Pagi harinya, sinar matahari menyusup lembut melalui tirai kamar utama yang tebal. Jam dinding menunjukkan pukul 07.15. Devita terbangun lebih dulu, tubuhnya masih telanjang di bawah selimut tipis, menempel erat dengan tubuh Rangga yang juga polos. Payudaranya yang montok menekan dada Rangga, kakinya melingkar di paha pemuda itu. Malam tadi mereka hampir tidak tidur, tubuh mereka sudah berkeringat dan lelah, tapi hasrat masih tersisa.
Devita mengangkat kepala, menatap wajah Rangga yang tidur nyenyak. Rambutnya acak-acakan, bibirnya sedikit terbuka. Ingatan malam tadi membuat pipinya memerah sekaligus dada sesak karena rasa bersalah. 5559Please respect copyright.PENANAi8LNYfsQcD
“Ya Tuhan... apa yang sudah Aku lakukan...” gumamnya pelan. Tapi saat ia mencoba bangun, lengan Rangga langsung memeluk pinggangnya lebih erat, menariknya kembali ke dada.
“Jangan pergi dulu, Tante...” suara Rangga serak karena baru bangun, matanya terbuka setengah. “5559Please respect copyright.PENANABkLC59CsbB
Masih pagi. Refa bilang baru pulang siang. Kita masih punya waktu.”
Devita menggigit bibir, tangannya tanpa sadar mengusap dada Rangga.5559Please respect copyright.PENANAHyN3GcNaXc
“Rangga... semalam itu sudah salah. Kita nggak boleh ulangi. Ini rumah Tante, ini kamar Tante... kalau Refa tahu...”
Rangga tersenyum nakal, tangannya turun ke bokong Devita yang bulat dan kenyal, meremasnya pelan tapi tegas.5559Please respect copyright.PENANAF0rbNBDPJb
“Tapi Tante basah lagi kan? Saya bisa rasain dari sini. Tubuh Tante jujur, meski mulut Tante bilang salah.”
Devita mendesah kecil, pinggulnya tanpa sadar bergesekan dengan paha Rangga. 5559Please respect copyright.PENANAjQLmFeNreo
“Kamu... nakal sekali. Tante memang basah, tapi itu karena mimpi buruk semalam. Bukan karena kamu.”
Rangga tertawa pelan, kemudian membalik tubuh Devita hingga terbaring telentang. Ia menindihnya, kejantanan paginya yang sudah tegang menekan perut Devita. 5559Please respect copyright.PENANADYv4OCwtS9
“Mimpi buruk? Bohong banget, Tante. Semalam Tante teriak-teriak minta ‘lebih dalam, Rangga, fuck Tante lebih keras’. Itu mimpi apa?”
Wajah Devita memerah hebat. “Rangga! Jangan bicara vulgar begitu pagi-pagi. Tante malu...”
“Tapi Tante suka kan kalau saya ngomong mesum?” bisik Rangga di telinga Devita sambil menggigit cuping telinganya pelan.5559Please respect copyright.PENANAhRFaKPwe6M
“Bilang jujur. Tante suka dibilangin ‘memek Tante enak banget’ atau ‘kontol saya mau ngebor memek Tante sampai basah kuyup’.”
Devita menggeliat, tangannya mendorong dada Rangga setengah hati. 5559Please respect copyright.PENANAhs8Ka5nN26
“Kamu keterlaluan... tapi... iya, Tante suka. Sudah lama nggak ada yang berani ngomong kasar sama Tante. Bikin Tante tambah panas.”
Rangga tersenyum puas. Ia menunduk, menciumi leher Devita dengan ganas, meninggalkan jejak merah.5559Please respect copyright.PENANARIf6HbPEHz
“Bagus. Hari ini saya mau ngentot Tante lagi. Pagi ini, di tempat tidur suami Tante dulu. Saya mau bikin Tante lupa semua rasa bersalah itu dengan kontol saya yang keras.”
Tangan Rangga turun ke antara kaki Devita, jarinya langsung menemukan klitoris yang sudah bengkak. Ia mengusapnya cepat dengan gerakan melingkar. Devita langsung melengkungkan punggung, desahan keluar dari mulutnya. 5559Please respect copyright.PENANAPdDY2IeG1f
“Ahh... Rangga... pelan dulu... Tante masih sensitif dari semalam...”
“Pelan? Nggak ada pelan-pelan pagi ini, Tante. Memek Tante sudah banjir. Lihat nih, jari saya licin semua.” Rangga mengangkat tangannya, memperlihatkan cairan bening yang menetes. 5559Please respect copyright.PENANA5VUaIxWjMF
“Tante ini jalang banget ya di depan saya. Di depan Refa Tante ibu baik-baik, tapi di sini Tante memeknya lapar kontol anak muda.”
Devita merintih, kakinya terbuka lebih lebar tanpa sadar.5559Please respect copyright.PENANAEZRC35BhED
“Jangan bilang gitu... Tante bukan jalang... tapi... ya Tuhan, sentuhanmu bikin Tante gila... masukin jari lagi...”
Rangga memasukkan dua jarinya sekaligus ke dalam vagina Devita yang sudah licin, menggerakkannya keluar-masuk dengan cepat. 5559Please respect copyright.PENANAaXSmGZxyWr
“Enak ya, Tante? Memek Tante sempit dan panas banget. Kayak memek perawan, padahal sudah punya anak. Saya suka banget ngejepret memek janda seksi kayak Tante.”
“Rangga... ahh... lebih cepat... fuck... Tante mau keluar lagi...” Devita mencengkeram seprai, pinggulnya naik-turun mengikuti gerakan jari Rangga. Dialog mereka semakin vulgar, semakin mesum seiring intensitas yang naik.
Rangga menambah satu jari lagi, tiga jarinya sekarang menghujam memek Devita dengan suara basah yang memalukan. 5559Please respect copyright.PENANAwwgqHCDOTB
“Dengar suaranya, Tante. Crot-crot-crot... memek Tante ngocor banget. Kamu mau saya masukin kontol sekarang? Mau saya ngentot Tante sampe teriak minta ampun?”
“Ya... masukin... Tante mau kontol kamu... yang besar itu... isi memek Tante yang lapar ini...” Devita sudah tak bisa menahan lagi. Matanya berkaca-kaca karena kenikmatan.
Rangga menarik jarinya, kemudian mengarahkan kepala kontolnya yang tegang dan berdenyut ke bibir memek Devita. Ia menggesek-gesek dulu di klitoris, membuat Devita menggelinjang. 5559Please respect copyright.PENANAP1iPHF5K82
“Bilang dulu, Tante. Bilang ‘Rangga, tolong ngentot memek Tante yang mesum ini dengan kontol kamu yang gede’.”
Devita menggigit bibir, suaranya gemetar tapi penuh nafsu.5559Please respect copyright.PENANA1Tl41EoJ88
“Rangga... tolong... ngentot memek Tante yang mesum ini... dengan kontol kamu yang gede... Tante mau disodok dalam-dalam...”
Dengan satu dorongan kuat, Rangga memasukkan seluruh kontolnya hingga pangkal. Devita menjerit kecil, tubuhnya menegang.5559Please respect copyright.PENANAr70mUUGpoL
“Aaaahhh! Besar sekali... memek Tante penuh... Rangga... pelan dulu...”
“Pelan? Nggak, Tante. Saya mau ngentot Tante keras pagi ini.” Rangga mulai bergerak, keluar-masuk dengan irama cepat dan kuat. Suara benturan kulit mereka memenuhi kamar. 5559Please respect copyright.PENANAPSUUoysrMc
“Enak ya? Kontol saya ngebor memek Tante sampe dasar. Lihat nih, setiap kali saya dorong, perut Tante agak naik.”
Devita memeluk punggung Rangga erat, kuku-kukunya meninggalkan jejak merah. 5559Please respect copyright.PENANABQO6Hz3CA4
“Enak... fuck... enak banget... lebih keras, Rangga... entot Tante kayak pelacur... Tante milik kamu sekarang...”
Mereka berganti posisi berkali-kali dengan intens. Pertama misionaris dengan kaki Devita di bahu Rangga, membuat penetrasi semakin dalam. Rangga terus mengumpat mesum,5559Please respect copyright.PENANAjh0LWTMGYv
“Memek Tante enak banget, Tante. Ketat, basah, dan panas. Saya mau crot di dalam ya? Mau isi rahim Tante dengan sperma saya?”
“Ya... crot di dalam... Tante mau hamil sama anak muda... isi Tante penuh... ahh... saya keluar lagi... Ranggaaa!!”
Orgasme pertama Devita datang hebat, tubuhnya kejang-kejang, memeknya menyemprot cairan bening yang membasahi seprai. Rangga tidak berhenti, malah semakin cepat menghujam.
Kemudian Devita naik ke atas. Ia menggoyang pinggulnya liar, payudaranya yang montok bergoyang naik-turun. Rangga meremas keduanya sambil berkata, “Goyang lebih cepat, Tante. Tunjukkin betapa mesumnya ibu rumah tangga ini. Kontol saya ditelan memek Tante sampe habis.”
“Enak... kontol kamu... Tante mau goyang sampe kamu crot... keluarin banyak ya, Rangga... Tante suka sperma panas di dalam...”
Rangga menepuk bokong Devita keras beberapa kali, meninggalkan bekas merah. 5559Please respect copyright.PENANAv1IWuJI3v0
“Jalang... tante jalang saya. Bilang ‘saya jalang Rangga’.”
“Saya... jalang Rangga... ahh... fuck... Tante jalang kamu... entot jalang Tante lebih keras!”
Adegan berlanjut dengan doggy style di pinggir tempat tidur. Rangga berdiri di belakang, memegang pinggul Devita dan menghujam dari belakang dengan brutal5559Please respect copyright.PENANAmwMDu1GBId
. Suara “plok-plok-plok” keras terdengar. 5559Please respect copyright.PENANA2MuUY1YNvs
“Lihat bokong Tante yang gede ini... mantap banget. Saya suka ngentot dari belakang sambil tarik rambut Tante.”
“Tarik... tarik rambut Tante... buat Tante jadi anjing kamu... ahh... dalam sekali... kontol kamu ngena di rahim... Tante mau crot lagi... bareng ya...”
Mereka mencapai klimaks bersama. Rangga mendorong dalam-dalam dan menyemburkan sperma panasnya ke dalam vagina Devita berulang kali.5559Please respect copyright.PENANAqgZFzjxa0f
“Terima... crotin Tante... isi memek Tante... ambil semua sperma saya...”
Devita menjerit panjang, tubuhnya ambruk ke depan, orgasme keduanya lebih kuat. Cairan mereka bercampur, menetes dari memek Devita yang merah dan bengkak.
Mereka berbaring lagi, napas tersengal-sengal. Rangga masih di dalam Devita, pelan-pelan menggerakkan pinggulnya untuk menikmati afterglow.
“Rangga... kamu bikin Tante jadi lacur... tapi enak sekali...” bisik Devita sambil menciumi dada Rangga. 5559Please respect copyright.PENANAljtFardBiv
“Tante nggak pernah ngentot seintens ini... bahkan sama suami dulu nggak separah ini.”
Rangga tersenyum, tangannya mengusap rambut Devita. 5559Please respect copyright.PENANAsXbSVzpo9w
“Karena Tante memang dibuat untuk saya. Mulai sekarang, setiap kali Refa nggak ada, memek Tante harus siap buat kontol saya. Oke?”
Devita mengangguk malu-malu.5559Please respect copyright.PENANAkyWwYt2T0E
“Oke... Tante janji. Tapi kita harus hati-hati. Jangan sampai Refa curiga.”
Mereka mandi bersama di kamar mandi utama, adegan intim berlanjut di bawah guyuran air hangat. Rangga mengangkat Devita, menidurkannya di dinding, dan mengentotnya lagi dengan posisi standing. Dialog vulgar masih mengalir: “Memek Tante licin banget sama air dan sperma saya... saya mau tambah crot lagi...”
Pagi itu berakhir dengan dua ronde seks intens lagi sebelum mereka membersihkan diri dan merapikan tempat tidur. Saat Refa pulang siang harinya, rumah sudah rapi, Devita dan Rangga berpura-pura biasa saja. Tapi tatapan rahasia di antara mereka penuh arti.
Hubungan terlarang ini semakin dalam, semakin mesum, dan semakin berbahaya.
ns216.73.216.105da2


