Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang baru bagi Devita. Rangga mulai sering datang ke rumah setelah kuliah atau latihan basket. Awalnya selalu bersama Refa dengan alasan “ngerjain tugas kelompok” atau “mau main PS”, tapi lama-kelamaan Rangga datang bahkan saat Refa sedang tidak di rumah. Devita awalnya merasa canggung, tapi perlahan ia mulai menantikan kedatangan pemuda itu.
Pagi itu, hari Rabu, Refa sudah berangkat kuliah sejak jam 7 pagi karena ada kelas pagi. Devita sedang menyiram tanaman di halaman depan ketika motor Rangga berhenti di depan gerbang. Pemuda itu turun dengan membawa plastik besar berisi buah-buahan.
“Selamat pagi, Tante Devita,” sapa Rangga sambil tersenyum lebar. Dia memakai kaos basket longgar dan celana pendek olahraga yang memperlihatkan betisnya yang berotot. Keringat tipis masih terlihat di dahinya, sepertinya baru dari jogging pagi.
Devita menegakkan tubuhnya, tangan yang memegang selang air sedikit basah. Daster rumah berwarna pastel yang dia kenakan pagi ini sedikit menempel di tubuhnya karena lembab.5515Please respect copyright.PENANAYWzxNihOLn
“Rangga? Pagi-pagi sekali. Refa sudah berangkat lho.”
“Saya tahu, Tante. Refa tadi chat saya. Saya sengaja datang pagi karena mau bantu Tante bersihin kolam ikan di belakang. Kemarin saya lihat airnya sudah keruh. Ini saya bawa buah apel dan jeruk segar dari pasar, katanya Tante suka jus jeruk segar.”
Devita tersenyum, hatinya hangat.5515Please respect copyright.PENANAVOeM4qubpD
“Kamu ingat ya? Padahal cuma cerita sekali waktu itu.”
Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 5515Please respect copyright.PENANAVM19uHB1l5
“Saya suka mendengarkan cerita Tante. Jadi… boleh saya masuk?”
“Tentu. Masuk saja. Tante buatkan minum dulu.”
Mereka berjalan bersama ke halaman belakang. Rangga langsung membuka tutup kolam dan mulai membersihkan daun-daun kering yang mengambang. Devita duduk di kursi taman sambil memperhatikan. Otot lengan Rangga menegang saat dia mengaduk air dengan jaring panjang. Sesekali Rangga melirik ke arah Devita dan tersenyum.
“Kenapa Tante diam saja? Biasanya Tante banyak cerita,” goda Rangga sambil terus bekerja.
Devita tertawa kecil. 5515Please respect copyright.PENANA1DSf9QTX3F
“Lagi memperhatikan kamu kerja. Kamu rajin sekali. Anak muda zaman sekarang jarang yang mau bantu-bantu kerja rumah begini.”
“Karena saya suka di sini,” jawab Rangga tanpa ragu.5515Please respect copyright.PENANABXwk6F5ar3
“Rumah Tante nyaman. Wanginya masakan Tante enak. Dan… Tante-nya juga baik banget.”
Devita merasa pipinya sedikit panas. Dia mengalihkan pandangan ke kolam.5515Please respect copyright.PENANAyxxZfnRwwB
“Kamu jangan terlalu memuji. Tante bisa besar kepala nanti.”
Rangga berhenti sejenak, menatap Devita lekat. 5515Please respect copyright.PENANA5j2J6O14yi
“Saya nggak bohong kok, Tante. Sejak pertama kali saya ke sini, saya merasa ada yang beda. Tante bukan cuma ibunya Refa buat saya. Tante… seperti teman yang bisa diajak ngobrol apa saja.”
Mereka diam sejenak. Hanya suara air kolam yang beriak dan kicau burung di pohon mangga. Devita akhirnya bertanya pelan, 5515Please respect copyright.PENANAtf87FAHWZ3
“Kamu nggak pernah cerita tentang pacar kamu. Apa benar belum punya?”
Rangga menggeleng sambil tersenyum miring.5515Please respect copyright.PENANAXINFarONYC
“Belum. Pernah dekat sama satu cewek di semester dua, tapi nggak cocok. Dia masih terlalu childish. Suka drama kecil-kecilan. Saya lebih suka yang dewasa, yang mengerti hidup, yang bisa bikin saya tenang hanya dengan ngobrol biasa.”
Devita mengangguk pelan. 5515Please respect copyright.PENANAUM0nEOeW3W
“Pantas saja kamu sering ke sini. Kamu cari ketenangan ya?”
“Bukan cuma itu,” jawab Rangga sambil meletakkan jaring dan duduk di kursi sebelah Devita. Jarak mereka cukup dekat, hanya sekitar satu meter.5515Please respect copyright.PENANANMW6ZD2oTX
“Saya suka cara Tante tersenyum. Suara Tante yang lembut. Cara Tante mendengarkan cerita saya tanpa menghakimi. Di kosan saya cuma ada temen-temen cowok yang suka ribut. Di sini beda.”
Devita menatap tangannya sendiri.5515Please respect copyright.PENANARhDefrlLjX
“Tante juga senang kamu datang, Rangga. Sudah lama rumah ini sepi. Refa memang baik, tapi dia anak laki-laki, jarang ngobrol hal-hal perasaan. Kamu… seperti angin segar.”
Rangga tersenyum lembut.5515Please respect copyright.PENANA20FN5r3kZd
“Kalau begitu, saya akan sering-sering ke sini ya? Asal Tante nggak bosan.”
“Tidak akan bosan,” jawab Devita cepat, lalu tersipu sendiri karena terlalu antusias.
Sepanjang pagi itu mereka bekerja bersama membersihkan kolam, kemudian Rangga membantu Devita memindahkan pot-pot tanaman yang berat. Setiap kali tangan mereka bersentuhan saat memegang pot yang sama, ada getaran kecil yang dirasakan keduanya. Rangga selalu meminta maaf dengan suara pelan, tapi matanya tidak bisa bohong — ada kilau yang berbeda saat menatap Devita.
Siang harinya, saat matahari mulai terik, mereka istirahat di teras belakang. Devita membuatkan jus jeruk segar dan sandwich tuna. Mereka duduk berdua di kursi rotan, angin sepoi-sepoi berhembus.
“Rangga, ceritain dong tentang mimpi kamu setelah lulus nanti,” pinta Devita sambil menyesap jusnya.
Rangga bersandar, kakinya terentang panjang.5515Please respect copyright.PENANAaYuPeoza8w
“Saya ingin buka usaha kecil dulu, mungkin toko olahraga atau coaching basket buat anak-anak. Terus… saya ingin punya keluarga yang hangat. Istri yang bisa saya jaga, anak-anak yang bisa saya ajak main. Bukan keluarga yang sibuk terus seperti orang tua saya dulu.”
Devita mendengarkan dengan penuh perhatian. 5515Please respect copyright.PENANAzWceUJVCN9
“Kamu punya bayangan seperti apa istrinya nanti?”
Rangga menatap Devita lama sebelum menjawab.5515Please respect copyright.PENANAQZM5mHAezJ
“Yang cantik dari dalam dan luar. Yang sabar, yang mengerti saya, yang bisa masak enak seperti Tante, yang senyumnya bikin hari saya cerah. Usia nggak masalah buat saya. Yang penting chemistry-nya pas.”
Kata-kata itu membuat Devita diam cukup lama. Dia menunduk, jari-jarinya memilin ujung daster-nya.5515Please respect copyright.PENANA9WHZ4ZC827
“Kamu terlalu idealis. Cewek seusia kamu pasti banyak yang mau.”
Rangga tertawa pelan.5515Please respect copyright.PENANA34SrctULSO
“Mungkin. Tapi saya nggak mau yang biasa-biasa saja. Saya mau yang spesial.”
Obrolan mereka berlanjut hingga sore. Refa pulang jam 4 sore dan langsung bergabung. Ketiganya makan malam bersama lagi seperti biasa. Refa tidak curiga sedikit pun; baginya Rangga sudah seperti kakak sendiri. Malam itu mereka bertiga nonton film action di ruang keluarga. Devita duduk di tengah sofa, Refa di sebelah kiri, Rangga di sebelah kanan. Saat adegan tegang, tanpa sadar lutut Rangga menyentuh lutut Devita. Devita tidak menarik kakinya, dan Rangga juga tidak. Sentuhan itu bertahan hampir sepuluh menit, hangat dan pelan.
Ketika film selesai, Refa menguap. “5515Please respect copyright.PENANAsFoafQotBh
Gue capek banget hari ini. Langsung tidur ya. Rang, lo tidur sini lagi malam ini? Besok kita kuliah bareng.”
“Boleh,” jawab Rangga sambil melirik Devita sekilas.
Setelah Refa masuk kamar, Devita dan Rangga kembali duduk di ruang keluarga. Lampu dimatikan, hanya cahaya TV yang menyala pelan.
“Tante, boleh saya tanya yang agak pribadi lagi?” tanya Rangga dengan suara rendah.
“Silakan.”
“Apa Tante… pernah merasa kesepian? Maksud saya, setelah suami Tante meninggal.”
Devita menghela napas panjang. 5515Please respect copyright.PENANAvkFWoHw0zT
“Pernah. Sangat. Malam-malam seperti ini, rumah terlalu besar, tempat tidur terlalu luas. Tapi Tante belajar menerima. Ada Refa yang harus Tante jaga.”
Rangga mengangguk pelan. Tangannya bergerak pelan di atas sofa, jari-jarinya hampir menyentuh tangan Devita. 5515Please respect copyright.PENANA80dx0bWVCd
“Kalau saya boleh bilang… saya ingin jadi orang yang bisa nemenin Tante. Bukan sebagai pengganti siapa-siapa, tapi sebagai… teman dekat.”
Devita menoleh, mata mereka bertemu dalam cahaya redup.5515Please respect copyright.PENANALSBHe0mZqm
“Rangga… kamu tahu ini nggak biasa kan? Kamu teman anak Tante.”
“Saya tahu,” jawab Rangga lembut. “Tapi perasaan nggak bisa dipaksa. Saya nggak mau buru-buru. Saya hanya ingin Tante tahu bahwa ada saya di sini. Kalau Tante butuh cerita, butuh bantuan, atau hanya butuh ditemani diam-diam… saya ada.”
Devita merasa dadanya sesak karena campuran haru dan gelisah. 5515Please respect copyright.PENANARPMvM62NQa
“Terima kasih, Rangga. Tante… akan ingat itu.”
Malam itu Rangga tidur di kamar Refa lagi. Devita berbaring di kamarnya sendiri, tapi tidurnya gelisah. Ia terus teringat sentuhan lutut tadi, tatapan Rangga, dan kata-katanya yang hangat. “Ini salah,” gumamnya berulang kali. Tapi semakin ia mengatakan itu, semakin ia merindukan kehadiran pemuda itu.
Hari-hari selanjutnya semakin intens. Rangga datang hampir setiap sore. Kadang ia membantu Devita memasak, kadang mereka berdua duduk di teras sambil minum kopi sore sambil Refa sedang latihan basket atau kuliah malam. Dialog mereka semakin dalam.
Suatu sore, saat Refa sedang tidak di rumah, mereka duduk di ruang keluarga.
“Rangga, kamu nggak takut Refa curiga kalau kamu sering ke sini?” tanya Devita sambil memegang cangkir teh.
Rangga tersenyum tenang.5515Please respect copyright.PENANASncFAANUnx
“Saya bilang ke Refa kalau saya suka masakan Tante dan rumah ini nyaman. Refa malah senang, katanya ‘baguslah, ibu gue nggak kesepian lagi’. Dia nggak curiga sama sekali.”
Devita menggeleng pelan.5515Please respect copyright.PENANA6IXVQJtJ2X
“Kamu pintar sekali cari alasan.”
“Bukan alasan,” koreksi Rangga. “Itu kenyataan. Saya memang suka di sini. Dan saya… mulai suka sama Tante. Lebih dari teman biasa.”
Devita terdiam lama.5515Please respect copyright.PENANA95MO5TgifD
“Rangga… ini berbahaya. Tante lebih tua darimu. Kalau ketahuan…”
“Saya siap ambil risiko,” potong Rangga dengan suara mantap. 5515Please respect copyright.PENANAh4e267PVe3
“Tapi saya nggak akan paksa Tante. Kalau Tante mau saya menjaga jarak, saya akan lakukan. Tapi kalau Tante juga merasakan sesuatu… saya ingin kita pelan-pelan saja. Tanpa buru-buru.”
Devita menatap mata Rangga yang jujur.5515Please respect copyright.PENANA36hyP3wl57
“Tante… juga mulai merasa nyaman dengan kehadiran kamu. Terlalu nyaman malah. Tapi tante butuh waktu. Ini semua terlalu baru.”
Rangga mengangguk mengerti. 5515Please respect copyright.PENANAAICFnlJo4k
“Saya paham. Kita pelan-pelan ya, Tante. Saya janji nggak akan macam-macam.”
Meski begitu, kedekatan mereka terus bertambah. Sentuhan tangan yang “tidak sengaja”, pelukan singkat saat Rangga membantu mengangkat barang, tatapan yang semakin lama, dan obrolan malam yang semakin larut. Refa tetap tidak curiga, malah semakin senang karena ibunya terlihat lebih ceria akhir-akhir ini.
Suatu malam, saat hujan deras lagi turun di Surabaya, Refa terpaksa menginap di kos teman lain karena ada tugas kelompok mendadak sampai pagi. Rangga yang seharusnya ikut, memilih tetap di rumah Devita dengan alasan “mau nemenin Tante sendirian di rumah besar ini kalau hujan deras”.
Mereka berdua duduk di ruang keluarga sampai larut. Lampu redup, suara hujan deras di atap.
“Tante takut sendirian malam begini?” tanya Rangga pelan.
“Biasanya iya,” jawab Devita jujur. “Tapi malam ini… tidak terlalu.”
Rangga tersenyum. 5515Please respect copyright.PENANA3TvqYAkm58
“Kalau begitu, saya akan temani Tante sampai Refa pulang besok.”
Mereka terus berbincang hingga tengah malam. Topik mulai dari masa lalu Devita yang pernah menjadi model, hingga mimpi-mimpi Rangga yang ingin membangun masa depan. Semakin malam, jarak di sofa semakin menyempit. Bahu mereka hampir bersentuhan. Devita bisa mencium aroma sabun dan parfum Rangga yang maskulin. Rangga bisa melihat denyut nadi di leher Devita yang berdegup cepat.
“Rangga…” bisik Devita pelan.
“Ya, Tante?”
“Terima kasih sudah ada di sini.”
Rangga menoleh, wajah mereka sangat dekat.5515Please respect copyright.PENANAvN5ZbENiKw
“Saya yang harus berterima kasih, Tante. Karena sudah membiarkan saya masuk ke hidup Tante.”
Malam itu mereka tidak tidur sampai pagi. Hanya duduk berdua, berbagi cerita, dan membiarkan perasaan yang terlarang itu semakin kuat tanpa menyentuh batas yang belum boleh mereka langgar.
Ini masih awal dari badai yang akan datang. Perasaan telah tumbuh, batas mulai kabur, dan rahasia mulai terbentuk di antara seorang ibu dan teman anaknya.
ns216.73.216.105da2


