Setelah malam pertama kami bercinta di sofa ruang keluarga, hubungan antara aku dan Mama berubah total. Rumah besar itu sekarang terasa seperti sarang cinta terlarang kami berdua. Setiap pagi aku bangun dengan payudara besarnya menempel di dada, setiap malam aku tidur dengan kontolku masih di dalam memeknya atau setidaknya tanganku meremas bokong montoknya.
Pagi itu aku pulang kuliah lebih awal karena dosen sakit. Saat masuk rumah, aku mendengar suara tawa Mama Nita dari ruang tamu. Ternyata ada Mas Andi, tetangga sebelah yang berusia 35 tahun, sedang membantu Mama Nita memperbaiki AC yang rusak. Mas Andi tinggi, berbadan atletis, dan cukup tampan.
Mama Nita memakai tank top ketat berwarna hitam dan celana pendek jeans. Payudaranya yang besar terlihat jelas menonjol, dan ia tertawa manis setiap Mas Andi bercanda.
Aku langsung merasa panas di dada. Saat Mas Andi pulang, aku langsung mendekati Mama Nita di dapur.
“Ma, kenapa Mas Andi boleh masuk rumah? Lagian Mama pakai baju begitu di depan orang lain?” suaraku agak tinggi.
Mama Nita menoleh, bibir tebalnya tersenyum tipis. Ia mendekat, memeluk leherku, dan menggesekkan payudaranya ke dadaku.
“Wah… Johan cemburu ya?” katanya dengan nada menggoda.
“Mas Andi cuma tetangga biasa, sayang. Lagian Mama cuma minta tolong perbaiki AC.”
Tapi aku tidak puas. Aku langsung mengangkat Mama Nita ke meja dapur, menurunkan celana pendeknya kasar, dan menghujam kontolku yang sudah keras karena cemburu ke dalam memeknya dengan satu dorongan kuat.
“Ahhhh! Johan… kasar sekali hari ini…” erangnya nikmat.
Aku menggenjotnya dengan keras dan cepat, tanganku mencengkeram pinggulnya kuat-kuat.
“Mama milik aku! Jangan pernah pakai baju seksi di depan laki-laki lain lagi!”
Mama Nita malah semakin basah mendengar kata-kataku.
“Iya sayang… Mama milik Johan saja… ahh… entot Mama lebih keras! Punya Johan lebih enak dari siapa pun!”
Malam harinya, setelah kami orgasme berkali-kali, Mama Nita berbaring di pelukanku sambil mengelus dada.
“Johan… Mama suka kalau kamu cemburu begini. Bikin Mama merasa diinginkan banget.”
Seminggu kemudian,
Mama Nita mulai menunjukkan sisi liarnya yang lebih dalam. Suatu malam, setelah kami mandi bersama, ia meminta aku duduk di sofa ruang TV hanya memakai boxer. Ia keluar dari kamar memakai rok pendek ketat dan kemeja putih yang sengaja dibuka beberapa kancing, seperti pakaian sekretaris seksi.
Suatu sore, aku pulang kuliah dan melihat mobil Mas Andi lagi parkir di depan rumah. Kali ini Mama Nita sedang duduk di teras bersama Mas Andi, minum kopi sambil tertawa. Mama Nita memakai dress selutut yang agak rendah di bagian dada.
Aku langsung marah. Begitu Mas Andi pulang, aku tarik Mama Nita masuk rumah, dorong ke dinding, dan cium bibir tebalnya dengan kasar.
“Kamu sengaja ya, Ma? Sengaja pakai baju begitu biar Mas Andi ngeliatin payudara Mama?” bentakku sambil merobek dress-nya hingga robek di bagian dada.
Mama Nita malah tersenyum nakal, matanya berbinar penuh nafsu.
“Iya… Mama sengaja. Mama mau lihat kamu cemburu. Semakin cemburu, semakin keras kamu ngentot Mama…”
Aku tidak bisa menahan amarah dan nafsu sekaligus. Aku angkat satu kakinya, lalu menghujam kontolku ke memeknya yang sudah sangat basah sambil berdiri di dinding.
“Plok! Plok! Plok!” suara hentakan keras memenuhi ruangan.
“Ya… gitu sayang… kasar… Mama suka! Punya kamu lebih gede, lebih enak… ahhh!” jeritnya.
Aku mencengkeram lehernya pelan sambil terus menghantam dalam-dalam.
“Mama hanya boleh basah buat aku! Mengerti?”
“Iya… Mama hanya basah buat Johan… aku mau keluar… keluar bareng ya!”
Kami orgasme bersama dengan hebat. Setelah itu, Mama Nita memelukku erat, mencium bibirku lembut.
“Maaf ya sayang… Mama memang suka bikin kamu cemburu. Itu bikin seks kita semakin panas. Tapi tenang, Mama cuma punya kamu. Tubuh ini, memek ini, semuanya milik Johan saja.”
Malam harinya, Mama Nita punya fantasi baru. Ia minta aku berpura-pura sebagai tukang pijat yang datang ke rumah. Ia berbaring telanjang di tempat tidur, hanya ditutup handuk kecil.
“Tukang pijat… pijat Mama yang capek ya…” katanya manja.
Aku mulai “memijat” dari kaki naik ke paha, lalu ke bokong montoknya. Perlahan handuknya aku buka, jari-jariku menyentuh memeknya yang sudah basah.
Mama Nita mendesah, “Jangan nakal… tapi… enak juga…”
Fantasi itu berlanjut sampai aku “memijat” dari dalam dengan kontolku. Kami bercinta di berbagai posisi sambil tetap berakting. Mama Nita sangat liar malam itu, ia minta aku keluar di mulutnya untuk pertama kalinya.
Saat spermaku memenuhi mulutnya, ia menelan semuanya sambil tersenyum manis.
“Enak… sperma Johan manis,” katanya sambil mengelus kontolku.
Hari-hari kami berdua semakin intens. Mama semakin terbuka dengan fantasinya — ada yang ringan seperti roleplay dosen-mahasiswa. Sementara cemburuku membuatnya semakin basah dan liar setiap kali ia sengaja menggodaku dengan berpakaian seksi di depan orang lain.
Tapi di balik semua itu, Mama selalu bilang hal yang sama setiap malam sebelum tidur:
“Johan… kamu satu-satunya laki-laki yang Mama mau. Fantasi itu cuma bumbu. Yang asli, Mama cuma cinta sama kamu.”
ns216.73.216.105da2


