Pagi harinya, sinar matahari sudah menyusup lewat celah gorden hotel. Jam menunjukkan pukul 06.15. Rangga terbangun karena merasa ada sesuatu yang hangat dan basah di sekitar kontolnya. Ia membuka mata dan langsung tersenyum lebar.
Ajeng sudah bangun lebih dulu. Sekretarisnya yang cantik itu kini berlutut di antara kedua paha Rangga, rambutnya acak-acakan, wajahnya masih ada sisa sperma kering di pipi dan dagu. Ia sedang mengulum kontol Rangga yang sudah kembali keras sepenuhnya dengan lahap.
“Slurp… gluk… gluk…” suara hisapan pagi yang mesum memenuhi kamar.
“Pagi-pagi udah ngisap kontol bos, hah?” gumam Rangga sambil mengusap rambut Ajeng.
Ajeng melepaskan kontol Rangga sebentar, lidahnya masih menjilat kepala kontol yang mengkilap air liur.
“Aku bangun jam 5, Pak. Memek aku masih berdenyut-denyut pengen dikentot lagi. Kontol Bapak juga langsung bangun pas aku sentuh.”
Rangga tertawa pelan. Ia menarik Ajeng naik ke atas tubuhnya hingga posisi cowgirl. Dua toket besar Ajeng langsung bergantung tepat di depan wajahnya. Putingnya masih merah bekas hisapan semalam.
“Naik sendiri, lonte. Tunjukkin seberapa lapar memekmu sama kontol aku.”
Ajeng menggigit bibirnya mesum. Ia memegang kontol Rangga yang keras tegang, menggesek-gesekkannya di celah memeknya yang sudah basah lagi, lalu perlahan menurunkan pinggulnya.
“Aaahhh… masuk lagi… tebel banget pagi-pagi gini…” desah Ajeng saat kontol Rangga menghunjam masuk hingga pangkal.
Ia mulai menggoyang pinggulnya naik-turun dengan ritme lambat tapi dalam. Setiap turun, toketnya yang gede ikut bergoyang berat. Rangga langsung menangkap kedua toket itu, meremas kuat sambil menarik putingnya.
“Toketmu bergoyang-goyang enak banget dilihat, Ajeng. Remas sendiri toketmu sambil naik turun,” perintah Rangga.
Ajeng patuh. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Rangga, ikut meremas toketnya sendiri dengan kasar hingga daging putihnya meluber. Gerakan pinggulnya semakin cepat.
Suara “plok plok plok” basah terdengar setiap kali pantatnya menampar paha Rangga.
“Enak, Pak… kontol Bapak ngena banget di memek aku… dalem… aaahh!”
Rangga tiba-tiba menampar toket Ajeng keras dari bawah.
Plak! Plak!
“Lebih cepat, lonte! Goyang memekmu lebih ganas!”
Ajeng menjerit kenikmatan. Ia menumpukan kedua tangan di dada Rangga dan menggoyang pinggulnya dengan liar, naik-turun secepat mungkin. Toketnya kini bergoyang sangat kasar, menampar-nampar wajah Rangga. Rangga membuka mulutnya, menangkap puting Ajeng dan menggigitnya pelan tiap kali toket itu lewat.
Beberapa menit kemudian, Rangga mendorong Ajeng turun dari tubuhnya.
“Sekarang ke kamar mandi. Aku mau ngentot kamu sambil berdiri seperti yang aku bilang semalam.”
Mereka berdua berjalan telanjang ke kamar mandi. Begitu masuk, Rangga langsung menekan tubuh Ajeng ke dinding keramik yang dingin. Ia mengangkat satu kaki Ajeng tinggi-tinggi, memegangnya dengan lengan kuat, sehingga memek Ajeng terbuka lebar.
Kontol Rangga yang sudah licin karena air liur Ajeng langsung menyodok masuk dengan satu hentakan kuat.
“AAAKHH!!” Ajeng menjerit. Punggungnya melengkung, toket besarnya menempel dan tertekan ke dada Rangga.
Rangga mulai menggenjot dengan cepat dan kasar. Setiap hentakan membuat tubuh Ajeng naik-turun di dinding. Air shower dinyalakan, air hangat langsung menyiram tubuh mereka berdua. Toket Ajeng yang basah kini semakin licin dan mengkilap.
Plak! Plak! Plak! Plak!
“Memekmu pagi-pagi udah banjir lagi, Ajeng… enak banget,” erang Rangga sambil terus menghujam.
Tangan kirinya meremas toket Ajeng dengan kasar, tangan kanannya memegang leher Ajeng pelan tapi tegas. Ajeng hanya bisa mendesah dan menjerit-jerit.
“Kentot aku lebih keras, Pak… pecahin memek sekretaris Bapak… aaahh… toket aku remas sampe merah!”
Rangga semakin ganas. Ia membalik tubuh Ajeng menghadap dinding, mengangkat sedikit pinggulnya, lalu memasukkan kontol dari belakang lagi. Posisi standing doggy di bawah guyuran air shower.
Ajeng menempelkan pipi dan toketnya ke dinding dingin sambil memeknya dihujam dari belakang. Rangga menarik rambut Ajeng ke belakang, membuat punggungnya melengkung, sehingga toketnya semakin menonjol.
“Goyang pantatmu, lonte kantor! Tunjukkin betapa murahannya memekmu sama bos!”
Ajeng menggoyang pinggulnya dengan liar, pantatnya menabrak-nabrak perut Rangga. Suara tabrakan basah bercampur suara air shower semakin mesum.
Tak lama kemudian, Ajeng sudah gemetar hebat.
“Aku mau squirting lagi, Pak… AAHHH!!”
Memek Ajeng menyemprot cairan panas yang bercampur air shower. Rangga tak berhenti. Ia terus menggenjot dengan hentakan pendek dan kuat hingga akhirnya ia meraung dan menyemburkan sperma paginya yang kental ke dalam memek Ajeng yang sudah penuh.
Sperma putih langsung menetes campur air dari lubang memek Ajeng yang menganga.
Mereka berdua masih berdiri di bawah shower, napas tersengal. Rangga meremas toket Ajeng dari belakang sambil mencium lehernya.
“Masih ada waktu sebelum meeting jam 9. Mau ronde lagi di ranjang atau mau aku kentot memekmu sambil kamu rias muka di depan cermin?”
Ajeng menoleh, tersenyum nakal meski wajahnya lelah dan basah.
“Mau yang di depan cermin aja, Pak… biar aku bisa liat sendiri toket gede aku bergoyang-goyang pas Bapak ngentot aku dari belakang.”
Rangga tertawa pelan. “Dasar lonte mesum. Ayo, kita lanjut.”
989Please respect copyright.PENANAXOLyprjfWl
PDF: lynk.id/bande41/9ekwk16n0z9q
ns216.73.216.105da2


