Perjalanan dinas ke sebuah resor mewah di pinggir pantai seharusnya menjadi agenda formal untuk rapat koordinasi tingkat provinsi. Namun bagi Diki dan Laila, ini adalah kesempatan emas untuk melepas topeng profesionalitas mereka sepenuhnya. Diki sengaja memesan kamar junior suite untuk dirinya, dan kamar Laila berada tepat di sebelahnya, dengan pintu penghubung (connecting door) yang sudah ia minta untuk dibuka kuncinya.
Malam itu, setelah jamuan makan malam formal yang membosankan, Laila mengetuk pintu penghubung tersebut. Saat Diki membukanya, napasnya seolah terhenti. Laila berdiri di sana hanya dengan mengenakan jubah mandi sutra berwarna hitam yang sangat pendek. Jubah itu tidak diikat dengan benar, membiarkan belahan dadanya yang sangat besar dan menonjol terekspos hampir sepenuhnya.
"Pak... saya rasa ada dokumen 'pribadi' yang perlu Bapak tanda tangani malam ini," bisik Laila dengan suara serak yang penuh godaan.
Diki tidak membuang waktu. Ia menarik lengan Laila masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu. Tanpa aba-aba, Diki merenggut jubah sutra itu hingga merosot ke lantai, memamerkan tubuh Laila yang benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.
"Tuhan... Laila..." Diki menelan ludah dengan susah payah. Di bawah lampu kamar yang temaram, tubuh Laila tampak seperti mahakarya. Kulitnya yang putih mulus bersinar, dan yang paling utama, sepasang payudaranya yang masif tampak menggantung dengan indah, dengan ujung yang sudah menegang keras karena udara dingin AC dan gairah.
"Apakah Bapak suka dengan apa yang Bapak lihat?" Laila melangkah mendekat, membiarkan payudaranya yang kenyal bersentuhan dengan dada Diki. "Malam ini tidak ada meja kantor yang keras, Diki. Hanya ada kasur empuk ini... dan aku yang sangat lapar akan milikmu."
Diki segera menanggalkan pakaiannya hingga mereka berdua berdiri polos dalam pelukan yang panas. Ia mengangkat Laila dan membantingnya dengan lembut ke atas ranjang king size. Diki segera memposisikan dirinya di antara kedua paha Laila yang terbuka lebar, namun ia tidak langsung melakukan penetrasi. Ia ingin menyiksa Laila dengan kenikmatan perlahan.
Diki menunduk, melahap salah satu payudara Laila ke dalam mulutnya, menghisapnya dengan suara yang sangat basah. Tangannya yang lain meremas payudara satunya, memutar-mutar ujungnya dengan kasar.
"Ahhh! Diki... ohhh, hisap lebih kuat lagi!" Laila merintih, tubuhnya melengkung ke atas. "Dadamu sangat besar, Laila... aku ingin menelan semuanya!" geram Diki di sela-sela kegiatannya.
Tangan Diki bergerak turun, menjelajahi liang keintiman Laila yang sudah banjir oleh cairan gairah. Ia memasukkan tiga jarinya sekaligus, mengaduk-aduk kehangatan di dalam sana dengan ritme yang cepat. Laila menjerit kegirangan, kakinya menendang-nendang kasur karena tidak kuat menahan stimulasi yang begitu hebat.
"Diki... cukup! Masuk sekarang! Aku ingin kau menghajarku sampai aku pingsan!" teriak Laila dalam desahannya.
Diki memegang kejantannya yang sudah berdenyut hebat dan sebesar lengan bawahnya. Dengan satu dorongan brutal, ia menghujamkan dirinya ke dalam Laila.
Jleb!
"OHHHH MY GOD! DIKIII!" Laila memekik keras, matanya melotot saat merasakan seluruh kejantanan Diki mengisi rahimnya hingga terasa sesak.
Diki memulai gerakan yang sangat liar dan bertenaga. Setiap kali ia menghantam, suara kulit yang beradu—plak, plak, plak—terdengar sangat eksplisit, bercampur dengan suara erangan Laila yang tak henti-hentinya memanggil nama Diki.
"Rasakan ini, Laila! Kamu suka yang keras, kan?" Diki menggeram, ia membalikkan tubuh Laila hingga dalam posisi menungging (doggy style). Dari belakang, ia bisa melihat bagaimana bokong Laila yang lebar dan padat bergoyang hebat menerima hantamannya. Payudara Laila menggantung liar, berayun ke kiri dan ke kanan seiring dengan ritme hantaman Diki yang semakin cepat.
"Ahhh... ahhh... terus,
Bersambung……
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.141da2


