Radit mematikan mesin mobil di garasi rumah dua lantai mereka di perumahan Pakuwon, Surabaya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, dan udara masih terasa lengket meski AC mobil sudah bekerja keras sepanjang perjalanan pulang dari kantor di Raya Darmo. Tubuhnya pegal setelah seharian meeting dengan klien yang tak kunjung puas. Tapi yang lebih pegal lagi adalah hatinya.
Dia masuk ke rumah, tas kerja dilempar ke sofa ruang tamu. Aroma masakan dari dapur langsung menyambut—ayam panggang dan sayur asam, menu andalan Winda.
“Sayang, aku pulang,” panggilnya pelan, suaranya datar.
Winda muncul dari dapur, masih pakai apron. Rambutnya diikat ponytail sederhana, wajahnya cantik seperti biasa, tapi senyumnya malam ini terasa agak lelah.
“Udah lama nunggu. Macet ya?”
“Biasa, Surabaya mah,” jawab Radit sambil mencium pipi istrinya sekilas. Dulu ciuman itu selalu berlama-lama. Sekarang? Hanya formalitas.
Mereka duduk makan malam berdua di meja makan kayu jati yang Winda pilih dulu waktu nikah tujuh tahun lalu. Radit mengunyah tanpa banyak bicara. Winda cerita tentang murid-muridnya di SMA, tentang anak kelas 12 yang lagi ribut soal OSN, tentang betapa capeknya mengajar pagi-pagi. Radit mengangguk-angguk, sesekali tertawa kecil saat Winda menirukan aksen muridnya yang lucu. Tapi pikirannya melayang.
Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, setelah makan mereka naik ke kamar. Winda mandi dulu, lalu Radit. Saat Radit keluar dari kamar mandi hanya pakai handuk di pinggang, Winda sudah berbaring di tempat tidur, pakai daster tipis yang dulu selalu bikin Radit langsung nafsu. Sekarang? Radit naik ke kasur, tangannya menyentuh pinggul Winda pelan.
“Capek banget hari ini,” gumam Winda sambil memejamkan mata.
Radit mencium lehernya.
“Aku juga.” Tapi tangannya tetap bergerak, mencoba membangkitkan sesuatu. Winda merespons, tapi seperti biasa—pelan, lembut, tanpa api. Mereka bercinta dalam posisi missionary yang itu-itu saja. Radit bergerak di atasnya, mendengar desahan kecil Winda yang sopan, tapi tak ada yang liar. Tak ada cengkeraman kuku di punggungnya, tak ada kata-kata kotor yang dulu kadang keluar saat mereka masih pacaran.
Selesai dalam waktu singkat. Radit berguling ke samping, napasnya masih memburu. Winda langsung memeluknya erat, mencium pipinya.
“Makasih ya, sayang. Besok aku ngajar pagi, harus tidur cepet.”
“Iya,” jawab Radit pelan. Dia menatap langit-langit kamar yang gelap. Dalam hati, ada sesuatu yang menggerogoti. Ini udah tujuh tahun, tapi kok rasanya... kosong? Tubuh Winda masih indah—payudaranya masih kencang, pinggulnya masih proporsional—tapi entah kenapa, Radit merasa tak lagi tersentuh. Dia merasa bersalah karena memikirkan itu. Winda istri yang sempurna: penyayang, setia, selalu urus rumah. Tapi Radit bosan. Bosan dengan rutinitas yang sama setiap malam. Bosan dengan seks yang terasa seperti kewajiban.
Dia memeluk Winda sampai istrinya tertidur. Tapi matanya tak bisa terpejam.
Pagi harinya, saat Radit sedang sarapan, Winda tiba-tiba bilang,
“Eh, malam ini Sarah mau ke sini makan malam. Dia baru putus sama pacarnya yang kemarin. Kasian, butuh curhat. Boleh kan?”
Radit mengangkat alis. “Sarah? Oke lah. Lama juga nggak ketemu dia.”
Winda tersenyum lega.
“Dia bilang jam tujuh. Aku masak banyak ya. Kamu pulang cepet dong, biar kita bertiga santai.”
Sarah. Sahabat Winda sejak kuliah. Radit sudah kenal dia hampir sepuluh tahun. Cewek yang selalu ramai, selalu bawa tawa ke mana-mana. Single, kerja sebagai event organizer, dan ya… Radit tak pernah bohong pada diri sendiri—Sarah memang seksi. Tapi selama ini dia hanya anggap dia “saudara” Winda. Tak lebih.
Malam itu, Radit pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sudah wangi masakan. Winda pakai dress santai berwarna krem yang membuatnya terlihat anggun. Radit mandi cepat, ganti kaos polo hitam dan celana pendek rumah.
Bel berbunyi tepat jam tujuh. Winda membuka pintu.
“Sarah! Masuk masuk!”
Sarah masuk dengan senyum lebar, membawa botol wine dan kue dari toko langganan di Galaxy Mall.
“Windaaa! Maaf ya ganggu malam Minggu kalian. Aku lagi butuh temen curhat beneran.” Dia memeluk Winda erat, lalu melihat Radit yang berdiri di belakang. “Radit! Wah, makin ganteng aja ya. Olahraga rutin masih?”
Radit tertawa kecil, memeluk Sarah sekilas—pelukan yang biasa, tapi malam ini entah kenapa terasa sedikit lebih lama. Tubuh Sarah hangat, aroma parfumnya manis dan segar.
“Biasa aja, Sar. Kamu juga, masih kinclong seperti biasa. Duduk dulu.”
Mereka bertiga duduk di meja makan. Makan malam berlangsung santai. Winda menyajikan ayam panggang, tumis kangkung, dan sambal terasi yang pedasnya pas. Sarah langsung cerita panjang lebar tentang pacarnya yang baru putus—cowok yang katanya “terlalu posesif” dan “nggak ngerti kerjaan aku yang hectic”.
“Pokoknya dia marah-marah waktu aku bilang aku harus ke Jakarta minggu depan buat event besar. Bilang aku lebih sayang kerjaan daripada dia. Padahal kan aku single dulu juga gini-gini aja,” kata Sarah sambil mengunyah, matanya berbinar. Dia pakai tank top hitam ketat yang sedikit menonjolkan belahan dadanya yang penuh, dan rok jeans pendek yang memperlihatkan paha putih mulusnya. Radit berusaha tak menatap terlalu lama.
Winda tertawa.
“Kamu emang kebanyakan mikir kerjaan sih, Sar. Tapi ya udah, mending single dulu. Cari yang beneran ngerti.”
Radit menyela dengan guyonan khasnya,
“Atau cari yang sabar nunggu kamu pulang dari event jam dua pagi. Kayak aku dulu nunggu Winda pas dia masih kuliah sambil ngajar les.”
Sarah melirik Radit, matanya nakal
“Haha, iya tuh. Radit emang tipe suami sabar. Winda beruntung banget dapet kamu. Aku kalau dapet yang kayak gini, udah aku—” Dia berhenti, lalu tertawa sendiri.
“Udah aku peluk terus deh.”
Winda ikut tertawa, tak curiga sama sekali.
“Eh, Radit emang sabar. Tapi kadang juga suka bikin aku kesel. Kemarin dia lupa beliin susu almond yang aku pesen online.”
Obrolan mengalir ringan. Guyonan soal kerjaan Radit yang sering meeting sampai malam, soal murid Winda yang mulai genit-genit, soal event Sarah yang selalu chaos tapi seru. Radit merasa nyaman. Sarah pandai bikin suasana hidup. Dia cerita dengan ekspresi dramatis, tangannya gerak-gerak, kadang menyentuh lengan Radit ringan saat ketawa. Sentuhan itu tak disengaja, tapi Radit merasakan getar kecil di kulitnya.
Setelah makan, mereka pindah ke ruang keluarga. Winda duduk di sofa single, Radit dan Sarah di sofa panjang. Mereka nonton Netflix sebentar—komedi ringan yang Sarah pilih. Winda mulai menguap. “Aku capek banget. Besok pagi ada ulangan harian. Kalian lanjut aja ya, aku naik dulu tidur.”
Radit mengangguk.
“Istirahat aja, sayang. Aku temenin Sarah dulu.”
Winda mencium pipi Radit dan memeluk Sarah singkat.
“Jangan pulang malam-malam ya, Sar. Kalau capek nginep sini aja.”
“Tenang, Win. Aku bawa mobil kok,” jawab Sarah sambil tersenyum manis.
Begitu pintu kamar atas tertutup, ruangan terasa lebih sepi. Hanya ada suara AC dan denting es di gelas wine yang Radit buka tadi. Sarah menggeser duduknya sedikit lebih dekat.
“Akhirnya kita bisa ngobrol berdua. Lama banget nggak ketemu kayak gini.”
Radit menuang wine ke gelas Sarah.
“Iya. Kamu baik-baik aja kan setelah putus itu?”
Sarah menyesap wine-nya pelan, bibirnya yang merah menyentuh pinggir gelas. “Sebenernya sih… aku oke. Tapi kadang kesepian juga. Kerja sibuk, tapi malam-malam gini rasanya… pengen ada yang dengerin.”
Mata mereka bertemu. Radit merasa ada yang berbeda malam ini. Sarah tak lagi cuma “saudara” Winda. Dia wanita yang duduk di sebelahnya, kakinya menyilang, roknya naik sedikit memperlihatkan paha yang halus. Radit menelan ludah.
“Kamu cantik banget malam ini,” kata Radit pelan, tanpa sadar. Kata itu keluar begitu saja.
Sarah tersenyum, pipinya sedikit merah karena wine.
“Makasih. Kamu juga… selalu bikin aku nyaman. Winda beruntung banget punya suami kayak kamu. Perhatian, humoris, dan… ganteng.”
Radit tertawa kecil, tapi suaranya agak serak.
“Jangan gombal. Aku udah tua.”
“Kamu 34, masih prime lah,” balas Sarah sambil menyenggol lengannya pelan. Sentuhan itu lagi. Kali ini tak lepas. Jari Sarah menyentuh punggung tangan Radit, seolah tak sengaja. Tapi mata mereka tak berpaling.
Obrolan semakin dalam. Sarah cerita soal pacar-pacar lamanya, soal betapa dia suka cowok yang “berani ambil risiko”. Radit cerita soal rutinitas pernikahannya—tanpa sadar dia mengeluh pelan soal betapa Winda semakin jarang mau “main-main” di ranjang.
“Aku nggak ngerti kenapa,” kata Radit sambil menatap gelasnya. “Dia baik banget. Tapi… rasanya ada yang kurang.”
Sarah mendekat lagi. Lutut mereka hampir bersentuhan. “Mungkin dia lagi capek. Atau… mungkin kamu butuh sesuatu yang lebih… spontan.”
Udara terasa berat. Radit bisa mencium parfum Sarah lebih jelas sekarang. Dadanya naik turun pelan. Sarah menatapnya lama, bibirnya sedikit terbuka.
“Radit…” bisik Sarah. Tangannya naik, menyentuh lengan Radit. Kali ini tak ada alasan “tak sengaja”.
Radit tak bisa menahan lagi. Dia mencondongkan tubuhnya, dan bibir mereka bertemu. Ciuman pertama itu lembut, ragu-ragu. Tapi langsung membara. Sarah mendesah pelan di dalam mulutnya, tangannya merangkul leher Radit. Radit merasakan payudara besar Sarah menekan dada bidangnya. Nafsunya meledak seketika.
“Sarah… kita nggak boleh,” gumam Radit di sela ciuman, tapi tangannya sudah merayap ke pinggang Sarah, menariknya lebih dekat.
Sarah menggigit bibir bawah Radit pelan. “Aku tahu. Tapi… aku udah pengen ini dari lama. Kamu juga, kan?”
Radit tak jawab. Dia hanya menciumnya lebih dalam. Mereka bergeser di sofa, Sarah naik ke pangkuan Radit. Roknya naik sampai pinggang, memperlihatkan celana dalam hitam tipis. Radit merasakan kehangatan tubuhnya, pinggul lebar Sarah yang bergoyang pelan di atasnya.
Foreplay mereka panjang dan penuh gairah. Radit menurunkan tali tank top Sarah, payudaranya yang besar dan kencang langsung terbebas. Putingnya sudah mengeras. Radit menciumnya, menghisap pelan, lidahnya berputar di sekeliling. Sarah mendesah,
“Ah… Radit… enak banget…” Tangannya meremas rambut Radit.
Sarah tak tinggal diam. Dia membuka resleting celana Radit, tangannya masuk ke dalam, meremas kejantanannya yang sudah keras sepenuhnya.
“Gede banget… aku udah basah dari tadi,” bisiknya nakal, suaranya serak karena nafsu.
Radit menarik celana dalam Sarah ke samping. Jarinya menyentuh klitorisnya yang sudah licin. Sarah menggeliat, pinggulnya bergerak mengikuti jari Radit yang masuk keluar pelan.
“Masukin… aku nggak tahan lagi…”
Tapi Radit ingin lebih dulu. Dia membaringkan Sarah di sofa, lalu berlutut di lantai. Wajahnya mendekat ke pangkal paha Sarah. Lidahnya menjilat pelan, mengecap rasa manisnya yang sudah banjir. Sarah merintih,
“Ya ampun… Radit… jilatin lebih cepet… ahh!” Pinggulnya terangkat, tangannya menekan kepala Radit lebih dalam. Radit menghisap klitorisnya, dua jarinya masuk ke dalam vagina Sarah yang panas dan sempit. Sarah orgasme pertama dalam hitungan menit—tubuhnya kejang, cairannya membasahi mulut Radit.
“Gantian,” kata Sarah napasnya tersengal. Dia mendorong Radit duduk, lalu berlutut di depannya. Mulutnya langsung menyambut kejantanan Radit yang menegang. Sarah mengisap dalam-dalam, lidahnya berputar di kepala, tangannya meremas bola-bolanya.
“Enak nggak, Mas? Aku suka ngerasain kamu di mulutku…”
Radit mendengus, tangannya memegang rambut Sarah. “Sial… enak banget, Sar… jangan berhenti…”
Mereka tak tahan lagi. Radit menarik Sarah naik, membalik tubuhnya sehingga Sarah membungkuk di sofa, tangannya bertumpu di sandaran. Radit berdiri di belakang, masuk dari belakang dalam satu dorongan kuat.
“Ahh!” Sarah menjerit pelan. “Dalem banget… entot aku lebih keras, Radit…”
Radit menggenggam pinggul lebar Sarah, menghunjam dengan irama yang semakin cepat. Suara tabrakan kulit mereka memenuhi ruang keluarga. Payudara Sarah bergoyang-goyang setiap hantaman. Radit meraih rambut Sarah dari belakang, menariknya pelan sambil terus bergerak.
“Memek kamu ketat banget… lebih enak dari yang aku bayangin…”
Mereka ganti posisi. Sarah naik ke atas. Dia menggoyang pinggulnya liar, payudaranya bergoyang di depan wajah Radit. Radit menghisap putingnya sambil tangannya meremas bokong Sarah.
“Entotin aku, baby… ya gitu… cepet…”
Sarah orgasme lagi, tubuhnya mengejang di atas Radit. Radit merasakan otot-otot dalamnya mencengkeram kejantanannya. Tak lama kemudian, Radit juga mencapai puncak. Dia menyemburkan cairannya yang panas di dalam Sarah, sambil mengerang pelan,
“Sarah… ahh…”
Mereka ambruk bersama di sofa, tubuh basah keringat, napas tersengal. Radit memeluk Sarah erat, tapi pikirannya mulai jernih. Apa yang baru saja aku lakukan? Rasa bersalah menyergapnya seperti ombak. Winda tidur di atas, istrinya yang setia. Tapi nafsu yang baru saja dia rasakan begitu kuat, begitu membebaskan.
Sarah mengangkat wajahnya, mencium bibir Radit lembut. Matanya masih penuh gairah. Dia berbisik di telinga Radit, suaranya manis tapi berbahaya,
“Ini baru permulaan, Radit. Besok aku ada event di hotel deket kantor kamu. Aku kirim alamatnya. Jangan bilang Winda.”
Radit menatapnya, shock bercampur dengan hasrat yang belum padam. Dia tahu, dia sudah tak bisa mundur lagi.
Malam itu, di rumah mewah di Surabaya, sesuatu yang terlarang baru saja dimulai.


