Bab 1: Bayang-Bayang yang Mulai Menari
Malam itu hujan deras mengguyur Perumahan, membuat udara terasa lebih lembab dan dingin daripada biasanya. Rumah mewah dua lantai di kawasan elite itu tampak sepi dari luar, hanya lampu ruang tamu yang menyala redup di balik jendela kaca besar.7669Please respect copyright.PENANAj3IDa14u1Y
Di dalam, Devita berdiri di depan cermin kamarnya yang besar, menatap pantulan dirinya sendiri. Usianya sudah 42 tahun, tapi tubuhnya masih seperti perempuan yang baru berusia tiga puluh. Sebagai janda yang ditinggal suami lima tahun lalu karena kecelakaan, Devita menjaga penampilan dengan sangat baik. Payudaranya yang montok dan kencang masih terlihat sempurna di balik gaun rumah satin tipis berwarna hitam yang dia kenakan malam ini. P7669Please respect copyright.PENANAwsioWu6ljb
inggangnya ramping, pinggulnya lebar dan menggoda, kulitnya putih mulus tanpa cela. Rambut hitam panjangnya terurai sampai punggung, wangi shampoo mahal yang selalu dia pakai. Matanya yang tajam dan bibirnya yang penuh memberi kesan seksi yang sulit diabaikan siapa pun yang melihatnya.
“Refa masih belum pulang ya…” gumam Devita pelan sambil menghela napas. Anak tunggalnya, Refa, kini berusia 20 tahun dan sudah kuliah semester tiga di universitas swasta ternama di Surabaya. Refa anak yang baik, rajin, tapi semenjak ayahnya meninggal, dia lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-temannya. Devita merasa kesepian, tapi dia tak pernah mengeluh di depan anaknya. Dia ingin Refa bahagia, fokus kuliah, dan tidak terbebani dengan masalah ibunya.
Tiba-tiba terdengar suara motor memasuki garasi. Devita tersenyum kecil. 7669Please respect copyright.PENANAXtbTksZGEL
“Akhirnya pulang juga.” Dia turun ke bawah, kakinya yang jenjang dan mulus melangkah pelan di anak tangga marmer. Saat sampai di ruang tamu, pintu depan terbuka. Refa masuk sambil membawa tas ransel besar, di belakangnya ada seorang pemuda tinggi tegap yang langsung membuat Devita sedikit terkejut.
“Bu, aku bawa Rangga ya. Kita mau ngerjain tugas kelompok malam ini. Boleh kan dia nginep di sini? Hujannya deras banget,” kata Refa sambil melepas sepatu.
Rangga, teman satu angkatan Refa, berusia 21 tahun. Tubuhnya atletis karena rutin main basket di kampus. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, mata tajam, dan senyum yang selalu ramah. Rambutnya pendek rapi, kulitnya sawo matang yang sehat. Dia mengenakan kaos polo hitam dan celana jeans yang membuat posturnya terlihat semakin gagah.
“Selamat malam, Tante Devita,” sapa Rangga sopan sambil sedikit membungkuk. Matanya sesaat melirik ke arah Devita, tapi langsung dialihkan dengan sopan.7669Please respect copyright.PENANArrGHbP1N3J
“Maaf ganggu malam-malam.”
Devita tersenyum hangat, meski hatinya tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat. Sudah lama sekali tidak ada pria muda yang masuk ke rumahnya selain Refa. 7669Please respect copyright.PENANANC7k5RPuow
“Tidak apa-apa, Rangga. Tante senang kok ada teman Refa yang datang. Masuk saja, cuaca di luar memang tidak enak. Mau Tante siapkan makan malam dulu?”
Refa langsung melempar tasnya ke sofa.7669Please respect copyright.PENANA0U0jNeMCkL
“Iya Bu, lapar banget. Rangga juga belum makan. Kita mau ngerjain makalah mata kuliah Manajemen ini sampe pagi mungkin.”
Devita mengangguk. 7669Please respect copyright.PENANAHVvnZlfv5A
“Baiklah. Kalian ke kamar Refa dulu, Tante masak sebentar. Ada nasi goreng spesial dan ayam goreng lho.”
Rangga mengucapkan terima kasih sekali lagi sebelum mengikuti Refa naik ke lantai dua. Saat melewati Devita, bahu mereka hampir bersentuhan. Devita bisa mencium aroma parfum Rangga yang maskulin dan segar. Entah kenapa, aroma itu membuatnya teringat masa mudanya dulu, saat suaminya masih hidup dan sering memeluknya dengan erat.
Di dapur, Devita sibuk memasak. Pisau beradu dengan talenan, bau bawang goreng menyebar ke seluruh rumah. Pikirannya melayang. Sudah lima tahun dia hidup sendirian, menjaga rumah ini, mengurus bisnis kecil-kecilan dari rumah agar Refa tidak kekurangan. Teman-teman sekolah Refa biasanya hanya datang sebentar, tapi Rangga… entah kenapa terasa berbeda. 7669Please respect copyright.PENANAAfdide6ZOZ
Pemuda itu selalu sopan setiap kali bertemu di depan gerbang kampus saat menjemput Refa. Sekali dua kali Rangga bahkan membantu membawakan belanjaan berat ketika mereka kebetulan bertemu di supermarket dekat rumah.
“Bu, butuh bantuan nggak?” suara Rangga tiba-tiba terdengar dari ambang pintu dapur. Devita menoleh, sedikit kaget. Refa masih di atas, katanya mau mandi dulu.
“Eh, Rangga. Tidak usah, Tante bisa sendiri kok. Kamu istirahat saja,” jawab Devita sambil tersenyum. Tapi Rangga sudah melangkah masuk, menggulung lengan kaosnya hingga siku.
“Biarkan saya bantu potong sayurnya, Tante. Biar cepat. Saya biasa masak di kosan,” katanya sambil mengambil pisau cadangan dari rak.
Devita mengamati tangan Rangga yang besar dan kuat saat memotong wortel dengan rapi. 7669Please respect copyright.PENANAc2VQyuGZ3t
“Kamu anak kos ya? Orang tua kamu di mana?”
“Di Malang, Tante. Saya kuliah di sini, jadi kos dekat kampus. Kadang kangen rumah sih, tapi ya sudahlah. Untung ada Refa yang sering ngajak ke sini. Rumah Tante nyaman banget,” jawab Rangga sambil tersenyum tipis. Matanya sesaat bertemu dengan mata Devita. Hanya satu detik, tapi cukup membuat Devita merasa ada sesuatu yang hangat di dada.
Mereka berbincang ringan sambil memasak. Rangga bercerita tentang kuliah, tentang basket, tentang mimpi ingin punya bisnis sendiri setelah lulus. Devita mendengarkan dengan penuh perhatian. Jarang sekali ada yang mendengarkan ceritanya tentang masa lalu, tentang bagaimana dia dulu bekerja sebagai model sebelum menikah, tentang kesepian yang kadang datang di malam hari.
“Refa bilang Tante janda ya? Maaf kalau saya lancang,” kata Rangga pelan saat mereka sedang menyajikan makanan ke piring.
Devita tertawa kecil, tapi ada nada sedih di dalamnya. 7669Please respect copyright.PENANABUK8Fhria7
“Iya, sudah lima tahun. Tapi Tante sudah terbiasa. Yang penting Refa bahagia. Kamu sendiri belum punya pacar, Rangga?”
Rangga menggeleng. 7669Please respect copyright.PENANAlIy7NFc0Bm
“Belum, Tante. Sibuk kuliah dan basket. Lagi pula, cewek-cewek kampus kebanyakan masih anak-anak. Saya lebih suka yang… matang, yang punya pengalaman hidup.”
Kata-kata itu terucap biasa saja, tapi Devita merasa pipinya sedikit panas. Dia mengalihkan pandangan ke kompor. 7669Please respect copyright.PENANAWKUEolTNPV
“Sudah selesai. Ayo kita bawa ke atas, Refa pasti sudah lapar.”
Mereka bertiga makan malam di meja makan besar di lantai dua, dekat kamar Refa. Obrolan mengalir santai. Refa bercerita tentang dosen yang galak, Rangga ikut menimpali dengan lelucon-lelucon kecil yang membuat Devita tertawa.7669Please respect copyright.PENANARSUB37Grkd
Sesekali mata Rangga melirik ke arah Devita, memperhatikan cara dia mengunyah, cara rambutnya jatuh ke bahu, cara gaun satinnya sedikit melorot di bahu saat dia tertawa.
Setelah makan, Refa dan Rangga langsung ke kamar untuk mengerjakan tugas. Devita membersihkan dapur sendirian. Jam menunjukkan pukul 22.30. Hujan masih deras di luar. Dari kamar Refa terdengar suara ketik laptop dan obrolan pelan mereka berdua. Devita duduk di sofa ruang keluarga, menyalakan TV tapi tidak benar-benar menonton. Pikirannya kembali ke Rangga. 7669Please respect copyright.PENANA88XqRXhns4
Pemuda itu sopan, rajin, dan… menarik. Sudah lama sekali Devita tidak merasakan perhatian dari pria. Suaminya dulu memang penyayang, tapi setelah meninggal, dunia Devita seolah berhenti berputar di sekitar rumah dan anaknya saja.
Tiba-tiba pintu kamar Refa terbuka. Rangga keluar sambil mengusap rambutnya yang basah karena mandi. Dia hanya memakai kaos oblong tipis dan celana pendek olahraga yang Refa pinjamkan.7669Please respect copyright.PENANA9RMVAlDnGe
“Tante, boleh minta air mineral dingin? Refa sudah tidur duluan, capek banget katanya.”
Devita berdiri. 7669Please respect copyright.PENANArd28sAKG4l
“Tentu. Duduk dulu di sofa, Tante ambilkan.”
Mereka duduk berdua di ruang keluarga yang temaram. Hanya lampu standing lamp yang menyala kuning keemasan. Rangga minum airnya pelan-pelan. “Tante, boleh saya tanya sesuatu yang pribadi?”
Devita mengangguk, hatinya tiba-tiba berdebar. 7669Please respect copyright.PENANAc3xvlpgnqN
“Silakan.”
“Kenapa Tante tidak menikah lagi? Tante masih cantik sekali, masih muda. Banyak yang pasti mau.”
Devita tersenyum getir. 7669Please respect copyright.PENANATlOj6cZBem
“Sulit, Rangga. Sudah terbiasa sendiri. Lagipula, Tante takut Refa tidak suka kalau ada orang baru di rumah ini. Kamu tahu sendiri, anak laki-laki biasanya protektif sama ibunya.”
Rangga mengangguk pelan.7669Please respect copyright.PENANAOlBirckpV4
“Saya mengerti. Tapi… kalau ada yang tulus, yang bisa menjaga Tante dan Refa, pasti Refa akan terima kok. Tante layak bahagia lagi.”
Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti angin hangat yang menyusup ke hati Devita yang lama beku. Mereka diam sejenak, hanya suara hujan yang mengisi keheningan. Rangga meletakkan gelasnya di meja, tangannya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Devita saat mengambil remote TV. Sentuhan itu ringan, tapi seperti listrik kecil yang membuat Devita menarik tangannya pelan.
“Maaf,” kata Rangga cepat.
“Tidak apa-apa,” jawab Devita, suaranya sedikit bergetar. 7669Please respect copyright.PENANAFvl2VQIZqN
“Kamu… sudah lama berteman dengan Refa ya?”
“Sejak semester satu. Refa orangnya asyik, Tante. Saya senang main ke sini karena rumahnya nyaman, dan… Tante juga ramah sekali.”
Obrolan mereka berlanjut hampir satu jam. Rangga bercerita tentang masa kecilnya di Malang, tentang ayahnya yang petani dan ibunya yang guru SD. Devita bercerita tentang masa mudanya sebagai model iklan, tentang perjalanan bisnis kecilnya sekarang yang berjualan baju online. 7669Please respect copyright.PENANAJQrdaQTCqd
Mereka tertawa bersama saat Rangga menirukan aksen dosen Refa yang lucu. Devita merasa nyaman, lebih nyaman daripada yang dia rasakan selama bertahun-tahun.
Jam menunjukkan pukul 00.15 saat Refa keluar dari kamarnya dengan mata mengantuk. “7669Please respect copyright.PENANAVvrqIDqGDT
Rang, lo masih ngobrol? Besok tugasnya harus selesai lho.”
Rangga tertawa.7669Please respect copyright.PENANAzS3MSTVMCl
“Iya, bentar lagi. Tante Devita ceritanya seru banget.”
Refa menguap. 7669Please respect copyright.PENANATgdUaoYTBi
“Ya udah, gue tidur dulu. Lo tidur di sofa bed di kamar gue aja ya. Jangan ganggu ibu gue terlalu malam.” Refa kembali masuk ke kamar tanpa curiga sedikit pun.
Devita dan Rangga saling pandang.7669Please respect copyright.PENANAhpsemwnS2h
“Sebaiknya kamu istirahat juga, Rangga. Besok masih ada kuliah kan?” kata Devita lembut.
Rangga berdiri, tapi sebelum pergi dia berhenti sejenak. 7669Please respect copyright.PENANAMgRkH95B6A
“Tante… terima kasih malam ini. Rasanya seperti pulang ke rumah sendiri. Kalau boleh, besok saya mau bantu Tante potong rumput di halaman belakang. Rumputnya sudah tinggi.”
Devita tersenyum. 7669Please respect copyright.PENANAFd243Svfoa
“Tentu boleh. Tante tunggu ya.”
Rangga berjalan menuju kamar Refa, tapi sebelum masuk pintu, dia menoleh lagi. “Selamat malam, Tante Devita. Mimpi indah.”
“Selamat malam, Rangga.”
Pintu kamar tertutup pelan. Devita duduk kembali di sofa, tangannya menyentuh punggung tangan yang tadi tersentuh Rangga. Hatinya berdegup kencang. Ini hanya obrolan biasa, hanya sentuhan tidak sengaja, tapi kenapa terasa begitu berbeda? Sudah lama dia tidak merasakan ada pria yang memperhatikannya seperti ini. Rangga masih muda, teman anaknya, tapi sikapnya dewasa dan penuh perhatian.
Dia bangkit, mematikan lampu ruang keluarga, dan berjalan ke kamarnya sendiri. Saat melewati kamar Refa, dia mendengar suara Rangga yang pelan sedang berbicara di telepon dengan temannya, tapi Devita tidak ingin menguping. Dia masuk ke kamar, mengunci pintu, dan berbaring di tempat tidur king-size yang terlalu luas untuknya seorang diri.
Malam itu Devita sulit tidur. Pikirannya penuh dengan senyum Rangga, suara tawanya, aroma tubuhnya, dan kata-katanya yang hangat.7669Please respect copyright.PENANAK8XpnorGPf
“Dia hanya teman Refa,” gumamnya dalam hati berulang kali. Tapi semakin dia mengulang, semakin dia sadar bahwa ada sesuatu yang mulai tumbuh. Sesuatu yang terlarang, sesuatu yang bisa mengubah segalanya.
Pagi harinya, matahari Surabaya sudah terbit terang. Devita bangun lebih awal dari biasanya. Dia memakai daster rumah yang tipis berwarna merah marun, rambutnya diikat ponytail tinggi. Saat turun ke bawah, dia mendengar suara mesin rumput dari halaman belakang. Rangga sudah bangun sejak jam 6 pagi, memakai kaos tanpa lengan yang memamerkan otot lengannya yang kencang, sedang memotong rumput dengan telaten.
Refa masih tidur pulas di kamar.
Devita keluar ke halaman sambil membawa segelas es teh manis. 7669Please respect copyright.PENANA0zaY7MBSDK
“Rangga, sudah bangun pagi sekali. Ini minum dulu.”
Rangga mematikan mesin rumput, mengusap keringat di dahinya dengan lengan. Dada dan lengannya berkilat karena keringat.7669Please respect copyright.PENANALW07zmH0DT
“Terima kasih, Tante. Pagi ini enak banget cuacanya setelah hujan semalam.”
Mereka berdiri berdua di halaman belakang yang luas, dikelilingi tanaman hias dan kolam ikan kecil. Devita memperhatikan cara Rangga minum, cara lehernya bergerak saat menelan. 7669Please respect copyright.PENANAhIHpo8wfX6
“Kamu kuat sekali ya. Tante biasanya bayar tukang kebun, tapi jarang rapi begini.”
Rangga tertawa. “Saya senang kok bantu Tante. Anggap saja ini balas budi karena Tante sudah traktir makan malam enak dan tempat nginep yang nyaman.”
Obrolan pagi itu mengalir lagi. Devita bercerita tentang rencana bisnis bajunya yang mau di-expand, Rangga memberikan saran-saran bisnis yang pintar meski masih mahasiswa. Sesekali Rangga membungkuk untuk memungut rumput yang berserakan, dan Devita tanpa sadar memperhatikan punggungnya yang lebar dan otot-otot yang menegang.
Refa akhirnya turun jam 8 pagi, masih mengantuk.7669Please respect copyright.PENANApDuWMSmVJj
“Wah, Rangga sudah kerja keras pagi-pagi. Bu, sarapan apa hari ini?”
Devita tersenyum pada anaknya. 7669Please respect copyright.PENANAdYuqJLVwYk
“Nasi kuning spesial. Kalian duduk dulu, Tante siapkan.”
Ketiga orang itu sarapan bersama di meja makan. Refa sibuk dengan HP-nya, sementara Rangga dan Devita terus berbincang tentang hal-hal kecil: resep masakan, film terbaru, bahkan rencana liburan semester nanti. Refa sesekali ikut nimbrung, tapi dia tidak curiga sama sekali. Baginya, Rangga hanya teman baik yang sudah seperti saudara.
Setelah sarapan, Refa dan Rangga kembali ke kamar untuk menyelesaikan tugas yang tertunda semalam. Devita membersihkan rumah seperti biasa. Tapi hari itu terasa berbeda. Setiap kali melewati kamar Refa, dia mendengar tawa Rangga, dan hatinya ikut tersenyum.
Siang harinya, saat Refa pergi sebentar ke kampus untuk mengambil buku referensi, Rangga tetap di rumah karena tugasnya sudah hampir selesai. Dia membantu Devita menyusun barang-barang di gudang belakang yang sudah lama berantakan. Mereka berdua di ruang sempit itu, udara panas, tubuh mereka kadang bersentuhan saat memindahkan kardus.
“Maaf Tante, sempit ya,” kata Rangga saat lengannya tanpa sengaja menyentuh pinggang Devita saat dia meraih kardus di atas.
Devita merasa kulitnya panas di tempat yang disentuh.7669Please respect copyright.PENANA5dwrXJDxvz
“Tidak apa-apa. Kamu baik sekali sudah mau bantu.”
Mereka diam sejenak. Rangga menatap Devita lekat.7669Please respect copyright.PENANARCpDB9P4Ly
“Tante… saya boleh bilang jujur nggak?”
“Bilang saja.”
“Saya senang banget bisa dekat dengan Tante. Rasanya… Tante seperti orang yang bisa saya ceritain apa saja. Sudah lama saya nggak merasa nyaman sama orang secepat ini.”
Devita menunduk, jantungnya berdegup kencang. 7669Please respect copyright.PENANAXuE8gK4YZF
“Rangga… kamu teman Refa. Tante juga senang kamu datang ke sini. Tapi…”
Rangga tersenyum lembut. “Saya tahu. Saya nggak maksud apa-apa yang aneh. Hanya… terima kasih sudah memperlakukan saya seperti keluarga.”
Momen itu berhenti saat Refa pulang dan memanggil dari depan. 7669Please respect copyright.PENANAsSRqQJrcd2
“Rang! Tugasnya udah beres belum? Kita mau main basket sore ini!”
Rangga keluar dari gudang, meninggalkan Devita yang masih berdiri di sana dengan dada yang naik turun. Dia menyentuh pinggangnya sendiri di tempat yang tadi tersentuh Rangga.7669Please respect copyright.PENANAtZyp2bFLD2
“Ini hanya perasaan biasa… hanya karena kesepian,” katanya dalam hati. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Devita tahu bahwa benih sesuatu yang lebih besar sudah mulai tumbuh.
Sore itu, setelah Refa dan Rangga pergi main basket, Devita duduk di teras depan sambil menikmati angin sore. HP-nya bergetar. Pesan masuk dari nomor baru.
“Terima kasih banyak hari ini, Tante Devita. Rumah Tante bikin saya betah. Besok saya boleh main lagi nggak? Ada yang mau saya bantu di rumah.”
Pengirim: Rangga.
Devita tersenyum kecil, jarinya ragu-ragu di layar. Akhirnya dia balas:
“Boleh saja, Rangga. Rumah ini selalu terbuka untuk teman Refa. Hati-hati di jalan.”
Dia meletakkan HP, menatap langit sore yang mulai jingga. Hujan semalam sudah reda, tapi di hati Devita, ada badai kecil yang baru saja mulai berhembus. Hubungan yang belum bernama, perasaan yang belum diucapkan, dan rahasia yang belum terungkap.
7669Please respect copyright.PENANAutIjLKhd55


