Setelah orgasme pertama yang hebat, Rangga dan Ajeng masih tergeletak di ranjang hotel dengan napas tersengal. Kontol Rangga masih setengah keras di dalam memek Ajeng yang penuh sperma. Ajeng menoleh ke belakang, matanya masih berkabut karena kenikmatan.
“Belum puas, Pak…” bisiknya dengan suara serak.
“Toket aku masih pengen dihisap… dan kontol Bapak masih keras.”
Rangga tersenyum lebar. Ia mencabut kontolnya perlahan, sperma putih langsung menetes keluar dari lubang memek Ajeng yang merah dan mengembang. Tanpa banyak bicara, ia membalik tubuh Ajeng hingga telentang.
Dua toket besar Ajeng langsung terpampang sempurna di depan matanya—bulat, berat, dan putingnya sudah kembali tegang.
Rangga langsung menindih Ajeng. Ia menangkup kedua toket itu dengan kedua tangannya, meremas kuat hingga dagingnya meluber di antara jari-jarinya.
“Toketmu emang paling enak di dunia, Ajeng. Gede, empuk, tapi kencang.”
Ia menunduk dan menyedot puting kiri Ajeng dengan rakus, lidahnya berputar-putar, sesekali menggigit pelan. Tangan kanannya meremas toket kanan sambil menjepit putingnya. Ajeng melengkungkan punggungnya, mendesah keras.
“Aahh… Pak… hisap lebih kuat… gigit toket aku…”
Rangga semakin ganas. Ia menghisap toket Ajeng bergantian, meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Sesekali ia menampar ringan toket Ajeng hingga bergoyang-goyang liar. Ajeng semakin basah, cairannya mengalir lagi ke paha.
“Kontolin aku pake kontol Bapak lagi…” pintanya sambil menggoyang pinggulnya.
Rangga bangkit, duduk di pinggir ranjang, dan menarik Ajeng hingga berlutut di lantai. “Hisap dulu. Bersihin kontol aku yang penuh campuran sperma dan cairan memekmu.”
Ajeng langsung patuh. Ia membuka mulut lebar-lebar dan menelan kontol Rangga yang masih licin hingga ke tenggorokan.
“Gluk… gluk… gluk…” Suara hisapan basah memenuhi kamar. Ajeng mengulum dengan rakus, lidahnya menjilat batang dan kepala kontol bergantian, sesekali menelan bola-bola Rangga ke dalam mulutnya.
“Enak banget, Ajeng… kamu emang lonte kantor yang paling jago ngisap,” puji Rangga sambil memegang rambut Ajeng dan mendorong kepalanya lebih dalam hingga Ajeng tersedak.
Air liur Ajeng menetes-netes ke toketnya yang besar. Ia menatap Rangga dengan mata berkaca-kaca sambil terus mengulum dalam-dalam.
Setelah puas, Rangga menarik Ajeng naik ke ranjang lagi. Kali ini ia membaringkan Ajeng di posisi missionary, tapi kakinya ia angkat tinggi-tinggi hingga hampir menyentuh dada Ajeng sendiri. Memek Ajeng terbuka lebar, lubangnya masih menganga dan penuh sisa sperma.
Rangga menggesekkan kepala kontolnya di klitoris Ajeng yang sudah bengkak, lalu mendorong masuk dengan satu hentakan kuat hingga pangkal.
“AAHHH… DALEM BANGET, PAK!!” jerit Ajeng.
Rangga langsung menggenjot dengan ritme cepat dan kasar. Setiap hentakan membuat toket Ajeng bergoyang liar ke atas-bawah. Rangga menangkap kedua toket itu, meremasnya kuat sambil terus menghujam.
Plak! Plak! Plak! Plak!
Suara tabrakan kulit mereka semakin keras. Rangga menunduk, menghisap toket Ajeng lagi sambil menggoyang pinggulnya tanpa henti.
“Memekmu sempit banget, Ajeng… enak banget ngentot kamu,” erang Rangga.
Ajeng sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa menjerit-jerit kenikmatan.
“Terus, Pak… genjot aku… pecahin memek aku… toket aku remas kuat-kuat!”
Rangga semakin ganas. Ia menarik keluar kontolnya, lalu membalik Ajeng ke posisi doggy lagi. Kali ini ia berdiri di belakang ranjang, memegang pinggul Ajeng kuat-kuat, dan menghujam dari belakang dengan sangat dalam. Setiap masuk, kontolnya menyentuh titik paling sensitif di dalam memek Ajeng.
Ajeng menjerit, wajahnya terbenam di bantal. Toketnya bergantung dan bergoyang seperti dua buah melon setiap kali Rangga menabrak pantatnya.
Rangga menampar pantat Ajeng berkali-kali hingga memerah.
“Goyang pantatmu, lonte! Goyang sendiri sambil aku ngentot kamu!”
Ajeng patuh. Ia menggoyang pinggulnya maju-mundur, membantu Rangga menghujam lebih dalam.
Suara “plak plak plak” semakin cepat dan basah.
Beberapa menit kemudian, Ajeng sudah gemetar hebat.
“Aku keluar lagi, Pak… AAHHH!!”
Memek Ajeng menyemprot cairan bening yang membasahi paha Rangga. Rangga tak berhenti. Ia terus menggenjot dengan lebih keras hingga akhirnya ia meraung dan menyemburkan sperma panasnya lagi ke dalam rahim Ajeng untuk kedua kalinya.
Mereka ambruk bersama. Tubuh Ajeng basah keringat, toketnya naik-turun dengan cepat, putingnya merah karena hisapan dan remasan Rangga. Sperma Rangga menetes keluar dari memek Ajeng yang sudah lemas dan mengembang.
Rangga masih belum puas. Ia membaringkan Ajeng telentang lagi, lalu naik ke atas dada Ajeng. Kontolnya yang masih setengah keras ia letakkan di antara kedua toket besar itu.
“Toketmu aku pakai buat gesekin kontolku sekarang,” katanya sambil meremas kedua toket Ajeng dan menjepit kontolnya di tengahnya.
Ajeng tersenyum mesum. Ia menekan toketnya sendiri dari samping agar lebih rapat, lalu Rangga mulai menggoyang pinggulnya. Kontolnya keluar-masuk di antara belahan toket Ajeng yang lembut dan hangat.
“Enak, Pak? Toket aku enak buat titit Bapak?” tanya Ajeng sambil menjilat kepala kontol Rangga setiap kali muncul di atas.
Rangga mengangguk, gerakannya semakin cepat. Akhirnya ia menyemburkan sisa spermanya yang ketiga ke wajah dan toket Ajeng. Sperma putih kental menempel di pipi, bibir, dan kedua toket besar Ajeng.
Ajeng menjilat spermanya sendiri dengan lidah, lalu tersenyum nakal.
“Masih mau lagi, Pak Rangga? Malam ini masih panjang… aku mau dikentot sampe pagi.”
1050Please respect copyright.PENANAQaBStFNsZV


