Hari ketujuh Yahya menginap tiba dengan suasana yang sudah sangat berbeda di rumah dua lantai di Darmo. Pagi itu hujan deras masih mengguyur Surabaya sejak subuh, membuat udara terasa lebih dingin dan lembab.8669Please respect copyright.PENANAPA6BXDrH6I
Shella terbangun dengan perasaan berat di dada. Malam sebelumnya ia hampir tidak bisa tidur, pikirannya dipenuhi kata-kata Yahya, sentuhan-sentuhannya yang “tak sengaja”, dan rasa bersalah yang semakin menekan. Ia mandi dengan air hangat lama sekali, mencoba membersihkan pikiran, tapi setiap kali mata tertutup, wajah Yahya dengan senyum percaya diri itu muncul.
Ia mengenakan daster rumah berwarna peach yang sedikit lebih tipis dari biasanya karena panas malam sebelumnya masih terasa di kulit. Rambutnya dibiarkan terurai basah, tidak langsung diikat. Saat turun ke dapur, aroma kopi sudah tercium. Yahya sudah bangun lebih dulu, berdiri di depan kompor dengan kaos hitam ketat dan celana training abu-abu. Ia sedang membuat telur orak-arik sederhana.
“Pagi, Shell,” sapanya tanpa menoleh dulu, tapi suaranya lembut. 8669Please respect copyright.PENANAIMPoJT6jjT
“Aku lihat Andre belum pulang juga. Hujan deras banget di Sidoarjo katanya di grup WA proyek. Aku buatin sarapan pagi ini. Duduk aja.”
Shella berdiri di ambang dapur, tangannya memegang meja. 8669Please respect copyright.PENANAx3n4foVpfH
“Kamu nggak usah repot, Yah. Ini rumahku.”
Yahya berbalik, matanya langsung menangkap penampilan Shella pagi ini — rambut terurai, wajah tanpa make-up yang masih segar meski ada lingkar hitam tipis karena kurang tidur. 8669Please respect copyright.PENANAxUChZRl0Ei
“Repot? buat kamu bukan repot. Duduk. Aku yang urus hari ini.”
Shella duduk pelan di kursi meja makan. Andre menelepon sekitar pukul tujuh pagi. Suaranya terdengar sangat lelah. 8669Please respect copyright.PENANALwvx5glXq0
“Sayang, banjir di jalan tol parah. Aku terpaksa menginap satu malam lagi di hotel dekat site. Maaf ya, besok pagi aku pasti pulang. Kamu sabar ya. Tolong jaga Yahya baik-baik.”
Shella menjawab dengan suara datar. 8669Please respect copyright.PENANAAxEmPgiLZv
“Iya, Mas. Kamu istirahat aja di sana. Hati-hati.”
Telepon ditutup. Shella meletakkan ponsel di meja, matanya kosong sebentar. Yahya meletakkan piring telur orak-arik dan roti bakar di depannya, lalu duduk di seberang. 8669Please respect copyright.PENANAaR6TrnKMvX
“Andre tertunda lagi ya?”
Shella hanya mengangguk.
Mereka sarapan dalam diam yang nyaman tapi tegang. Yahya tidak banyak bicara pagi itu, memberi Shella ruang. Tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat udara terasa berbeda. Setelah sarapan, Yahya membersihkan dapur sendiri, tidak membiarkan Shella menyentuh piring. 8669Please respect copyright.PENANAQXKBrP4F2P
“Kamu istirahat aja hari ini. Aku yang urus.”
Sepanjang pagi, rumah terasa seperti dunia kecil yang hanya berisi mereka berdua. Shella mencoba sibuk dengan membersihkan kamar utama, mengganti seprai, tapi pikirannya terus melayang. Ia melihat foto pernikahan di nakas — dirinya tersenyum bahagia di pelukan Andre. Air mata hampir jatuh, tapi ia tahan. Aku istri yang setia. Ini cuma sementara.
Yahya bekerja di ruang kerja sebentar, tapi sore harinya ia keluar dan menemukan Shella duduk di teras belakang yang tertutup, menatap hujan yang masih deras. Ia membawa dua gelas teh hangat dan duduk di kursi sebelahnya.
“Shell, kita ngobrol yuk,” katanya pelan.8669Please respect copyright.PENANAxLr1iV7f5f
“Aku lihat kamu gelisah dari kemarin.”
Shella memegang gelas teh, uapnya menghangatkan wajah. 8669Please respect copyright.PENANApC2UvrjbzJ
“Ini nggak boleh, Yahya. Kamu tahu itu.”
“Aku tahu,” jawab Yahya. Ia mendekatkan kursinya sedikit. 8669Please respect copyright.PENANAcgCNf02lD5
“Tapi aku juga tahu kamu lagi kesepian. Andre sibuk, anak-anak jauh, kamu ngurus rumah ini sendirian bertahun-tahun. Aku di sini cuma seminggu, tapi aku lihat kamu butuh seseorang yang benar-benar lihat kamu.”
Shella menoleh, matanya berkaca-kaca8669Please respect copyright.PENANAt5EO6iedvA
“Kamu nggak boleh bilang begitu. Aku mencintai suamiku.”
Yahya tersenyum tipis, tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Shella yang memegang gelas. Kali ini tidak “tak sengaja”. Jari-jarinya mengelus pelan, hangat.8669Please respect copyright.PENANAJme6851ZXN
“Cinta itu nggak hilang cuma karena ada yang kasih perhatian. Aku nggak minta kamu berhenti cinta Andre. Aku cuma mau kamu merasa hidup lagi. Kamu pantas itu.”
Shella tidak langsung menarik tangan. Sentuhan itu terasa seperti listrik kecil yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Sudah bertahun-tahun tidak ada pria yang menyentuhnya dengan cara seperti ini — penuh perhatian, penuh hasrat yang tertahan. Ia menarik napas dalam. 8669Please respect copyright.PENANA4AitQxslXZ
“Yahya… tolong jangan.”
Tapi suaranya lemah. Yahya mendengar itu. Ia tidak mundur, tapi juga tidak maju terlalu cepat.8669Please respect copyright.PENANAobCPlQc2QM
“Aku suka kamu, Shell. Sudah dari dulu. Waktu lihat kamu pertama kali di acara kuliah Andre, aku sudah iri sama dia. Sekarang aku di sini, lihat kamu setiap hari… aku nggak bisa bohong lagi.”
Hujan deras menjadi latar suara yang menutupi detak jantung Shella yang kencang. Ia berdiri tiba-tiba, meninggalkan gelas teh, dan masuk ke dalam rumah. Yahya mengikuti dengan langkah tenang.
Di ruang keluarga, Shella bersandar di sofa, tangannya memeluk tubuh sendiri. Yahya berdiri di depannya, tubuh tingginya mendominasi ruangan. “Shell, lihat aku.”
Shella mengangkat wajah. Mata Yahya penuh api yang sudah lama tertahan.8669Please respect copyright.PENANADigD0MJSpQ
“Kamu cantik. Tubuhmu matang, senyummu lembut, tapi matamu bilang kamu lapar akan sesuatu yang Andre nggak kasih lagi. Aku bisa kasih itu. Nggak sekarang, nggak besok kalau kamu nggak mau. Tapi aku mau kamu tahu — aku menginginkan kamu. Bukan cuma badan. Aku mau kamu jadi milikku.”
Kata-kata itu kasar tapi jujur. Shella merasa lututnya lemas. Ia duduk di sofa, wajahnya memerah. 8669Please respect copyright.PENANAUOcM9fRWw3
“Ini salah… aku istri orang.”
Yahya duduk di sebelahnya, jarak sangat dekat. Tangan kanannya menyentuh pipi Shella, mengelus pelan dengan ibu jari. Kulit Shella halus dan hangat. 8669Please respect copyright.PENANAogaNjqaGww
“Salah itu kalau kamu nggak mau. Kalau kamu mau, ini jadi benar buat kita berdua.”
Shella menutup mata, air mata jatuh. Tapi ia tidak menepis tangan Yahya. Sentuhan itu terlalu lama tidak ia rasakan — perhatian penuh, keinginan yang jelas. Yahya mendekatkan wajahnya, napasnya hangat di pipi Shella. Ia tidak mencium, hanya mendekat sampai hampir menyentuh, memberi Shella kesempatan untuk mundur.
Shella tidak mundur. Napasnya tersengal pelan.8669Please respect copyright.PENANAITRZKZtLF1
“Yahya… jangan…”
Tapi tubuhnya berkhianat. Payudaranya naik turun lebih cepat di balik daster tipis. Yahya bisa melihat puncak payudaranya mengeras karena ketegangan. Ia tersenyum dalam hati.
Malam itu, Andre menelepon lagi — hujan dan banjir membuatnya terpaksa menginap malam ketiga. Shella mendengar berita itu dengan perasaan hampa. Setelah telepon, ia duduk di kamar utama sendirian, memeluk bantal Andre. Tapi bau suaminya sudah tidak cukup lagi.
Yahya mengetuk pintu kamar pelan.8669Please respect copyright.PENANACwBzPoRlqS
“Shell, makan malam. Aku masak sesuatu sederhana.”
Shella keluar, wajahnya pucat. Mereka makan di meja makan dengan lampu redup. Tidak banyak kata. Setelah makan, Yahya membersihkan, lalu mengajak Shella duduk di sofa ruang keluarga lagi. Film tidak dinyalakan. Hanya suara hujan.
Yahya duduk sangat dekat. Tangan kirinya memeluk bahu Shella pelan, menariknya mendekat. Shella kaku sebentar, tapi lalu tubuhnya melemas. Kepalanya bersandar di bahu Yahya. Bau tubuh pria itu — campuran parfum mahal, keringat ringan, dan maskulinitas — membuat kepalanya pusing.
“Shell,” bisik Yahya di telinga. “Kamu aman sama aku.”
Tangan kanannya mulai mengelus lengan Shella naik turun, pelan, menenangkan tapi juga membangkitkan. Shella merasa panas di perut bawahnya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan gairah seperti ini — bukan gairah rutin dengan suami, tapi gairah yang liar, yang membuat lutut lemas.
Yahya tidak buru-buru. Ia hanya memeluk, mengelus rambut Shella, sesekali bibirnya hampir menyentuh telinga wanita itu saat berbisik pujian. 8669Please respect copyright.PENANAUHW1wouQVt
“Kamu wangi… kamu lembut… aku mau jaga kamu selamanya.”
Shella menangis pelan di bahu Yahya.8669Please respect copyright.PENANAqjIfUKPGv2
“Aku takut… ini salah besar.”
“Aku tahu. Tapi rasa takut ini bikin kamu hidup lagi, kan?”
Malam semakin larut. Shella tidak naik ke kamar. Ia tetap di sofa, dipeluk Yahya. Tangan pria itu semakin berani — mengelus punggung, pinggang, tapi masih di atas baju. Sentuhan itu membuat Shella menggigil, napasnya pendek-pendek. Ia merasa basah di antara pahanya, sesuatu yang sudah lama tidak terjadi hanya karena pelukan.
Yahya merasakan itu semua. Ia tersenyum gelap di kegelapan.8669Please respect copyright.PENANAwTCIdDS7NU
“Tidur di sini aja malam ini. Aku peluk kamu sampai pagi.”
Shella tidak menolak. Ia berbaring di sofa panjang, tubuh Yahya di belakangnya, memeluk dari belakang seperti sendok. Tangan Yahya memeluk perut Shella, jari-jarinya mengelus pelan di atas daster. Shella bisa merasakan sesuatu yang keras menekan pantatnya dari belakang — bukti hasrat Yahya yang sudah tidak tertahankan.
Tapi Yahya masih menahan diri. Ia hanya memeluk erat, bibirnya mencium rambut Shella pelan. 8669Please respect copyright.PENANAyr4Ah1i83g
“Selamat malam, Shell-ku.”
Shella tidak tidur. Ia terjaga semalaman, tubuhnya panas, pikirannya berperang. Kesetiaan pada Andre masih ada, tapi semakin tipis. Yahya sudah masuk terlalu dalam ke pikirannya, ke tubuhnya.
Pagi kedelapan, hujan reda. Andre menelepon pagi-pagi — ia akan pulang sore ini. Shella mendengar berita itu dengan perasaan campur aduk: lega, tapi juga kecewa yang aneh.
Yahya tersenyum saat mendengar. “Terakhir hari kita berdua ya, Shell.”
Sepanjang hari itu, ketegangan mencapai puncak. Mereka hampir tidak keluar dari rumah. Yahya semakin berani — pelukan di dapur saat Shella memasak, ciuman ringan di pipi yang hampir ke sudut bibir, tangan yang mengelus paha Shella di atas daster saat mereka duduk di sofa.
Shella masih melawan dengan kata-kata, tapi tubuhnya sudah menyerah. Ia basah setiap kali Yahya menyentuh. Payudaranya sensitif, puncaknya selalu mengeras. Ia tahu ini akan berakhir buruk, tapi ia tidak bisa berhenti.
Sore harinya, saat matahari mulai terbenam, suara mobil Andre terdengar di halaman depan. Shella bangkit cepat, wajahnya pucat. Yahya berdiri di belakangnya, tangan menyentuh pinggangnya sebentar terakhir kali.
“Selamat datang kembali, bro,” kata Yahya saat Andre masuk, suaranya normal seperti biasa.
Andre memeluk Shella sekilas.8669Please respect copyright.PENANAY2pFWpRVnj
“Maaf lama ya, Sayang. Capek banget.”
Shella tersenyum, tapi senyum itu palsu. Matanya melirik Yahya sebentar. Yahya balas dengan pandangan yang penuh arti — pandangan yang bilang8669Please respect copyright.PENANAqvd3MEcrcJ
“ini belum selesai”.
Malam itu, Andre tidur cepat karena kelelahan. Shella berbaring di samping suaminya, tapi pikirannya ada di kamar sebelah. Yahya tidak tidur. Ia merencanakan langkah selanjutnya.
Retak sudah menjadi celah besar. Dan celah itu akan segera menjadi lubang yang menelan Shella sepenuhnya.
Andre pulang, tapi Yahya masih menginap “beberapa hari lagi” karena renovasi rumahnya molor. Shella tahu, permainan ini baru saja memasuki babak baru yang lebih gelap.
Dan ia, tanpa sadar sepenuhnya, sudah mulai menjadi mainan yang siap dibentuk.
ns216.73.216.105da2


