1819Please respect copyright.PENANAaGWsVJhBYD
1819Please respect copyright.PENANAiM9irhrrvA
Naya dan Raka duduk di kamar Naya setelah maghrib. Lampu utama dimatikan, hanya lampu meja kecil yang menyala redup. Mereka tidak langsung bergerak. Hanya saling tatap dalam diam, napas sudah mulai berat.
“Kita harus pelan malam ini,” bisik Naya, suara gemetar tapi mata berkilau.
Raka menggeleng pelan. “Tidak. Malam ini kita lebih berani lagi. Biar ibumu tahu… kalau dia belum yakin.”
Naya menelan ludah. Tubuhnya sudah panas sebelum disentuh. “Kalau ibu bangun…”
“Kalau ibu bangun, biarin aja,” potong Raka, suara rendah dan tegas. “Dia harus terima kenyataan. Kau bukan miliknya lagi. Kau milikku.”
Kata-kata itu seperti pemicu. Naya langsung menarik Raka ke kasur. Mereka berciuman kasar dari awal—gigi menggigit bibir, tangan saling mencakar. Raka menarik kaus Naya ke atas dengan satu tarikan, membuangnya ke lantai. Payudara Naya terbuka, ia langsung menggigit puting kanan keras sampai Naya mendesah keras tanpa menahan.
“Ahh… Raka… pelan… ahhh!”
“Tidak pelan,” desis Raka. Ia mendorong Naya telentang, menarik celana dalamnya turun kasar sampai robek di sisi. Jarinya langsung masuk—empat sekaligus kali ini, mengaduk-aduk dalam dan cepat. Bunyi licin basah terdengar jelas di kamar sunyi.
Naya tidak lagi bisa diam. Desahannya langsung keluar keras.
“Ya… ya… lebih dalam… ahhh… Raka… sialan… aku basah banget… ahhh!”
Raka menutup mulut Naya dengan tangan kirinya—kasar, menekan, tapi tidak cukup untuk membungkam sepenuhnya. Suara desahan Naya masih bocor, bergema ke dinding tipis.
Raka menarik jarinya, menjilat cairan Naya sambil menatap mata Naya yang sudah berkaca-kaca. Lalu ia membalik tubuh Naya, menekannya perut ke kasur, bokong terangkat tinggi. Ia menampar bokong Naya keras—sekali, dua kali, tiga kali—suara ‘plak-plak-plak’ bergema lebih jelas karena kasur yang sudah mulai berderit.
Naya menjerit ke bantal, tapi suaranya tetap terdengar.
“Tampar lagi… ahhh… Raka… tampar bokong aku lagi… aku suka… ahhhh!”
Raka menurut—tamparan keempat, kelima—kulit bokong Naya memerah hebat, panas, berdenyut. Ia memasukkan kemaluannya dari belakang dalam satu dorongan brutal—sampai pangkal, tanpa jeda.
Naya menjerit panjang, suaranya pecah dan jelas melewati dinding.
“Raka! Ahhh… lebih keras… entot aku… jangan berhenti… ahhhh… aku mau hancur… ya… ya… seperti itu… ahhh!”
Raka menarik rambut Naya ke belakang, punggung melengkung dalam, dorongannya semakin cepat dan dalam—setiap tusukan membuat kasur berderit keras, kepala Naya membentur dinding kayu ‘thud-thud-thud’, dan jeritan Naya semakin tak terkendali.
“Aku milikmu… aku milikmu… ahhh… Raka… lebih dalam… sialan… aku keluar… ahhhh!”
Naya orgasme pertama—cairannya menyembur keluar, membasahi kasur dan paha Raka. Tubuhnya kejang-kejang, tapi Raka tidak berhenti. Ia menarik keluar, membalik Naya, mengangkat kedua kakinya ke bahu, lalu masuk lagi—posisi yang membuatnya menyentuh paling dalam.
Naya menjerit tanpa ampun sekarang.
“Raka! Ya Tuhan… ahhh… aku nggak tahan… lagi… lagi… entot aku sampai aku nggak bisa jalan… ahhhh!”
Jeritan itu jelas sekali. Di kamar sebelah, pintu ibu terdengar terbuka pelan. Langkah kaki mendekat—lambat, hati-hati.
Raka tidak berhenti. Malah semakin brutal. Ia mencengkeram leher Naya cukup kuat untuk membuat napasnya tersengal, dorongannya semakin cepat.
“Kau mau ibumu lihat kita gini?” desis Raka, mata gelap penuh nafsu.
Naya mengangguk cepat, air mata mengalir. “Biarkan… ahhh… biar dia tahu… aku milikmu… ahhhh!”
Ketukan pelan di pintu kamar Naya.
“Naya?” suara ibu terdengar gemetar. “Kamu… kamu lagi apa? Ibu dengar… suara… lagi.”
Raka menarik keluar tepat di detik terakhir, menyemprotkan cairannya panas dan banyak ke perut, dada, leher, dan wajah Naya—menandai tubuhnya sepenuhnya. Naya orgasme kedua bersamaan—jeritannya panjang dan pecah, tubuhnya melengkung seperti busur, cairannya menyembur lagi ke kasur.
Mereka ambruk bersama, napas tersengal keras. Pintu kamar masih diketuk lagi—lebih keras.
“Naya! Buka pintu! Ibu khawatir!”
Naya menatap Raka, mata melebar ketakutan tapi juga puas. Raka tersenyum tipis, mencium bibir Naya yang bengkak.
“Buka pintu,” bisiknya. “Biar ibumu lihat.”
Naya bangkit pelan, tubuh masih gemetar, cairan Raka masih menetes di kulitnya. Ia membuka pintu sedikit—hanya celah kecil, cukup untuk ibu melihat wajahnya yang merah, rambut kusut, leher penuh bekas gigitan, dan mata yang berkaca-kaca.
Ibu berdiri di depan pintu, wajah pucat, mata melebar.
“Naya… kamu… kamu…”
1819Please respect copyright.PENANAoKiihnlxav
CERITA LENGKAP KLIK LINK🔗 DI BAWAH
https://lynk.id/agusfandiadam1819Please respect copyright.PENANAbnszKg6DeY


