Besok sore, kelas 12 IPA kosong. Rina berdiri di depan papan tulis, telanjang bulat. Di depannya ada Pak Budi, tiga temen cowok sekelasnya—Dimas, Reza, dan Fikri—plus satpam Joko yang sengaja diajak.
Rina tersenyum lebar. “Hari ini Rina mau dikocok bareng-bareng. Kontol kalian semua… Rina mau di semua lubang. Rina mau jadi pelacur kelas ini.”
Mereka langsung menyerbu. Dimas entot memek Rina dari depan, Reza entot mulutnya, Fikri entot pantatnya, Pak Budi meremas payudaranya, Joko mengocok kontolnya di depan wajah Rina.
Rina cuma bisa mendesah-desah bahagia di antara kontol-kontol yang mengisi tubuhnya. “Lebih kasar… entot Rina sampe Rina nggak bisa jalan besok… Rina maniak seks… Rina milik kalian semua…”
Sperma muncrat di mana-mana—di memek, di pantat, di mulut, di payudara. Rina orgasme berkali-kali sampe tubuhnya gemetar hebat.
Dia cuma tertawa puas di akhir, tubuh penuh sperma. “Besok… siapa lagi yang mau ngejilatin Rina? Rina masih sange…”
Dan begitulah adikku. Maniak seks yang nggak pernah puas. Tiap hari adegan baru, tiap hari kontol baru. Dan aku? Aku cuma bisa menikmati… dan kadang ikut nimbrung.
ns216.73.216.105da2


