Pagi harinya, sekitar jam 05.30, langit di luar masih gelap kebiruan. Aku dan Linda masih berada di kamar mandi dalam kamarnya. Air shower hangat masih mengguyur tubuh kami yang basah keringat dan cairan seks.
Linda berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu di dinding keramik dingin, pinggulnya didorong ke belakang. Aku menghujam dari belakang dengan ritme cepat dan dalam, tangan kiriku memegang pinggangnya erat, tangan kananku menutup mulutnya agar jeritannya tidak terlalu keras. Setiap hentakan membuat payudaranya bergoyang liar, air shower membuat kulit kami semakin licin dan suara "plok plok plok" basah semakin jelas meski dibasahi air.
"Ahh... Raff... lebih cepat... aku mau keluar lagi..." desahnya tertahan di balik telapak tanganku.
Aku percepat gerakan, kontolku masuk keluar memeknya yang sudah sangat basah dan licin. Beberapa menit kemudian, tubuh Linda mengejang hebat. Memeknya mencengkeram kontolku kuat-kuat sambil menyemburkan cairan hangat yang bercampur dengan air shower. Sensasi itu membuatku tidak tahan. Dengan beberapa hentakan terakhir yang kasar, aku menyemburkan sperma panasku untuk ketiga kalinya ke dalam rahimnya, dalam-dalam.
Kami berdua terengah-engah, tubuh saling menempel. Aku mencium tengkuknya pelan sebelum menarik kontolku keluar. Sisa sperma putih kental langsung menetes dari memek Linda yang agak merah dan bengkak, bercampur air shower, lalu mengalir ke lantai keramik.
"Buruan... Shinta biasanya bangun jam 6," bisik Linda sambil tersenyum lelah tapi masih nakal. "Kamu harus balik ke ruang tamu sekarang."
Kami buru-buru membersihkan diri sekilas. Linda hanya bilas tubuhnya dengan sabun cepat, sementara aku mengeringkan badan dengan handuknya. Kontolku masih setengah tegang karena adrenalin. Begitu selesai, aku memakai celana pendek dan kaos hitamku yang sudah kusut, lalu keluar kamar Linda dengan sangat hati-hati.
Koridor masih sepi. Pintu kamar Shinta masih tertutup rapat. Aku berjalan tanpa suara menuju ruang tamu, jantung berdegup kencang. Baru saja aku membentangkan selimut dan berbaring di kasur lipat ketika...
klik
Suara pintu kamar Shinta terbuka pelan.
Shinta keluar dengan mata masih setengah mengantuk, memakai kaos oversized putih yang panjang sampai paha dan rambut acak-acakan. Dia menguap lebar sambil menggosok mata.
"Raff...? Kamu udah bangun?" tanyanya dengan suara serak pagi. Dia berjalan mendekat ke ruang tamu, langkahnya pelan karena masih ngantuk.
Aku berusaha menjaga napas tetap normal. "Iya... aku susah tidur semalam. Baru aja bangun kok."
Shinta duduk di pinggir kasur lipat, tangannya langsung memeluk pinggangku dari samping. Wajahnya mendekat ke leherku, seolah ingin menciumku selamat pagi. Aku langsung tegang — aroma sabun mandi Linda masih menempel samar di kulitku, dan celana pendekku masih agak basah karena buru-buru keringkan tadi. Kalau Shinta mencium lebih dekat atau menyentuh lebih rendah, bisa-bisa ketahuan.
"Mmm... kamu bau sabun aneh," gumam Shinta sambil mengendus leherku pelan. "Kayak bau sabun kakakku. Kamu mandi malam-malam ya?"
Jantungku hampir copot. Aku buru-buru menjawab, "Enggak... cuma... aku keringetan semalam, trus aku cuci muka di wastafel dapur tadi. Mungkin bau sabun cuci tangan."
Shinta mengangguk pelan, tapi matanya masih agak curiga. Tangan kanannya turun ke perutku, mengusap pelan melalui kaos. "Kamu tegang banget. Kok jantungmu deg-degan gini? Mimpi buruk ya?"
Sebelum aku sempat jawab, Linda keluar dari kamarnya. Dia sudah rapi memakai tank top putih longgar dan celana pendek rumah biasa, rambut masih agak basah karena baru mandi (dia memang sengaja mandi lagi untuk menutupi). Wajahnya terlihat fresh dan biasa saja, seolah tidak ada apa-apa.
"Pagi, Shin. Pagi, Raff," sapa Linda santai sambil berjalan ke dapur. "Sarapan dulu yuk sebelum kalian pulang. Aku buatin roti bakar dan telur."
Shinta bangkit dari kasur lipat dan ikut ke dapur, tapi sebelum pergi dia mencium pipiku cepat. "Kamu aneh pagi ini. Nanti di mobil aku tanya lagi ya."
Saat Shinta sibuk membantu Linda di dapur (mereka berdiri bersebelahan di depan kompor), Linda sengaja membelakangiku sebentar. Dia mengangkat rok pendek rumahnya sedikit dengan satu tangan di belakang punggung — memperlihatkan pantatnya yang telanjang di bawah rok itu. Memeknya masih agak merah dan basah, sisa spermaku yang belum sepenuhnya keluar terlihat samar menetes pelan di paha dalamnya. Dia melirikku sekilas dengan senyum nakal, lalu cepat menurunkan roknya lagi sebelum Shinta menoleh.
Shinta duduk tepat di seberangku di meja makan. Setiap kali Linda melewatiku untuk ambil sesuatu, pinggulnya sengaja menggesek bahuku atau tangannya menyentuh punggungku sebentar. Aku harus berpura-pura fokus makan roti bakar, padahal kontolku mulai mengeras lagi di balik celana pendek.
Shinta tiba-tiba bertanya, "Kak, semalam kamu tidur nyenyak? Aku dengar suara aneh dari arah kamarmu sekitar jam 3 pagi. Kayak... orang ngorok atau apa gitu?"
Linda tersenyum tenang, tapi kakinya di bawah meja langsung menyenggol kakiku pelan. "Oh itu? Aku nonton video di HP sambil pakai earphone. Mungkin suaranya bocor sedikit. Maaf ya kalau ganggu."
Shinta mengangguk, tapi matanya melirik ke arahku lagi. "Raff, kamu kok banyak keringet di leher? Padahal AC nyala."
Aku hampir tersedak. "Mungkin... panas di ruang tamu."
Linda ikut nimbrung dengan suara santai, "lya, ruang tamu emang agak panas kalau pintu kamar kalian tutup semua. Lain kali biar aku siapin kipas angin tambahan."
Sepanjang sarapan, ketegangan itu terus ada. Shinta sesekali memegang tanganku di atas meja, tapi di bawah meja, kaki Linda terus mengusap betisku dengan jari kakinya yang halus, naik perlahan mendekati selangkangan. Aku harus menahan desahan yang hampir keluar.
Setelah sarapan selesai dan barang-barang sudah dikemas, Shinta masuk ke kamarnya sebentar untuk ambil charger HP yang ketinggalan. Begitu pintu kamar Shinta tertutup, Linda langsung mendekatiku di ruang tamu dengan cepat. Dia menarik tanganku ke pinggulnya, lalu berbisik sangat pelan di telingaku:
"Memekku masih penuh sama sperma kamu. Kalau Shinta nggak buru-buru pulang, aku mau kamu isi lagi sebelum kalian berangkat."
Dia cepat mencium bibirku sekilas, lidahnya menyentuh bibirku sebentar, lalu mundur kembali ke dapur seolah tidak ada apa-apa.
Shinta keluar lagi. "Yuk Raff, kita berangkat sekarang. Kak Linda, makasih ya udah ngasih tempat nginap."
Linda melambai dari dapur dengan senyum manis. "Hati-hati di jalan. Raff... jaga Shinta baik-baik ya."
Saat kami sudah di depan pintu rumah dan Shinta sibuk memakai sepatu, Linda berdiri di belakang pintu, tangannya menyelinap sebentar ke belakang tubuhku dan meremas kontolku yang masih setengah tegang melalui celana pendek — hanya satu kali remasan cepat dan kuat, lalu dia mundur dengan wajah polos.
Sepanjang perjalanan pulang dengan mobil, Shinta memegang tanganku di gear, tapi pikiranku masih tertinggal di rumah itu. Memek Linda yang penuh spermaku, senyum nakalnya, dan risiko yang semakin membuat jantung berdegup kencang.
Malam nanti, kalau aku "menginap lagi" di rumah mereka dengan alasan apa pun... risiko ketahuan pasti akan semakin besar.3310Please respect copyright.PENANAqqdMhMF7ew


