Satu minggu telah berlalu sejak insiden di atas meja kerja itu, namun ketegangan di antara Diki dan Laila bukannya mereda, justru semakin menjadi-jadi. Di depan staf lain, mereka berakting dengan sangat sempurna—Diki yang tetap dingin dan berwibawa, serta Laila yang tetap menjadi Kepala Bidang yang ambisius. Namun, di bawah meja rapat, atau saat mata mereka bertemu di lorong kantor, ada percikan api yang siap membakar segalanya.
Sore itu, kantor sudah mulai sepi karena hujan deras mengguyur kota. Diki sengaja meminta Laila untuk tetap tinggal dengan alasan "evaluasi mendesak" terkait proyek strategis. Di dalam ruang kerja Diki yang remang-remang, hanya diterangi lampu meja yang menyorot fokus, suasana terasa sangat berat oleh uap gairah yang belum tersalurkan sejak pagi.
Laila masuk tanpa suara, mengunci pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang seolah menjadi sinyal bagi Diki. Hari itu, Laila mengenakan kebaya seragam dinas yang sangat ketat. Potongan kebaya itu begitu pas di badannya, menonjolkan pinggangnya yang kecil dan membuat dadanya yang besar seolah meluap dari balik kain brokat yang tipis.
"Semua staf sudah pulang, Pak ," bisik Laila sambil berjalan perlahan menuju kursi di depan Diki. "Sekarang, evaluasi apa yang Bapak inginkan? Evaluasi kinerja... atau evaluasi tubuh saya yang sudah sangat merindukan sentuhan Bapak?"
Diki melepaskan dasinya dengan kasar, matanya menyisir lekuk tubuh Laila yang terlihat begitu menggoda di bawah cahaya lampu yang minim. "Kemari, Laila. Jangan duduk di sana."
Laila tersenyum tipis. Alih-alih duduk, ia berjalan memutari meja dan langsung duduk di pangkuan Diki, menghadap pria itu. Diki bisa merasakan berat tubuh Laila dan keempukan bokongnya yang menekan kejantanannya yang mulai menegang di balik celana kain.
"Bapak tahu..." Laila berbisik tepat di depan bibir Diki, jemarinya mulai membuka kancing kemeja Diki satu per satu. "Seragam ini sangat menyiksa saya hari ini. Kancing kebaya ini terasa sangat sesak karena dadaku terus berdenyut memikirkanmu."
Diki tidak tahan lagi. Ia meraup kedua payudara Laila yang terbungkus kebaya itu, meremasnya dengan penuh dominasi. "Dadamu terasa lebih besar hari ini, Laila. Apa karena kamu tidak memakai bra di balik kebaya ini?"
Laila mendesah panjang, matanya terpejam saat merasakan remasan tangan Diki yang kuat. "Ahhh... Diki... Kamu sangat jeli. Aku sengaja melepasnya siang tadi, hanya untuk membayangkan bagaimana tanganmu akan langsung menyentuh kulitku saat kita sendirian."
Dengan gerakan yang tidak sabar, Diki membuka kaitan kebaya Laila. Benar saja, begitu kain itu terbuka, sepasang payudara Laila yang masif dan sangat padat membal keluar dengan indahnya. Pemandangan itu begitu erotis; kulit putih yang bersih dengan ujung yang sudah mengeras dan berwarna merah muda, bergetar mengikuti napas Laila yang memburu.
"Tuhan, Laila... Kamu benar-benar ingin membuatku gila," geram Diki. Ia segera membenamkan wajahnya di antara belahan dada Laila yang dalam, menghirup aroma keringat manis dan parfum yang bercampur menjadi satu. Ia menjilat dan menghisap puncak payudara Laila dengan rakus, membuat wanita itu mengerang keras.
"Iiiihh... Diki! Hisap lebih kuat lagi! Ahhh, nikmat sekali..." Laila mencengkeram bahu Diki, kuku-kukunya yang panjang sedikit menggores kulit pria itu. "Aku ingin kau merasakannya, Diki. Rasakan betapa aku sangat menginginkanmu."
Tangan Diki tidak berhenti di sana. Ia mengangkat rok kebaya Laila yang panjang, menyusupkan tangannya ke balik kain tersebut. Ia menemukan bahwa Laila hanya mengenakan thong tipis yang sudah sangat basah. Jari Diki langsung menjelajahi liang hangat Laila yang berdenyut, mengaduk-aduk cairan gairah yang meluap dari sana.
"Kamu sudah sangat banjir, Laila. Kamu begitu haus akan milikku?" tanya Diki dengan nada mengejek yang seksi.
"Ya! Aku haus! Aku ingin kau menghajarku di kursi ini, Diki! Sekarang!" teriak Laila dalam desahan.
Diki berdiri sebentar, hanya untuk menurunkan celananya dan membebaskan kejantanannya yang sudah berdenyut keras dan penuh. Ia kembali duduk dan dengan satu gerakan cepat, ia mendudukkan Laila kembali di atasnya, membiarkan tubuh Laila menelan habis miliknya dalam satu hentakan dalam.
"OHHHH! DIKI!" Laila memekik, tubuhnya gemetar hebat saat merasakan penetrasi yang begitu penuh dan mendesak hingga ke dalam rahimnya.
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.141da2


