Malam itu hujan deras sekali. Listrik sempat padam sebentar. Aku sedang duduk di ruang keluarga menonton TV ,ketika Mama Nita keluar dari kamar mandi. Ia hanya memakai kimono tipis berwarna merah marun yang basah menempel di tubuhnya. Payudaranya yang besar terlihat jelas bentuknya, putingnya samar-samar menonjol.
“Johan, kamu belum tidur?” tanyanya lembut sambil duduk di sebelahku di sofa panjang. Aroma sabun mandi floral-nya langsung memenuhi ruangan.
“Belum, Ma. Hujannya deras, listrik tadi mati,” jawabku, berusaha menahan pandangan.
Mama Nita menghela napas panjang.
“Mama juga susah tidur akhir-akhir ini.”
Ia menggeser tubuhnya lebih dekat. Tangan kanannya pelan menyentuh paha aku di atas celana pendek.
“Kamu sudah besar ya, Johan. Mama lihat badan kamu sekarang kekar, tinggi, dan… pasti banyak cewek yang ngejar.”
Aku hanya bisa tersenyum gugup. Tiba-tiba Mama Nita melanjutkan dengan suara lebih pelan, hampir berbisik:
“Mama tahu, loh… kamu sering ngintip Mama waktu mandi. Mama juga tahu kamu suka… main sendiri di kamar sambil panggil nama Mama.”
Wajahku langsung panas seperti terbakar. Aku ingin menyangkal, tapi Mama Nita meletakkan jari telunjuknya yang lembut di bibirku.
“Gak apa-apa, sayang. Mama gak marah. Justru… Mama senang. Sudah lama sekali Mama tidak disentuh laki-laki. Sudah lima tahun Mama janda, nafsu Mama masih besar, Johan… Mama masih perempuan normal yang butuh dipeluk, dicium, dan… disetubuhi.”
Suasana tiba-tiba menjadi sangat panas. Hujan di luar semakin deras, petir sesekali menyambar. Mama Nita menatap mataku dalam-dalam, bibir tebalnya sedikit terbuka.
Perlahan ia membuka ikatan kimononya. Kain tipis itu meluncur turun dari bahunya, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang montok sempurna. Payudaranya besar dan kencang, puting cokelat gelapnya sudah mengeras. Perutnya masih rata, pinggulnya lebar, dan memeknya yang ditumbuhi bulu halus rapi sudah terlihat basah.
“Mama… cantik sekali…” kataku tanpa sadar, suaraku serak.
Mama Nita tersenyum manis, lalu meraih tanganku dan meletakkannya di payudaranya yang kenyal.
“Sentuh Mama, Johan. Remas sekuat yang kamu mau. Malam ini… Mama mau kamu ambil tubuh Mama.”
Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku langsung mencium bibir tebalnya dengan penuh nafsu. Ciuman pertama kami terasa liar dan basah. Lidah kami saling berpilin, tanganku meremas payudaranya kuat-kuat, jari-jariku mencubit putingnya. Mama mendesah di dalam mulutku.
Ia menurunkan celanaku, memegang kontolku yang sudah sangat keras dan berdenyut.
“Wah… milik Johan besar sekali… lebih besar dari almarhum Ayahmu”
Mama Nita turun ke lantai, berlutut di depanku, lalu melahap kontolku dengan bibir tebalnya. Ia mengulumnya dalam-dalam, mengisap dengan rakus, lidahnya menari di kepala kontol sambil tangannya mengocok pangkalnya. Aku memegang rambut panjangnya, mendesah nikmat.
Setelah beberapa menit, Mama Nita naik ke pangkuanku. Ia memegang kontolku dan mengarahkan ke memeknya yang sudah banjir. Pelan-pelan ia duduk, kontolku masuk perlahan ke dalam lubang hangatnya yang sempit dan licin.
“Ahhhhh… besar… penuh sekali… ahh!” desahnya sambil memejamkan mata, wajahnya penuh kenikmatan.
Malam itu kami bercinta untuk pertama kali di sofa ruang keluarga. Aku menghujamnya dari bawah, payudaranya bergoyang di depan wajahku, aku menyusu dan meremasnya bergantian. Mama Nita menjerit nikmat setiap kali kontolku menghantam dasar memeknya.
Kami orgasme hampir bersamaan. Aku menyemburkan sperma panas banyak sekali ke dalam rahimnya, sementara memeknya berdenyut kuat menggenggam kontolku.
Setelah itu, kami berpelukan telanjang di sofa. Mama Nita mencium bibirku lembut, air matanya menetes sedikit.
“Terima kasih, Johan… Mama sudah lama menahan ini. Mulai malam ini, Kamu adalah laki-laki Mama. Di rumah ini, kita boleh melakukan apa saja berdua. Mama mau kamu pakai tubuh Mama setiap kali kamu mau.”
Sejak malam hujan deras itu, semuanya berubah. Kami tidur sekamar, mandi bersama, bercinta di hampir setiap sudut rumah — dapur, ruang TV, kamar mandi, bahkan di tepi kolam renang saat malam sepi. Mama Nita ternyata sangat liar dan haus sentuhan. Ia suka dipuaskan berkali-kali sehari, suka posisi kasar, dan selalu meminta aku mengisi dalam-dalam.
Itulah awal dari kehidupan kami berdua yang penuh nafsu.
ns216.73.216.105da2


