Sore itu, kantor tampak tenang dari luar, namun di dalam ruangan kerja , atmosfernya terasa sangat berat dan menyesakkan. Diki, pria berusia 38 tahun dengan pembawaan yang selalu rapi dan berwibawa, sedang berusaha keras memfokuskan matanya pada tumpukan berkas laporan proyek pembangunan jalan. Namun, suara ketukan sepatu hak tinggi yang berirama dari lorong luar sudah merusak konsentrasinya bahkan sebelum pemiliknya muncul.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," suara Diki terdengar berat. Ia tahu siapa yang datang tanpa perlu melihat pintu.
Pintu kayu jati itu terbuka perlahan, dan Laila masuk dengan gaya yang tak pernah gagal mencuri perhatian. Laila adalah Kepala Bidang Bina Marga yang baru, berusia awal 30-an, dengan kecantikan yang tajam dan bentuk tubuh yang menjadi buah bibir di seluruh kantor. Hari itu, ia mengenakan kemeja berbahan sutra tipis berwarna merah marun yang sangat kontras dengan kulit putih susunya. Kemeja itu tampak satu ukuran lebih kecil dari seharusnya, membuat kancing-kancing di bagian dadanya seolah berjuang keras menahan beban bentuk tubuhnya yang sangat berisi dan menonjol.
"Sore, Pak. Maaf mengganggu waktu istirahat sorenya," ucap Laila dengan nada suara yang rendah, hampir seperti bisikan yang merayap di kulit Diki.
Laila berjalan mendekati meja Diki. Setiap langkahnya membuat rok pensil hitam yang ketat itu mengikuti lekuk pinggulnya yang lebar dengan ritme yang mematikan. Diki berusaha tetap menatap layar monitornya, namun aroma parfum Vanilla Oud yang hangat dan menggoda dari tubuh Laila mulai menjajah ruang pribadinya.
"Ada apa, Laila? Bukankah laporan mingguan harusnya diserahkan besok?" tanya Diki, berusaha mempertahankan nada profesional meskipun jakunnya naik-turun saat ia menelan ludah.
"Saya ingin memberikan penjelasan langsung, Pak. Ada beberapa poin sensitif yang tidak bisa saya tuliskan di draf," jawab Laila. Ia tidak duduk di kursi tamu, melainkan berdiri tepat di samping meja Diki, lalu membungkuk ke depan untuk meletakkan dokumen di atas meja kerja pria itu.
Posisi itu adalah sebuah serangan bagi pertahanan Diki. Dari sudut matanya, Diki bisa melihat dengan jelas bagaimana kerah kemeja Laila yang terbuka lebar memperlihatkan lengkungan dadanya yang indah. Karena posisi membungkuk itu, gravitasi membuat pemandangan di balik kemeja itu tersaji dengan begitu provokatif. Diki bisa melihat renda hitam dari pakaian dalam Laila yang seolah tidak mampu menampung keindahan bentuk tubuhnya.
Napas Diki mulai tidak teratur. "Laila... berdiri yang tegak. Kamu... kamu bisa membuat orang salah paham jika ada yang masuk," tegur Diki dengan suara yang bergetar.
Laila justru terkekeh pelan. Ia tidak berdiri tegak, malah semakin mencondongkan tubuhnya hingga helai rambutnya yang panjang menyentuh bahu Diki. "Pintu sudah saya tutup rapat, Pak. Dan bukankah Bapak suka dengan apa yang Bapak lihat sekarang?"
Diki akhirnya menyerah. Ia memutar kursinya menghadap Laila, membuat jarak antara wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Laila? Kamu sengaja berpakaian seperti ini setiap kali menghadap saya. Kamu sengaja menonjolkan... semuanya. Kamu pikir saya tidak menyadarinya?"
Laila menatap langsung ke mata Diki dengan tatapan yang penuh dengan tantangan dan gairah. Ia mengangkat satu tangannya, lalu dengan sangat lambat, ujung jemarinya menelusuri tepi kerah baju dinas Diki.
"Saya hanya ingin tahu, sampai kapan Bapak yang terhormat ini akan terus bersembunyi di balik tumpukan kertasnya," bisik Laila. "Saya tahu bagaimana Bapak menatap saya saat rapat. Saya tahu Bapak sering memperhatikan saya dari jendela lantai dua saat saya baru turun dari mobil. Bapak menginginkan saya, Diki. Sama seperti saya menginginkan tangan Bapak menyentuh saya, bukan menyentuh berkas-berkas membosankan ini."
Diki merasa suhu di ruangan itu naik drastis. Keinginan yang selama ini ia tekan di bawah sadarnya kini mencuat ke permukaan. Ia melihat betapa indahnya bentuk dada Laila yang naik turun karena napas wanita itu yang mulai memburu. Keindahan yang begitu menonjol dan nyata di depan matanya.
"Ini berbahaya, Laila. Kita di kantor . Karir kita bisa hancur jika ada yang tahu," kata Diki, meskipun tangannya sudah mulai bergerak secara refleks menuju pinggang ramping Laila.
"Bahaya itulah yang membuatnya terasa lebih nikmat, bukan?" balas Laila sambil menarik tangan Diki untuk menyentuh kancing kemejanya yang paling atas. "Tidakkah Bapak ingin mencicipi apa yang selama ini Bapak bayangkan dalam mimpi-mimpi Bapak?"
Diki tidak bisa lagi menahan diri. Ia menarik pinggang Laila dengan kasar hingga tubuh wanita itu menempel sempurna pada tubuhnya. Ia bisa merasakan keempukan dada Laila yang menekan dadanya yang bidang. Laila mendesah pelan, sebuah suara yang memicu ledakan adrenalin dalam diri Diki.
Bersambung…….
Lanjutan Ceritanya KLIK DISINI
ns216.73.216.141da2


