Rumah kami di pinggir kota Surabaya, daerah Rungkut, adalah rumah tipe 5x12 dua lantai yang dulu kubeli pas baru menikah dengan Dewi lima tahun lalu. Dulu rumah ini penuh tawa dan kenikmatan.
Setiap malam, setelah makan malam, Dewi selalu manja, badannya yang montok dan kulitnya yang putih mulus itu selalu siap aku peluk. Kontolku yang biasanya langsung tegang begitu melihat payudaranya yang besar dan kenyal, langsung disambut hangat oleh memeknya yang selalu basah dan rapat.
Kami ngentot hampir setiap hari, kadang di kamar, kadang di sofa ruang tamu kalau lagi sange mendadak. Dewi suka sekali menyepong kontolku sambil mata nya melirik nakal, lidahnya berputar di kepala kontol sampai aku nggak tahan dan muncrat di mulutnya. Tapi semua itu berubah total sejak Dewi hamil enam bulan lalu.
Dokter bilang kehamilan Dewi agak beresiko karena tekanan darahnya sering naik. Jadi, segala bentuk aktivitas fisik yang berat dilarang keras. Termasuk ngentot. Bahkan cuma mengocok kontol atau menyepong pun Dewi nggak mau. “Nanti bayinya kenapa-napa, Ko,” katanya setiap kali aku coba dekati. Suaranya lembut, tapi tegas.
Matanya yang biasanya penuh nafsu sekarang cuma penuh kasih sayang ke perutnya yang semakin membesar. Aku ngerti, aku sayang sama anak kami yang belum lahir itu. Tapi sebagai laki-laki normal berusia 32 tahun, kontolku nggak ngerti aturan dokter. Setiap malam, kontolku tegang sendiri, berdenyut minta dipuaskan. Aku sering bangun tengah malam dengan kontol keras seperti batu, sementara Dewi tidur pulas di sebelahku dengan perut besarnya.
Karena itu, ibu mertuaku ikut tinggal di rumah kami. Ibu adalah janda muda berusia 43 tahun. Suaminya meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan motor di jalan tol. Meski sudah janda, Ibu masih sangat cantik. Tubuhnya tetap kencang, payudaranya besar dan masih kencang meski sudah melahirkan Dewi dulu. Pinggulnya lebar, pantatnya montok, dan kulitnya kuning langsat yang selalu terawat. Rambutnya hitam panjang sampai pinggang, sering diikat kuda sederhana.
Dia nggak pernah pakai makeup berlebihan, tapi wajahnya selalu glowing. Setiap kali dia datang ke rumah sebelumnya, aku selalu berusaha nggak terlalu lama memandanginya, karena dia ibu mertua. Tapi diam-diam, aku sering membayangkan seperti apa rasanya memeluk tubuh itu.
“Ibu, tolong tinggal di sini dulu ya, sampai Dewi melahirkan,” kataku waktu itu di telepon.
“Dewi butuh bantuan, aku juga sering lembur di kantor.”
Ibu langsung setuju.
“Iya, Ko. Ibu senang bisa bantu. Dewi anak Ibu satu-satunya. Lagian Ibu juga sendirian di rumah itu.”
Dua hari kemudian, Ibu datang bawa dua koper besar. Dia ambil kamar tamu di lantai bawah, tepat di sebelah kamar mandi utama. Kamar kami di lantai atas. Sejak itu, rutinitas rumah berubah total. Pagi-pagi Ibu sudah bangun, masak bubur untuk Dewi yang suka mual, membersihkan rumah, nyiapin baju hamil Dewi yang harus sering ganti karena perutnya membesar. Dewi jadi lebih manja, sering tidur siang di sofa sambil Ibu pijit kakinya. Aku pulang kerja sore, melihat dua wanita itu — istriku yang hamil dan ibu mertuaku yang masih segar — dan kontolku langsung bereaksi. Tapi aku tahan. Aku pura-pura sibuk di kamar, mandi lama, atau nonton TV sampai larut.
Frustrasi seksualku semakin parah. Sudah hampir dua bulan aku nggak ngentot sama sekali. Dewi bahkan nggak mau pegang kontolku. “Nanti tangan Ibu pegang yang kotor, nanti bayinya gimana?” katanya suatu malam waktu aku coba minta dielus. Aku cuma bisa menghela napas panjang, masuk kamar mandi, dan mengocok kontol sendiri sampai muncrat. Tapi itu nggak cukup. Kocokan tangan cuma bikin lega sementara. Nafsu tetap menggelegak.
Malam itu, Kamis malam, hujan deras mengguyur Surabaya. Aku pulang kerja jam sembilan malam, badan capek tapi kontol tegang karena seharian di kantor aku lihat banyak cewek kantor pakai rok pendek. Dewi sudah tidur di kamar atas, perutnya naik turun pelan. Ibu juga sudah di kamar bawah, lampunya mati. Aku mandi air hangat di kamar mandi bawah karena kamar atas lagi ada masalah keran. Air hangat mengguyur tubuhku, tapi kontolku malah semakin keras. Aku bayangkan lagi memek Dewi yang dulu selalu basah dan hangat, cara dia mendesah “Ko… lebih dalam…” waktu aku ngentot dari belakang.
Aku nggak tahan lagi. Aku matiin lampu kamar mandi supaya gelap, cuma cahaya kecil dari lampu emergency di koridor yang masuk lewat celah pintu. Aku duduk di kloset, celana pendekku diturunin sampai lutut. Kontolku sudah berdiri tegak, urat-uratnya menonjol, kepalanya mengkilap karena precum. Aku pegang batangnya yang tebal, mulai mengocok pelan. “Ahh… enak…” gumamku pelan.
Tangan kananku naik turun, bayangan memek Dewi, payudara Ibu yang sering terlihat saat dia pakai daster tipis di rumah, semuanya campur aduk di kepalaku. Gerakanku semakin cepat. Bunyi “crot crot crot” kecil terdengar di kamar mandi yang sepi. Aku gigit bibir supaya nggak mendesah keras.
Aku nggak sadar bahwa Ibu ternyata belum tidur nyenyak. Kamarnya persis di sebelah kamar mandi. Pintu kamar mandi nggak aku kunci rapat karena biasanya cuma aku sendiri. Celah pintu sekitar dua senti terbuka karena aku buru-buru masuk tadi. Ibu terbangun karena suara hujan dan… suara aneh dari kamar mandi. Dia bangun pelan, pakai daster tidur tipis warna merah marun yang panjang sampai mata kaki. Payudaranya yang besar tanpa bra terlihat jelas bentuknya di balik kain tipis itu. Dia mendekat ke pintu kamar mandi, mengintip lewat celah.
Di sana, dia melihat aku. Aku duduk di kloset, kepala mendongak, mata terpejam, tangan kanan mengocok kontolku yang besar dan keras dengan gerakan cepat. Kontolku panjang sekitar 18 cm, tebal, kepala merah mengkilap. Ibu terpaku. Matanya melebar. Napasnya langsung memburu. Dia nggak pernah lihat kontol sebesar itu sejak suaminya meninggal. Tangan kirinya tanpa sadar meremas payudaranya sendiri lewat daster.
Dia melihat aku semakin cepat mengocok, otot perutku menegang, kemudian tubuhku kejang pelan. “Ahh… fuck…” desahku pelan saat muncrat. Sperma putih kental muncrat keras ke lantai kamar mandi, beberapa kali, banyak banget karena sudah lama nggak keluar.
Ibu buru-buru mundur ke kamarnya, jantungnya berdegup kencang. Dia tutup pintu pelan, lalu duduk di tepi ranjang. Wajahnya panas. Memeknya yang sudah lama kering tiba-tiba terasa basah.
“Astaga… Eko…” gumamnya pelan. Dia berbaring, tapi nggak bisa tidur sampai subuh.
Pagi harinya, Jumat pagi, rumah masih sepi. Dewi masih tidur di atas. Aku bangun jam tujuh, turun ke bawah buat sarapan. Ibu sudah di dapur, pakai daster rumah yang longgar, rambut diikat asal. Dia masak nasi goreng untukku seperti biasa. Tapi sikapnya agak berbeda. Biasanya dia ceria, banyak ngobrol tentang tetangga atau rencana belanja. Hari ini dia diam, tapi sering melirikku.
“Ko, sarapan dulu. Ibu buatin nasi goreng spesial,” katanya tanpa menoleh.
Aku duduk di meja makan.
“Makasih, Ibu.”
Kami makan dalam diam. Hanya suara sendok garpu. Dewi belum turun, masih mual-mual. Setelah makan, Ibu cuci piring. Aku mau ke kantor, tapi Ibu tiba-tiba bilang,
“Ko, nanti sore pulang kerja langsung ya. Ibu ingin bicara berdua sama kamu. Penting.”
Suara dia pelan tapi tegas. Aku kaget.
“Bicara apa, Ibu? Ada masalah sama Dewi?”
Dia geleng kepala, masih membelakangiku.
“Bukan soal Dewi. Soal kamu. Nanti sore aja, pas Dewi tidur siang. Kita bicara di teras belakang.”
Aku mengangguk, meski bingung.
“Iya, Ibu.”
Sepanjang hari di kantor, pikiranku nggak tenang. Apa Ibu tahu? Apa dia dengar aku mendesah tadi malam? Atau cuma soal biasa? Kontolku kadang tegang sendiri tiap ingat kemungkinan. Aku bayangkan Ibu marah, atau… entahlah. Pulang kerja sore itu, hujan lagi turun rintik-rintik. Aku langsung masuk rumah. Dewi sudah tidur di kamar atas, obat tidur dokter bikin dia pulas. Ibu duduk di teras belakang, di kursi rotan, pakai daster yang sama. Ada dua gelas teh hangat di meja.
“Duduk, Ko,” katanya pelan.
Aku duduk di sebelahnya. Jarak kami cukup dekat. Aroma sabun mandi Ibu tercium, campur bau hujan. Payudaranya naik turun pelan saat bernapas.
“Malam tadi… Ibu bangun karena hujan,” mulai Ibu. Suaranya rendah, hampir bisik.
“Ibu dengar suara dari kamar mandi. Ibu lihat… kamu.”
Aku langsung beku. Wajahku panas. Kontolku tanpa sadar bergerak di dalam celana kantor.
“Ibu… saya… maaf,” kataku tergagap.
Ibu nggak marah. Malah dia tersenyum tipis, mata nya menatap lurus ke halaman belakang yang basah.
“Kamu nggak perlu minta maaf, Ko. Ibu ngerti. Dewi lagi hamil, dokter larang. Ibu tahu itu berat buat laki-laki seperti kamu. Kamu masih muda, sehat, normal.”
Dia diam sebentar. Angin sore bertiup, membuat dasternya sedikit menempel di tubuh, memperlihatkan bentuk pinggulnya yang lebar.
“Ibu cuma khawatir. Kalau kamu terus begitu, nanti stres, nanti sakit. Atau… lebih buruk, kamu cari di luar. Ibu nggak mau itu terjadi. Dewi anak Ibu, tapi Ibu juga sayang sama kamu sebagai menantu.”
Aku nggak berani menoleh. Jantungku berdegup kencang.
“Terus… Ibu mau bilang apa?”
Ibu menarik napas panjang.
“Ibu mau bicara terbuka. Ibu janda sudah tiga tahun. Ibu juga manusia, Ko. Ibu juga punya kebutuhan. Tapi Ibu tahan karena demi Dewi. Sekarang lihat kamu begitu… Ibu mikir, mungkin kita bisa saling bantu. Tapi nggak sekarang. Ibu nggak mau buru-buru. Kita bicara dulu. Kita kenal lebih dalam. Ibu mau tahu, apa yang kamu rasain selama ini.”
Dia akhirnya menoleh ke arahku. Mata kami bertemu. Ada api kecil di mata Ibu yang nggak pernah aku lihat sebelumnya. Bukan amarah. Bukan jijik. Tapi sesuatu yang hangat, penuh pengertian, dan… ada sedikit nafsu yang ditahan.
“Besok malam, kalau Dewi tidur, kita bicara lagi di sini. Ibu mau dengar cerita kamu. Semua. Jangan bohong. Ibu juga akan cerita tentang Ibu. Kita mulai dari situ. Oke?”
Aku mengangguk pelan.
“Iya, Ibu.”
Obrolan itu berakhir di situ. Ibu berdiri, tangannya sebentar menyentuh bahuku pelan — sentuhan pertama yang terasa seperti listrik.
“Sekarang mandi, istirahat. Ibu siapin makan malam.”
Malam itu, aku tidur gelisah. Dewi mendengkur pelan di sebelahku. Kontolku tegang lagi, tapi aku nggak berani ngocok di kamar mandi. Aku takut Ibu lihat lagi. Tapi pikiranku penuh dengan Ibu. Tubuhnya yang montok, suaranya yang lembut tadi sore, kata-katanya yang penuh pengertian. Aku nggak tahu ini ke mana, tapi ketegangan ini bikin darahku mendidih.
Keesokan harinya, Sabtu, suasana rumah biasa saja di permukaan. Ibu masak sarapan, bantu Dewi mandi, pijit perut Dewi yang kram. Aku bantu-bantu pekerjaan rumah, potong rumput di halaman. Tapi setiap kali mata kami bertemu, ada sesuatu yang berbeda. Ibu sering tersenyum tipis, matanya agak lama memandangku. Aku juga sering mencuri pandang ke dadanya yang naik turun saat dia membungkuk ambil sapu.
Siang hari, Dewi tidur lagi. Ibu duduk di ruang tamu, nonton TV sinetron. Aku duduk di sofa seberang, pura-pura baca koran. Tapi pikiranku melayang ke obrolan tadi malam. Apa maksud Ibu dengan “saling bantu”? Apakah dia… mau bantu aku lepas nafsu? Atau cuma nasihat? Aku nggak berani tanya sekarang, karena Dewi bisa bangun kapan saja.
Sore harinya, hujan lagi. Kami bertiga makan malam bersama. Dewi banyak cerita tentang bayi, nama-nama yang dia pikirkan. Ibu dengerin sambil sesekali melirikku. Setelah makan, Dewi naik ke kamar lebih awal karena capek. Aku dan Ibu lagi-lagi di teras belakang.
“Ko, duduk sini,” kata Ibu.
Aku duduk. Kali ini dia lebih dekat. Lutut kami hampir bersentuhan.
“Cerita dong, Ko. Sejak kapan kamu nggak ngeseks, itu. Sama Dewi.”
Aku cerita panjang lebar. Mulai dari bulan kedua kehamilan, Dewi mulai menolak. Aku cerita betapa frustrasinya, betapa aku sering ngocok di kamar mandi, di mobil bahkan kadang pas macet. Aku cerita aku sayang Dewi, tapi tubuhku nggak bisa bohong. Ibu dengerin tanpa potong. Matanya penuh perhatian.
Sekarang giliran dia.
“Ibu… setelah suami Ibu meninggal, Ibu nggak pernah lagi sama siapa-siapa. Ibu takut dosa, takut Dewi tahu. Tapi Ibu juga wanita, Ko. Kadang malam-malam Ibu… sentuh sendiri. Bayangin tangan laki-laki yang kuat. Ibu malu cerita ini, tapi sama kamu Ibu merasa nyaman.”
Kami bicara hampir dua jam. Hujan makin deras. Udara dingin, tapi tubuh kami panas. Kami nggak sentuh-sentuhan, tapi kata-kata kami semakin intim. Ibu cerita tentang masa mudanya, gimana dia dulu suka ngentot sama suaminya di dapur saat Dewi kecil tidur. Aku cerita fantasi liarku selama ini.
Malam itu kami pisah dengan janji besok malam bicara lagi.
“Jangan buru-buru, Ko. Kita pelan-pelan. Ibu nggak mau ini jadi dosa besar buat kita semua,” katanya sebelum masuk kamar.
Minggu pagi, Dewi minta dibelikan es krim. Aku dan Ibu pergi ke minimarket bareng naik motor. Di jalan, Ibu duduk di belakang, tangannya pegang pinggangku pelan. Bukan erat, tapi cukup buat aku merasakan kehangatan tubuhnya. Payudaranya sesekali menyentuh punggungku saat motor nge-rem. Kontolku tegang sepanjang jalan.
Di minimarket, Ibu pilih es krim untuk Dewi, aku bayar. Saat antri kasir, dia berdiri dekat sekali.
“Ko, kamu harum,” bisiknya pelan. Aku cuma bisa senyum kaku.
Pulang, kami lanjut rutinitas. Tapi ketegangan semakin kuat. Setiap malam, setelah Dewi tidur, kami bertemu di teras belakang. Kami bicara semakin dalam. Ibu cerita tentang mimpi-mimpinya yang nakal. Aku cerita betapa aku sering bayangin tubuhnya diam-diam. Tapi kami masih batasi. Nggak ada sentuhan. Nggak ada ciuman. Cuma kata-kata yang semakin panas, semakin bikin sange.
Hari Senin, Selasa, Rabu… semuanya sama. Dewi semakin besar perutnya, semakin sering tidur. Aku dan Ibu semakin dekat lewat obrolan malam. Aku mulai tahu rahasia Ibu — dia suka cerita vulgar pelan, suka bilang “kontol” dan “memek” dengan suara pelan yang bikin kontolku berdenyut. Dia tahu aku suka kontolku dielus lambat. Kami saling cerita fantasi, tapi selalu diakhiri dengan “tapi belum sekarang, Ko. Kita tunggu waktu yang tepat.”
Jumat malam berikutnya, dua minggu setelah malam pertama aku ngocok di kamar mandi, hujan lagi deras. Dewi tidur sangat pulas karena obat. Aku dan Ibu di teras, lebih dekat lagi. Lutut kami sudah bersentuhan. Napas kami sama-sama memburu.
“Ko… Ibu lihat kamu malam itu. Kontol kamu besar sekali. Ibu nggak bisa lupa,” bisik Ibu, suaranya gemetar.
Aku menelan ludah.
“Ibu… saya juga nggak bisa lupa wajah Ibu yang lihat saya.”
Dia tersenyum malu.
“Besok malam… Ibu mau lihat lagi. Tapi kali ini, Ibu ikut di kamar mandi. Cuma lihat. Nggak lebih. Bisa?”
Jantungku hampir copot. Aku mengangguk.
“Bisa, Ibu.”
Malam itu kami pisah dengan dada berdebar. Aku tahu, ini baru permulaan. Perselingkuhan ini sudah mulai menyala, pelan tapi pasti. Besok malam, di kamar mandi, Ibu akan lihat aku ngocok lagi. Tapi masih belum disentuh. Belum ngentot. Ketegangan ini bikin aku hampir gila setiap hari.
Dan begitulah cerita ini berlanjut… setiap malam obrolan semakin panas, setiap hari godaan semakin kuat, sementara Dewi tidur nyenyak di atas tanpa tahu apa yang terjadi di bawah. Rumah yang sama, tapi rahasia yang semakin tebal.
6267Please respect copyright.PENANA0bwNxRlqIm
6267Please respect copyright.PENANA8oKq1lhhnc


