Hari-hari setelah kejadian di MCK berlalu seperti mimpi buruk yang lambat bagi Anisa.
Awalnya ia masih optimis. Malam itu juga ia sudah mengirim pesan ke Rifky: [Rif, kamu kenapa kabur tadi? Ibu nggak marah kok. Besok ke rumah lagi ya, kita ngobrol.]
Tak ada balasan.
Besok paginya ia kirim lagi:
[Kamu baik-baik aja kan? Ibu khawatir.]
Masih hening.
Hari ketiga, ia coba telepon. Nada sambung berdering panjang, lalu masuk voicemail. Ia tak berani meninggalkan pesan suara, takut terdengar desperat, atau lebih buruk lagi, terdengar bersalah.
Anisa mulai gelisah. Ia mondar-mandir di rumah, sering melongok ke jendela depan setiap kali ada suara motor lewat, berharap itu Rifky. Tapi yang datang hanya tukang paket atau anak-anak tetangga yang main bola.
Pada hari kelima, ia tak tahan lagi. Ia pakai gamis dan jilbab paling rapi, berpura-pura mau silaturahmi, lalu berjalan ke rumah Rifky yang tak jauh dari rumahnya. Hatinya berdegup kencang sepanjang jalan.
Di teras rumah Rifky, ibunya, Bu Imah sedang menyapu halaman.
“Assalamu’alaikum, Bu Imah,” sapa Anisa dengan senyum yang dipaksakan.
“Wa’alaikumsalam, Bu Ustadzah Ani! Mau masuk? Kebetulan lagi sepi.”
“Eh, nggak usah, Bu. Cuma lewat, mau nanya… Rifky ada nggak ya? Mau nitip salam, kemarin saya minta tolong dia angkat beras, belum sempat bayar terima kasihnya.”
Bu Imah tersenyum ramah, tapi ada nada sedih di suaranya. “Wah, Rifky udah berangkat lagi ke pesantren, Bu Ustadzah. Tiga hari lalu malam-malam dia bilang mau cepet balik, katanya kangen ngaji sama kyai. Padahal baru dua minggu pulang. Anak itu kadang gitu, tiba-tiba kangen pesantren.”
Anisa merasa jantungnya jatuh ke perut. “O-oh… gitu ya, Bu. Ya sudah kalau begitu. Salam ya buat Rifky kalau nanti telepon.”
Sepanjang jalan pulang, kakinya terasa berat. Pikirannya berputar liar.
‘Dia kabur gara-gara aku.’ ‘Trauma kah?’ ‘Takut dosa kah?’
‘Atau… lebih parah lagi: dia cerita ke kyai? Ke orang tuanya? Ke Hafiz? Atau teman lainnya?’’
Rasa khawatir itu semakin menggerogoti. Malam-malam ia susah tidur. Ustadz Basri yang tidur di sebelahnya sering bertanya, “Kamu kenapa akhir-akhir ini gelisah terus, Bu?” Anisa hanya menjawab, “Capek aja, Pak. Banyak mikirin anak-anak.” Padahal anak-anaknya yang dari pernikahan sebelumnya jarang sekali ia pikirkan belakangan ini.
Beberapa kali ia hampir saja pergi ke rumah nenek Hafiz di kampung sebelah, cuma butuh naik angkot 15 menit. Ia ingin bertanya secara tak langsung: “Hafiz, kamu akhir-akhir ini ketemu Rifky nggak? Dia baik-baik aja kan?” Tapi setiap kali hampir melangkah ke luar rumah, ia mundur lagi.
‘Kalau Hafiz curiga kenapa aku tiba-tiba nanya soal Rifky?‘Dia pasti ingat kejadian di kamar mandi dan kamarnya dulu. Dia bisa saja menyambungkan titik-titiknya. Belum waktunya. Belum aman.’
Anisa semakin pendiam di rumah. Di depan tetangga ia tetap tersenyum manis, tetap dipanggil ‘Ustadzah Ani’, tetap menjawab salam dengan lembut. Tapi di dalam, ia seperti orang yang menunggu bom meledak tak tahu kapan, tapi yakin akan datang.
Ia sering duduk sendirian di kamar, memandang ponsel yang tak pernah berbunyi balasan dari Rifky. Kadang ia mengetik pesan panjang—meminta maaf, menawarkan penjelasan, bahkan mengancam halus agar Rifky tak cerita ke siapa-siapa—tapi selalu menghapusnya sebelum kirim.
Satu-satunya yang membuatnya sedikit tenang adalah bayangan bahwa Rifky, dengan sifat polos dan penurutnya, pasti juga sedang takut setengah mati. Anak pesantren seperti dia takkan mudah bicara pada orang lain soal dosa besar seperti ini. Paling-paling dia tobat sendirian, mengurung diri di pesantren, shalat tahajud setiap malam memohon ampun.
Tapi ketenangan itu rapuh.
Setiap kali ada motor berhenti di depan rumah, jantungnya berdegup kencang.
Setiap kali Ustadz Basri pulang dengan wajah serius, ia takut suaminya sudah dengar gosip.
Setiap kali melihat Hafiz dari kejauhan di masjid kampung, ia buru-buru menunduk, takut mata anak tirinya itu menuduh.
Anisa kini benar-benar galau berat, bukan lagi galau hasrat yang menggebu, tapi galau ketakutan akan akibat dari hasrat itu sendiri.
Dan di pesantren yang jauh di lereng gunung, Rifky memang sedang mengurung diri: lebih banyak diam, lebih sering tahajud, lebih jarang ikut ngobrol sama teman-temannya. Tapi di balik semua tobat itu, bayangan Anisa—tubuhnya, suaranya, kehangatannya—masih sering datang di mimpi malamnya, membuatnya bangun dengan dada sesak dan air mata menetes.
Sementara itu, di kampung yang tenang, waktu terus berjalan.
Dan Anisa hanya bisa menunggu, dengan harapan Rifky benar-benar menyimpan rahasia itu rapat-rapat… atau, di sudut hatinya yang paling gelap, dengan harapan suatu hari Rifky tak tahan lagi dan kembali mencarinya.
Malam itu, sekitar pukul sebelas, Ustadz Basri belum pulang dari pengajian di kampung sebelah, kadang biasanya suka menginap juga di rumah ibunya, sambil ngobrol-ngobeol dengan Hafiz. Dan ketika rumah sedang sunyi dan hanya suara jangkrik yang terdengar samar dari luar jendela, ponsel Anisa bergetar pelan di atas meja samping tempat tidur.
Ia sedang berbaring, mata terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap, masih memikirkan Rifky seperti biasa. Getaran itu membuatnya langsung duduk tegak. Jantungnya langsung berdegup kencang.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal, tanpa nama, tanpa foto profil.
[Saya tahu apa yang terjadi di MCK siang itu.]
Anisa menahan napas. Jarinya gemetar saat membuka pesan itu. Ia membacanya ulang tiga kali, seolah huruf-huruf itu bisa berubah jika dibaca berkali-kali. Tubuhnya dingin seketika, meski udara malam cukup gerah.
Ia langsung mengetik balasan dengan cepat:
[Siapa ini? Kamu salah orang. Tolong jangan kirim pesan lagi.]
Centang satu. Pesan terkirim, tapi tak dibaca.
Ia menunggu. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tak ada tanda centang biru. Anisa mencoba menelepon nomor itu, langsung masuk ke pesan otomatis: “Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”
Napasnya tersengal. Ia meletakkan ponsel, tapi tak sampai semenit kemudian ia mengambilnya lagi, membuka aplikasi chat, menyegarkan halaman berulang kali. Masih centang satu.
Malam itu ia tak tidur sama sekali. Ia mondar-mandir di kamar, sesekali duduk di sajadah, mencoba shalat sunnah tapi pikirannya tak bisa khusyuk. Setiap kali suara kecil terdengar, angin menggerakkan tirai, atau Ustadz Basri bergumam dalam tidurnya, ia langsung tersentak, takut suaminya terbangun dan bertanya.
Keesokan harinya, saat Anisa sedang mencuci piring di dapur sambil berusaha tampak biasa di depan suaminya, ponselnya bergetar lagi.
Pesan yang sama persis dari nomor yang sama:
[Saya tahu apa yang terjadi di MCK siang itu.]
Anisa menjatuhkan piring ke bak cuci. Suaranya pecah, tapi untung suaminya sudah berangkat ke sawah. Ia buru-buru mengambil ponsel, tangannya basah dan licin.
Ia balas lagi, kali ini lebih panik:
[Siapa kamu? Apa maksudmu? Ini tidak lucu! Jangan ganggu aku lagi!!]
Centang satu lagi. Tak dibaca.
Ia mencoba telpon—nomor tetap tak aktif.
Hari berikutnya, tepat tengah malam, ketika ia akhirnya tertidur sebentar karena kelelahan, ponsel bergetar keras di samping bantal.
[Saya tahu apa yang terjadi dan saya punya rekaman videonya.]
Kali ini dunia seolah berhenti berputar.
Anisa terduduk di lantai kamar, punggung bersandar ke dinding, ponsel masih digenggam erat sampai buku jarinya memutih. Air mata mengalir tanpa suara. Ia membaca pesan itu berulang-ulang, zoom in, zoom out, seolah mencari celah bahwa itu hanya mimpi atau hoax. Tapi huruf-hurufnya nyata, dingin, dan mengancam.
Ia membuka aplikasi panggilan, menekan nomor itu berkali-kali—selalu “tidak aktif”. Ia mencoba 69, mencoba cari tahu asal nomor lewat aplikasi pihak ketiga yang pernah ia download dulu, semuanya nihil. Nomor itu seperti hantu: muncul, mengirim teror, lalu menghilang.
Tangan Anisa gemetar hebat saat ia membuka chat lagi. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi:
[Tolong… apa yang kamu mau? Berapa? Aku bayar. Jangan sebarkan. Tolong…]
Ia tak berani kirim. Takut justru mengkonfirmasi bahwa ia memang bersalah. Ponselnya jatuh ke pangkuan. Ia memeluk lutut, tubuhnya bergoyang pelan seperti orang kedinginan.
Berikutnya adalah kegelapan batin yang lebih dalam. Setiap notifikasi kecil membuatnya tersentak, entah dari grup pengajian, dari bank, atau iklan. Ia langsung membuka, takut itu pesan baru dari nomor itu. Ia jadi sering salah taruh ponsel, lupa mengunci layar, sampai Ustadz Basri bertanya, “Kenapa HP-mu selalu di tangan akhir-akhir ini, Bu?”
Anisa hanya tersenyum paksa. “Biasa, Pak. Nunggu kabar dari saudara.”
Di dalam, ia seperti binatang yang terperangkap. Pikirannya berputar liar: Siapa orang ini? Anak kampung? Hafiz? Atau… Rifky sendiri yang balas dendam dengan cara aneh? Atau orang yang kebetulan lewat dan merekam dari celah pintu MCK? Apakah benar ada video? Bagaimana bisa? Pintunya kan tertutup… atau mereka memvideokan dari tempat Rifky mengintip.
Malam-malam ia tak lagi shalat di tempat tidur. Ia pindah ke ruang shalat kecil di belakang rumah, duduk bersila di lantai, kepala tertunduk, tangan menutup wajah.
Anisa, dengan gamis yang sudah kusut, duduk di lantai sajadah, tangan memeluk kepala, bahu bergetar menahan isak. Ia berbisik sendiri, “Ya Allah… ampuni hamba… jangan biarkan rahasia ini terbongkar… hamba tak sanggup…”
Ketakutan itu sudah bukan lagi galau biasa. Ia teror mental yang sesungguhnya, setiap detik menunggu bom waktu meledak, setiap detik bertanya-tanya apakah besok pagi tetangga akan menatapnya berbeda, apakah Ustadz Basri akan tahu, apakah anak-anaknya akan malu, apakah ia akan kehilangan segalanya yang selama ini ia jaga dengan rapi di balik image ustadzah yang sempurna.
Dan di balik semua itu, di sudut hati yang paling gelap, masih ada bisikan kecil, ‘Kalau video itu benar ada… mungkin Rifky juga akan kembali… karena tak ada lagi rahasia yang perlu disembunyikan.’
Tapi bisikan itu cepat ia tepis, digantikan tangis yang semakin dalam.
Anisa tak bisa lagi menahan rasa panik yang menggerogoti setiap hembus napasnya. Sudah tiga hari sejak pesan terakhir itu datang,
[Saya tahu apa yang terjadi dan saya punya rekaman videonya.] dan nomor itu tetap seperti hantu: muncul sesekali, mengirim satu kalimat dingin, lalu menghilang begitu saja saat dibalas atau ditelepon. Nomor tak aktif, tak terlacak, tapi pesannya terasa nyata, menusuk.
^*^
ns216.73.216.147da2


