Dua hari kemudian, aku kembali ke rumah Shinta dan Linda.
Shinta bilang orang tuanya masih di luar kota sampai akhir minggu, dan dia takut tidur sendirian di rumah besar itu. Aku langsung setuju tanpa banyak tanya. Padahal dalam hati, aku tahu ini kesempatan emas — dan bahaya yang lebih besar.
Malam pertama setelah aku datang, Shinta masih manja seperti biasa. Kami nonton film di ruang keluarga sampai jam 11 malam. Shinta duduk di pangkuanku, sesekali menciumku dan menggesekkan pantatnya pelan ke kontolku yang sudah setengah tegang. Tapi kali ini, Linda ikut duduk di sofa panjang yang sama, hanya berjarak satu meter dari kami.
Linda memakai tank top hitam tipis tanpa bra dan celana pendek rumah yang sangat pendek. Setiap kali Shinta fokus ke layar TV, Linda sengaja membuka kakinya lebar-lebar sebentar, memperlihatkan bahwa dia tidak memakai celana dalam. Memeknya yang masih agak bengkak dari dua malam sebelumnya terlihat jelas di bawah lampu redup. Dia melirikku sambil menjilat bibirnya pelan, lalu tersenyum nakal.
Sekitar jam 11.30, Shinta menguap lebar. “Aku ngantuk banget, Raff… Kita tidur yuk,” katanya sambil menarik tanganku.
Aku mengangguk. Tapi sebelum kami bangkit, Linda tiba-tiba berkata dengan suara biasa saja: “Shinta, kamu tidur duluan aja di kamar. Aku masih mau ngobrol bentar sama Raffa soal rencana liburan bulan depan. Nggak lama kok.”
Shinta mengernyit sebentar, tapi karena sudah mengantuk berat, dia hanya mengangguk. “Oke… tapi jangan lama-lama ya, Kak. Raff capek juga hari ini.” Dia mencium bibirku cepat, lalu berjalan ke kamarnya di ujung koridor dan mengunci pintu seperti biasa.
Begitu pintu kamar Shinta tertutup rapat dan lampunya mati, suasana ruang keluarga langsung berubah.
Linda tidak buang waktu. Dia bangkit, mendekatiku, lalu langsung duduk di pangkuanku — persis di tempat Shinta duduk tadi. Rok pendeknya naik sampai pinggang, memeknya yang sudah basah langsung menempel di kontolku yang masih tertutup celana pendek.
“Dia baru aja duduk di sini… dan sekarang aku yang duduk di tempat yang sama,” bisik Linda di telingaku sambil menggoyang pinggulnya pelan. “Kamu suka nggak? Rasanya lebih enak kan, tahu pacarmu baru aja di sini, tapi kakaknya yang sekarang mau diisi kontolmu.”
Dia menarik celana pendekku ke bawah hingga kontolku melompat keluar. Tanpa banyak bicara, Linda mengangkat pinggulnya, mengarahkan kepala kontolku ke lubang memeknya yang sudah banjir, lalu duduk perlahan hingga seluruh batangku masuk dalam satu gerakan.
“Ahhh… masih pas banget… penuh sama sperma kamu dua hari lalu,” desahnya pelan.
Linda mulai menggoyang pinggulnya naik-turun dengan ritme lambat tapi dalam. Payudaranya yang besar bergoyang di depan wajahku melalui tank top tipis. Aku meremas keduanya kuat-kuat sambil dia berbisik mesum di telingaku:
“Bayangin… Shinta tidur di kamar ujung sana, pintunya dikunci, tapi kakaknya lagi ditidurin pacarnya di sofa ruang keluarga… di tempat Shinta biasa duduk manja.”
Dia semakin berani. Gerakannya mulai lebih cepat. Suara basah “plok… plok… plok” pelan tapi jelas terdengar di ruang keluarga yang sepi. Linda sengaja tidak menahan desahannya terlalu keras.
“Lebih keras, Raff… Aku mau kamu ngentot aku lebih kasar dari biasanya. Biar aku agak susah jalan besok pagi di depan Shinta.”
Aku balik mengangkat pinggulku, menghujam dari bawah dengan kuat. Linda memeluk leherku, bibirnya di telingaku:
“Shinta pernah cerita… kamu suka muncratin dia terus. Sekarang muncratin kakaknya juga… di sofa yang sama. Kalau besok Shinta duduk di sini lagi, dia nggak tahu memek kakaknya masih penuh sama sperma pacarnya.”
Kata-katanya membuatku semakin gila. Aku bangkit sambil masih menyatukan tubuh kami, lalu membaringkan Linda di sofa panjang. Aku angkat satu kakinya tinggi, lalu menghujam kontolku dalam-dalam . Linda menggigit bibirnya sendiri menahan jeritan kenikmatan.
Tiba-tiba…
Suara langkah pelan terdengar dari koridor.
Kami berdua langsung membeku. Lampu ruang keluarga masih redup, tapi cukup terang untuk melihat kalau ada orang lewat.
Linda tidak melepaskan kontolku. Malah dia menarik pingganku lebih erat agar kontolku tetap dalam memeknya. Dia berbisik sangat pelan di telingaku, suaranya penuh adrenalin dan nafsu:
“Jangan keluar… tetep di dalam… Shinta mungkin ke toilet.”
Benar saja. Shinta muncul di ujung koridor dengan mata setengah mengantuk, memakai kaos oversized yang panjang. Dia berjalan pelan menuju kamar mandi di dekat ruang keluarga, hanya berjarak sekitar 4-5 meter dari sofa tempat kami bercinta.
Linda dan aku tidak bergerak sama sekali. Kontolku masih terbenam sepenuhnya di dalam memeknya yang berdenyut-denyut. Shinta melewati kami tanpa menoleh ke sofa (karena sofa agak ke belakang dan lampu redup). Tapi saat dia masuk kamar mandi dan menyalakan lampu, cahaya dari kamar mandi menyinari sebagian ruang keluarga.
Linda tersenyum nakal di bawahku. Dia menggoyang pinggulnya pelan sekali, hanya beberapa sentimeter, agar kontolku tetap bergesekan di dalamnya tanpa suara keras.
“Kamu tegang banget… kontolmu makin gede di dalam aku,” bisiknya hampir tanpa suara. “Risiko ketahuan bikin kamu tambah horny ya?”
Shinta keluar dari kamar mandi setelah sekitar dua menit. Dia berjalan kembali ke kamarnya, masih mengantuk dan tidak curiga. Begitu pintu kamar Shinta tertutup lagi dan lampu kamar mandi mati, Linda langsung mencengkeram punggungku.
“Sekarang… hujam sekuatnya. Aku mau keluar sambil tahu Shinta hampir ketahuan tadi.”
Aku tidak bisa menahan lagi. Aku menghujam Linda dengan kuat dan cepat di sofa itu. Payudaranya bergoyang liar, suara basah “plok plok plok” kembali terdengar lebih keras. Linda orgasme lebih dulu — tubuhnya mengejang hebat, memeknya menyembur cairan hangat yang membasahi sofa dan pahaku.
Aku menyusul tak lama kemudian. Dengan hentakan dalam-dalam, aku menyemburkan sperma panasku lagi ke dalam rahim Linda, banyak sekali hingga meluber keluar dari sela memeknya yang penuh.
Kami berbaring di sofa sambil terengah-engah. Linda mencium bibirku dalam, lalu berbisik puas:
“Besok malam… aku mau lebih berani lagi. Mungkin di kamar Shinta, saat dia tidur di samping kita… atau kamu pura-pura tidur di kasur lipat, tapi aku yang datang ke kamu di ruang tamu. Shinta cuma dipisah dinding tipis.”
Dia mengedipkan mata, jarinya mengusap sisa sperma yang meluber dari memeknya, lalu menjilatnya pelan di depanku.
“Rahasia kita semakin enak kan, Raffa?”
ns216.73.216.105da2


