Andre pulang sore itu dengan tubuh lelah berat. Jasnya kusut, mata panda karena kurang tidur di hotel murahan dekat site. Ia memeluk Shella di depan pintu, pelukan yang biasa — cepat, tanpa api. 9212Please respect copyright.PENANAOVZUn200OM
“Maaf ya, Sayang. Proyek ini bikin aku gila. Besok aku libur satu hari, kita quality time ya.”
Shella tersenyum, tapi senyum itu terasa kaku di wajahnya. Bau keringat dan debu proyek dari tubuh suaminya tidak lagi membuatnya nyaman seperti dulu. Di belakang Andre, Yahya berdiri dengan senyum ramah, tangan di saku celana. 9212Please respect copyright.PENANAoO4WHccHUI
“Welcome back, bro. Capek banget kelihatannya.”
Andre tertawa sambil menepuk bahu sahabatnya. 9212Please respect copyright.PENANALueQlCiT48
“Iya nih. Makasih udah nemenin Shella selama aku nggak ada. Rumah renovasinya gimana? Masih molor?”
Yahya mengangkat bahu, matanya sebentar melirik Shella yang sedang membantu Andre melepaskan sepatu. 9212Please respect copyright.PENANAqIsngnatsr
“Masih. Kontraktor bilang paling cepat minggu depan baru selesai. Kalau mengganggu, aku cari hotel aja.”
“Jangan lah,” potong Andre cepat.9212Please respect copyright.PENANAJPHFyULUuM
“Di sini aja. Kita kan sahabat lama. Shella juga senang ada teman di rumah, kan Sayang?”
Shella hanya mengangguk pelan.9212Please respect copyright.PENANAfVSwSOlvWa
“Iya… senang.”
Malam pertama setelah Andre pulang terasa canggung bagi Shella. Mereka bertiga makan malam bersama — ayam goreng dan sayur asem yang Shella masak dengan tangan gemetar.9212Please respect copyright.PENANAWsy0O2RL4K
Andre banyak bercerita tentang masalah proyek, banjir, dan klien yang rewel. Yahya mendengarkan dengan sabar, sesekali melempar lelucon yang membuat Andre tertawa keras. Shella diam lebih banyak, matanya sering melirik Yahya tanpa sadar.
Setelah makan, Andre langsung mandi dan naik ke kamar utama.9212Please respect copyright.PENANAosDVna8XlV
“Aku capek banget, langsung tidur ya. Besok kita sarapan bareng.”
Shella membersihkan dapur sendirian. Yahya mendekat dari belakang, suaranya rendah agar tidak terdengar sampai lantai atas. 9212Please respect copyright.PENANAKlQKgKbkRQ
“Kamu baik-baik aja, Shell?”
Shella berbalik cepat, punggungnya menyentuh meja dapur. 9212Please respect copyright.PENANAxqvoSAqVp9
“Yahya… Andre sudah pulang. Kita harus berhenti.”
Yahya tersenyum tipis, tangannya menyentuh pinggang Shella pelan di atas daster. 9212Please respect copyright.PENANAnKW9QVs1ZH
“Berhenti? Setelah kamu hampir menyerah semalam? Aku masih bisa rasain getaran tubuhmu waktu aku peluk dari belakang.”
Shella mendorong dada Yahya pelan, tapi tenaganya lemah. 9212Please respect copyright.PENANAEysO2wQW7T
“Itu kesalahan. Aku istri Andre.”
“Kamu istri Andre di kertas,” bisik Yahya, wajahnya mendekat hingga napasnya menyapu bibir Shella. 9212Please respect copyright.PENANAZtlgx7bE60
“Tapi di sini,” tangannya menyentuh dada kiri Shella, tepat di atas jantung, “kamu sudah mulai jadi milikku.”
Shella merinding hebat. Payudaranya langsung bereaksi, puncaknya mengeras menyakitkan di balik bra tipis. Ia mundur, naik ke kamar dengan cepat. Andre sudah mendengkur pelan di tempat tidur. Shella berbaring di sampingnya, tapi matanya terbuka lebar menatap langit-langit. Di kamar sebelah, Yahya pasti sedang tersenyum puas.
Hari berikutnya, Andre memang libur. Pagi itu mereka sarapan bertiga lagi. Andre mengusulkan jalan-jalan ke pantai Kenjeran sore nanti. 9212Please respect copyright.PENANA4Oj25YL4bF
“Kita bertiga aja. Refreshing.”
Shella setuju dengan hati berat. Sepanjang pagi, Andre sibuk di ruang kerja menelepon klien. Shella dan Yahya berada di dapur lagi. Yahya membantu mencuci buah, tubuhnya sengaja dekat. 9212Please respect copyright.PENANAWEfy1aauOk
Saat Shella membungkuk mengambil mangkuk dari bawah, pantatnya yang bulat menyentuh selangkangan Yahya sebentar.
Yahya tidak mundur. Ia menekan pelan dari belakang, tangannya memegang pinggul Shella. 9212Please respect copyright.PENANAuLRxHxBnEW
“Hati-hati, Shell… jangan bikin aku susah mengontrol diri.”
Shella berdiri cepat, wajahnya merah padam. 9212Please respect copyright.PENANA16dRh2uFKe
“Yahya, Andre di rumah!”
“Tapi dia nggak lihat,” jawab Yahya sambil tersenyum gelap. Tangan kanannya menyelinap ke bawah daster Shella sebentar, mengelus paha bagian dalam yang halus. Sentuhan itu hanya dua detik, tapi cukup membuat Shella basah instan. “Kamu sudah basah ya?”
Shella menepis tangan itu, napasnya tersengal. 9212Please respect copyright.PENANATrsnpJtOBq
“Stop… please.”
Tapi suaranya tidak meyakinkan.
Sore harinya, mereka bertiga ke Kenjeran dengan mobil Andre. Di mobil, Shella duduk di belakang, Yahya di depan. Sepanjang jalan, Yahya sesekali menoleh ke belakang, matanya menatap Shella dengan penuh arti. Saat macet, tangan Yahya menyelinap ke belakang kursi dan menyentuh betis Shella pelan. Shella menarik kaki, tapi lagi-lagi lambat.
Di pantai, angin laut bertiup kencang. Andre berjalan di depan, foto-foto pemandangan. Yahya dan Shella berjalan di belakang. Di antara kerumunan orang, Yahya memegang tangan Shella sebentar, jari-jarinya menggenggam erat. “Kamu milikku sekarang, Shell. Pelan-pelan kamu akan sadar.”
Shella menarik tangan, tapi hatinya sudah kacau. Malam itu pulang, Andre lagi-lagi capek dan tidur cepat setelah mandi.
Malam kedua setelah Andre pulang menjadi titik balik.
Andre tidur di kamar utama pukul 10 malam. Shella tidak bisa tidur. Ia turun ke bawah untuk minum air. Yahya sudah menunggu di ruang keluarga, lampu redup, hanya cahaya dari taman luar.
“Shell,” panggilnya pelan.
Shella mendekat seperti ditarik magnet. Yahya berdiri, menarik Shella ke pelukannya. Kali ini pelukan itu kuat, posesif. Tangan besarnya meremas punggung Shella, lalu turun ke pinggul, meremas pantatnya yang montok di atas daster tipis.
“Ya Allah… Yahya…” desah Shella, suaranya gemetar.
Yahya mencium leher Shella — ciuman panas, basah, lidahnya menjilat kulit halus itu. Shella menggigil, lututnya lemas. Tangan Yahya naik ke payudara Shella, meremas pelan dari luar baju. 9212Please respect copyright.PENANAbPDWXGQf8x
“Kamu besar dan kencang… sudah lama aku ingin pegang ini.”
Shella menangis pelan, tapi tubuhnya menempel lebih erat. Yahya membawa Shella ke sofa, mendudukkannya di pangkuannya. Shella bisa merasakan kejantanan Yahya yang keras dan besar menekan pantatnya. Yahya mengangkat daster Shella sampai pinggang, tangannya menyentuh celana dalam yang sudah basah kuyup.
“Kamu basah banget, Shell. Badanmu jujur, meski mulutmu bilang stop.”
Jari Yahya mengelus celana dalam itu dari luar, menekan klitoris Shella pelan. Shella menggigit bibir untuk menahan erangan. 9212Please respect copyright.PENANAN2Ei1eojRt
“Jangan… Andre di atas…”
“Tapi kamu nggak berhenti aku,” bisik Yahya sambil menggigit cuping telinga Shella. Ia menarik celana dalam ke samping, jari tengahnya menyentuh langsung bibir vagina Shella yang licin dan panas. 9212Please respect copyright.PENANABPPKlGu192
“Begini ya rasanya… sudah lama nggak disentuh dengan benar.”
Shella menggeliat di pangkuan Yahya, pinggulnya bergerak tanpa sadar mengikuti gerakan jari pria itu. Yahya memasukkan satu jari pelan ke dalam, lalu dua. Ia menggerakkan jari dengan ritme lambat tapi dalam, ibu jarinya menggosok klitoris.
Shella menutup mulut dengan tangan, erangan tertahan keluar. Tubuhnya menegang, orgasme pertama dalam bertahun-tahun datang dengan cepat — cairan hangat membasahi jari Yahya.
Yahya tersenyum puas, mencium bibir Shella untuk pertama kalinya. Ciuman itu dalam, lidahnya menjelajah mulut Shella dengan rakus.9212Please respect copyright.PENANAWlRFdbBjlp
“Bagus… orgasme pertama dari aku.”
Shella terengah-engah, tubuhnya lemas di pangkuan Yahya.9212Please respect copyright.PENANAR8M2PaiYYb
“Ini… salah… aku…”
Yahya tidak membiarkannya selesai. Ia membalik posisi Shella, mendudukkannya di sofa dan berlutut di depannya. Ia menarik celana dalam Shella turun sepenuhnya, membuka paha lebar-lebar.9212Please respect copyright.PENANAVWkRDmwsc0
“Aku mau cicipi kamu.”
Lidah Yahya menyentuh vagina Shella — menjilat dari bawah ke atas, mengisap klitoris dengan lembut tapi kuat. Shella meremas rambut Yahya, pinggulnya terangkat. Lidah pria itu ahli, menari di sekitar titik sensitifnya, dua jari lagi masuk dan keluar cepat.
Shella orgasme kedua lebih keras, cairannya menyembur kecil ke mulut Yahya. Ia menangis karena nikmat dan bersalah bercampur.
Yahya bangkit, membuka celana training-nya. Kejantanannya yang besar dan tebal muncul, sudah ereksi penuh, kepala glans mengkilap precum. Ia menggesekkan batang itu di bibir vagina Shella yang basah, tapi belum memasukkan.
“Belum malam ini, Shell. Aku mau kamu minta sendiri. Besok… atau lusa… kamu akan memohon aku masukin.”
Shella menatap kejantanan itu dengan mata berkaca-kaca, campuran takut dan ingin. Yahya memeluknya lagi, menciumnya dalam, lalu membantunya merapikan baju.
“Naik ke kamar. Andre nunggu. Tapi ingat — mulai sekarang, setiap kali Andre tidur, kamu milikku.”
Shella naik ke kamar dengan kaki gemetar. Andre masih mendengkur. Ia berbaring, tubuhnya masih berdenyut nikmat dari orgasme tadi. Air mata mengalir di pipinya. Ia sudah selingkuh. Sudah disentuh. Sudah dijilat. Dan ia menikmatinya.
Hari-hari berikutnya menjadi neraka manis bagi Shella.
Andre kembali sibuk kerja, sering pulang malam. Yahya “menginap” semakin lama dengan alasan renovasi molor. Setiap malam, saat Andre tidur lelap karena kecapekan, Shella diam-diam turun atau Yahya menyelinap ke kamar tamu.
Yahya semakin menguasai tubuh Shella. Ia mengajari Shella mengisap kejantanannya — mulut Shella yang tebal dan hangat membungkus batang besar itu, lidahnya belajar menjilat kepala dan urat-uratnya. Yahya memegang rambut Shella, mendorong pelan sampai ke tenggorokan.
“Bagus… isap lebih dalam. Kamu mainan seks aku sekarang.”
Shella menangis sambil mengisap, tapi ia melakukannya dengan semangat yang semakin besar. Yahya memuaskan Shella dengan jari dan lidah setiap malam, membuatnya orgasme berkali-kali sampai tubuh wanita itu gemetar tak terkendali.
Suatu malam, saat Andre tidur di kamar utama, Yahya membawa Shella ke kamar tamu. Ia menelanjangi Shella sepenuhnya. Tubuh matang 35 tahun itu terpampang — payudara besar yang berat, puting cokelat tua yang mengeras, perut agak berisi tapi seksi, pinggul lebar, vagina yang sudah licin dan membengkak karena hasrat.
Yahya menyusu payudara Shella rakus, menggigit puting pelan sampai Shella mendesah keras. Ia menggesek kejantanannya di celah vagina Shella lama sekali, menekan klitoris, tapi masih menahan penetrasi.
“Kamu mau aku masukin sekarang, Shell? Bilang… minta aku perkosa kamu.”
Shella menggeleng sambil menangis, tapi pinggulnya bergerak maju mundur mengikuti gesekan. 9212Please respect copyright.PENANAx3pGrlFoCT
“Aku… tidak boleh…”
Yahya tersenyum kejam. “9212Please respect copyright.PENANAvV3G5Tz393
Kamu sudah jadi pelacur aku. Besok aku akan ambil kamu sepenuhnya. Andre akan tahu atau tidak — kamu sudah milikku.”
Shella orgasme lagi hanya dari gesekan itu, cairannya membasahi batang kejantanan Yahya.
Andre mulai curiga sedikit — Shella sering “ke kamar mandi” malam-malam, wajahnya sering merona, nafsu makannya berubah. Tapi ia terlalu sibuk dan percaya pada Shella.
Yahya semakin berani. Suatu siang saat Andre ke kantor sebentar, Yahya menarik Shella ke kamar tamu. Ia menelanjangi Shella, mendudukkannya di pangkuan, dan memasukkan dua jari plus ibu jari ke vagina sambil mengisap payudara. Shella menjerit pelan orgasme, tubuhnya kejang.
“Kamu siap jadi mainan seks aku full time, Shell. Besok malam… aku akan perkosa kamu di kamar ini, saat Andre tidur di sebelah. Dan kamu akan minta lebih.”
Shella hanya bisa menangis dan mengangguk lemah. Kesetiaannya sudah hancur. Tubuhnya sudah ketagihan sentuhan Yahya. Pikirannya sudah dipenuhi bayangan kejantanan besar itu yang akan memasukinya.
Malam penentuan semakin dekat.
Shella, istri setia 35 tahun, sudah berada di ambang jurang. Yahya tidak lagi teman suami. Ia sudah menjadi tuan yang mengendalikan tubuh dan hasrat Shella.
Dan Shella… mulai menyukainya.
ns216.73.216.105da2


