Malam itu rumah Shinta terasa lebih sepi dari biasanya. Orang tuanya sedang ke luar kota untuk urusan keluarga, jadi hanya ada aku, Shinta, dan kakaknya, Linda. Aku menginap karena besok pagi kami berencana jalan-jalan bersama. Shinta sudah mengantuk berat sejak jam 10 malam. Setelah ciuman selamat malam yang biasa, dia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Aku disiapkan kasur lipat di ruang tamu, lengkap dengan selimut tebal.
Aku berbaring tapi susah tidur. Pikiranku melayang ke Linda. Kakak Shinta yang berusia 26 tahun itu memang selalu membuatku gelisah setiap kali ke rumah ini. Tubuhnya lebih matang dibanding adiknya — tinggi sekitar 165 cm, kulit putih mulus, pinggul lebar, dan payudara yang besar serta kencang. Shinta pernah bilang Linda suka olahraga gym, makanya badannya padat dan berisi di tempat yang tepat.
Sekitar pukul setengah dua dini hari, tenggorokanku kering sekali. Aku bangun pelan-pelan, memakai kaos oblong hitam dan celana pendek basket, lalu berjalan tanpa suara menuju dapur. Lampu ruang keluarga masih menyala redup, hanya lampu standing kecil di pojok.
Tiba-tiba aku melihatnya.
Linda duduk di sofa panjang dengan kaki disilang. Dia memakai tank top hitam tipis tanpa bra, bahannya begitu ringan sehingga bentuk payudaranya terlihat jelas — bulat, berat, dan putingnya sedikit menonjol karena dingin AC. Celana pendeknya super pendek, hampir seperti hotpants, memperlihatkan paha mulusnya yang putih dan sedikit berkilat karena lotion.
Dia sedang memainkan ponsel, tapi begitu melihatku, dia tersenyum tipis. Matanya menyipit nakal.
"Raffa... belum tidur juga?" suaranya pelan, agak serak dan menggoda.
"Aku haus, Kak. Shinta udah tidur nyenyak," jawabku sambil berusaha menjaga suara tetap normal. Tapi mataku sulit lepas dari lekuk tubuhnya.
Linda meletakkan ponselnya, lalu bangkit berdiri. Gerakannya lambat, sengaja, seolah dia tahu aku sedang memperhatikan. "Shinta emang cepet ngantuk. Kamu sendiri gimana? Nyaman di ruang tamu? Atau... ada yang mengganggu pikiranmu?"
Dia melangkah mendekat. Jarak kami sekarang hanya satu meter. Aroma sabun mandi bunga yang segar bercampur wangi tubuhnya langsung menyerbu hidungku. Dadanya naik turun pelan saat bernapas, membuat tank topnya semakin ketat di bagian itu.
"Aku... baik-baik aja, Kak," kataku gugup. Jantungku sudah mulai berdegup tidak karuan.
Linda tersenyum lebih lebar. Dia mengangkat tangan kanannya, jari telunjuknya menyentuh dada ku pelan melalui kaos. "Kamu tegang banget, Raff. Dari kemarin aku perhatiin... kamu sering ngelirik aku diam-diam, kan? Waktu aku lagi nyapu, waktu aku lagi masak, bahkan waktu aku pakai handuk keluar dari kamar mandi."
Aku terdiam. Benar sekali. Sudah berbulan-bulan aku diam-diam membayangkan tubuh Linda. Tapi dia kakak pacarku. Ini salah besar.
Tangan Linda turun lebih rendah, menyusuri perutku yang rata, lalu berhenti di pinggiran celana pendekku. Dia meremas pelan bagian depan celanaku yang sudah mulai mengeras. "Lihat... sudah keras gini. Shinta cerita banyak lho tentang kamu. Katanya kamu jago di tempat tidur... bikin dia susah jalan besok paginya. Bikin aku penasaran berat."
"Kak Linda... ini nggak boleh," bisikku, tapi suaraku sudah parau. Tangan kiriku tanpa sadar memegang pinggangnya yang ramping.
Dia mendekatkan wajahnya hingga bibir kami hampir bersentuhan. Napasnya hangat menyapu telingaku. "Shinta tidur di kamar paling ujung, pintunya dikunci. Kamar aku di sebelah sini... pintunya nggak dikunci. Kalau kamu mau... aku bisa kasih yang lebih dari yang Shinta kasih."
Tangan Linda yang lembut dan hangat itu menyusup masuk ke dalam celana pendekku, langsung menggenggam kontolku yang sudah tegak sempurna. Dia mengocoknya pelan, ibu jarinya memutar di kepala kontol yang sudah basah oleh precum. "Wah... besar dan tebal juga ya. Lebih gede dari dugaan aku."
Aku mendesah pelan. Akal sehatku berteriak "berhenti", tapi hasratku sudah membara. Akhirnya aku menyerah. "Kak... ajak aku ke kamar kamu."
Linda tersenyum puas, matanya berkilat penuh kemenangan. Dia menarik tanganku dan membimbingku masuk ke kamarnya yang berada di koridor sebelah kiri. Begitu pintu tertutup dan dikunci dari dalam, suasana berubah total.
Kamar Linda ber-AC dingin, lampu tidur kuning redup menyinari tempat tidur king size yang rapi. Bau parfum wanita dewasa memenuhi ruangan. Tanpa banyak bicara, Linda mendorongku hingga punggungku menyentuh dinding. Dia berlutut di depanku dengan cepat, menurunkan celana pendekku hingga ke lutut.
Kontolku melompat keluar, sudah keras dan berdenyut di depan wajahnya. Linda menatapnya dengan lapar. "Cantik sekali..." gumamnya. Lidahnya keluar, menjilat pelan dari bawah hingga ke kepala kontol, lalu dia membuka mulutnya lebar dan menelannya dalam-dalam.
"Ahh... Kak..." desahku. Mulut Linda panas dan basah. Dia mengisap dengan kuat, kepalanya naik-turun ritmis, lidahnya berputar-putar di batang dan kepala kontol. Kadang dia menelan hingga pangkal, tenggorokannya mencengkeram ujung kontolku, membuatku gemetar. Air liurnya menetes ke lantai. Tangan kirinya memegang pangkal kontol, mengocok yang tidak masuk mulut, sementara tangan kanannya meremas kantung bijiku pelan.
Aku memegang kepalanya, jemariku menyisir rambutnya yang panjang, mendorong pelan agar lebih dalam. Linda mengerang di sekitar kontolku, getarannya membuat sensasinya semakin gila. Dia melayani dengan rakus selama hampir sepuluh menit, sesekali melepaskan untuk bernapas sambil menatapku dengan mata berkaca-kaca karena air mata.
"Kamu enak banget rasanya, Raff..." katanya sambil tersenyum, bibirnya basah oleh air liur dan precum.
Aku tidak tahan lagi. Aku menariknya berdiri, lalu menciumnya dengan ganas. Lidah kami saling menari, bertukar saliva. Tangan ku langsung meremas payudaranya yang besar itu dari luar tank top. Berat dan kenyal sekali. Aku angkat tank topnya hingga leher, memperlihatkan dua gunung putih yang sempurna, puting cokelat muda sudah mengeras seperti batu.
Aku menunduk, mengisap puting kirinya kuat-kuat sambil meremas payudara kanannya. Linda mendesah keras, "Ahh... iya... isap lebih kuat, Raff... aku suka kasar..."
Aku gigit pelan putingnya, tarik dengan gigi, lalu jilat lagi. Tangan kananku turun ke celana pendeknya, menyusup masuk. Memeknya sudah banjir basah. Bulu halusnya rapi dipangkas, bibir memeknya tebal dan licin. Jari tengahku masuk dengan mudah ke dalam lubangnya yang panas dan sempit.
"Ohh... jari kamu enak... masukin dua..." pintanya sambil menggoyang pinggulnya.
Aku masukkan dua jari, mengaduk-aduk dinding dalamnya yang berlipat-lipat, ibu jariku memutar di klitorisnya yang sudah membengkak. Linda menggigil, kakinya hampir goyah. "Aku mau... sekarang..."
Kami berpindah ke tempat tidur. Linda melepas semua pakaiannya, lalu membaringkan diri telentang, kakinya terbuka lebar. Memeknya terpampang jelas di depanku — merah muda, basah mengkilap, dan mengeluarkan cairan bening yang menetes ke sprei.
Aku naik ke atasnya, mengarahkan kontolku ke pintu surga itu. Kepala kontolku menggesek bibir memeknya beberapa kali, membuat Linda merintih frustrasi. "Masukin... please... aku udah nggak tahan..."
Dengan satu hentakan pelan, aku masuk setengah batang. Memek Linda sangat sempit dan panas, dindingnya langsung mencengkeram erat. "Aaaahhh... besar banget... pelan dulu... ahh..."
Aku dorong perlahan hingga pangkal masuk sepenuhnya. Kami berdua mendesah bersamaan. Aku berhenti sejenak, menikmati sensasi hangat dan basah yang membungkus kontolku. Lalu aku mulai bergerak — keluar masuk dengan irama lambat tapi dalam.
Linda memeluk leherku, kakinya melingkar di pinggangku. Setiap kali aku menghujam, payudaranya bergoyang indah. Aku percepat ritme, suara "plok plok plok" basah memenuhi kamar. Linda semakin liar, kukunya mencakar punggungku.
"Ganti posisi..." katanya terengah.
Dia naik ke atas, cowgirl style. Memeknya menelan kontolku lagi dalam satu gerakan. Linda mulai menggoyang pinggulnya naik turun dengan cepat, payudaranya melonjak-lonjak di depan wajahku. Aku tangkap keduanya, meremas dan menjepit putingnya sambil dia menunggangi aku semakin ganas.
"Ahh... Raff... enak banget... kontol kamu bikin aku gila... lebih dalam... ya... gitu..."
Keringat kami bercampur. Aku merasakan dinding memeknya berdenyut-denyut, semakin erat. Linda menunduk, menciumku sambil terus menggoyang. "Aku mau keluar... bareng kamu..."
Aku balik posisinya jadi misionaris lagi. Aku angkat kedua kakinya ke bahuku, lalu menghujam dengan kuat dan cepat. Setiap hentakan membuat kepala ranjang berderit. Linda menjerit pelan menahan kenikmatan, "Aku keluar... ahhh... Raff... sekarang!!"
Tubuhnya mengejang hebat, memeknya berdenyut kuat, menyemburkan cairan hangat yang membasahi kontolku dan sprei. Sensasi itu membuatku tidak kuat lagi. Dengan beberapa hentakan terakhir yang dalam, aku menyemburkan sperma panasku ke dalam rahimnya — cret... cret... cret... banyak sekali hingga memenuhi dan meluber keluar.
Kami berdua terengah-engah, tubuh basah keringat, saling peluk erat. Kontolku masih berdenyut di dalam memeknya yang masih bergetar.
Linda mencium bibirku lembut, tersenyum lelah tapi puas. "Ini baru malam pertama... besok malam, kalau kamu masih nginap, aku mau lagi. Lebih lama, lebih liar. Dan kali ini... mungkin di kamar mandi atau sofa ruang tamu."
Dia mengedipkan mata nakal. "Rahasia kita berdua ya, Raffa. Shinta nggak boleh tahu."
Aku hanya bisa mengangguk, masih terbang dalam kenikmatan terlarang yang baru saja kualami.
ns216.73.216.105da2


