Hari kelima Yahya menginap tiba dengan cuaca panas khas Surabaya di awal April. Suhu sudah mencapai 31°C sejak pagi, udara lembab membuat keringat cepat muncul di kulit meski AC rumah menyala pelan.9140Please respect copyright.PENANAmYI4XCSweE
Shella bangun lebih awal dari biasanya, tubuhnya terasa gelisah setelah malam yang penuh mimpi aneh. Ia mandi dengan air dingin untuk menyegarkan diri, lalu mengenakan daster rumah berbahan katun tipis berwarna biru muda yang longgar, rambutnya diikat tinggi agar tidak lengket karena panas.
Andre masih di Sidoarjo untuk site visit hari kedua. Ia menelepon pagi-pagi, suaranya lelah di telepon. 9140Please respect copyright.PENANAiZf0fFubwn
“Sayang, hari ini aku masih di sini. Ada masalah teknis di proyek, mungkin pulang besok sore atau lusa. Kamu baik-baik ya di rumah. Yahya gimana? Jangan sampai dia merasa tidak nyaman.”
Shella menjawab dengan suara tenang seperti biasa. 9140Please respect copyright.PENANASjoBBIFF0z
“Iya, Mas. Yahya baik-baik saja. Kamu fokus kerja aja, hati-hati di sana.”
Setelah telepon ditutup, Shella berdiri di dapur, menatap halaman belakang yang mulai terik. Rumah besar di Darmo ini terasa semakin luas dan sepi. Anak-anak sudah jarang pulang, Andre semakin sering absen, dan sekarang ada Yahya yang mengisi ruang kosong itu dengan kehadirannya yang… berbeda.
Yahya turun sekitar pukul delapan pagi. Ia mengenakan kaos polo abu-abu ketat yang menonjolkan otot dada dan lengannya yang terlatih dari gym rutin, dipadukan celana pendek olahraga. Kulit sawo matangnya berkilau sedikit karena keringat pagi. 9140Please respect copyright.PENANAsSOVtpoWeG
“Pagi, Shell. Panas banget hari ini ya? Andre masih di luar kota?”
“Iya, katanya baru pulang besok atau lusa,” jawab Shella sambil menuang kopi tubruk untuk Yahya, seperti yang ia tahu teman suaminya suka. 9140Please respect copyright.PENANADmc7QIWC6B
“Sarapan apa? Aku buatkan roti bakar atau nasi uduk?”
Yahya duduk di meja makan, matanya mengikuti gerakan Shella yang sibuk di dapur. 9140Please respect copyright.PENANAeARLLZXgHo
“Nasi uduk aja kalau nggak repot. Kamu kelihatan fresh pagi ini, meski panas begini.”
Shella tersenyum tipis, tapi pujian itu lagi-lagi membuatnya sadar akan dirinya sendiri. 9140Please respect copyright.PENANAMLDShKLfwo
“Biasa aja. Kamu mau tambah telur balado?”
Mereka sarapan berdua lagi. Percakapan mengalir tentang cuaca Surabaya yang panas lembab ini, tentang lalu lintas di Darmo yang mulai macet kalau jam kerja, dan tentang rencana Yahya hari ini. 9140Please respect copyright.PENANARp9LvQyavv
“Aku ada meeting online sampai siang. Sore mungkin aku ajak kamu keluar sebentar, Shell. Ke G-Walk atau cari es campur yang enak. Biar nggak bosan di rumah terus.”
Shella ragu. 9140Please respect copyright.PENANAm4I5oPrQPN
“Nggak usah repot, Yah. Aku biasa di rumah.”
“Tapi aku yang repot kalau kamu bosan karena aku di sini,” balas Yahya dengan senyum yang membuat matanya menyipit ramah. 9140Please respect copyright.PENANAEgAEsQ6x8s
“Anggap saja teman lama lagi ngobrol. Andre pasti nggak keberatan.”
Shella akhirnya mengangguk pelan.9140Please respect copyright.PENANAOEsqSt4PKs
“Ya sudah, nanti sore kalau cuacanya agak reda.”
Sepanjang pagi, Yahya bekerja di ruang kerja Andre. Shella melakukan rutinitasnya: membersihkan rumah, menyiram tanaman di halaman, dan yoga ringan di ruang tamu. Saat yoga, ia memakai legging ketat dan tank top longgar. Ia tidak sadar bahwa pintu ruang kerja sedikit terbuka, dan Yahya sesekali melirik dari laptopnya. 9140Please respect copyright.PENANADrEQYP9DSp
Gerakan Shella yang lentur, pinggul lebarnya yang bergerak pelan saat pose downward dog, payudaranya yang montok bergoyang ringan — semuanya tercatat dalam benak Yahya.
Siang hari, panas semakin menyengat. Shella membuat jus jeruk dingin untuk mereka berdua. Saat membawa gelas ke ruang kerja, Yahya sedang berdiri di depan AC, mengusap keringat di lehernya. 9140Please respect copyright.PENANA9yyQQLlXxF
“Makasih, Shell. Kamu perhatian banget.”
Mereka minum bersama di ruang kerja yang sejuk. Yahya mulai bercerita lebih dalam tentang kehidupannya setelah cerai. 9140Please respect copyright.PENANAc0O7YRLlGP
“Dulu aku pikir kerja keras itu segalanya. Bangun perusahaan, proyek besar-besaran. Tapi pulang ke rumah kosong, nggak ada yang nunggu, nggak ada yang peduli kalau aku capek. Kamu beda, Shell. Kamu selalu ada untuk Andre, meski dia sibuk.”
Shella duduk di kursi tamu, tangannya memegang gelas dingin. 9140Please respect copyright.PENANA9TxzpejZ9a
“Itu kewajiban istri, Yah. Aku mencintai Andre.”
“Aku tahu. Tapi cinta itu butuh balasan juga. Kalau satu pihak selalu kasih dan yang lain selalu ambil, lama-lama habis sendiri,” kata Yahya pelan, suaranya rendah dan penuh pemahaman. Matanya menatap Shella dengan intensitas yang membuat wanita itu sulit berpaling.
Shella merasa ada sesuatu yang bergetar di dada. Kata-kata itu menyentuh titik yang selama ini ia coba abaikan. Malam-malam sendirian, sentuhan Andre yang semakin jarang dan rutin, perhatian yang hilang diganti janji “nanti ya sayang”. Ia menggeleng pelan.9140Please respect copyright.PENANAyFfsnw30Yo
“Kita nggak boleh ngomongin ini, Yahya. Kamu teman Andre.”
Yahya mengangguk, tapi senyumnya tetap ada.9140Please respect copyright.PENANAP5K9laUpyD
“Aku cuma ngomong sebagai teman juga. Aku khawatir sama kamu.”
Sore harinya, hujan deras tiba-tiba turun, seperti sering terjadi di Surabaya April ini. Rencana keluar dibatalkan. Mereka terjebak di rumah lagi. Yahya mengusulkan main board game yang ia temukan di lemari ruang tamu — Monopoly versi lama yang dulu sering dimainkan keluarga.
Mereka duduk di lantai karpet ruang keluarga, AC menyala, lampu redup karena cuaca mendung. Hujan deras di atap membuat suara ritmis yang menenangkan sekaligus intim. Yahya sengaja bermain santai, membiarkan Shella menang beberapa ronde agar wanita itu tertawa lepas.
“Shell, kamu pintar nego properti ya,” godanya saat Shella beli hotel di Boardwalk.
Shella tertawa, pipinya merona karena menang.9140Please respect copyright.PENANAqObANpXTBi
“Ini cuma permainan.”
Saat permainan berlanjut, kaki mereka sesekali bersentuhan di bawah meja rendah. Yahya tidak menarik kakinya, dan Shella, setelah beberapa kali, juga tidak. Sentuhan itu terasa hangat di tengah hawa dingin AC.
Malam semakin larut. Hujan belum reda. Andre menelepon lagi, bilang ia terpaksa menginap satu malam lagi karena banjir kecil di area site.9140Please respect copyright.PENANA84HoTIZrFs
“Kamu istirahat ya, Sayang. Besok aku usahain pulang cepet.”
Shella meletakkan ponsel, hatinya campur aduk. Sendirian lagi dengan Yahya semalaman.
Mereka memutuskan makan malam ringan — soto ayam yang Shella masak cepat. Di meja makan, cahaya lampu kuning membuat suasana hangat. Yahya menuangkan air untuk Shella, tangannya menyentuh jari wanita itu sebentar. 9140Please respect copyright.PENANAWbjlhcUwzb
“Kamu baik banget, Shell. Aku ngerasa seperti punya keluarga lagi di sini.”
Setelah makan, mereka duduk di sofa ruang keluarga menonton berita malam. Topik tentang cuaca ekstrem di Jawa Timur. Yahya duduk lebih dekat dari biasanya. 9140Please respect copyright.PENANABazXWyCvx0
“Kamu dingin nggak? AC-nya kenceng.”
Shella menggeleng, tapi tubuhnya memang sedikit merinding — bukan karena dingin sepenuhnya. Yahya mengambil selimut tipis dari sofa dan menyelimutinya pelan, tangannya menyentuh bahu Shella lebih lama dari yang diperlukan. 9140Please respect copyright.PENANALDU3vL7VOR
“Biar hangat.”
Shella menarik selimut itu, tapi tidak menolak sentuhan. “Terima kasih.”
Obrolan berlanjut ke topik pribadi lagi. Yahya bercerita tentang mantan istrinya yang selalu mengeluh ia terlalu dominan di rumah. 9140Please respect copyright.PENANA5wDAmoG6VU
“Aku suka jaga yang aku sayang, Shell. Lindungi, kasih perhatian penuh. Tapi dia bilang aku posesif.”
Shella mendengarkan, hatinya berdegup. 9140Please respect copyright.PENANA9AKLzyWyNi
“Mungkin… tergantung caranya.”
Yahya menatapnya dalam. 9140Please respect copyright.PENANAgvd5U8ZWpQ
“Kalau kamu, aku yakin kamu suka yang seperti itu. Kamu tipe yang butuh dirawat, bukan ditinggal kerja terus.”
Kata-kata itu seperti pisau kecil yang menusuk pertahanan Shella. Ia bangkit tiba-tiba. 9140Please respect copyright.PENANAKj3qhhP6ax
“Aku cuci piring dulu. Kamu tidur aja kalau capek.”
Yahya berdiri juga, mengikuti ke dapur. Di sana, saat Shella membasuh piring, ia berdiri di belakang, cukup dekat sehingga Shella bisa merasakan kehangatan tubuhnya di punggung.9140Please respect copyright.PENANAaAvwPht1xe
“Shell, aku nggak mau bikin kamu takut. Aku cuma… senang ada di sini sama kamu.”
Shella mematikan keran, tangannya basah. Ia berbalik, wajah mereka hanya berjarak beberapa puluh senti. 9140Please respect copyright.PENANAeRLUhQU9U3
“Yahya, ini salah. Aku istri Andre.”
“Aku tahu,” jawab Yahya pelan, suaranya hampir berbisik. Matanya turun sebentar ke bibir Shella yang tebal sebelum kembali ke mata. 9140Please respect copyright.PENANAPIeFkiFkEr
“Tapi aku juga tahu kamu kesepian. Dan aku nggak bisa bohong, aku tertarik sama kamu. Sudah dari dulu sebenarnya.”
Shella mundur hingga punggungnya menyentuh meja dapur. Jantungnya berdegup kencang. 9140Please respect copyright.PENANA6PjVDYZx6y
“Jangan bilang begitu. Besok Andre pulang.”
Yahya mengangguk, mundur satu langkah memberi ruang. 9140Please respect copyright.PENANAGAm8pEyj3B
“Maaf. Aku terlalu jujur. Aku tidur dulu ya. Selamat malam, Shell.”
Ia naik ke kamar tamu, meninggalkan Shella sendirian di dapur yang tiba-tiba terasa panas meski AC nyala.
Malam itu, Shella mandi lama sekali. Air dingin mengalir di tubuh matangnya — payudaranya yang berat, pinggul lebar, paha yang masih kencang. Ia memandang cermin, tangannya menyentuh pipinya yang panas. Apa yang aku lakukan? Ini cuma tamu. Tapi dalam hati, ada suara kecil yang bilang perhatian Yahya terasa berbeda, lebih hidup, lebih… lapar.
Di kamar tamu, Yahya berbaring dengan senyum tipis. Ia tidak tidur langsung. Pikirannya merencanakan langkah selanjutnya. Sentuhan-sentuhan kecil, pujian yang tepat, momen kesepian Shella — semuanya sedang bekerja. Retak di tembok kesetiaan itu sudah semakin lebar. Besok, saat Andre masih tertunda, ia akan dorong sedikit lebih jauh.
Pagi keenam dimulai dengan telepon Andre yang bilang ia baru bisa pulang sore hari karena banjir menghambat. Shella merasa campur aduk — lega karena suaminya aman, tapi juga gelisah karena hari lagi sendirian dengan Yahya.
Yahya turun dengan energi tinggi.9140Please respect copyright.PENANA0teeu7GHj4
“Pagi, Shell. Hari ini aku libur meeting. Mau bantu kamu masak atau apa aja. Atau kita masak bareng lagi?”
Mereka menghabiskan pagi dengan masak opor ayam bersama. Di dapur yang panas, tubuh mereka sesekali bersenggolan saat mengambil bumbu. Yahya sengaja berdiri dekat, tangannya “tak sengaja” menyentuh pinggang Shella saat mengambil garam. 9140Please respect copyright.PENANAkpyg0EVq81
“Maaf,” katanya, tapi senyumnya tidak menyesal.
Shella merasa tubuhnya bereaksi — ada panas yang naik dari perut. Ia mencoba fokus pada masakan, tapi pikirannya melayang. Kesetiaan masih kuat, tapi pertahanannya mulai goyah. Yahya melihat itu semua dengan jelas.
Siang hari, mereka makan bersama, obrolan semakin pribadi. Yahya bertanya tentang mimpi Shella yang dulu sebelum menikah.9140Please respect copyright.PENANAb189Cnb2JT
“Kamu dulu mau jadi apa, Shell? Sebelum ketemu Andre.”
Shella tersenyum nostalgik. 9140Please respect copyright.PENANAWDUtXEomzp
“Mau buka kafe kecil. Tapi ya, hidup berubah.”
“Kamu masih bisa. Kalau ada yang dukung kamu sepenuhnya, bukan cuma bilang ‘nanti’.”
Kata itu lagi. Shella diam lama.
Sore harinya, Andre menelepon lagi — tertunda sampai malam. Hujan kembali turun deras. Shella dan Yahya duduk di teras belakang yang tertutup, menikmati hujan sambil minum teh hangat. Yahya bercerita lucu tentang masa kuliah, membuat Shella tertawa sampai perutnya sakit.
Saat tertawa, tangan Yahya menyentuh lengan Shella, mengelus pelan.9140Please respect copyright.PENANA3WDppMmgpf
“Kamu cantik kalau ketawa gini.”
Shella berhenti tertawa. Ia menarik lengan, tapi lambat. 9140Please respect copyright.PENANAnOZQzbV2An
“Yahya… stop.”
“Aku stop kalau kamu benar-benar mau aku stop,” jawab Yahya, suaranya rendah. Matanya penuh hasrat yang sudah tidak disembunyikan lagi.
Shella berdiri, masuk ke rumah. Tapi langkahnya tidak cepat. Di dalam, ia bersandar di dinding, napasnya tersengal. Konflik batinnya semakin hebat. Ia mencintai Andre, tapi Andre tidak ada. Yahya ada, dan ia membuatnya merasa dilihat, diinginkan, hidup.
Malam itu, saat hujan masih deras dan Andre belum pulang, Shella naik ke kamar sendirian. Tapi tidurnya gelisah. Di kamar sebelah, Yahya menunggu dengan sabar. Ia tahu, besok atau lusa, pertahanan itu akan runtuh. Dan saat itu tiba, Shella tidak akan lagi menjadi istri setia biasa. Ia akan menjadi miliknya.
9140Please respect copyright.PENANA61jwVgOUy6


