Radit berdiri membeku di kamar tidur saat langkah Winda terdengar semakin dekat di tangga. Bau keringat Sarah masih menempel di kulitnya, bercampur aroma parfum manis yang tak mungkin dia jelaskan. Sarah sudah menyelinap keluar lewat pintu belakang, tapi jantung Radit berdegup seperti mau copot. Dia buru-buru merapikan seprai yang kusut, menyemprotkan sedikit parfum Winda ke udara, lalu duduk di tepi kasur sambil pura-pura baca HP.
Pintu kamar terbuka pelan. Winda masuk dengan wajah lelah tapi tersenyum. 1949Please respect copyright.PENANA1MIHfVMbHH
“Dit? Kamu belum tidur? Workshopnya selesai lebih cepat, kebetulan pembicaranya sakit. Aku langsung pulang.”
Radit mengangkat wajah, berusaha tersenyum natural.1949Please respect copyright.PENANAkOjvXYOroJ
“Oh… ya udah. Capek ya, Win? Mau mandi dulu?”
Winda mengangguk, mendekat dan mencium pipi suaminya. “1949Please respect copyright.PENANA29l4yIhhJx
Sarah udah pulang? Barangnya ketemu nggak?”
“Udah,” jawab Radit cepat, suaranya sedikit serak.1949Please respect copyright.PENANAHGaNMHdYlJ
“Dia cuma ambil jaket yang ketinggalan kemarin. Kita ngobrol bentar soal kerjaannya.”
Winda tak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengangguk sambil membuka kancing blusnya.1949Please respect copyright.PENANA1nPQnMA7it
“Bagus. Aku senang kalian akur. Besok aku ada rapat pagi lagi. Kamu istirahat ya.”
Malam itu mereka tidur berpelukan seperti biasa. Tapi Radit tak bisa memejamkan mata. Setiap kali Winda bergerak pelan dalam tidurnya, rasa bersalah menusuk seperti jarum. Aku baru saja melakukan itu di kasur kami. Di rumah kami. Tapi bayangan tubuh Sarah yang lembut, desahannya yang pelan, membuatnya gelisah. Dia berjanji dalam hati: ini harus dihentikan. Besok dia akan menghindari Sarah.
Tiga hari berikutnya, Radit benar-benar berusaha menjauh.
Dia tak membalas chat Sarah dengan cepat. Hanya jawaban singkat seperti 1949Please respect copyright.PENANAHHDG6gCrhn
“Sibuk meeting” atau “Nanti aku bales ya”. 1949Please respect copyright.PENANAFrrWxH18m2
Sarah mengirim pesan pagi: “Dit, kamu baik-baik aja kan? Malam itu… aku nggak bisa berhenti mikirin.”1949Please respect copyright.PENANACRtm02SyyM
Radit membacanya berkali-kali, lalu meletakkan HP tanpa balas. Di kantor, dia tenggelam dalam pekerjaan, meeting demi meeting, berharap lelah fisik bisa mengalahkan gejolak di dada.
Winda tampak biasa saja. Tapi pada malam ketiga, saat mereka sedang makan malam, Winda bertanya lembut, 1949Please respect copyright.PENANAFb6x4WDkM1
“Dit… akhir-akhir ini kamu agak pendiam. Ada yang lagi dipikirin? Kerjaan? Atau… ada yang disembunyikan dari aku?”
Radit hampir menjatuhkan sendok. Dia menatap istrinya yang cantik dan anggun itu. Mata Winda penuh perhatian, bukan curiga tajam. 1949Please respect copyright.PENANARA6MCOdiTO
“Nggak ada apa-apa, Win. Cuma capek aja. Klien lagi banyak yang rewel. Kamu sendiri gimana? Murid-murid oke?”
Winda tersenyum kecil, tapi Radit melihat ada keraguan di matanya.1949Please respect copyright.PENANAoE39fX9lwR
“Oke. Kalau ada apa-apa, cerita ya. Aku istri kamu.”
Radit merasa semakin kotor.
Sarah tak menyerah. Pada hari keempat, sore hari, dia datang ke rumah dengan alasan membantu Winda. 1949Please respect copyright.PENANACPMluU5vK4
“Win, aku bawa bahan kue yang kamu pesen kemarin. Plus aku bantu masak kalau boleh. Bosan di apartemen sendirian.”
Winda senang sekali. 1949Please respect copyright.PENANAltoPV4Jlav
“Makasih banget, Sar! Masuk yuk. Radit lagi di teras belakang, lagi minum kopi. Kamu temenin dia dulu, aku siapin dapur.”
Radit duduk di kursi rotan teras belakang rumah, menghadap taman kecil yang hijau. Udara Surabaya sore itu lembab, angin pelan membawa bau tanah basah setelah hujan siang tadi. Sarah muncul dengan senyum yang hati-hati. Dia duduk di kursi sebelah Radit, jarak mereka cukup aman.
“Dit… kamu menghindar ya?” tanya Sarah pelan, suaranya tak lagi flirtatious seperti biasa. Lebih lembut, hampir rapuh.
Radit menatap gelas kopinya.1949Please respect copyright.PENANAHjKKvjPq8n
“Sar… kita nggak boleh. Itu kesalahan besar. Winda… dia nggak tahu apa-apa. Aku nggak mau rusak rumah tangga aku. Kamu juga sahabatnya.”
Sarah diam sejenak. Angin meniup rambutnya yang tergerai. 1949Please respect copyright.PENANA52L7dzMJi2
“Aku tahu. Aku juga ngerasa bersalah. Tiap kali ketemu Winda, aku merasa kayak pengkhianat. Tapi… malam itu, waktu kamu peluk aku, rasanya… untuk pertama kalinya aku ngerasa dilihat beneran. Bukan cuma sebagai cewek seksi yang flirtatious. Kamu dengerin aku, Dit. Kamu sentuh aku dengan cara yang… bikin aku merasa diinginkan.”
Radit menoleh. Mata Sarah berkaca-kaca sedikit. 1949Please respect copyright.PENANAq9slgs9ARr
“Aku single, kerjaan hectic, pacar-pacar sebelumnya cuma mau tubuhku. Kamu beda. Meski cuma sebentar, aku ngerasa ada hubungan.”
“Aku juga ngerasa gitu,” aku Radit pelan, suaranya hampir hilang.1949Please respect copyright.PENANAAvOA2iH1rx
“Tapi ini nggak benar, Sar. Aku suami. Aku janji sama Winda di depan Tuhan.”
Mereka diam lama. Hanya suara burung dan angin. Sarah akhirnya bicara lagi,1949Please respect copyright.PENANAVwr438gDsa
“Aku nggak minta kamu ninggalin dia. Aku cuma… pengen ngobrol kayak gini. Tanpa harus takut. Boleh nggak?”
Radit tak langsung jawab. Tapi saat Sarah bangkit mau ke dapur membantu Winda, tangannya menyentuh bahu Radit sebentar. Sentuhan itu hangat, penuh kerinduan.
Malam harinya, lewat chat, obrolan mereka mulai lagi. Sarah kirim foto apartemennya yang sepi: 1949Please respect copyright.PENANAvljWJsJrBQ
“Rumah kosong banget malam ini. Kamu lagi apa?”
Radit, yang sedang di kamar sementara Winda mandi, balas: 1949Please respect copyright.PENANA0GTsVwGBLA
“Lagi nemenin Winda. Sar, kita pelan-pelan ya. Aku takut.”
Sarah: Aku ngerti. Tapi aku kangen suaramu. Besok sore kamu bisa telepon aku nggak? Cuma ngobrol.
Radit setuju. Dan begitulah hari-hari berikutnya. Obrolan rahasia lewat chat malam hari semakin panjang. Sarah cerita tentang masa kecilnya yang kesepian, tentang betapa dia iri melihat Radit dan Winda dulu yang terlihat bahagia. Radit cerita tentang kebosanannya yang pelan-pelan muncul setelah tahun kelima pernikahan—bukan karena Winda jelek, tapi karena rutinitas yang membuat api mereka redup.
“Aku masih sayang Winda,” tulis Radit suatu malam. 1949Please respect copyright.PENANA1zICt8ONX3
“Tapi sama kamu… rasanya ada yang hidup lagi di aku.”
Sarah: Aku tahu itu salah. Tapi aku juga nggak bisa berhenti. Kamu bikin aku pengen jadi versi terbaik aku, Dit. Bukan cuma cewek event organizer yang suka party.
Pada hari keenam, Sarah datang lagi ke rumah dengan alasan “bantu Winda pilih baju untuk acara sekolah”. Winda senang, bahkan bilang, 1949Please respect copyright.PENANApCabf9rYif
“Kalian berdua obrolan aja di teras. Aku lagi sibuk di dapur.”
Di teras, di bawah cahaya senja yang jingga, obrolan mereka semakin dalam. Sarah duduk lebih dekat. 1949Please respect copyright.PENANANINEMNiWi7
“Dit, aku takut juga. Takut kehilangan Winda sebagai sahabat. Tapi tiap malam aku mikirin cara kamu peluk aku. Cara kamu cium aku pelan-pelan. Bukan buru-buru.”
Radit menatapnya lama.1949Please respect copyright.PENANAuwFsWSOSvz
“Aku juga. Aku berusaha hindarin kamu, tapi malah semakin kangen. Ini gila.”
Tangan mereka bersentuhan di sandaran kursi. Jari Sarah mengelus punggung tangan Radit dengan lembut, bukan nafsu kasar. Hanya kehangatan. Radit tak menarik tangannya.
Winda mulai curiga lebih dalam. Suatu pagi, saat sarapan, dia bertanya lagi dengan suara lembut, 1949Please respect copyright.PENANAoA1iVnDFbo
“Dit, kamu sama Sarah… akhir-akhir ini sering chat ya? Aku lihat notif HP-mu. Bukan apa-apa, cuma… kalau ada masalah, cerita dong sama aku.”
Radit merasa dadanya sesak. 1949Please respect copyright.PENANAzQmRrfJqfh
“Cuma curhat soal kerjaan dia, Win. Dia lagi down setelah putus. Aku anggap dia kayak adik.”
Winda mengangguk, tapi matanya tak sepenuhnya percaya. 1949Please respect copyright.PENANAvhpIvTUPVC
“Iya. Tapi… jaga hati ya, sayang.”
Hari ketujuh, Radit tak tahan lagi. Sarah mengirim pesan:1949Please respect copyright.PENANAmLHyP1GYSf
“Apartemen aku di Grand Sungkono Lagoon. Malam ini Winda ada workshop lagi kan? Dateng yuk. Cuma ngobrol. Aku janji nggak maksa apa-apa. Aku kangen banget.”
Radit datang setelah maghrib. Apartemen Sarah di lantai 12, studio yang cozy dengan pencahayaan warm dan jendela besar menghadap kota Surabaya yang berkelap-kelip. Hujan gerimis di luar, membuat udara malam terasa sejuk dan intim.
Sarah membuka pintu dengan senyum gugup. Dia pakai kaos oversized longgar dan celana pendek rumah.1949Please respect copyright.PENANAZXjvD6sPX4
“Masuk, Dit. Aku bikin teh hangat.”
Mereka duduk di sofa kecil. Obrolan mengalir pelan. Tentang hari mereka, tentang ketakutan masing-masing. Sarah mendekat pelan, kepalanya bersandar di bahu Radit. 1949Please respect copyright.PENANA6ibIX08a3j
“Aku takut ini cuma nafsu. Tapi rasanya lebih dari itu.”
Radit memeluknya. 1949Please respect copyright.PENANAKEuarnIRz0
“Aku juga takut. Tapi di sini… rasanya tenang.”
Ciuman pertama malam itu sangat pelan. Bibir mereka bertemu lembut, seperti takut memecahkan sesuatu yang rapuh. Radit mencium Sarah dengan penuh perasaan—bukan rakus seperti sebelumnya. Tangan mereka saling jelajah perlahan. Radit mengelus punggung Sarah di bawah kaos, merasakan kulitnya yang halus dan hangat. Sarah mendesah pelan di mulutnya, tangannya menyusuri dada Radit.
Mereka berpindah ke tempat tidur apartemen. Lampu dimatikan, hanya cahaya kota dari jendela yang menerangi. Radit menanggalkan kaos Sarah dengan gerakan lambat, mencium setiap inci kulit yang terbuka—leher, bahu, lekuk payudaranya yang penuh.1949Please respect copyright.PENANAIpqplnpnMR
“Kamu cantik banget, Sar,” bisiknya tulus. “Bukan cuma tubuhmu.”
Sarah menangis pelan karena terharu. 1949Please respect copyright.PENANATIUfrfP9oz
“Kamu bikin aku merasa dihargai, Dit.”
Foreplay berlangsung sangat lama. Mereka saling sentuh dengan penuh kelembutan. Lidah Radit menjelajahi tubuh Sarah dengan sabar—mencium perutnya, paha dalamnya, lalu naik lagi ke payudaranya. Sarah menggeliat pelan, tangannya meremas rambut Radit.1949Please respect copyright.PENANAMYzjrpabVp
“Pelan aja… aku mau ngerasain setiap detiknya.”
Saat Radit akhirnya masuk ke dalamnya, gerakannya lambat dan dalam. Mereka bertatapan sepanjang waktu. Tubuh mereka bergerak selaras, seperti dansa yang intim. Sarah mendesah nama Radit berulang-ulang, suaranya penuh emosi.1949Please respect copyright.PENANAqfhusVOagX
“Ini salah… tapi terasa benar banget sama kamu.”
Radit merasakan gelombang kenikmatan yang berbeda—bukan hanya fisik, tapi juga emosional. Dia mencapai puncak bersama Sarah, pelukan mereka erat, napas bercampur. Setelahnya, mereka berbaring saling memeluk di bawah selimut tipis. Radit mencium kening Sarah.1949Please respect copyright.PENANA5FQOsgnfxU
“Aku nggak tahu harus gimana lagi.”
Sarah mengelus pipinya. “Kita pelan-pelan aja. Rahasia dulu.”
Mereka berpakaian pelan, masih saling sentuh kecil. Radit pulang dengan hati campur aduk—bersalah yang lebih dalam, tapi juga perasaan dekat yang baru.
Keesokan paginya, saat Radit sedang di kantor, HP-nya bergetar. Pesan dari Sarah:
Sarah: Aku sudah tidak bisa berhenti memikirkanmu… besok kita ketemu lagi ya? Aku kangen pelukanmu.
Radit menatap layar lama. Jarinya ragu di atas tombol balas. Di luar jendela kantor, hujan Surabaya mulai turun lagi. Hidupnya semakin rumit, tapi godaan itu terasa semakin tak terelakkan.
Dan dia tahu, besok dia akan mencari cara untuk bertemu Sarah lagi.
ns216.73.216.105da2


