1201Please respect copyright.PENANAP1YO86Pnx6
Malam itu di sebuah hotel bintang empat di Bandung, Rangga dan Ajeng baru saja selesai rapat dengan klien. Rangga, 30 tahun, sudah lelah tapi adrenalin masih tinggi. Ajeng, sekretarisnya yang berusia 27 tahun, duduk di sebelahnya di dalam lift menuju kamar.
Tubuh Ajeng yang molek selalu jadi perhatian orang kantor—wajahnya cantik dengan bibir penuh, pinggang ramping, dan yang paling sulit diabaikan: toketnya yang gede, bulat, dan kencang, selalu menonjol di balik kemeja kerja yang ketat.
“Kamar kamu di lantai 12, kan? Aku di 14,” kata Rangga sambil melirik Ajeng.
“Iya, Pak,” jawab Ajeng dengan suara lembut, tapi matanya sedikit berbeda malam ini. Mungkin karena mereka minum wine sedikit tadi di dinner.
Sesampainya di lantai Ajeng, pintu lift terbuka. Ajeng melangkah keluar, tapi kemudian berhenti dan menoleh.
“Pak Rangga… mau mampir sebentar? Ada dokumen yang belum saya kasih lihat,” katanya dengan nada yang agak gugup tapi jelas ada maksud lain.
Rangga tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, ia ikut keluar lift.
Begitu pintu kamar Ajeng tertutup, suasana langsung berubah. Ajeng meletakkan tasnya, lalu membuka satu kancing kemejanya perlahan.
“Sebenarnya nggak ada dokumen, Pak…” bisiknya sambil menatap Rangga dengan mata sayu.
Rangga mendekat, tangannya langsung meraih pinggang Ajeng dan menariknya mendekat. “Aku tahu.”
Ciuman pertama mereka panas dan lapar. Lidah Rangga menyelusup masuk, menikmati rasa manis bibir Ajeng. Tangan Rangga naik ke dada Ajeng, meremas toket besarnya yang sudah lama ingin disentuh. Bahkan di balik bra, ia bisa merasakan betapa kenyal dan beratnya.
“Toket kamu emang gede gila, Ajeng…” gumam Rangga di sela ciuman.
Ajeng mendesah, tangannya turun ke celana Rangga, meremas kontol yang sudah keras banget.
“Mau liat langsung, Pak?”
Tanpa menunggu jawaban, Ajeng membuka kemejanya sendiri. Bra hitam berenda yang ia pakai hampir tak mampu menahan dua gundukan putih itu. Rangga langsung membuka kaitan bra-nya. Begitu terlepas, toket Ajeng yang besar dan montok langsung melompat keluar, putingnya sudah tegang dan merah muda.
Rangga menunduk, langsung menyedot puting kirinya sambil meremas yang kanan dengan tangan. Ajeng mendesah keras, kepalanya mendongak.
“Ahh… Pak Rangga…”
Rangga mendorong Ajeng ke ranjang. Ia membuka rok dan celana dalam Ajeng dengan cepat. Memeknya sudah basah sekali, licin dan mengkilap. Rangga menjilatnya sebentar, menikmati rasa manisnya, tapi ia sudah tak sabar.
Ia berdiri, membuka celananya. Kontolnya yang panjang dan tebal langsung tegak. Ajeng memandangnya dengan mata lapar, lalu merangkak mendekat dan langsung mengulumnya dalam-dalam. Mulutnya hangat dan basah, lidahnya berputar di kepala kontol Rangga.
“Enak banget, Ajeng… hisap lebih dalam,” perintah Rangga sambil memegang kepala Ajeng.
Setelah beberapa menit Ajeng memuaskannya dengan mulut, Rangga tak tahan lagi. Ia membalik tubuh Ajeng hingga posisi doggy style. Toket besar Ajeng bergantung indah, bergoyang-goyang saat Rangga menggesekkan kontolnya di celah basah Ajeng.
“Masukin, Pak… aku udah basah banget,” pintanya dengan suara mendesah.
Rangga mendorong pinggulnya maju. Kontolnya masuk perlahan, merasakan dinding pussy Ajeng yang sempit dan panas. Begitu masuk sepenuhnya, ia langsung menggenjot dengan kuat.
Plak! Plak! Plak!
Suara benturan tubuh mereka memenuhi kamar hotel. Toket Ajeng bergoyang liar setiap kali Rangga menghujam dalam. Ajeng menjerit-jerit kenikmatan, tangannya mencengkeram seprai.
“Lebih keras, Pak… ngentot aku lebih keras!” teriaknya.
Rangga mempercepat ritme, tangannya sesekali menepuk pantat Ajeng yang bulat. Ia meraih ke depan, meremas toket Ajeng dari belakang sambil terus menggoyang pinggulnya.
Beberapa menit kemudian, Ajeng sudah gemetar.
“Aku mau keluar, Pak… ahh!”
Tubuh Ajeng kejang, pussy-nya mengencang kuat di sekitar kontol Rangga. Rangga tak tahan lagi. Dengan beberapa hentakan terakhir yang sangat dalam, ia menyemburkan spermanya yang panas ke dalam rahim Ajeng.
Mereka berdua ambruk di ranjang, napas tersengal. Toket Ajeng yang basah keringat masih naik-turun dengan indah.
Rangga mencium leher Ajeng dari belakang dan berbisik, “Besok pagi kita ulangi lagi sebelum check-out.”
Ajeng tersenyum nakal, “Siap, Pak Bos…”1201Please respect copyright.PENANAb1icBJNds9
ns216.73.216.105da2


