Radit terbangun dengan kepala berat. Jam di nakas menunjukkan pukul 05.47. Cahaya pagi Surabaya yang masih redup menyusup lewat tirai kamar. Tubuhnya telanjang di bawah selimut, dan ingatan malam kemarin langsung menghantam seperti gelombang. Sarah. Sofa ruang keluarga. Suara desahannya yang liar. Rasa bersalah menyergapnya begitu kuat sampai perutnya mulas. 2180Please respect copyright.PENANA5lqFFeBSy2
'Gila, Radit. Kamu baru saja selingkuh di rumah sendiri. Di bawah kamar Winda.' Pikir Radit
Di sebelahnya, Winda masih tidur pulas. Rambutnya acak-acakan di bantal, wajahnya tenang seperti biasa. Radit menatapnya lama. Istri yang sudah tujuh tahun dia janji setia. Yang setiap pagi bangun lebih dulu untuk siapkan sarapan. Yang tak pernah curiga. Radit merasa najis. Tapi saat ingatan Sarah menunggangi dirinya di sofa tadi malam muncul lagi, kejantannya langsung bereaksi di balik selimut. Dia membenci dirinya sendiri karena itu.
Winda bergerak pelan, membuka mata. 2180Please respect copyright.PENANAf8Es7sUUI2
“Pagi, sayang,” gumamnya sambil tersenyum mengantuk. Dia mendekat, mencium pipi Radit sekilas. “Kamu tidur nyenyak? Aku dengar kamu masih nonton TV sampe larut.”
Radit memaksakan senyum.2180Please respect copyright.PENANAf5UDZHOFfR
“Iya, Win. Kamu tidur duluan kan. Aku… cuma nemenin Sarah bentar.” Suaranya terdengar biasa, tapi jantungnya berdegup kencang. Dia bangun cepat, pakai boxer, dan turun ke dapur sebelum Winda sempat bertanya lebih lanjut.
Di dapur, Radit membuat kopi hitam untuk dirinya dan teh hangat untuk Winda. Winda menyusul tak lama kemudian, sudah pakai seragam guru—blus putih rapi dan rok pensil selutut yang membuatnya terlihat anggun seperti biasa. Tubuhnya masih bagus, tapi Radit tak lagi merasakan getar yang dulu. Sekarang yang ada hanya rasa bersalah yang menusuk.
Mereka sarapan di meja yang sama seperti biasa. Roti bakar, telur mata sapi, dan buah potong. Winda cerita ringan,2180Please respect copyright.PENANALdGuX8CZ4O
“Hari ini aku ada rapat guru jam istirahat siang. Murid kelas 11 lagi ribut soal nilai. Kamu hari ini meeting apa, Dit?”
Radit mengunyah pelan.2180Please respect copyright.PENANAspmln41wFY
“Meeting klien di Tunjungan Plaza jam sepuluh. Siangnya di kantor aja. Kamu pulang sore kan?”
“Iya, biasa. Oh iya,” Winda tiba-tiba tersenyum sambil lihat HP-nya. 2180Please respect copyright.PENANAAQ1ccfZhWa
“Sarah kirim WA pagi tadi. Katanya ‘terima kasih malam kemarin, seru banget. Aku pulang dengan hati ringan’. Manis ya dia. Kamu nemenin dia curhat sampe jam berapa sih?”
Radit hampir tersedak kopinya. Jantungnya berhenti sejenak. 2180Please respect copyright.PENANA8tyLCeQOSK
“Ah… sampe jam sebelas lah. Dia lagi down banget soal putusnya. Aku kasih nasihat aja.”
Winda tertawa kecil.2180Please respect copyright.PENANAmBzGxZo8c5
“Kamu emang baik. Makasih ya, Dit. Sarah itu kayak adik sendiri buat aku. Senang banget dia nyaman cerita sama kamu.” Dia meraih tangan Radit di atas meja, meremas pelan. 2180Please respect copyright.PENANAFnYrCbkrlH
“Aku berangkat dulu ya. Hati-hati di jalan.”
Winda mencium bibir Radit sekilas—ciuman rutin yang terasa dingin sekarang. Radit balas peluk, tapi pikirannya sudah melayang ke Sarah. Begitu pintu depan tertutup dan mobil Winda keluar garasi, Radit langsung ambil HP-nya. Ada pesan dari Sarah pukul 06.12.
Sarah: Pagi, Mas Radit, Malam kemarin… masih ngerasa di tubuhku. Kita ketemu siang yuk di kafe Pakuwon Mall. Aku mau ngobrol serius soal kita. Jam 12.30?
Radit menatap layar lama. Jarinya ragu di atas keyboard. Ini harus dihentikan. Sekarang. Tapi dia ketik balasan:
Radit: Oke. Aku usahain jam 12.30. Jangan telat ya.
Dia mandi air dingin yang lama, berusaha membersihkan dosa yang baru saja dia lakukan. Tapi setiap kali mata tertutup, dia ingat bibir Sarah di kejantanannya. Dan dia tahu, dia sudah ketagihan.
Siang itu, Radit tiba di kafe cozy di lantai dua Pakuwon Mall lebih awal. Kafe itu kecil, pencahayaan temaram, musik jazz pelan. Dia pilih meja di pojok, agak tersembunyi. Sarah datang tepat waktu, pakai dress summer kuning muda yang ketat di dada dan pinggul. Rambutnya tergerai, makeup natural tapi bibirnya merah menyala. Dia tersenyum lebar saat melihat Radit.
“Dit! Maaf ya, macet di tol,” katanya sambil duduk di depan Radit. Kakinya langsung menyenggol kaki Radit di bawah meja—tak sengaja, tapi tak juga.
Radit menelan ludah. “Nggak apa-apa. Aku juga baru dateng. Pesan dulu yuk. Kamu mau apa?”
Mereka pesan iced latte dan croissant. Begitu pelayan pergi, Sarah menatap Radit dalam-dalam. Matanya penuh sesuatu yang campur aduk—gairah dan rasa bersalah yang tipis.
“Radit… malam kemarin itu… aku nggak bisa berhenti mikirin,” katanya pelan, suaranya rendah supaya tak terdengar orang lain. 2180Please respect copyright.PENANAdSkvq8Zq8G
“Aku tahu ini salah. Kamu suami Winda. Dia sahabat terbaikku. Tapi… dari dulu aku suka sama kamu. Diam-diam. Waktu kalian baru nikah, aku iri banget sama Winda.”
Radit mengusap wajahnya. 2180Please respect copyright.PENANAYnabaOMGeg
“Sarah… kita nggak boleh ulangi lagi. Itu kesalahan. Aku… aku nggak tahu kenapa bisa terjadi. Winda… dia nggak tahu apa-apa. Aku nggak mau rusak semuanya.”
Sarah tersenyum miris, tapi tangannya meraih tangan Radit di atas meja, jarinya mengelus punggung tangan Radit pelan. 2180Please respect copyright.PENANAChFHm894wl
“Aku juga nggak mau rusak persahabatan aku sama Winda. Tapi kamu… kamu beda. Cara kamu sentuh aku malam itu… aku belum pernah ngerasain yang kayak gitu. Kamu rakus banget, Dit. Dan aku suka.”
Di bawah meja, kaki Sarah naik, menyusuri betis Radit. Radit merasa panas merayap ke selangkangannya. 2180Please respect copyright.PENANAgepcLHJPL3
“Sar… berhenti. Orang-orang bisa lihat.”
Sarah tertawa kecil, suaranya flirtatious.2180Please respect copyright.PENANAW0Wy8fKYJ0
“Santai aja. Kafe ini sepi. Aku cuma mau bilang… aku nggak minta kamu ninggalin Winda. Aku cuma… pengen ini lagi. Rahasia. Kita bisa ketemu diam-diam. Kamu juga pengen kan? Jangan bohong. Aku ngerasa kamu lebih keras malam itu daripada yang kamu ceritain soal Winda.”
Radit diam lama. Chemistry di antara mereka terasa seperti listrik. Pandangan mereka tak lepas.2180Please respect copyright.PENANAFmNHsi5NFS
“Aku… aku nggak tahu, Sar. Aku sayang Winda. Tapi sama kamu… rasanya beda. Lebih hidup. Lebih… liar.”
Mereka ngobrol hampir satu jam. Sarah cerita soal event kerjanya besok di hotel dekat kantor Radit. Radit cerita soal tekanan kerja yang bikin dia bosan sama rutinitas rumah. Sentuhan kaki di bawah meja semakin berani. Sarah bahkan menggeser kursinya lebih dekat, lututnya menempel paha Radit.
“Aku pulang dulu ya,” kata Radit akhirnya, suaranya serak. 2180Please respect copyright.PENANAMBhbVwZObE
“Aku harus balik kantor.”
Sarah mengangguk, tapi sebelum berdiri dia berbisik, 2180Please respect copyright.PENANAzS5vYSyXld
“Malam ini Winda ada workshop guru kan? Dia bilang ke aku tadi pagi. Aku bisa mampir ke rumahmu. Cuma ambil barang yang ketinggalan kemarin. Kalau kamu mau… aku bisa tinggal lebih lama.”
Radit tak jawab. Tapi dia mengangguk pelan.
Sepanjang sore di kantor, pikiran Radit kacau. Dia tak bisa fokus di presentasi. HP-nya bergetar. Panggilan dari Sarah.
“Halo, Dit,” suara Sarah manja di telinga.2180Please respect copyright.PENANAhfdS9mt6o4
“Aku lagi di mobil, nyetir pulang. Mikirin kamu yang di kantor. Kamu lagi apa?”
Radit menutup pintu ruangannya. 2180Please respect copyright.PENANAcm7QQ8WsYq
“Sar… jangan gini. Aku lagi kerja.”
Sarah tertawa pelan.2180Please respect copyright.PENANA0AaNugqUw3
“Aku cuma pengen denger suaramu. Malam nanti aku dateng ya? Winda bilang workshopnya sampe jam sepuluh. Aku bawa wine lagi. Kita… ngobrol aja dulu.”
Radit menghela napas panjang. 2180Please respect copyright.PENANA4mDb6iVR30
“Oke. Tapi cuma ngobrol.”
Tapi mereka berdua tahu itu bohong.
Pulang sore, Winda sudah di rumah. Dia memeluk Radit erat di pintu.2180Please respect copyright.PENANAHYqwxjwFu0
“Capek ya, sayang? Hari ini aku seneng banget. Sarah kirim WA lagi, katanya dia mau mampir malam ini ambil barangnya yang ketinggalan. Aku bilang boleh aja. Kamu nggak keberatan kan? Aku malah usulin Sarah sering-sering mampir ke sini. Rumah jadi rame.”
Radit memeluk balik, tapi tubuhnya kaku.2180Please respect copyright.PENANAIvIqI7yer5
“Nggak apa-apa, Win. Kamu workshop sampe jam berapa?”
“Sampe sembilan setengah lah. Aku pulang langsung. Kamu temenin Sarah ya, jangan biarin dia sendirian.”
Radit merasa seperti ada pisau di dadanya.2180Please respect copyright.PENANA7c0J5I0ggw
“Iya, sayang.”
Jam delapan malam, Winda berangkat dengan mobilnya. Rumah sepi. Radit duduk di sofa ruang keluarga—sofa yang sama dengan malam kemarin—sambil minum bir. Bel pintu berbunyi tepat jam 08.15.
Sarah masuk dengan senyum yang sudah penuh gairah. Dia pakai tank top hitam dan celana pendek jeans. 2180Please respect copyright.PENANAn9KwyfbKt5
“Dit… Winda udah berangkat?”
Radit mengangguk. Pintu ditutup. Kunci dikunci.
Tak ada kata-kata lagi. Mereka langsung berciuman ganas di depan pintu. Sarah mendorong Radit ke dinding, tangannya merayap ke celana Radit.2180Please respect copyright.PENANA2BxiGSCnuY
“Aku udah basah dari siang tadi mikirin ini,” bisiknya di antara ciuman.
Radit tak bisa menahan. 2180Please respect copyright.PENANA7AWTLmc121
“Kita ke kamar atas. Kamar aku sama Winda.”
Sarah tersenyum nakal.2180Please respect copyright.PENANAJT0L1xQCfZ
“Berani banget. Aku suka.”
Mereka naik tangga sambil saling meraba. Begitu masuk kamar tidur utama, Radit mendorong Sarah ke tempat tidur yang masih berantakan dari pagi tadi. Sarah tertawa serak.2180Please respect copyright.PENANAqaygOFwKTM
“Ini tempat Winda tidur tiap malam? Gila… aku suka yang terlarang kayak gini.”
Foreplay kali ini lebih lama, lebih buas. Radit menarik tank top Sarah, payudaranya yang besar langsung meloncat keluar. Dia menghisap putingnya bergantian, gigit pelan, lidahnya berputar cepat. Sarah mendesah keras,2180Please respect copyright.PENANARltMHhvxdy
“Ahh… Radit… hisap lebih kuat… ya gitu… aku suka kasar.”
Sarah membuka celana Radit, mulutnya langsung menyambut kejantanan yang sudah tegak sempurna. Dia mengisap dalam-dalam, tenggorokannya rileks, lidahnya menjilat dari bawah sampai ujung. 2180Please respect copyright.PENANAIpCLIdqQaX
“Enak nggak, Mas? Lebih enak dari mulut Winda kan?” katanya sambil pandang ke atas, mata nakalnya penuh tantangan.
Radit mengerang, tangannya memegang rambut Sarah.2180Please respect copyright.PENANAv5wMVPpo60
“Sialan… iya… lebih enak… jangan berhenti, Sar.”
Radit balas dengan membaringkan Sarah, kepalanya di antara paha yang terbuka lebar. Lidahnya menjilat klitoris yang sudah banjir, dua jarinya masuk dan keluar cepat. Sarah menjerit, pinggulnya menggoyang liar.2180Please respect copyright.PENANAHmQNIMOB0G
“Ya Tuhan… Radit… aku mau cum… jilatin lebih cepet… ahh fuck!”
Sarah orgasme pertama dengan tubuh kejang hebat, cairannya membasahi mulut Radit. Tapi Radit tak berhenti. Dia membalik tubuh Sarah, memposisikannya doggy style di tepi kasur—kasur yang sama dengan Winda. Radit masuk dari belakang dalam satu hantaman kuat. “Ahh!” Sarah menjerit.2180Please respect copyright.PENANAeRAOYBOeTI
“Dalem banget… hantam lebih keras, Dit! ewe aku sama kayak kamu ngewe Winda!”
Radit menggenggam pinggul lebar Sarah, menghunjam tanpa ampun. Suara tabrakan kulit memenuhi kamar. Payudara Sarah bergoyang liar. Radit menarik rambutnya dari belakang, “Kamu ketat banget… lebih enak dari istriku… sialan aku ketagihan sama kamu.”
Mereka ganti posisi berkali-kali. Sarah naik ke atas, menggoyang pinggulnya seperti penari, payudaranya ditangkap Radit dan diremas kasar.2180Please respect copyright.PENANAOz76P5dYQ7
“Goyangin lag… ya… gitu… kamu liar banget,” erang Radit.
Lalu missionary—Radit di atas, mata mereka bertemu. Sarah mencakar punggung Radit, kuku meninggalkan jejak merah.2180Please respect copyright.PENANAQsrQxepJGR
“Keluarinaku didalam lagi, Dit… isi aku… aku mau ngerasain sperma kamu banjir di dalem.”
Radit orgasme dengan kuat, menyemburkan cairannya panas di dalam Sarah sambil mengerang nama Sarah. Sarah orgasme bareng, tubuhnya mengejang, vagina mencengkeram kejantanan Radit kuat-kuat.
Mereka ambruk berpelukan di tempat tidur Winda. Keringat bercampur. Napas tersengal. Radit menatap langit-langit, rasa bersalah datang seperti tsunami. Aku baru saja ngentot sahabat istriku di kasur kami. Tapi tangannya masih memeluk Sarah erat.
Sarah mengelus dada Radit pelan.2180Please respect copyright.PENANAeUsy2civrQ
“Dit… aku nggak mau berhenti. Ini terlalu enak. Kita bisa rahasia. Winda nggak akan tahu. Aku janji aku bakal hati-hati.”
Radit diam. 2180Please respect copyright.PENANAOO31bRwejd
“Aku… aku nggak tahu, Sar. Ini bahaya. Tapi… aku juga nggak bisa berhenti mikirin kamu.”
Sarah tersenyum, mencium bibirnya lembut.2180Please respect copyright.PENANA8UA5E72fmi
“Besok aku ada event di hotel Shangri-La. Kamar 1208. Kamu bisa cuti siang kan? Dateng aja. Aku tunggu.”
Mereka mulai berpakaian pelan. Radit sudah pakai boxer, Sarah baru memakai tank top-nya. Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk garasi. Mesin Winda. Jam baru 09.20—dua jam lebih cepat dari jadwal.
“Shit!” Radit panik, wajahnya pucat. Sarah buru-buru pakai celana pendeknya. Mereka saling pandang, jantung berdegup kencang.
“Dia pulang cepet,” bisik Radit.2180Please respect copyright.PENANAyWekUnNOPg
“Kamu keluar lewat pintu belakang. Cepet!”
Sarah mengangguk, tapi sebelum lari dia berbisik cepat di telinga Radit, 2180Please respect copyright.PENANAuVkQJrbk4O
“Besok hotel. Jangan lupa. Ini baru mulai, Dit.”
Radit berdiri di kamar, tubuh masih berbau seks Sarah, sementara langkah Winda sudah terdengar di tangga. Hidupnya mulai berantakan. Tapi nafsu yang baru saja dia rasakan terlalu kuat untuk dihentikan.
2180Please respect copyright.PENANARyWpy4bgQ0


