Senin pagi di kantor dimulai dengan ketegangan yang berbeda. Diki duduk di kursi kebesarannya, namun pikirannya masih tertinggal di kursi belakang mobil SUV dua hari yang lalu. Tak lama kemudian, ketukan pintu yang khas terdengar. Laila masuk dengan kemeja sutra berwarna krem yang sangat ketat, namun kali ini ia mengenakan syal tipis yang melilit lehernya.
"Pagi, Pak. Ini laporan evaluasi perjalanan dinas kemarin," ujar Laila. Suaranya terdengar formal, namun matanya berkilat penuh rahasia.
Diki bangkit, berjalan perlahan mengitari mejanya, dan berdiri tepat di belakang Laila. Ia bisa mencium aroma parfum Vanilla Oud yang bercampur dengan bau kulit Laila yang khas—bau yang sekarang ia kenali sebagai candu. Diki menarik ujung syal Laila dengan kasar, memperlihatkan tanda merah keunguan yang kontras di kulit putih lehernya.
"Kamu mencoba menyembunyikan 'piala' dariku, Laila?" bisik Diki, suaranya parau dan rendah tepat di telinga Laila.
Laila mendesah, tubuhnya seketika melemas bersandar pada dada bidang Diki. "Staf di luar mulai bertanya-tanya, Diki. Tanda yang kau tinggalkan terlalu dalam. Tapi kau tahu... setiap kali mereka menatap leherku, aku hanya membayangkan betapa liarnya kau saat menggigitku di sana."
Tangan Diki tidak bisa diam. Ia menyusupkan tangannya ke balik kemeja ketat Laila, langsung menemukan gundukan payudara yang masif dan tanpa pelindung. "Tanpa bra lagi? Kamu benar-benar ingin aku menghukummu tepat di jam kerja ini, hah?"
"Aku sengaja, Sayang... Aku ingin merasakan kulitku langsung bersentuhan dengan kain kemeja ini setiap kali aku bergerak, membayangkan bahwa itu adalah tanganmu yang kasar," balas Laila sambil berbalik dan langsung menarik wajah Diki untuk ciuman yang sangat dalam dan basah.
Diki tidak tahan lagi. Ia mengangkat Laila, mendudukkannya di atas meja kerja yang penuh tumpukan berkas penting. Ia merenggut kancing kemeja Laila hingga beberapa di antaranya terlepas dan memantul di lantai. Sepasang payudara Laila yang besar dan padat membal keluar dengan megahnya, ujungnya sudah sangat keras dan tegak seolah menyapa Diki.
"Tuhan, Laila... Mereka semakin besar setiap kali aku menyentuhnya," geram Diki. Ia melahap salah satu puncak payudara Laila, menghisapnya dengan suara slurping yang sangat basah dan keras. Tangannya yang lain meremas payudara satunya dengan sangat kuat, menciptakan bekas kemerahan di kulit putih itu.
"AAHHH! Diki! Hisap lebih kuat! Aku ingin kau menandai dadaku juga!" Laila merintih, kakinya melingkar erat di pinggang Diki.
Diki segera membebaskan kejantannya yang sudah menegang maksimal, berdenyut keras menuntut ruang. Tanpa basa-basi, ia menghujamkan miliknya ke dalam kehangatan Laila yang sudah sangat becek dan memanas.
Jleb!
"OHHHH! DIKIII! MASUK LAGI!" Laila memekik, tubuhnya gemetar saat merasakan penetrasi yang begitu penuh hingga menabrak dinding rahimnya.
Diki memulai gerakan yang brutal. Ia memegang pinggul Laila yang lebar, menumbuknya dengan ritme yang tidak memberikan celah untuk bernapas. Suara hantaman kulit mereka—plak, plak, plak—
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.141da2


