Malam itu berlalu dengan cepat setelah percintaan panas kami. Aku dan Linda berbaring di tempat tidur king size-nya selama hampir satu jam, saling berpelukan sambil sesekali berciuman pelan. Kontolku akhirnya melunak dan keluar dari memeknya yang masih basah dan penuh sisa spermaku. Cairan putih kental itu menetes pelan dari bibir memek Linda yang agak bengkak, meninggalkan noda basah di sprei.
"Kamu harus balik ke ruang tamu sebelum Shinta bangun," bisik Linda sambil mengusap dada ku dengan jari telunjuknya yang lembut. "Dia biasanya bangun jam 6 pagi. Kalau ketahuan kamu di sini, habis sudah."
Aku mengangguk berat hati. Tubuhku masih lemas, tapi hasrat untuk Linda belum benar-benar padam. Aku mencium keningnya sekali lagi, lalu bangkit dan memakai celana pendek serta kaosku yang sudah acak-acakan. Sebelum keluar kamar, Linda menarikku lagi untuk ciuman dalam yang panas, lidahnya menari sebentar di mulutku.
"Besok malam... jangan lupa," katanya dengan suara menggoda sambil mengedipkan mata.
Aku keluar pelan-pelan, memastikan koridor sepi. Kamar Shinta masih terkunci rapat, lampu di dalamnya sudah mati. Aku kembali ke kasur lipat di ruang tamu, tapi tidurku gelisah. Pikiranku penuh dengan bayangan tubuh Linda yang matang, payudaranya yang bergoyang, dan memeknya yang sempit serta basah itu.
Pagi harinya, sekitar jam 7, Shinta sudah bangun duluan. Dia keluar dari kamar dengan wajah segar, memakai kaos oversized dan celana pendek rumah. "Bangun yuk, Raff! Kita jalan-jalan hari ini. Aku lapar banget, mau sarapan dulu."
Linda juga sudah di dapur, sibuk membuat nasi goreng dan telur mata sapi. Dia memakai tank top putih longgar dan celana training pendek, rambutnya diikat ponytail. Penampilannya biasa saja, tapi matanya sesekali melirikku dengan senyum kecil yang penuh arti. Saat Shinta sibuk mengambil piring, Linda sengaja melewatiku sambil menggesek pinggulnya pelan ke pingganku dan berbisik sangat pelan, "Masih basah dari semalam..."
Aku hampir tersedak kopi. Jantungku langsung berdegup kencang lagi.
Kami bertiga sarapan bersama di meja makan. Suasana terasa normal di permukaan — Shinta cerita excited tentang tempat wisata yang mau kami kunjungi hari ini, Linda ikut nimbrung dengan santai. Tapi di bawah meja, kaki Linda sesekali menyenggol kakiku, jari kakinya yang halus mengusap betisku pelan-pelan. Aku harus berusaha keras menjaga wajah tetap biasa.
Sepanjang hari, kami jalan-jalan ke pantai dan mall seperti rencana. Shinta manja sekali, selalu pegang tanganku, sesekali mencium pipiku. Linda berjalan di samping kami, kadang di belakang, dan setiap kali ada kesempatan (saat Shinta ke toilet atau sibuk foto-foto), dia mendekat dan berbisik hal-hal nakal:
"Kamu ingat nggak tadi malam kontolmu ngebor aku sampe jerit pelan?"
"Aku pakai rok pendek besok malam. Tanpa celana dalam. Siap-siap aja."
Malam harinya, setelah seharian capek jalan-jalan, Shinta lagi-lagi mengantuk berat jam 10 malam. Dia menciumku selamat malam seperti biasa, lalu masuk kamar dan mengunci pintu. "Besok pagi kita pulang ya, Raff. Aku capek banget hari ini."
Aku berbaring di kasur lipat, menunggu. Lampu ruang keluarga masih redup.
Sekitar jam setengah satu dini hari, pintu kamar Linda terbuka pelan. Dia melongok keluar, sudah memakai hanya tank top hitam tipis yang sama seperti semalam dan rok pendek hitam super mini. Tanpa bra, tanpa celana dalam, seperti janjinya. Putingnya sudah menonjol jelas di balik kain tipis.
Dia melambai kecil ke arahku dengan jari telunjuk, lalu menghilang kembali ke kamarnya.
Aku bangkit tanpa suara, jantung berdegup kencang. Begitu masuk kamar dan mengunci pintu, Linda langsung mendorongku ke tempat tidur. Kali ini dia lebih agresif.
"Semalaman aku kepikiran kontolmu," katanya sambil menarik celana pendekku dengan kasar. Kontolku sudah setengah keras, langsung dia telan dalam-dalam tanpa pemanasan lama. Isapannya lebih kuat dari semalam, kepalanya naik-turun cepat sambil tangannya meremas bijiku.
Setelah beberapa menit, dia naik ke atasku dalam posisi 69. Memeknya yang masih agak bengkak dari semalam langsung menempel di wajahku. Aku menjilatnya rakus — rasanya manis asin campur sisa sperma kering dari tadi malam. Lidahku masuk ke dalam lubangnya, mengaduk-aduk, sementara Linda mengisap kontolku dengan suara "slurp slurp" yang basah dan mesum.
"Ahh... Raff... jilat klitku lebih cepat... ya gitu... aku mau squirt di mulutmu..."
Tubuhnya menggigil hebat. Beberapa menit kemudian, dia menyemburkan cairan bening hangat ke wajah dan mulutku. Aku menelan sebisa mungkin sambil terus menjilatnya.
Linda berbalik, lalu duduk di atas kontolku dalam posisi reverse cowgirl. Dia menggoyang pinggulnya dengan liar, pantatnya yang bulat dan kenyal naik-turun menghantam pahaku keras. Suara "plak plak plak" memenuhi kamar. Aku memegang pinggulnya, membantu dorongannya semakin dalam.
Kali ini kami lebih lama dan lebih liar. Kami ganti posisi beberapa kali — doggy style di tepi tempat tidur (aku menghujam dari belakang sambil menarik rambutnya pelan), standing fuck di depan cermin kamar (kami bisa lihat pantulan tubuh kami yang saling memompa), sampai akhirnya dia minta "creampie lagi" di misionaris sambil kakinya diangkat tinggi.
Saat aku menyemburkan sperma panas kedua kalinya jauh ke dalam rahimnya, Linda menjerit pelan menahan orgasme yang lebih kuat dari semalam. Memeknya berdenyut hebat, memeras kontolku sampai tetes terakhir.
Kami ambruk berpelukan lagi, napas tersengal.
"Besok pagi Shinta mau pulang pagi-pagi," bisikku sambil mengusap payudaranya yang basah keringat.
Linda tersenyum nakal, jarinya memainkan putingnya sendiri. "Kalau gitu... kita masih punya waktu malam ini. Sekali lagi sebelum subuh. Kali ini di kamar mandi. Aku mau kamu ngentot aku sambil berdiri di bawah shower air hangat."
Dia bangkit, menarik tanganku menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Air shower mulai mengalir, uap hangat memenuhi ruangan kecil itu.
Malam itu, rahasia terlarang kami semakin dalam.
ns216.73.216.105da2


