Suasana di dalam ruang kerja itu semakin mencekam oleh gairah yang meluap. Di atas meja jati besar yang biasanya digunakan untuk menandatangani kebijakan publik, kini Laila duduk dengan posisi yang sangat menantang. Kaki jenjangnya yang masih terbalut stoking tipis melingkar erat di pinggang Diki, menarik pria itu untuk semakin tenggelam dalam kehangatan tubuhnya.
Diki melepaskan ciumannya sejenak, napasnya memburu, matanya menatap liar ke arah kemeja merah marun Laila yang kini sudah terbuka hampir sepenuhnya. Bra hitam berenda yang dikenakan Laila tampak kewalahan menahan volume dadanya yang besar dan padat. Bagian atas payudaranya menyembul keluar, menciptakan pemandangan yang membuat akal sehat Diki benar-benar lumpuh.
"Kamu tidak tahu... sudah berapa malam saya membayangkan pemandangan ini, Laila," bisik Diki dengan suara serak yang penuh ancaman.
Laila menyeringai, tangannya yang lentur kini beralih ke ikat pinggang Diki, membukanya dengan cekatan. "Jangan hanya dibayangkan, Diki. Sentuh aku... Pakai tubuhku sesukamu. Bukankah ini yang Bapak inginkan saat melihat saya berjalan di koridor? Melihat bagaimana dadaku bergoyang di balik seragam ini?"
Diki tidak lagi menjawab dengan kata-kata. Ia menelusupkan kedua tangannya ke balik bra Laila, membebaskan sepasang keindahan yang selama ini menjadi obsesinya. Begitu kain bra itu tersingkap, gundukan besar itu membal membebaskan diri. Kulitnya begitu putih, kontras dengan nipple yang sudah mengeras karena gairah yang memuncak.
"Tuhan... ini luar biasa," gumam Diki. Ia meremas kedua payudara Laila dengan telapak tangannya yang besar, merasakan kekenyalan yang luar biasa padat. "Dadamu... sangat indah, Laila. Begitu berat dan penuh."
Laila membusungkan dadanya, mendesah keras saat merasakan remasan kuat Diki. "Ahhh... Diki... lebih keras lagi. Aku suka caramu menguasaiku. Jangan ragu, ini semua milikmu."
Diki kemudian membungkuk, melahap salah satu puncak payudara Laila ke dalam mulutnya, menyesapnya dengan penuh rasa lapar seolah-olah itu adalah buah paling manis yang pernah ia temui. Laila memekik, jari-jarinya mencengkeram rambut Diki, menarik kepala pria itu agar semakin dalam mengulum bagian sensitifnya.
"Iiiihh... Diki... ohhh, rasanya sangat nikmat," desis Laila dengan tubuh yang melengkung ke depan. "Kamu benar-benar lapar, Sayang... Teruskan, hisap lebih kuat lagi."
Sambil terus memanjakan dada Laila, tangan Diki merayap turun ke bawah rok pensil Laila yang sudah tersingkap tinggi. Ia menyusupkan tangannya ke dalam pakaian dalam Laila yang sudah sangat basah oleh cairan hasrat. Saat jari-jari Diki menyentuh inti keintiman Laila yang hangat dan sensitif, wanita itu hampir terlonjak dari meja kerja.
"Kamu sudah sangat basah, Laila. Kamu begitu menginginkanku di kantor ini?" Diki menatap mata Laila dengan pandangan dominan.
"Aku selalu basah setiap kali membayangkanmu menghukumku di ruangan ini," aku Laila tanpa rasa malu. "Cepat, Diki... aku ingin merasakan milikmu. Masuk ke dalamku sekarang juga. Aku ingin kau memenuhi rahimku dengan milikmu di atas meja kerja ini."
Diki tidak menunggu perintah kedua kali. Ia segera menurunkan celananya, membebaskan kejantanannya yang sudah menegang maksimal dan berdenyut hebat. Ia memposisikan dirinya di antara kedua paha Laila yang terbuka lebar.
Dengan satu dorongan yang mantap dan penuh tenaga, Diki masuk ke dalam kehangatan Laila yang sempit dan menjepit. Laila menjerit tertahan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Diki sambil mencengkeram bahu pria itu hingga kukunya membekas.
"Ohhh... Diki! Besar sekali... Ahhh, penuh... rasanya sangat penuh!" Laila merintih, tubuhnya gemetar merasakan invasi yang begitu intens.
Diki mulai bergerak dengan ritme yang cepat dan bertenaga. Setiap kali tubuh mereka berbenturan, terdengar suara kulit yang bertemu secara eksplisit, berpadu dengan suara desahan dan erangan yang memenuhi ruangan yang kedap suara itu. Meja kerja itu berderit pelan mengikuti irama persetubuhan mereka yang liar.
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.141da2


