5917Please respect copyright.PENANAKhSuf0JeM9
Malam itu hujan deras,seolah langit ikut merasakan gejolak yang sedang terjadi di dalam rumah mewah. Refa sudah mengabari sejak sore bahwa ia harus menginap di kos temannya karena tugas kelompok mendadak yang berlanjut sampai pagi. Rumah besar itu pun hanya ditinggalkan Devita seorang diri... atau begitulah yang seharusnya.
Rangga masih duduk di sofa ruang keluarga, kaosnya sedikit basah karena ia baru saja membantu Devita menutup jendela-jendela yang bocor. Lampu ruangan hanya menyala redup dari standing lamp di sudut, menciptakan suasana temaram yang hangat. Devita duduk di sebelahnya, jarak mereka kini jauh lebih dekat daripada malam-malam sebelumnya.
Gaun rumah satin hitam tipis yang dikenakannya malam ini menempel lembut di tubuhnya yang seksi, memperlihatkan lekuk payudara montoknya dan pinggul lebar yang selalu membuat Rangga sulit mengalihkan pandangan.
“Tante... hujannya semakin deras ya,” kata Rangga dengan suara rendah, matanya sesekali melirik ke arah Devita.
“Refa bilang baru pulang besok siang. Tante nggak takut sendirian malam begini?”
Devita menghela napas pelan, tangannya memegang cangkir teh hangat yang sudah mulai dingin.
“Biasanya takut. Tapi malam ini... ada kamu di sini, Rangga. Rasanya lebih tenang.”
Rangga tersenyum lembut, tubuhnya bergeser sedikit lebih dekat hingga bahu mereka hampir bersentuhan.
“Saya senang bisa nemenin Tante. Sebenarnya dari tadi sore saya sudah berharap Refa nggak pulang malam ini. Bukan karena saya jahat sama dia, tapi... saya ingin waktu berdua sama Tante lebih lama.”
Devita menoleh, mata mereka bertemu dalam cahaya redup. Jantungnya berdegup kencang.
“Kamu... sudah berpikir sejauh itu? Kita ini... ini nggak benar, Rangga. Kamu teman anak Tante. Kalau Refa tahu...”
“Saya tahu itu berbahaya,” potong Rangga lembut, suaranya penuh keyakinan. “Tapi perasaan ini sudah nggak bisa ditahan lagi, Tante. Setiap kali saya ke sini, setiap kali kita ngobrol, setiap kali tangan kita bersentuhan... saya merasa ada sesuatu yang lebih. Tante bukan hanya ibunya Refa buat saya. Tante adalah perempuan yang membuat saya merasa hidup.”
Devita merasa pipinya memanas. Ia menunduk, jari-jarinya memilin ujung gaunnya.
“Tante juga... mulai merasa hal yang sama. Sudah lama sekali Tante nggak merasakan perhatian seperti ini. Kamu selalu ada, selalu mendengarkan, selalu bantu tanpa diminta. Tapi Rangga... kita harus pelan-pelan. Tante takut ini semua terlalu cepat.”
Rangga mengangguk, tapi tangannya perlahan bergerak ke atas sofa, jari-jarinya menyentuh punggung tangan Devita dengan sangat lembut. Sentuhan itu seperti listrik, membuat Devita menggigil kecil.
“Saya janji pelan-pelan, Tante. Saya nggak akan lakukan apa-apa yang Tante nggak mau. Tapi boleh saya bilang jujur malam ini?”
“Bilang saja,” bisik Devita, suaranya hampir hilang ditelan suara hujan.
“Saya ingin memeluk Tante. Hanya peluk. Biar Tante tahu bahwa saya di sini, benar-benar di sini untuk Tante.”
Devita diam sejenak, napasnya mulai tak teratur. Akhirnya ia mengangguk pelan. Rangga bergeser lebih dekat, lengan kuatnya melingkar di bahu Devita dengan hati-hati. Tubuh mereka kini bersentuhan. Aroma maskulin Rangga bercampur dengan wangi parfum Devita menciptakan suasana yang memabukkan. Devita menyandarkan kepalanya di dada Rangga, mendengar degup jantung pemuda itu yang juga cepat.
“Kamu hangat sekali, Rangga,” gumam Devita. “Tante sudah lupa rasanya dipeluk seperti ini.”
Rangga mengusap punggung Devita pelan, tangannya naik-turun dengan gerakan menenangkan.
“Saya juga, Tante. Pelukan Tante terasa... pas. Seperti ini yang saya cari selama ini.”
Mereka diam cukup lama, hanya menikmati kehangatan satu sama lain. Tangan Rangga kemudian berani sedikit lebih jauh, mengusap lengan Devita yang terbuka. Kulit Devita halus dan hangat di bawah sentuhannya. Devita tidak menolak; malah ia mendekatkan tubuhnya lebih erat.
“Rangga... apa yang kita lakukan ini?” tanya Devita dengan suara bergetar.
“Ini perselingkuhan... ini salah.”
“Kalau ini salah, kenapa terasa sangat benar, Tante?” jawab Rangga sambil menunduk, bibirnya hampir menyentuh rambut Devita.
“Saya nggak mau pikir tentang salah atau benar malam ini. Saya hanya ingin Tante merasa diinginkan. Karena Tante memang sangat diinginkan.”
Devita mengangkat wajahnya, mata mereka hanya berjarak beberapa senti. Napas mereka bercampur.
“Kamu bikin Tante lemah, Rangga. Sudah lama Tante nggak merasakan ini... keinginan untuk disentuh, untuk diperhatikan sebagai perempuan.”
Rangga menatapnya intens.
“Kalau Tante izinkan... saya ingin mencium Tante. Hanya sekali. Kalau Tante nggak suka, saya berhenti.”
Devita ragu sebentar, tapi hasrat yang sudah lama terpendam akhirnya menang. Ia mengangguk kecil. Rangga mendekatkan wajahnya perlahan, bibirnya menyentuh bibir Devita dengan lembut. Ciuman pertama itu ringan, penuh kelembutan, tapi segera berubah menjadi lebih dalam saat Devita membalasnya. Tangan Devita naik ke dada Rangga, merasakan otot-otot keras di balik kaos tipis itu.
Ciuman mereka berlanjut, semakin panas. Lidah Rangga menyentuh bibir Devita, meminta izin masuk. Devita membuka mulutnya sedikit, membiarkan ciuman itu semakin intim. Napas mereka tersengal. Tangan Rangga turun ke pinggang Devita, menarik tubuhnya lebih dekat hingga payudara montok Devita menekan dada Rangga.
“Oh Rangga...” desah Devita di sela ciuman.
“Ini... ini terlalu enak.”
Rangga menarik diri sebentar, matanya gelap karena nafsu.
“Tante... kamu cantik sekali. Tubuh Tante... saya sudah lama membayangkannya. Boleh saya sentuh lebih jauh? Hanya sentuh, Tante. Saya janji pelan.”
Devita menggigit bibirnya, tubuhnya sudah panas.
“Sentuh... tapi pelan ya, Rangga. Tante takut kita kebablasan.”
Rangga tersenyum lembut sebelum tangannya naik ke bahu Devita, menurunkan tali gaun satin itu perlahan. Gaun itu melorot, memperlihatkan bra hitam lace yang membungkus payudara Devita yang besar dan kencang. Rangga menatapnya dengan kagum. “Tante... sempurna.”
Tangan Rangga menyentuh kulit bahu Devita, kemudian turun ke dada. Ia mengusap payudara Devita dari atas bra dengan lembut, merasakan kelembutan dan kehangatannya. Devita mendesah, kepalanya tersandar di bahu Rangga.
“Rangga... sentuhanmu... bikin Tante geli dan enak sekali.”
“Enak ya, Tante?” bisik Rangga di telinga Devita sambil terus mengusap. Jarinya menemukan puting yang sudah mengeras di balik bra, mengelusnya pelan
. “Saya suka lihat Tante bereaksi seperti ini. Tante kelihatan sangat seksi.”
Devita merintih kecil.
“Kamu nakal... tapi jangan berhenti. Tante suka.”
Mereka berciuman lagi, kali ini lebih liar. Tangan Devita ikut bergerak, menyusup ke bawah kaos Rangga, merasakan perut six-pack pemuda itu.
“Tubuhmu keras sekali, Rangga. Tante suka.”
Rangga membantu melepaskan kaosnya sendiri, memperlihatkan dada bidang dan otot yang terlatih. Devita menyentuhnya dengan tangan gemetar, mengusap dada Rangga naik-turun.
“Kamu gagah sekali... Tante merasa seperti gadis remaja lagi.”
Rangga tertawa pelan di antara napas tersengal.
“Tante bukan gadis remaja. Tante adalah perempuan dewasa yang sangat menggoda. Dan malam ini... Tante milik saya.”
Ia membaringkan Devita di sofa panjang dengan lembut. Tubuh Rangga menindih sebagian, tapi ia menjaga agar tidak terlalu berat. Bibirnya turun ke leher Devita, menciumi kulit halus itu, meninggalkan jejak basah. Devita melengkungkan punggungnya, tangannya mencengkeram bahu Rangga.
“Ahh... Rangga... leher Tante sensitif sekali...”
Rangga terus mengecup turun, ke dada. Ia menurunkan bra Devita, memperlihatkan payudara telanjang yang montok. Putingnya pink dan mengeras. Rangga menatapnya lama sebelum mulutnya menyentuh salah satunya, menghisap lembut.
“Oooh... Rangga... ya seperti itu...” desah Devita, suaranya penuh kenikmatan.
“Hisap lebih kuat... Tante suka...”
Rangga patuh, lidahnya berputar di sekitar puting, tangan satunya meremas payudara yang lain dengan lembut tapi tegas. Devita menggeliat di bawahnya, pinggulnya tanpa sadar bergesekan dengan paha Rangga.
“Kamu bikin Tante basah... sudah lama sekali nggak ada yang sentuh Tante seperti ini.”
Mereka terus berbicara di antara desahan dan ciuman. Rangga bertanya setiap gerakan,
“Enak begini, Tante?” dan Devita menjawab dengan suara manja, “Enak... jangan berhenti... sentuh di bawah juga...”
Tangan Rangga turun pelan ke paha Devita, menaikkan gaun hingga pinggang. Celana dalam hitam tipis Devita sudah terlihat. Rangga mengusap paha dalam Devita dengan gerakan melingkar, semakin mendekati inti tubuhnya.
“Tante... boleh saya sentuh di sini?”
Devita mengangguk cepat, matanya setengah terpejam.
“Boleh... pelan ya... Tante sudah sangat sensitif.”
Jari Rangga menyentuh celana dalam Devita, merasakan kelembapan yang sudah membasahi kain itu. Ia mengusap naik-turun dengan lembut, menekan titik sensitif di atas. Devita mendesah keras, pinggulnya terangkat.
“Ahh... di situ... Rangga... kamu pintar sekali...”
Rangga bilang berulang kali betapa cantik dan seksi Devita, betapa ia sudah lama memimpikan momen ini. Devita mengakui bahwa ia juga sering memikirkan Rangga di malam-malam sepi, merasa bersalah tapi tak bisa menahan hasrat.
Perlahan, pakaian mereka semakin berkurang. Rangga melepaskan celana dalam Devita dengan hati-hati, menatap tubuh telanjang Devita dengan mata penuh kekaguman. Devita juga membantu melepaskan celana Rangga, melihat kejantanan pemuda itu yang sudah tegang dan besar.
“Rangga... besar sekali... Tante takut tapi juga ingin...”
Mereka berpindah ke kamar Devita di lantai dua, tempat tidur king-size yang selama ini terlalu luas. Di sana, adegan intim berlanjut dengan lebih dalam. Rangga mengeksplorasi setiap inci tubuh Devita dengan mulut dan tangan, menciumi perut, paha, dan akhirnya turun ke antara kakinya. Lidahnya bekerja dengan lembut, membuat Devita mencapai puncak pertama dengan desahan panjang dan tubuh yang bergetar.
“Rangga... aku... aku keluar... ahhh!” jerit Devita pelan, tangannya mencengkeram rambut Rangga.
Setelah itu, Devita membalas dengan menyentuh dan menciumi tubuh Rangga, tangannya memegang kejantanan pemuda itu dengan gerakan naik-turun yang pelan dan sensual.
“Enak ya, Rangga? Tante mau bikin kamu senang juga...”
Mereka berbicara sepanjang proses, saling bertanya keinginan masing-masing, saling memuji, dan saling mengungkapkan perasaan.
“Tante, aku cinta sama kamu...” bisik Rangga. “Meski ini salah, aku nggak mau berhenti.”
“Aku juga... Rangga... peluk aku lebih erat... masuklah pelan-pelan... Tante mau merasakan kamu sepenuhnya...”
Penetrasi terjadi dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Rangga bergerak pelan, memberi waktu Devita menyesuaikan. Desahan dan dialog mereka memenuhi kamar, bercampur dengan suara hujan di luar. Mereka berganti posisi berkali-kali – misionaris, cowgirl, doggy – semuanya dilakukan dengan tempo yang sensual, penuh ciuman, pelukan, dan kata-kata mesra.
Setiap gerakan Rangga bertanya apakah enak, Devita meminta lebih cepat atau lebih dalam, mereka saling mengaku rasa bersalah tapi juga kenikmatan yang tak tertahankan. Puncak mereka datang berulang kali, tubuh mereka berkeringat, saling memeluk erat setelahnya.
Malam itu berlangsung panjang, hingga dini hari. Mereka tidak hanya bercinta, tapi juga berbicara tentang masa depan, tentang bagaimana menyembunyikan hubungan ini dari Refa, tentang perasaan mereka yang semakin dalam.
Ketika fajar mulai menyingsing, mereka berbaring telanjang di pelukan satu sama lain, napas masih tersengal.
“Rangga... ini baru permulaan ya?” bisik Devita sambil mengusap dada Rangga.
“Iya, Tante. Ini baru bab pertama dari cerita kita. Saya janji akan jaga Tante dan rahasia ini.”
Mereka tertidur dengan senyum di wajah, tubuh saling menempel, hati yang sudah terikat dalam hubungan terlarang yang baru saja dimulai.
ns216.73.216.105da2


