Hari itu, suasana di Kantor terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Sebuah Rapat Koordinasi besar sedang berlangsung di ruang aula utama, dihadiri oleh Pimpinan dan beberapa pejabat dari instansi lain. Diki duduk di kursi pimpinan rapat, tepat di samping pimpinan, sementara Laila duduk tepat di seberangnya, hanya terpisahkan oleh meja rapat panjang yang ditutupi taplak kain beludru hijau hingga menyentuh lantai.
Laila mengenakan seragam batik korpri yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sangat ketat di bagian pinggang, dan kancing-kancing di bagian dadanya tampak hampir menyerah menahan volume payudaranya yang besar. Setiap kali ia bergerak untuk mencatat, pemandangan itu menjadi siksaan visual bagi Diki yang duduk tepat di hadapannya.
Di tengah paparan Kepala Dinas yang membosankan, Laila menatap langsung ke mata Diki. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum predator yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Tanpa diduga, Laila perlahan menggeser tubuhnya dan menyusupkan kakinya yang jenjang ke bawah meja, mencari-cari keberadaan kaki Diki.
Diki tersentak kecil saat merasakan ujung sepatu hak tinggi Laila mulai mengelus betisnya di balik meja. Ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya tetap datar dan profesional, meskipun jantungnya mulai berdegup kencang.
"Jadi, bagaimana menurut Pak Diki mengenai alokasi dana ini?" tanya Pimpinan tiba-tiba.
Diki berdehem, mencoba mengatur suaranya yang mendadak serak. "Ah, ya, Pak... saya rasa... itu sudah sesuai..." kalimatnya terputus saat kaki Laila kini sudah merayap naik ke atas pahanya, dan dengan sangat berani, ujung kaki wanita itu mulai menekan area sensitif di balik celana Diki.
Laila menatap Diki dengan tatapan sayu yang penuh gairah, sambil berpura-pura serius mencatat poin rapat. Diki merasakan kejantannnya langsung bereaksi hebat, menegang keras di bawah tekanan kaki Laila.
"Tentu, Pak ," Laila menyela dengan suara yang sengaja dibuat mendesah halus, "saya rasa Pak Diki butuh melihat detail 'proyek' ini lebih dekat di ruangan saya nanti."
Di bawah meja, Laila kini melepaskan sepatunya. Jari-jari kakinya yang mungil mulai memijat lembut tonjolan keras di antara paha Diki. Diki mencengkeram pinggiran meja dengan sangat kuat, buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Laila... cukup," bisik Diki hampir tak terdengar, namun matanya memancarkan rasa lapar yang luar biasa.
"Ada masalah, Pak ?" tanya Laila dengan nada mengejek yang sangat seksi. Ia sengaja sedikit membungkuk ke depan, membuat belahan dadanya terekspos jelas di hadapan Diki, sementara kakinya terus bekerja dengan ritme yang mematikan di bawah sana.
Begitu rapat dinyatakan selesai dan para pejabat lain mulai keluar satu per satu, Diki segera berdiri dan memberikan isyarat pada Laila untuk mengikutinya. Tanpa bicara, Diki menarik tangan Laila menuju ruang arsip kecil di sudut aula yang sedang kosong dan gelap.
Begitu pintu tertutup dan dikunci, Diki langsung memojokkan Laila ke lemari besi. Ia meraup kedua payudara Laila yang masif itu dengan kasar. "Kamu benar-benar ingin bermain api di depan semua orang, hah?" geram Diki.
Laila malah tertawa erotis, ia segera membuka kancing batiknya, membiarkan dadanya yang besar dan padat membal keluar dengan indahnya. "Aku tidak tahan melihatmu duduk begitu kaku di sana, Diki. Aku ingin kau tahu bahwa di bawah meja itu, aku sudah sangat basah merindukanmu."
Diki tidak banyak bicara lagi. Ia segera mengangkat rok Laila, menemukan bahwa wanita itu tidak mengenakan pakaian dalam sama sekali hari ini. "Kamu sengaja datang ke rapat tanpa celana dalam?"
"Hanya untukmu, Sayang... agar kau bisa langsung masuk tanpa hambatan," bisik Laila sambil melingkarkan kakinya di pinggang Diki.
Diki membebaskan miliknya yang sudah berdenyut keras dan langsung menghujam masuk ke dalam kehangatan Laila dalam satu hentakan bertenaga. Laila menjerit tertahan, mencakar punggung Diki saat mereka memulai persetubuhan liar di tengah sisa-sisa atmosfer rapat yang masih terasa.
Diki tidak memberikan ampun. Di dalam ruang arsip yang sempit dan berbau kertas lama itu, suhu udara terasa melonjak drastis. Ia mencengkeram kedua paha Laila yang kenyal dan mengangkatnya lebih tinggi, membuat punggung Laila menempel rata pada dinginnya lemari besi yang bergetar hebat setiap kali Diki memberikan hantaman.
"Ahhh... Diki! Pelan sedikit... nanti ada yang dengar!"
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.141da2


