Pagi itu, Rina baru bangun dari tidur. Celana dalamnya sudah basah kuyup karena mimpi basah semalam. Dia menggesek-gesekkan pahanya sambil menggigit bibir. "Ahh... lagi-lagi pengen..." gumamnya.
Tangannya langsung merayap ke bawah, menyelip ke dalam celana dalam. Jarinya menyentuh klitoris yang sudah bengkak dan licin.
"Mmmh... enak..." Rina memejamkan mata, menggosok klitorisnya dengan cepat sambil dua jarinya masuk ke dalam memeknya yang hangat dan sempit. Dia menggerakkan pinggulnya naik turun, membayangkan ada kontol besar yang sedang menghujamnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Kakaknya, Andi, masuk tanpa mengetuk. Dia terpaku melihat Rina sedang masturbasi dengan ganas.
"Rina... lo lagi sange ya?" tanya Andi, matanya langsung tertuju pada memek Rina yang terbuka lebar.
Rina menatap dengan wajah penuh nafus. Dia tersenyum genit sambil terus mengocok memeknya.
"Kak... Rina sange banget. Mau entot Rina nggak?"
Andi menelan ludah. Kontolnya langsung mengeras melihat adegan itu.
"gass!" kata Andi
Rina bangkit dari kasur, melepas baju tidurnya hingga telanjang bulat. Payudaranya yang besar bergoyang-goyang. Dia mendekati Andi, tangannya langsung meremas kontol kakak sepupunya dari luar celana.
"Kak Andi kontolnya udah ngaceng gede gini... Rina mau ngisep."
Tanpa menunggu jawaban, Rina berlutut, menurunkan celana Andi, dan langsung memasukkan kontol tebal itu ke dalam mulutnya. Dia mengisap dengan rakus, lidahnya menjilat-jilat kepala kontol sambil tangannya mengocok batangnya.
"Aahh... sial, enak banget mulut lo, Rin..." erang Andi sambil memegang kepala Rina.
Rina semakin semangat. Dia menelan kontol Andi sampai ke tenggorokan, deepthroat dengan mahir. Air liurnya menetes-netes.
"Mmmph... kontol Kak Andi enak... gede... tebal..."
Setelah beberapa menit mengisap, Rina berdiri, membalikkan badan, dan mencondongkan pantatnya ke depan Andi. Dia membuka memeknya dengan dua jari, memperlihatkan lubang pink yang sudah banjir cairan.
"Kak... masukin sekarang. Rina udah nggak tahan. Pengen dikentot kenceng."
Andi tidak bisa menahan diri lagi. Dia memegang pinggul Rina dan langsung menyodokkan kontolnya masuk ke memek Rina yang licin.
"Aaaahhh!! Besar banget... enakkk!!" jerit Rina kegirangan.
Andi mulai menggoyang pinggulnya dengan kuat. Tiap hentakan membuat payudara Rina bergoyang hebat. Suara
"plok plok plok" memenuhi kamar.
"Rina... memek lo sempit banget... enakkk..."
"Kentot Rina lebih kenceng, Kak! Rina suka kasar! Aduh... enak... dalem banget!!"
Andi mempercepat ritme, tangannya menampar pantat Rina sampai memerah. Rina semakin liar, dia mendorong pantatnya ke belakang, menyambut setiap tusukan kontol.
Beberapa menit kemudian, Rina orgasme pertama. Tubuhnya gemetar hebat, memeknya menyemprot cairan bening.
"Aaaahhh... keluar... Rina crot!!"
Tapi Rina tidak berhenti. Dia masih sange berat
"Jangan berhenti, Kak... Rina masih mau. Kentot terus... Rina mau digenjot sampe pingsan."
Andi membalik tubuh Rina, mengangkat satu kakinya, dan memasukkan kontol lagi dalam posisi berdiri. Dia menghujam dengan ganas, sambil mencium dan menggigit puting Rina.
Rina menjerit-jerit kenikmatan.
"Iya... gitu... hancurkan memek Rina... ahh... ahh... lagi... lagi!!"
Mereka berganti posisi berkali-kali: doggy style, cowgirl, missionary, sampai Rina naik di atas dan menggoyang pinggulnya dengan liar. Payudaranya yang besar naik-turun mengikuti gerakan.
Akhirnya, setelah Rina orgasme berkali-kali, Andi tidak tahan lagi.
"Rina... mau keluar..."
"Di dalam aja, Kak... Rina mau ngerasain panasnya..."
Dengan erangan panjang, Andi menyemprotkan spermanya yang banyak dan kental ke dalam memek Rina. Rina merasakan cairan hangat itu memenuhi rahimnya, membuatnya orgasme lagi.
Mereka berdua ambruk di kasur, napas tersengal. Tapi Rina masih tersenyum nakal, tangannya sudah meremas kontol Andi yang masih setengah tegang.
"Kak... istirahat bentar ya. Abis itu Rina mau lagi. Rina masih sange..."
ns216.73.216.105da2


