Di luar ruangan, suasana kantor sedang sibuk-sibuknya. Sespri Diki, seorang pria muda bernama Adi, berdiri di depan pintu jati besar itu dengan map di tangan. Ia ragu untuk mengetuk. Sejak sepuluh menit lalu, ia mendengar suara-suara aneh dari dalam—suara derit meja yang ritmis dan lenguhan samar yang tidak terdengar seperti diskusi laporan proyek.
Namun, di dalam ruangan, Diki dan Laila sudah benar-benar buta akan dunia luar.
Diki masih belum melepaskan Laila dari posisi menungging di atas meja kerjanya. Kejantanan Diki yang masih berdenyut di dalam kehangatan Laila terasa semakin panas. Ia mencengkeram rambut Laila, menarik kepalanya ke belakang sehingga wajah Laila menghadap ke langit-langit, memperlihatkan urat lehernya yang menegang dan wajah yang memerah karena orgasme berkali-kali.
"Dengar itu, Laila?" bisik Diki parau tepat di telinga Laila yang memerah. "Sespriku ada di depan pintu. Dia mungkin mendengar bagaimana Kepala Bidang Bina Marga yang terhormat ini menjerit seperti jalang di bawah atasannya."
Laila mendesah panjang, suaranya sangat erotis dan menantang. "Biarkan... biarkan dia dengar, Diki! Aku tidak peduli... Ahhh! Justru itu membuatku semakin basah. Hantam aku lebih keras lagi di depan pintu itu! Biar dia tahu kalau aku adalah milikmu sepenuhnya!"
Diki mengerang, tertantang oleh keberanian Laila yang gila. Ia mulai bergerak lagi, kali ini dengan sentakan yang jauh lebih brutal. Setiap tumbukan bokong Laila ke pangkal pahanya menghasilkan suara PLAK! PLAK! PLAK! yang sangat eksplisit dan bergema hingga ke daun pintu.
Tangan Diki merayap ke depan, meraih kedua payudara Laila yang menggantung liar. Ia meremasnya dengan sangat keras, menarik putingnya yang sudah sangat tegang seolah ingin mencabutnya. "Lihat bagaimana dadamu yang besar ini berayun-ayun, Laila! Mereka seolah minta dihajar lebih kejam lagi!"
"AAHHH! Diki! Iya... hantam aku! Aku ingin kau menembus rahimku sekali lagi!" Laila merintih, tangannya mencakar-cakar permukaan meja, membuat tumpukan stempel dinas dan pulpen berjatuhan ke lantai. "Ah-ah-ahhh! Nikmat sekali... Diki, milikmu terasa semakin besar di dalam sini!"
Di luar pintu, Adi terpaku. Ia mendengar suara plak-plak yang sangat jelas diikuti lenguhan Laila yang menyebut nama bosnya dengan sangat mesra. Adi menelan ludah, wajahnya memerah, dan ia segera berbalik pergi dengan langkah seribu, namun api skandal sudah mulai tersulut di kepalanya.
Diki tidak peduli lagi jika seluruh kantor tahu. Ia sudah berada di ambang ledakan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia mempercepat temponya secara membabi buta. Cairan pelumas alami Laila yang berlimpah bercampur dengan sisa sperma sebelumnya, menciptakan suara decakan crot-crot-plak yang sangat memicu gairah.
"Aku akan meledak, Laila! Aku akan menghabisimu!" Diki menggeram, otot-otot lengannya menegang keras saat ia mengangkat pinggul Laila untuk menerima hantaman terdalamnya.
"YA! KELUARKAN SEMUANYA! PENUHI RAHIMKU SAMPAI TUMPAH KE LANTAI, DIKI! SEKARANG!" Laila menjerit sangat keras, tubuhnya menegang hebat seolah tersengat listrik.
Klimaks itu datang dengan kekuatan yang menghancurkan. Diki melakukan sentakan-sentakan panjang yang menghujam titik paling sensitif Laila berkali-kali. Ia mengerang panjang, suaranya parau memenuhi ruangan saat ia merasakan spermanya menyembur deras dalam volume yang sangat besar, menghujani dinding dalam Laila dengan gelombang panas yang seolah tak berakhir.
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.141da2


