Perjalanan pulang dari dinas luar kota seharusnya menjadi waktu bagi Diki dan Laila untuk beristirahat. Namun, setelah malam-malam panas di hotel, mereka berdua telah benar-benar kehilangan kendali. Di dalam mobil dinas SUV hitam dengan kaca film yang sangat gelap, Diki meminta supir untuk turun di rest area dengan alasan ingin beristirahat sejenak dan mengerjakan laporan di kursi belakang yang luas.
Begitu supir menjauh, Diki segera berpindah ke kursi belakang di mana Laila sudah menunggu. Laila mengenakan dress terusan berbahan tipis tanpa lengan yang sangat ketat. Tanpa bra, puting payudaranya yang besar menonjol jelas di balik kain dress, seolah menantang Diki untuk segera menjamahnya.
"Sudah tidak tahan, Pak?" bisik Laila dengan suara yang sangat rendah dan erotis saat Diki menutup pintu mobil dan menguncinya.
Diki tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung meraup wajah Laila dan menciumnya dengan liar, lidahnya menjelajah dengan lapar. Tangannya langsung menyusup ke bawah dress Laila, menemukan bahwa wanita itu kembali tidak mengenakan celana dalam.
"Kamu benar-benar ingin aku menghajarmu di mobil ini, hah?" geram Diki sambil meremas gundukan dada Laila dari luar pakaiannya. "Dadamu... terasa sangat penuh dan panas, Laila."
Laila mendesah panjang, ia segera menarik dressnya ke atas hingga ke leher, memamerkan sepasang payudara masif yang berkilau terkena cahaya lampu rest area yang samar. "Ahhh... Diki, cepatlah. Aku ingin merasakan getaran mobil ini berpadu dengan hantamanmu. Aku ingin kau membuatku gila di kursi belakang ini."
Diki segera membebaskan kejantannya yang sudah menegang maksimal, berdenyut-denyut menuntut pemuasan. Ia mendudukkan Laila di atas pangkuannya dengan posisi menghadap ke arahnya. Dengan satu gerakan kuat, Diki menurunkan tubuh Laila hingga miliknya masuk sepenuhnya ke dalam liang Laila yang sudah sangat becek dan panas.
"OHHHH! DIKIII!" Laila memekik, kepalanya mendongak menabrak langit-langit mobil. "Penuh... sangat penuh... Ahhh, masuk sampai ke dalam!"
Diki mencengkeram pinggul Laila yang lebar, membantunya bergerak naik turun dalam ritme yang cepat dan brutal di ruang yang terbatas itu. Suara kulit yang beradu—plak, plak, plak—bergema di dalam kabin mobil yang kedap suara, berpadu dengan deru mesin AC yang dingin, namun suhu di dalam sana terasa seperti neraka.
"Lihat bagaimana payudaramu bergoyang liar, Laila! Mereka menghantam dadaku dengan sangat nikmat!" Diki menggeram sambil menghisap salah satu puncak payudara Laila dengan sangat rakus, menariknya hingga Laila menjerit kegirangan.
"Terus, Diki! Hantam aku lebih keras! Aku suka caramu meremas dadaku seperti itu!" Laila meracau, tangannya mencengkeram sandaran kursi mobil dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya membekas. "Aku ingin kau mengisi rahimku lagi... Aku ingin kau membuat mobil ini bergoyang karena gairah kita!"
Diki mempercepat temponya secara membabi buta. Ia memberikan sentakan-sentakan pendek namun sangat bertenaga, menghunjam tepat di titik terdalam Laila. Cairan pelumas alami Laila sudah meluber membasahi paha Diki, menciptakan suara decakan yang sangat erotis di setiap gerakan.
"Kamu seolah ingin menghisapku habis, Laila! Sempit sekali!" Diki mengerang, wajahnya memerah penuh urat kenikmatan. "Rasakan ini... rasakan bagaimana seluruh spermaku akan kembali membanjirimu di dalam mobil dinas ini!"
"Ah-ah-ahhh! Diki... aku sudah dekat! Aku keluar! AKU KELUAR!"
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.141da2


