2670Please respect copyright.PENANAAw0z3Pcb3n
2670Please respect copyright.PENANAx3ikNmO4LT
Ibu sudah tidur di kamar belakang, pintunya tertutup rapat, suara kipas angin tua berderit pelan menutupi segala gerak. Naya berbaring di kasur sempit kamar lamanya, mata terbuka menatap langit-langit kayu yang penuh bekas bocor lama. Jantungnya berdegup kencang sejak tadi sore—setiap kali ibu tersenyum ke Raka, setiap kali Raka menjawab sopan, Naya merasa ada bara yang menyala di perutnya.
Pintu kamar terbuka pelan sekali.
Raka masuk tanpa suara, hanya celana pendek hitam, dada telanjang berkilau tipis keringat karena udara malam Kudus yang lembab. Ia menutup pintu, mengunci dari dalam dengan gerakan lambat, lalu menatap Naya di atas kasur.
“Kau belum tidur,” bisiknya, suara rendah tapi penuh ancaman manis.
Naya duduk pelan, kaus tidur tipisnya sudah naik sampai paha. Matanya gelap, napas sudah mulai tersengal.
“Ibu di kamar sebelah,” katanya pelan, tapi nada suaranya bukan peringatan—malah tantangan.
Raka tersenyum tipis, mendekat seperti predator yang tahu mangsanya sudah menyerah. “Justru itu yang bikin seru.”
Ia naik ke kasur, lutut menekan matras di kedua sisi pinggul Naya. Tangannya langsung mencengkeram kedua pergelangan Naya, menariknya ke atas kepala dan menekannya ke bantal. Bibirnya langsung menyerang—ciuman kasar, gigi bertemu gigi, lidah memaksa masuk tanpa permisi. Naya mendesah keras ke dalam mulutnya, tubuhnya langsung melengkung mencari gesekan.
Raka menarik kaus tidur Naya ke atas dengan satu tarikan kasar—kain robek kecil di bagian bahu. Payudara Naya terbuka, puting sudah mengeras karena udara dingin dan antisipasi. Raka langsung menggigit salah satunya—bukan gigitan lembut, tapi gigitan yang meninggalkan bekas gigi merah dan membuat Naya menjerit pelan, langsung menutup mulut sendiri dengan tangan yang bebas.
“Jangan keras-keras,” desis Naya, tapi pinggulnya malah naik mencari kontak.
Raka tertawa kecil di lehernya. “Kalau kau nggak mau ibumu dengar, kau yang tahan suaramu.”
Ia membalik tubuh Naya kasar—posisi merangkak, bokong terangkat tinggi. Celana dalam tipis Naya ditarik turun sampai lutut, lalu robek sampingnya dengan tangan. Raka menampar bokong Naya sekali—keras, suara ‘plak’ bergema pelan di kamar kecil. Naya menggigit bantal supaya tidak berteriak.
“Lagi,” bisik Naya, suara serak dan memohon.
Raka menampar lagi—dua kali berturut-turut, lebih keras. Kulit bokong Naya memerah cepat, panas, berdenyut. Ia merasakan cairannya sudah menetes ke paha dalam sebelum Raka bahkan menyentuh.
Raka menarik rambut Naya ke belakang, memaksa kepalanya menoleh. Bibirnya menempel di telinga Naya.
“Kau basah banget cuma gara-gara ditampar di rumah ibumu sendiri,” bisiknya kasar. “Kau suka jadi nakal di tempat terlarang, ya?”
Naya mengangguk cepat, air mata kenikmatan menggenang. “Ya… aku suka kalau kamu kasar… di sini…”
Raka tidak menunggu lagi. Ia memasukkan tiga jari sekaligus—dalam, keras, mengaduk-aduk tanpa ampun. Naya menjerit ke bantal, tubuhnya bergetar hebat. Cairannya menyembur keluar, membasahi kasur dan paha Raka. Ia orgasme pertama kali hanya dari jari—cepat, brutal, tanpa ampun.
Raka menarik jarinya, menjilat cairan itu dari tangannya sambil menatap mata Naya. Lalu ia menarik celana pendeknya sendiri, kemaluannya sudah keras maksimal, urat-uratnya menonjol, kepalanya basah mengkilap.
Ia mendorong masuk dalam satu tusukan kuat—sampai pangkal. Naya menjerit lagi, tapi kali ini suaranya tertahan di bantal. Raka tidak memberi waktu beradaptasi. Ia langsung bergerak cepat, keras, brutal—setiap dorongan membuat kasur berderit keras, membuat kepala Naya membentur dinding kayu pelan.
Tangan Raka mencengkeram pinggul Naya, kuku meninggalkan bekas bulan sabit di kulit. Ia menarik rambut Naya lagi, memaksa punggungnya melengkung lebih dalam.
“Bilang kau milikku,” desisnya, suara kasar dan napas tersengal.
“Aku milikmu… aku milikmu…” Naya mengulang seperti mantra, suara pecah karena kenikmatan yang menyakitkan.
Raka menampar bokong Naya lagi—berulang, setiap tamparan disertai dorongan lebih dalam. Naya orgasme kedua—tubuhnya menegang, kakinya gemetar, cairannya menyembur lagi, membasahi selimut dan paha Raka.
Raka tidak berhenti. Ia membalik Naya, mengangkat kedua kaki Naya ke bahunya, memasukinya lagi dari depan. Posisi ini membuatnya masuk sangat dalam, menyentuh titik yang membuat Naya menjerit tanpa bisa ditahan lagi. Raka menutup mulut Naya dengan tangan kirinya—kasar, menekan, supaya jeritannya tertahan.
“Kau mau ibumu dengar anaknya lagi dientot keras di kamar sebelah?” bisik Raka, mata gelap penuh nafsu.
Naya menggeleng cepat, tapi matanya berkilau—campur takut dan nikmat. Ia menggigit telapak tangan Raka, meninggalkan bekas gigi.
Raka mendorong lebih cepat, lebih brutal. Kasur berderit keras, dinding kayu bergetar pelan. Naya orgasme ketiga—tubuhnya kejang-kejang, air mata mengalir deras, mulut terbuka lebar tapi suara tertahan oleh tangan Raka.
Akhirnya Raka mencapai puncak. Ia menarik keluar tepat di detik terakhir, menyemprotkan cairannya panas dan banyak ke perut, dada, dan leher Naya—menandai tubuhnya seperti miliknya. Cairan itu menetes pelan ke kasur, baunya kuat dan kotor di udara malam Kudus.
Mereka ambruk bersama. Napas tersengal, keringat bercampur, tubuh saling menempel. Raka menarik Naya ke pelukannya, mencium keningnya pelan—kontras total dengan kekerasan tadi.
“Kau baik-baik aja?” bisiknya, suara kembali lembut.
Naya mengangguk lemah, tersenyum kecil meski tubuhnya masih bergetar. “Lebih dari baik… aku suka kalau kamu gini.”
Raka mencium bibir Naya pelan. “Besok malam lagi?”
Naya tertawa kecil, suara serak. “Kalau ibu nggak dengar.”
Malam itu, ibu bilang akan tidur lebih awal karena capek masak seharian. Lampu ruang tamu dimatikan jam 10 malam. Kipas angin di kamar ibu masih berderit seperti biasa—suara yang selama ini jadi “penyamaran” mereka.
Naya dan Raka menunggu sampai jam 11 lewat.
Kamar Naya gelap, hanya cahaya samar dari luar jendela yang masuk lewat celah gorden tipis. Pintu sudah dikunci dari dalam. Raka langsung menarik Naya ke pelukannya begitu pintu tertutup. Ciumannya kasar dari awal—gigi menggigit bibir bawah Naya sampai berdarah tipis, tangan kirinya mencengkeram leher Naya cukup kuat untuk membuat napasnya tersengal.
“Kau mau ibumu dengar malam ini?” bisik Raka di telinga Naya, suara serak penuh nafsu.
Naya mengangguk cepat, mata berkaca-kaca. “Aku… aku mau kamu kasar. Biarin aja dia dengar. Biarin dia tahu aku milikmu.”
Kata-kata itu seperti bensin buat Raka.
Ia mendorong Naya ke kasur dengan keras sampai punggungnya membentur dinding kayu. Kaus tidur Naya langsung disobek dari depan—kain robek dengan suara ‘rrrt’ yang cukup keras di malam sunyi. Payudara Naya terbuka, puting sudah mengeras. Raka langsung menggigit kanannya—kuat, gigi menekan sampai Naya menjerit kecil.
“Lebih keras,” desah Naya, tangannya mencengkeram rambut Raka.
Raka menurut. Ia menggigit lebih dalam, tangan kanannya turun ke antara paha Naya, merobek celana dalam tipis itu tanpa ampun. Jarinya langsung masuk—tiga sekaligus, mengaduk-aduk kasar, bunyi licin dan basah terdengar jelas di kamar kecil.
Naya tidak lagi menahan suara.
Ia mendesah keras—desah yang berubah jadi jeritan kecil setiap jari Raka menyentuh titik sensitifnya.
“Ahh… Raka… lebih dalam… sialan… ahhh!”
Suara itu bergema di kamar, melewati dinding tipis kayu yang hanya dipisahkan kain gorden dan triplek.
Raka menarik jarinya, menjilat cairan Naya dari tangannya sambil menatap mata Naya. Lalu ia membalik tubuh Naya, mendorongnya merangkak di kasur. Bokong Naya terangkat tinggi. Raka menampar keras—sekali, dua kali, tiga kali—suara ‘plak-plak-plak’ bergema seperti tamparan di ruangan kosong.
Naya menjerit lagi, lebih keras.
“Raka! Lagi… tampar lagi… ahhh!”
Raka memasukkan kemaluannya dari belakang dalam satu dorongan brutal—sampai pangkal, tanpa persiapan. Naya menjerit panjang, suaranya pecah, tubuhnya kejang karena campuran sakit dan nikmat yang ekstrem.
“Ya… ya… lebih keras… entot aku keras… Raka… ahhh!”
Raka tidak menahan lagi. Ia menarik rambut Naya ke belakang seperti tali kekang, punggung Naya melengkung dalam, lalu mendorong dengan ritme cepat dan dalam—setiap dorongan membuat kasur berderit keras, kepala Naya membentur dinding kayu, suara ‘thud-thud-thud’ bercampur jeritan Naya yang semakin tak terkendali.
“Aku milikmu… aku milikmu… ahhh… Raka… lebih dalam… sialan… aku mau keluar… ahhhh!”
Naya orgasme pertama—cairannya menyembur keluar, membasahi paha mereka berdua dan kasur. Tubuhnya kejang-kejang, tapi Raka tidak berhenti. Ia menarik keluar, membalik Naya, mengangkat kedua kaki Naya ke bahunya, lalu masuk lagi—posisi yang membuatnya menyentuh paling dalam.
Naya menjerit tanpa henti sekarang.
“Raka! Ya Tuhan… ahhh… aku nggak tahan… lagi… lagi… entot aku sampai hancur… ahhhh!”
Jeritan itu jelas sekali melewati dinding. Kipas angin di kamar ibu tiba-tiba berhenti berderit—seolah ibu mematikannya untuk mendengar lebih jelas.
Raka mencapai puncak. Ia menarik keluar, menyemprotkan cairannya panas dan banyak ke perut, dada, leher, dan wajah Naya—menandai tubuhnya sepenuhnya. Naya orgasme kedua bersamaan—jeritannya panjang, tubuhnya melengkung seperti busur, cairannya menyembur lagi.
Mereka ambruk bersama, napas tersengal, keringat bercampur, tubuh saling menempel. Naya tertawa kecil di antara napas tersengal—tawa gila, puas, tapi juga ketakutan.
“Tadi… terlalu keras,” bisiknya.
Raka mencium bibir Naya yang bengkak. “Kau yang minta.”
Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
“Naya?” suara ibu terdengar dari luar, pelan tapi jelas. “Kamu kenapa? Ibu dengar suara aneh… kamu nangis?”
Naya membeku. Tubuhnya masih telanjang, cairan Raka masih menetes di kulitnya. Raka langsung menarik selimut menutupi mereka berdua.
Naya menarik napas dalam-dalam, suara bergetar.
“Aku… aku baik-baik aja, Bu. Cuma… mimpi buruk. Maaf kalau berisik.”
Ada diam panjang di luar pintu.
“Ibu… dengar nama ‘Raka’ tadi,” kata ibu pelan. “Dan… suara yang… aneh. Kamu yakin nggak ada apa-apa?”
Naya menatap Raka. Matanya melebar ketakutan, tapi juga ada kilau aneh—seperti campuran malu dan adrenalin.
“Iya, Bu… aku baik-baik aja. Raka… lagi di ruang tamu. Aku cuma… lagi nonton video. Maaf ya, Bu. Tidur lagi aja.”
Lagi diam panjang.
“…Ibu doain kamu, ya. Kalau ada apa-apa, bilang Ibu. Pintu kamar Ibu nggak dikunci malam ini.”
Langkah ibu menjauh pelan. Kipas angin kembali berderit.
Naya menatap Raka, napas masih tersengal.
“Ibu curiga,” bisiknya.
Raka tersenyum tipis, jarinya menyusuri bibir Naya yang bengkak.
“Bagus. Biar dia tahu anaknya sudah punya pemilik.”2670Please respect copyright.PENANACePT2o47mB


