1809Please respect copyright.PENANAmYrhgePn0H
1809Please respect copyright.PENANARoZ3AaCOt3
Naya terbangun dengan tubuh pegal di segala tempat—bekas gigitan di leher, tamparan merah di bokong, dan rasa lengket yang masih menempel di kulitnya meski sudah mandi subuh tadi. Ia memakai kaus longgar milik Raka lagi, aroma tubuh Raka yang sudah jadi candu baginya.
Raka sudah bangun lebih dulu. Ia duduk di teras belakang rumah, memandang ke arah sawah kecil di belakang pagar bambu, secangkir kopi hitam di tangan. Ibu sedang di dapur, aroma nasi goreng dan telur ceplok menguar ke seluruh rumah.
Naya keluar ke teras, rambut masih basah, kaus kebesaran menutupi sampai paha atas. Ia duduk di samping Raka tanpa bicara, hanya menyandarkan kepala ke bahunya.
“Kau nggak takut ibumu tanya lagi?” bisik Raka.
Naya menggeleng pelan. “Takut. Tapi aku juga… nggak peduli lagi.”
Raka tersenyum tipis. Tangannya menyusup ke bawah kaus Naya, menyentuh paha dalamnya pelan—hanya menyentuh, tidak lebih. Naya langsung menggigit bibir bawahnya, napas tersengal kecil.
“Ibu di dapur,” desis Naya, tapi kakinya malah membuka sedikit.
Raka menarik tangannya pelan. “Nanti malam lagi. Lebih berani.”
Naya menatapnya, mata berkilau. “Lebih berani gimana?”
Raka mendekatkan bibir ke telinga Naya. “Di kamar mandi. Siang-siang. Saat ibumu lagi ke pasar.”
Naya menelan ludah. Tubuhnya langsung panas hanya membayangkannya.
Siang itu, ibu memang bilang akan ke pasar beli sayur dan ke warung beli minyak goreng. “Ibu pulang sejam lagi ya. Kalian istirahat aja di rumah.”
Begitu pintu depan tertutup, Naya langsung menarik tangan Raka ke kamar mandi belakang—kamar mandi kecil dengan dinding keramik putih kusam dan shower sederhana. Pintu dikunci, tapi tidak rapat suara.
Raka langsung menekan Naya ke dinding dingin. Bibirnya menyerang lagi—kasar, lapar. Tangan kanannya menarik kaus Naya ke atas, payudara terbuka langsung digigit dan dicubit keras. Naya mendesah keras tanpa menahan lagi.
“Ahh… Raka… cepat…”
Raka menarik celana pendek Naya turun, lalu memutar tubuhnya menghadap dinding. Air shower dibuka—suara air deras menutupi sebagian desahan, tapi tidak semua. Raka memasukkan kemaluannya dari belakang dalam satu dorongan kuat—Naya menjerit, tangannya mencakar dinding keramik.
“Lebih keras… ahhh… entot aku… jangan berhenti…”
Raka menarik rambut Naya ke belakang, punggung melengkung, dorongannya cepat dan dalam. Setiap dorongan membuat suara kulit bertemu kulit bercampur air—‘plok-plok-plok’ yang basah dan kotor. Naya tidak lagi berusaha diam. Desahannya semakin keras, semakin liar.
“Ya… ya… Raka… aku milikmu… ahhh… lebih dalam… sialan… aku mau keluar… ahhhh!”
Ia orgasme pertama—cairannya bercampur air shower, menetes ke lantai. Tubuhnya kejang, tapi Raka tidak berhenti. Ia menarik keluar, membalik Naya, mengangkat satu kakinya ke pinggangnya, lalu masuk lagi—posisi berdiri di bawah shower.
Air panas membasahi mereka berdua. Raka mendorong lebih brutal, tangannya mencengkeram leher Naya cukup kuat untuk membuat napasnya tersengal, tapi tidak sampai mencekik.
“Kau suka kalau aku kasar gini?” desis Raka.
Naya mengangguk cepat, air mata bercampur air shower. “Suka… aku suka kalau kamu bikin aku hancur… ahhh… lagi… tampar aku…”
Raka menampar bokong Naya keras di bawah air—suara ‘plak’ bergema lebih jelas karena ruangan sempit. Naya menjerit lagi, suaranya pecah.
“Raka! Lagi… tampar lagi… ahhh!”
Tamparan kedua, ketiga—bokong Naya memerah hebat. Ia orgasme kedua—jeritannya panjang, tubuhnya ambruk ke dada Raka, tapi Raka masih mendorong, masih keras.
Akhirnya Raka mencapai puncak. Ia menarik keluar, menyemprotkan cairannya panas ke perut dan dada Naya—banyak, kental, bercampur air shower yang langsung membilasnya pelan.
Mereka terduduk di lantai kamar mandi, napas tersengal, air masih mengalir deras. Naya tertawa kecil di antara hembusan napas.
“Kita… terlalu berisik tadi,” bisiknya.
Raka mencium bibir Naya yang bengkak. “Biarin. Biar ibumu tahu.”
Tepat saat itu, terdengar suara pintu depan terbuka.
“Ibu pulang!” teriak ibu dari ruang tamu.
Naya dan Raka saling pandang. Naya buru-buru mematikan shower, mereka berdua cepat-cepat mengeringkan tubuh dan memakai baju. Tapi aroma seks masih tercium samar di kamar mandi—bau keringat, cairan, dan sabun yang terlalu cepat dibersihkan.
Saat keluar dari kamar mandi, ibu sudah berdiri di koridor, tas belanja di tangan, wajahnya pucat dan mata menyipit.
“Naya… kamu tadi… di kamar mandi… suara apa itu?” tanya ibu pelan, suara bergetar.
Naya menelan ludah. “Suara apa, Bu? Kami cuma mandi bareng… eh, maksudnya… mandi bergantian.”
Ibu menatap Raka lama. Lalu menatap Naya—dari rambut basah, kaus yang kebesaran, leher yang penuh bekas gigitan kecil, dan mata yang masih berkaca-kaca karena kenikmatan tadi.
Ibu diam panjang.
“Ibu… tahu kamu bukan anak kecil lagi,” kata ibu akhirnya, suara pelan tapi tegas. “Tapi kalau kamu bawa orang ke rumah Ibu… setidaknya hormati rumah ini. Jangan sampai Ibu dengar suara yang… nggak pantas.”
Naya menunduk. Air mata jatuh ke lantai.
“Maaf, Bu…”
Ibu menghela napas panjang. Lalu menatap Raka lagi.
“Nak Raka… Ibu percaya kamu jagain Naya. Tapi kalau kamu bikin anak Ibu nangis… Ibu nggak akan diam.”
Raka menunduk hormat. “Saya paham, Bu. Saya cuma mau Naya bahagia.”
Ibu diam lagi. Lalu berbalik ke dapur tanpa kata.
Naya menatap Raka, mata penuh campuran rasa bersalah dan adrenalin.
“Kita… hampir ketahuan lagi,” bisiknya.
Raka menarik Naya ke pelukan, bibirnya menyentuh telinga Naya.
“Malam ini… kita lebih pelan. Tapi lebih dalam.”
Naya mengangguk kecil, tubuhnya sudah panas lagi hanya membayangkannya.1809Please respect copyright.PENANAn6w9JOZAaj


