Rumah dua lantai di kawasan Darmo, Surabaya, selalu terasa sepi pada malam hari. Lampu taman di halaman depan menyala redup, menerangi pagar besi hitam yang mengelilingi halaman berumput rapi. Shella berdiri di dapur, tangannya sibuk mengaduk sup ayam yang masih mengepul.13081Please respect copyright.PENANA5dMehKhdCv
Aromanya yang gurih bercampur dengan bau bawang goreng yang baru saja ditaburkan. Jam dinding menunjukkan pukul 19.45 WIB. Andre pasti sebentar lagi pulang.
Shella, 35 tahun, adalah tipe wanita yang masih membuat banyak orang berhenti sejenak saat melihatnya. Tubuhnya tidak lagi semuda dulu, tapi justru semakin matang dan memikat. Pinggulnya lebar, pinggangnya masih ramping meski sudah dua kali melahirkan (meski kedua anak mereka sudah kuliah di luar kota), dan payudaranya yang besar masih kencang berkat olahraga rutin yoga yang ia lakukan setiap pagi. 13081Please respect copyright.PENANAQuuj6B5IjE
Rambut hitamnya yang panjang biasa ia ikat ponytail sederhana di rumah, wajahnya oval dengan bibir tebal alami yang sering tersenyum lembut. Matanya yang cokelat tua selalu terlihat tenang, tapi di baliknya ada kedalaman yang jarang orang lihat.
Ia sudah menikah dengan Andre selama 12 tahun. Pernikahan mereka dulu seperti dongeng: Andre, pria tampan yang sukses membangun perusahaan properti, bertemu Shella saat ia masih bekerja sebagai marketing di sebuah hotel bintang lima. Andre yang karismatik, penuh tawa, dan selalu punya rencana besar, langsung jatuh cinta pada Shella yang pendiam tapi penuh pesona. Mereka menikah cepat, punya dua anak yang sekarang sudah kuliah di Jakarta, dan hidup mereka terlihat sempurna dari luar.
Tapi Shella tahu, di balik kesempurnaan itu, ada retak-retak kecil yang mulai terasa. Andre semakin sibuk. Proyek demi proyek membuatnya sering pulang larut, kadang bahkan menginap di site proyek di luar kota. Seks mereka yang dulu penuh gairah sekarang hanya terjadi sekali dalam dua atau tiga minggu, dan itu pun terasa rutin, seperti kewajiban. 13081Please respect copyright.PENANADp1cCADkwY
Shella tidak pernah mengeluh. Ia mencintai suaminya. Ia bangga menjadi istri Andre. Tapi kadang, di malam-malam sepi seperti ini, ia merasa ada bagian dari dirinya yang mulai lapar akan perhatian, akan sentuhan, akan sesuatu yang lebih dari sekadar “sudah makan?” dan “besok aku meeting pagi”.
Pintu depan terbuka. Suara Andre yang khas, berat dan penuh semangat, terdengar dari ruang tamu.
“Sayang, aku pulang! Dan… ada tamu spesial nih!”
Shella menyeka tangan di celemeknya dan berjalan ke depan. Andre berdiri di ambang pintu, jasnya sudah dilepas, kemeja biru muda sedikit kusut. Di sebelahnya berdiri seorang pria tinggi, bahunya lebar, kulit sawo matang, rambut pendek yang sudah mulai ada uban di pelipis. Senyumnya lebar, giginya putih rapi. Yahya.
“Hei, Shella! Lama tidak ketemu ya,” sapa Yahya dengan suara bariton yang dalam. Ia mengulurkan tangan, tapi kemudian berubah pikiran dan memeluk Shella sebentar, pelukan pria kepada teman istri sahabatnya — sopan, tapi cukup erat sehingga Shella bisa mencium aroma parfum mahal bercampur sedikit keringat perjalanan.
Shella tersenyum, sedikit kaget.13081Please respect copyright.PENANAawp6HY0kSZ
“Yahya… wah, benar-benar surprise. Masuk dulu, masuk. Aku lagi masak sup ayam.”
Andre tertawa sambil menepuk bahu sahabatnya.13081Please respect copyright.PENANAwNLF5fO7OR
“Yahya lagi di Surabaya untuk proyek baru. Rumah kontrakannya lagi direnovasi total, jadi aku bilang, mending nginap di sini aja. Berapa hari ya, Yah? Seminggu?”
Yahya mengangguk, matanya sebentar melirik Shella sebelum kembali ke Andre. 13081Please respect copyright.PENANAUTDFBn0rvd
“Kurang lebih seminggu, bro. Kalau mengganggu, bilang aja. Aku bisa cari hotel.”
“Jangan gitu lah,” potong Shella cepat, sifat ramahnya sebagai ibu rumah tangga langsung muncul. 13081Please respect copyright.PENANAq3EJAMdvPh
“Kamar tamu di lantai atas kosong. Aku sudah siapkan seprai bersih tadi siang pas Andre bilang kamu mau datang. Anggap saja rumah sendiri.”
Yahya tersenyum lagi. Senyum itu… ada sesuatu yang berbeda dari terakhir kali Shella melihatnya, lima tahun lalu saat acara reuni kuliah Andre.13081Please respect copyright.PENANAP6B4FHopRb
Dulu Yahya lebih kurus, lebih gila-gilaan. Sekarang ia terlihat lebih matang, lebih berwibawa, dan ada aura percaya diri yang hampir terlalu kuat.
Malam itu mereka makan bertiga di meja makan kayu jati yang besar. Andre dan Yahya sibuk mengobrol tentang masa kuliah dulu, proyek properti, bisnis, dan kenangan-kenangan konyol yang membuat mereka tertawa keras. Shella duduk di ujung meja, sesekali ikut tertawa, tapi lebih banyak diam mengamati.
Yahya ternyata masih sama seperti dulu: mudah bergaul, punya cerita menarik, dan pandai membuat orang merasa nyaman. Tapi Shella merasa ada yang berbeda. Cara Yahya memandangnya saat ia menuangkan air minum — bukan pandangan biasa seorang tamu kepada istri teman. Ada sesuatu yang lebih lama, lebih dalam, seolah ia sedang mengukur. Shella menggeleng pelan dalam hati. Mungkin cuma perasaanku saja. Yahya kan teman lama Andre. Sudah seperti keluarga.
Setelah makan, Andre mengajak Yahya ke ruang keluarga untuk minum kopi dan rokok. Shella membersihkan dapur, tapi telinganya masih mendengar percakapan mereka.
“Bro, Shella makin cantik aja ya,” kata Yahya pelan, tapi cukup keras sehingga Shella mendengar dari dapur yang terbuka.
Andre tertawa bangga.13081Please respect copyright.PENANA3idMXFp6Hy
“Iya dong. Aku beruntung banget. Dia yang jagain rumah, anak-anak, semuanya. Aku cuma kerja doang.”
“Shella tipe istri idaman banget,” lanjut Yahya. 13081Please respect copyright.PENANA2wF7CKuB8X
“Cantik, setia, masakannya enak… Jarang lho yang seperti itu sekarang.”
Shella merasa pipinya sedikit panas. Pujian itu biasa, tapi entah kenapa malam ini terasa berbeda. Mungkin karena sudah lama tidak ada pria lain yang memuji dirinya secara langsung. Andre jarang sekali memuji lagi akhir-akhir ini.
Malam semakin larut. Andre akhirnya menguap lebar. 13081Please respect copyright.PENANA5xZ8VgQgue
“Aku capek banget hari ini, Yah. Besok pagi ada meeting pagi-pagi. Kamu istirahat aja ya. Kamar tamu di sebelah kamar utama. Kalau butuh apa-apa, bilang Shella aja.”
Yahya mengangguk. 13081Please respect copyright.PENANAZ7SYpmLpur
“Oke, bro. Thanks ya. Aku juga capek perjalanan dari Jakarta tadi.”
Andre mencium pipi Shella sekilas sebelum naik ke kamar.13081Please respect copyright.PENANACYAzx8OVjR
“Sayang, tolong temanin Yahya dulu kalau dia butuh sesuatu ya. Aku langsung tidur.”
Shella mengangguk.13081Please respect copyright.PENANAmQp3gAFmH5
“Iya, Mas. Kamu istirahat.”
Ruang tamu sekarang hanya tinggal Shella dan Yahya. Mereka duduk di sofa panjang, televisi menyala pelan menayangkan berita malam. Suasana tiba-tiba terasa agak canggung.
“Terima kasih ya, Shell,” kata Yahya tiba-tiba, menggunakan panggilan singkat yang dulu Andre sering pakai. 13081Please respect copyright.PENANAcGsF0hlkB8
“Boleh aku panggil Shell seperti dulu?”
Shella tersenyum kecil. 13081Please respect copyright.PENANA8PZLpVAh6N
“Boleh. Dulu kan kamu juga sering main ke rumah kita waktu anak-anak masih kecil.”
Yahya mengangguk, matanya menatap Shella lekat.13081Please respect copyright.PENANAnhP8qBFfM1
“Iya. Waktu itu kamu masih sibuk banget ngurus anak. Sekarang anak-anak sudah besar, kamu kelihatan… lebih rileks. Lebih cantik.”
Shella tertawa pelan, mencoba mengalihkan. 13081Please respect copyright.PENANAUafghMOhMZ
“Ah, kamu bisa aja. Sudah tua juga ini.”
“35 tahun bukan tua, Shell. Justru… prime time,” jawab Yahya sambil tersenyum. Nada suaranya santai, tapi ada bobot di dalamnya.
Mereka mengobrol ringan selama hampir satu jam. Yahya bercerita tentang pekerjaannya sebagai kontraktor besar di Jakarta, tentang perceraiannya dua tahun lalu, tentang betapa ia merindukan suasana keluarga seperti ini. Shella mendengar dengan penuh perhatian, sesekali memberikan komentar. Ia merasa nyaman, tapi juga ada perasaan aneh yang mulai merayap — seperti ada sesuatu yang sedang bergerak di balik percakapan santai itu.
Pukul 23.30, Shella berdiri.13081Please respect copyright.PENANAlttuROfccj
“Aku siapkan air hangat di kamar tamu ya. Kalau ada yang kurang, bilang saja.”
Yahya berdiri juga, tubuh tingginya membuat Shella harus mendongak sedikit. 13081Please respect copyright.PENANAR4pyHu8HLX
“Makasih, Shell. Kamu baik banget.”
Sebelum Shella berbalik, Yahya menyentuh lengan atasnya sebentar — sentuhan ringan, sopan, tapi cukup lama untuk membuat Shella merasakan kehangatan telapak tangannya.
“Selamat malam,” kata Yahya lembut.
“Selamat malam, Yahya.”
Shella naik ke kamar utama. Andre sudah mendengkur pelan. Ia berganti baju tidur, kaos longgar dan celana pendek, lalu berbaring di samping suaminya. Tapi malam itu, pikirannya tidak langsung tidur. Ia memikirkan Yahya. Memikirkan senyumnya. 13081Please respect copyright.PENANArV0oNKxsJ9
Memikirkan cara ia memanggil “Shell”. Dan entah kenapa, ada getar kecil di perutnya yang sudah lama tidak ia rasakan.
Di kamar tamu sebelah, Yahya tidak langsung tidur. Ia berdiri di depan jendela, memandang halaman gelap. Rokok di tangannya menyala pelan. Bibirnya melengkung senyum tipis.
“Rumah yang nyaman,” gumamnya pelan. “Dan istri yang… sangat menarik.”
Ia mematikan rokok, lalu berbaring di tempat tidur yang masih terasa hangat karena seprai baru yang dipasang Shella. Matanya menatap langit-langit. Pikirannya sudah mulai merencanakan.
Hari pertama Yahya menginap berlalu dengan tenang. Tapi Shella tidak tahu, bahwa tamu itu membawa sesuatu yang akan mengubah segalanya. Sesuatu yang gelap, kuat, dan tak terbendung.
Besok pagi, saat Andre berangkat pagi-pagi sekali untuk meeting, Shella dan Yahya akan sendirian di rumah untuk pertama kalinya.
13081Please respect copyright.PENANAQJbdDUz1fJ


