENANAqLpfyYbKBw
“Iya, Ko. Setelah Dewi benar-benar tidur. Jam sepuluh lewat, Ibu tunggu di depan kamar mandi bawah. Kamu masuk dulu, seperti biasa. Ibu ikut masuk pelan-pelan. Ingat… cuma lihat. Ibu belum berani lebih dari itu.”
Aku mengangguk. Jantungku seperti mau copot.5275Please respect copyright.PENANAHTAkl6ejBf
“Iya, Ibu. Saya mengerti.”
Malam itu terasa sangat lambat. Makan malam kami bertiga berlangsung tenang. Dewi banyak cerita tentang gerakan bayi di perutnya. Ibu mendengarkan sambil sesekali melirikku dengan mata yang berbeda. Setelah makan, Dewi langsung naik ke kamar. Obat tidurnya membuat dia cepat pulas. Aku pura-pura nonton TV di ruang tamu sampai jam sepuluh.
Jam menunjukkan pukul 10.15 malam. Rumah sudah sunyi. Hanya suara hujan yang masih turun pelan di atap. Aku turun ke bawah dengan langkah pelan. Kamar mandi bawah gelap. Aku masuk, menutup pintu tapi sengaja tidak mengunci rapat, meninggalkan celah kecil seperti malam pertama. Aku matikan lampu utama, hanya biarkan lampu emergency kecil menyala samar. Aku duduk di kloset, celana pendekku diturunkan sampai lutut. Kontolku sudah setengah tegang karena antisipasi.
Aku mulai mengocok pelan. Tangan kananku naik-turun di batang kontol yang semakin mengeras. Kepala kontolku mengkilap karena precum yang keluar banyak. Aku bayangkan payudara Ibu, pinggulnya yang lebar, dan sekarang… aku tahu Ibu akan melihat ini secara langsung.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi bergerak pelan. Ibu masuk tanpa suara. Dia pakai daster tidur tipis warna merah marun yang sama seperti malam pertama. Rambutnya terurai panjang. Di cahaya samar, aku bisa melihat bentuk tubuhnya yang luar biasa: payudaranya yang besar tanpa bra, putingnya samar terlihat menonjol di balik kain, pinggangnya yang masih ramping meski usia 43 tahun, dan pinggul lebar yang membuat daster menempel sempurna di pantatnya.
Ibu berdiri di dekat wastafel, sekitar satu meter dari aku. Matanya langsung tertuju ke kontolku yang sedang aku kocok dengan gerakan lambat. Napasnya terdengar memburu. Dia tidak berkata apa-apa, hanya memandang. Tangan kirinya tanpa sadar memegang pinggiran daster di dada, seolah menahan diri agar tidak meremas payudaranya sendiri.
Aku semakin cepat mengocok. Bunyi basah “crot… crot… crot” terdengar jelas di kamar mandi yang kecil dan pengap. Kontolku sekarang sudah fully erect, urat-uratnya menonjol, kepala merah mengkilap. Ibu tidak berkedip. Matanya lebar, bibirnya sedikit terbuka. Aku bisa melihat dadanya naik-turun semakin cepat.
“Ko…” bisik Ibu pelan sekali, suaranya gemetar. 5275Please respect copyright.PENANAi36liLQnbN
“Kontol kamu… benar-benar besar. Ibu nggak bohong malam itu.”
Aku tidak berhenti mengocok.5275Please respect copyright.PENANAx9jk1RC8mw
“Ibu… lihat aja. Saya kocok buat Ibu sekarang.”
Ibu menggigit bibir bawahnya. Dia mundur selangkah, punggungnya menyentuh dinding. Dasternya sedikit naik karena gerakan itu, memperlihatkan betisnya yang mulus dan sebagian paha yang putih. Aku bisa melihat garis celana dalam tipis di balik daster saat kain itu menempel karena keringat.
Gerakanku semakin cepat. Aku mendongak, mata kami bertemu sesaat. Ada api yang sama di mata Ibu. Nafsu yang sudah lama terpendam. Tapi dia tetap di tempatnya. Tidak mendekat. Tidak menyentuh. Cuma memandang kontolku yang naik-turun di tanganku.
“Pelan dulu, Ko… Ibu mau lihat detailnya,” bisik Ibu lagi, suaranya serak.
Aku memperlambat gerakan. Aku angkat kontolku sedikit agar Ibu bisa melihat lebih jelas: batang yang tebal, urat-urat biru yang menonjol, bola-bola zakarku yang berat dan penuh, precum yang terus menetes dari lubang kecil di kepala kontol. Ibu menelan ludah. Tangan kanannya turun pelan, memegang paha sendiri, tapi tidak naik lebih tinggi.
Aku mulai mengocok lagi dengan ritme sedang. Desahanku mulai keluar pelan. 5275Please respect copyright.PENANAA4EyC0bUXj
“Ahh… Ibu… enak kalau Ibu lihat begini…”
Ibu hanya mengangguk kecil. Napasnya semakin berat. Aku bisa melihat putingnya semakin keras menekan kain daster. Memeknya pasti sudah basah sekarang, tapi dia tidak bilang apa-apa. Kami hanya saling pandang dan aku terus mengocok di depannya.
Lima belas menit berlalu seperti itu. Aku semakin dekat ke klimaks. Otot perutku menegang. 5275Please respect copyright.PENANAf3Fuu0xXv8
“Ibu… saya mau keluar…”
Ibu maju setengah langkah, masih tidak menyentuh, tapi lebih dekat. 5275Please respect copyright.PENANAKuiGNO6RTU
“Keluarin, Ko. Ibu mau lihat sperma kamu muncrat banyak.”
Itu cukup buatku. Aku mengocok secepat mungkin. Tubuhku kejang.5275Please respect copyright.PENANAKMtPLj0dvz
“Ahhh… Ibuuu…” desahku tertahan. Sperma putih kental muncrat keras sekali, menyembur ke lantai kamar mandi, beberapa tetes bahkan hampir mengenai kaki Ibu. Muncratan kedua, ketiga, keempat… banyak sekali karena sudah dua hari aku tahan. Ibu memandang semuanya tanpa berkedip, mulutnya terbuka sedikit, wajahnya merah padam.
Setelah selesai, aku terengah-engah. Kontolku masih setengah tegang, menetes sisa sperma. Ibu berdiri diam beberapa detik, lalu mundur pelan ke pintu.
“Ibu… kembali ke kamar dulu,” katanya dengan suara gemetar.5275Please respect copyright.PENANAqs1zVhIQbF
“Besok malam kita bicara lagi di teras. Ini… terlalu berat buat Ibu sekarang.”
Dia keluar tanpa menutup pintu rapat. Aku duduk lemas di kloset, membersihkan lantai dengan tisu. Kontolku puas, tapi nafsuku malah semakin besar. Melihat Ibu memandang kontolku dengan mata lapar seperti itu membuat aku ingin lebih. Tapi aku ingat janjinya: cuma lihat. Belum lebih.
Malam Minggu, kami bertemu lagi di teras belakang setelah Dewi tidur. Kali ini Ibu duduk lebih dekat. Lutut kami bersentuhan. Dia cerita betapa dia tidak bisa tidur semalaman setelah melihat muncratanku. 5275Please respect copyright.PENANA343vWCZV2F
“Kontol kamu besar dan kuat, Ko. Sperma kamu banyak dan kental. Ibu… Ibu basah sekali semalam,” akunya pelan dengan malu.
Aku cerita bahwa aku juga tidak bisa berhenti memikirkan wajahnya saat memandang kontolku. Kami bicara hampir tiga jam. Kata-kata semakin vulgar. Ibu mulai cerita fantasinya: dia ingin melihat aku mengocok lebih lama, ingin melihat kontolku dari dekat, ingin melihat bagaimana kepala kontolku berdenyut sebelum muncrat. Tapi setiap kali aku coba tanya “boleh sentuh?”, Ibu selalu geleng kepala pelan. 5275Please respect copyright.PENANAOhy7BzeAFE
“Belum, Ko. Ibu takut kita nggak bisa berhenti. Kita pelan-pelan.”
Senin malam, kami ulangi ritual yang sama di kamar mandi. Kali ini Ibu berdiri lebih dekat, hanya 70 cm dari aku. Dia memandang kontolku dengan lebih berani. Saat aku mengocok cepat, dia bisik, 5275Please respect copyright.PENANAUCFt0ZzeRw
“Pelan dulu… Ibu mau lihat urat-uratnya.” Aku patuh. Aku putar kontolku pelan di tangan agar Ibu bisa melihat dari segala sisi. Ibu bahkan membungkuk sedikit untuk melihat bola zakarku yang bergoyang. Nafasnya terasa hangat di udara kamar mandi.
Selasa malam, Ibu sudah berani duduk di tepi bathtub, sekitar satu meter dariku. Dasternya naik sedikit sampai pertengahan paha. Aku bisa melihat celana dalamnya yang putih tipis. Ada noda basah kecil di tengahnya. Aku mengocok sambil memandang ke sana. Ibu sadar aku lihat, tapi dia tidak menutup. Malah dia membuka kaki sedikit lebih lebar,5275Please respect copyright.PENANAiK89UK6DL0
“Cuma lihat, Ko… seperti Ibu lihat kontol kamu.”
Rabu malam, ritual semakin intens. Ibu berdiri tepat di depanku, hanya 50 cm jaraknya. Saat aku hampir muncrat, dia berbisik, 5275Please respect copyright.PENANAIPU81adDgT
“Lihat Ibu, Ko. Lihat payudara Ibu.” Dia tarik sedikit kerah dasternya ke bawah, memperlihatkan belahan dada yang dalam dan kulit putih yang mengkilap karena keringat. Aku muncrat sangat keras sambil memandang payudaranya. Sperma hampir menyentuh ujung jari kakinya.
Kamis malam, Dewi tidur lebih awal karena pemeriksaan dokter besok. Kami di kamar mandi hampir 40 menit. Ibu sudah berani berdiri sangat dekat. Dia memandang kontolku dengan mata setengah terpejam, bibirnya basah.5275Please respect copyright.PENANAnDCeEnHNTl
“Ko… kontol kamu berdenyut sekali. Ibu suka lihat kepalanya yang besar itu.” Aku mengocok lambat, lalu cepat, lalu lambat lagi sesuai permintaannya. Saat aku muncrat, Ibu tidak mundur. Beberapa tetes sperma jatuh di lantai tepat di depan kakinya. Dia memandangnya lama, lalu menghela napas panjang.
Setiap malam setelah ritual kamar mandi, kami selalu lanjut bicara di teras belakang. Obrolan semakin panas. Ibu cerita bagaimana memeknya basah setiap kali melihat kontolku. Aku cerita betapa aku ingin menyentuh payudaranya, ingin mencium lehernya. Tapi setiap kali, Ibu selalu bilang,5275Please respect copyright.PENANABiKsdAIwsf
“Belum, Ko. Ibu takut. Kita nikmati dulu yang ini. Lihat saja dulu.”
Hari-hari berlalu seperti itu selama hampir dua minggu lagi. Dewi semakin besar perutnya, semakin sering tidur. Sementara di bawah, ritual malam kami semakin berani. Ibu sudah berani duduk di pangkuan kloset kosong di sebelahku sambil memandang. Kadang dia membuka daster sedikit di bagian dada, memperlihatkan hampir seluruh payudaranya tanpa menyentuh. Aku mengocok di depannya, kadang sampai dua kali muncrat dalam satu malam karena nafsu yang terlalu besar.
Tapi sentuhan fisik belum pernah terjadi. Belum ada tangan Ibu di kontolku. Belum ada kontolku yang menyentuh tubuh Ibu. Hanya pandangan mata, bisikan-bisikan nakal, dan nafsu yang semakin membara setiap malam.
Malam terakhir di bagian ini, hujan deras lagi. Di kamar mandi, Ibu berdiri sangat dekat. Dasternya basah oleh keringat, menempel sempurna di tubuhnya. Aku bisa melihat bentuk putingnya yang keras dan garis memeknya yang sudah basah di celana dalam tipis.
“Ko… besok malam Ibu mau coba sesuatu yang baru,” bisik Ibu dengan suara gemetar. “Tapi masih cuma lihat. Ibu janji.”
Aku mengangguk, kontolku berdenyut keras di tanganku. “Apa itu, Ibu?”
Ibu tersenyum malu-malu, matanya penuh api. “Besok Ibu akan… buka daster sedikit lebih. Kamu lihat semuanya. Tapi jangan sentuh. Oke?”
Jantungku berdegup kencang. Ketegangan ini semakin tak tertahankan.
Dan perselingkuhan kami masih terus berlanjut… pelan, panas, dan penuh godaan yang membuat kami berdua hampir gila setiap hari.
ns216.73.216.105da2


