Pagi berikutnya, sinar matahari Surabaya yang sudah panas sejak pukul enam pagi menyusup melalui tirai kamar utama. Shella terbangun lebih dulu, seperti biasa. Tubuhnya terasa sedikit pegal karena tidur tidak nyenyak semalam. Pikirannya sempat melayang ke Yahya di kamar sebelah, tapi ia cepat mengusirnya. Dia cuma tamu. Teman suamiku. Ia bangun pelan, mandi air hangat, lalu mengenakan daster rumah yang longgar berwarna krem muda yang menutupi tubuhnya dengan sopan. Rambutnya yang basah ia sisir ke belakang, lalu turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Andre sudah bangun lebih awal. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, mengikat dasi dengan cepat.10068Please respect copyright.PENANAmCT3nPwulQ
“Sayang, hari ini meeting sampai malam mungkin. Ada klien dari Jakarta yang bandel. Kamu urus Yahya ya, dia bilang mau kerja dari rumah hari ini karena laptopnya lagi setup.”
Shella mengangguk sambil menuang kopi hitam untuk suaminya.10068Please respect copyright.PENANAXELzz8hapo
“Iya, Mas. Aku masakin nasi goreng aja buat dia. Kamu hati-hati di jalan.”
Andre mencium kening Shella sekilas, pelukan singkat yang terasa rutin. 10068Please respect copyright.PENANA0eaHscfQcb
“Kamu terbaik. Aku berangkat dulu.”
Pintu depan tertutup. Rumah besar itu tiba-tiba terasa lebih sepi. Shella berdiri di dapur, tangannya sibuk memotong bawang dan cabai. Bau harum nasi goreng mulai menyebar. 10068Please respect copyright.PENANAQKEVvCnyII
Ia mendengar langkah kaki di tangga. Yahya turun dengan kaos polo hitam ketat yang memperlihatkan dada bidangnya dan celana training longgar. Rambutnya masih acak-acakan, tapi wajahnya segar setelah mandi.
“Pagi, Shell,” sapanya dengan suara yang masih agak serak pagi. Senyumnya lebar, mata cokelatnya menatap Shella dari atas ke bawah sebentar sebelum kembali ke wajahnya.10068Please respect copyright.PENANAXS0JhAURDt
“Wanginya enak banget. Andre sudah berangkat?”
“Iya, tadi pagi-pagi. Katanya meeting sampai malam. Sarapan dulu yuk, aku lagi masak nasi goreng spesial.”
Yahya duduk di meja makan, kakinya terentang santai. 10068Please respect copyright.PENANAVZUgFgtbHH
“Spesial buat tamu atau buat aku aja?” godanya ringan.
Shella tertawa kecil sambil membalik nasi di wajan. 10068Please respect copyright.PENANApr3wsjKbF3
“Buat semua orang. Kamu mau telur mata sapi atau dadar?”
“Mata sapi aja. Kamu tahu selera aku masih sama kayak dulu ya.”
Mereka sarapan berdua. Yahya makan dengan lahap, sesekali memuji masakan Shella.10068Please respect copyright.PENANA0pTBDu8N5Z
“Ini enak banget, Shell. Andre beruntung banget punya istri yang bisa masak kayak gini. Aku dulu nikah, istriku lebih sering pesen online daripada masak.”
Shella tersenyum, tapi ada nada sedih di suara Yahya yang membuatnya ikut merasa. 10068Please respect copyright.PENANAKeVkJeX5dI
“Maaf ya soal perceraianmu. Andre cerita sedikit.”
Yahya mengangkat bahu, matanya menatap Shella lekat. 10068Please respect copyright.PENANAfgHuKxPwsG
“Sudah biasa. Dia sibuk karir, aku sibuk proyek. Akhirnya rumah tangga jadi dingin. Kamu dan Andre beda. Kalian kelihatan solid.”
“Ya… solid,” jawab Shella pelan. Kata itu terasa berat di lidahnya. Solid, tapi dingin belakangan ini. Ia cepat mengganti topik. 10068Please respect copyright.PENANAaGkUiz3TxT
“Kamu hari ini kerja dari sini? Butuh ruangan khusus? Ada ruang kerja Andre di lantai bawah, kalau mau pakai.”
“Terima kasih. Boleh. Tapi nanti sore aku ada janji ketemu kontraktor di daerah Rungkut. Kalau kamu nggak keberatan, aku pulang agak malam.”
“Tidak apa-apa. Rumah ini besar, aku biasa sendiri kok.”
Sepanjang pagi, Yahya bekerja di ruang kerja Andre. Shella membersihkan rumah seperti biasa: menyapu, mengepel, merapikan kamar tamu. Saat melewati pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, ia melihat Yahya sedang fokus di laptop, jarinya mengetik cepat. Sesekali ia mengusap dagunya yang sudah ada bakal janggut. Ada kekuatan maskulin yang tenang dari cara ia duduk — bahu lebar, postur tegak. Shella menggeleng pelan dan melanjutkan pekerjaannya.
Siang hari, saat makan siang, Yahya keluar dari ruangan. 10068Please respect copyright.PENANAEnFJgg5U1N
“Shell, aku lapar. Mau masak apa?”
“Aku buatkan mie ayam aja ya, cepet.”
Mereka makan lagi berdua di meja makan. Percakapan mengalir lebih lancar hari ini. Yahya bercerita tentang proyek besarnya di Jakarta — sebuah apartemen mewah di Sudirman. Ia pandai bercerita, suaranya dalam dan ritmis, membuat Shella tertawa beberapa kali dengan leluconnya tentang klien yang rewel.
“Kamu tahu nggak, Shell,” kata Yahya tiba-tiba saat mereka minum es teh. “Dulu waktu kuliah, Andre sering cerita tentang kamu. Katanya kamu cewek paling setia yang pernah dia temui. Aku iri waktu itu.”
Shella menunduk, pipinya sedikit merah.10068Please respect copyright.PENANAxQ6DgX5HpU
“Andre suka berlebihan.”
“Bukan berlebihan. Aku lihat sendiri sekarang. Kamu ngurus rumah ini dengan sempurna, anak-anak sudah sukses, tapi… kamu sendiri gimana? Ada waktu buat diri sendiri nggak?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk. Shella diam sebentar. 10068Please respect copyright.PENANAUy43wkW0wt
“Aku… ya, biasa aja. Yoga pagi, kadang ketemu teman ibu-ibu kompleks. Cukup lah.”
Yahya menatapnya lama.10068Please respect copyright.PENANAVW9pZzcDSQ
“Cukup? Kamu 35 tahun, Shell. Masih muda, masih cantik. Harusnya ada lebih dari ‘cukup’.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Shella merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia bangkit untuk mencuci piring, mencoba mengalihkan perasaan aneh itu. Yahya ikut berdiri, membantu membawa gelas ke wastafel. Saat ia berdiri di samping Shella, bahunya hampir menyentuh bahu wanita itu. Aroma sabun mandinya yang segar tercium jelas.
“Maaf kalau aku banyak omong,” kata Yahya pelan. 10068Please respect copyright.PENANA8C1asBoUWX
“Cuma… aku lihat kamu baik banget sama aku sebagai tamu. Aku nggak mau kamu merasa terganggu.”
“Tidak kok,” jawab Shella cepat.10068Please respect copyright.PENANA1FUvoUdmS1
“Kamu teman Andre. Anggap rumah sendiri.”
Sore harinya, Yahya berangkat ke Rungkut. Shella sendirian lagi di rumah. Ia duduk di sofa ruang keluarga, menyalakan TV tapi pikirannya melayang. Kata-kata Yahya tadi siang terus terngiang. 10068Please respect copyright.PENANAPL0Da1suVm
Masih muda, masih cantik. Harusnya ada lebih dari ‘cukup’. Ia memandang foto pernikahan di dinding — dirinya dan Andre tersenyum bahagia. Dulu ia merasa lengkap. Sekarang? Ada kekosongan yang ia coba isi dengan rutinitas.
Andre pulang jam 9 malam, lelah sekali. Ia makan malam cepat, lalu langsung mandi dan tidur. Shella berbaring di sampingnya, tapi tidur tidak datang mudah. Di kamar sebelah, Yahya sudah kembali dari meeting. Ia mendengar suara pintu kamar tamu terbuka dan tertutup pelan.
Hari kedua menginap Yahya berlalu dengan pola yang mirip. Pagi sarapan bertiga (Andre sempat ikut sebelum berangkat), lalu Andre pergi, meninggalkan Shella dan Yahya. Kali ini Yahya meminta bantuan Shella untuk mencetak dokumen proyek karena printer di ruang kerja bermasalah.
“Shell, bisa tolong bantu aku? Aku nggak ngerti settingan printer Andre ini.”
Shella masuk ke ruang kerja. Ruangan itu sempit saat ada dua orang. Yahya berdiri di belakangnya saat ia membungkuk untuk mengatur kertas. Napas Yahya terasa hangat di tengkuk Shella. 10068Please respect copyright.PENANAUhyE9yBNgK
“Maaf, aku terlalu dekat,” katanya, tapi tidak mundur langsung. Tangan kanannya menyentuh punggung Shella sebentar saat menunjuk layar — sentuhan ringan, seperti tak sengaja.
Shella merasa kulitnya merinding. 10068Please respect copyright.PENANAjo182fFuog
“Sudah beres. Tinggal print.”
“Terima kasih. Kamu pintar juga urusan teknis.”
Malam harinya, Andre lagi-lagi pulang larut. Yahya dan Shella akhirnya menonton film bersama di ruang keluarga karena Andre sudah tidur. Film action Hollywood yang dipilih Yahya. Mereka duduk di sofa yang sama, jaraknya tidak terlalu jauh. Saat adegan tegang, Yahya tertawa dan komentar, membuat Shella ikut rileks.
“Kamu jarang nonton film bareng Andre ya?” tanya Yahya tiba-tiba.
“Jarang. Dia sibuk.”
Yahya mengangguk pelan. 10068Please respect copyright.PENANA8fbaaVp3cJ
“Kasihan. Wanita seperti kamu seharusnya dimanjakan, bukan ditinggal kerja terus.”
Shella tidak menjawab, tapi hatinya berdesir. Malam itu, saat ia naik ke kamar, ia mandi lebih lama, air hangat mengalir di tubuhnya. Ia memandang diri sendiri di cermin kamar mandi — payudara yang masih montok, pinggul lebar, kulit yang masih halus. Masih cantik? gumamnya dalam hati. Ia merasa bersalah karena memikirkan itu.
Hari ketiga. Andre berangkat pagi sekali lagi, kali ini ke Sidoarjo untuk site visit dua hari. “Aku nginap di sana malam ini dan besok, Sayang. Kamu jaga rumah dan Yahya ya.”
Shella merasa ada yang berbeda. Sendirian dengan Yahya selama dua hari penuh. “Iya, Mas. Hati-hati.”
Saat Andre pergi, rumah terasa lebih besar. Yahya turun dengan senyum cerah. 10068Please respect copyright.PENANAIvnQNzO1EN
“Andre sudah pergi? Berarti kita berdua hari ini. Mau masak apa buat makan siang? Aku traktir belanja bahan kalau kamu mau.”
Mereka pergi ke supermarket bersama menggunakan mobil Shella. Di dalam mobil, Yahya duduk di kursi penumpang, kakinya terentang. Percakapan mengalir tentang musik, makanan favorit, dan cerita masa lalu. Yahya bercerita tentang masa single-nya setelah cerai — bagaimana ia mencoba dating app tapi selalu merasa kosong.
“Cewek-cewek sekarang beda, Shell. Banyak yang materialistis. Aku rindu yang seperti kamu — tenang, perhatian, setia.”
Shella tertawa gugup. “Kamu bisa aja.”
Di supermarket, Yahya mendorong troli, sesekali tangannya menyentuh punggung Shella saat membimbingnya melewati kerumunan. Sentuhan itu terasa alami, tapi Shella mulai menyadari frekuensinya meningkat. Saat memilih sayuran, Yahya berdiri sangat dekat, bahunya menyentuh bahu Shella. 10068Please respect copyright.PENANA9ShKFwRlrN
“Ini bagus nggak?” tanyanya sambil menunjuk tomat, napasnya dekat dengan telinga Shella.
Shella mundur sedikit. “Bagus. Kita ambil.”
Pulang ke rumah, mereka masak bersama di dapur. Yahya memotong daging, Shella mengaduk bumbu. Ruangan dapur panas, keringat tipis muncul di leher Shella. Yahya melihatnya dan tersenyum. 10068Please respect copyright.PENANARijPoyUa41
“Kamu capek? Duduk aja, biar aku lanjut.”
“Tapi ini masakan aku.”
“Aku bantu. Anggap kita tim.”
Makan malam mereka berdua lagi. Yahya membuka sebotol wine yang ia bawa dari Jakarta. 10068Please respect copyright.PENANAV3XuHQiDdk
“Cuma sedikit ya, buat rileks. Andre nggak keberatan kan?”
Shella ragu, tapi akhirnya minum segelas. Wine itu membuat pipinya hangat, tubuhnya sedikit rileks. Mereka mengobrol sampai larut. Yahya bercerita tentang mimpi-mimpinya — ingin punya keluarga lagi, ingin istri yang bisa ia jaga, bukan yang sibuk sendiri.
“Kamu pantas dapat yang lebih baik, Yahya,” kata Shella tulus.
Yahya menatapnya dalam. 10068Please respect copyright.PENANAkljqt9T2sv
“Mungkin aku sudah nemu yang lebih baik. Cuma… dia sudah punya suami.”
Suasana tiba-tiba hening. Shella merasa jantungnya berdegup kencang. Ia bangkit cepat.10068Please respect copyright.PENANA58jYQ1WyTh
“Aku cuci piring dulu. Kamu istirahat aja.”
Yahya berdiri juga. 10068Please respect copyright.PENANASPwRsERUx4
Biar aku bantu.”
Di wastafel, saat Shella membungkuk, Yahya berdiri tepat di belakangnya. Tubuhnya hampir menempel. 10068Please respect copyright.PENANAKak1HmHdpr
“Shell,” bisiknya pelan. “Kamu tahu nggak, kamu bikin aku nyaman banget di sini.”
Shella membeku sebentar. “Yahya… ini nggak baik.”
“Aku cuma bilang yang sebenarnya,” jawabnya, mundur satu langkah. “Maaf kalau membuatmu tidak nyaman.”
Malam itu Shella tidur gelisah. Andre tidak ada di rumah. Di kamar sebelah, Yahya tersenyum sendirian di tempat tidur. Ia tahu, retak kecil sudah mulai muncul di tembok kesetiaan Shella. Ia tidak terburu-buru. Ia punya waktu. Dan ia tahu cara membuat seorang wanita seperti Shella mulai mempertanyakan hidupnya.
Hari keempat dimulai dengan hujan deras di Surabaya. Andre masih di Sidoarjo. Shella dan Yahya terjebak di rumah. Mereka main kartu di ruang keluarga untuk menghilangkan bosan. Yahya sengaja kalah berkali-kali agar Shella tertawa. Saat hujan semakin deras, listrik padam sebentar. Rumah gelap.
“Shell, kamu takut gelap?” tanya Yahya dari seberang meja.
“Sedikit.”
Yahya mendekat, duduk di sofa yang sama. 10068Please respect copyright.PENANAi1lPE5Yjmf
“Aku di sini. Nggak usah takut.”
Dalam kegelapan, tangan Yahya menyentuh tangan Shella — kali ini bukan tak sengaja. Jari-jarinya mengelus punggung tangan wanita itu pelan. Shella menarik tangannya, tapi lambat.10068Please respect copyright.PENANA3P9cyx0M4A
“Yahya… jangan.”
“Aku cuma pegang tangan. Kamu dingin.”
Listrik menyala lagi. Shella bangkit cepat ke dapur, jantungnya berdegup. Ia merasa bersalah, tapi juga ada getar aneh yang ia benci tapi tidak bisa diabaikan. Kesepian yang selama ini ia pendam mulai berbisik lebih keras.
Yahya tidak mengejar. Ia duduk santai, matanya mengikuti gerak Shella. Pelan-pelan, pikirnya. Dia akan datang sendiri ke aku. Atau aku akan ambil dia.
Malam itu, saat hujan masih turun, Shella berbaring di kamar sendirian. Ia memeluk bantal suaminya, tapi pikirannya melayang ke pria di kamar sebelah. Loyalitasnya masih kuat, tapi retak itu sudah ada. Dan Yahya tahu persis bagaimana membuat retak itu semakin lebar.
ns216.73.216.105da2


