Perlahan, sangat pelan, Anisa menurunkan pinggulnya. Ujung penis Rifky mulai menyelinap masuk, membelah dinding yang lembab dan panas itu. Sensasi pertama itu… mengjutkan. Bagi Rifky, seperti disambar petir nikmat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hangat, ketat, licin, dan menyedotnya masuk lebih dalam.
“Aaahhh… Buuu… Ustadzaaaaah….” Rifky menjerit kecil, kepalanya terdongak ke belakang hingga membentur dinding pelan. Matanya terbelalak lebar, napasnya terhenti sejenak. Tubuhnya gemetar lebih hebat, otot-otot lengannya menonjol karena menahan sensasi yang terlalu kuat untuk seorang perjaka yang baru pertama kali ini.
Anisa sendiri mendesah panjang, merasakan penis muda yang keras dan tebal itu memenuhinya sedikit demi sedikit. “Masya Allah… besar banget punya kamu, Rif… enak sekali…” gumamnya, suaranya bergetar karena nikmat. Ia berhenti sejenak saat separuh masuk, memberi waktu bagi Rifky untuk menyesuaikan diri.
Rifky tak bisa bicara. Hanya napas tersengal dan desahan kecil yang keluar dari bibirnya yang menggigit kuat. Di dalam kepalanya, ribuan pikiran berputar kencang: ‘Ini… ini beneran terjadi? Aku lagi di dalam tubuh Bu Ustadzah? Hangat banget… ketat banget… enak banget… Tapi ini dosa… dosa besar…’
Rasa bersalah masih menusuk, tapi sensasi fisik itu terlalu kuat, terlalu mendebarkan, hingga ia tak bisa lagi melawan.
Anisa mulai bergerak lagi, turun lebih dalam, hingga seluruh penis Rifky tertelan habis di dalam vaginanya. Saat itulah puncak kejutan Rifky: ia merasakan dasar yang hangat menyentuh ujungnya, dinding-dinding yang berdenyut memeluknya erat dari segala sisi.
“Ya Allah… Bu… aku… aku nggak tahan…” Rifky memeluk pinggang Anisa erat-erat, wajahnya bersembunyi di dada wanita itu, napasnya panas membakar kulit Anisa. Tubuhnya bergetar hebat, seperti orang yang kedinginan tapi sebenarnya kepanasan luar biasa.
Anisa memeluk kepala Rifky, membiarkan anak muda itu menghisap putingnya tanpa sadar, refleks karena terlalu overwhelmed.
“Sshh… pelan-pelan, Rif… Ibu gerak dulu ya… kamu nikmati aja…” Ia mulai menggoyang pinggulnya pelan, naik-turun dengan ritme lembut, membimbing Rifky masuk lebih dalam ke dunia yang selama ini hanya ia mimpi basahkan di kamar pesantren.
Setiap gerakan Anisa membuat Rifky mendesah lebih keras, tubuhnya mengejang-ngejang. Penetrasi awal itu benar-benar mengjutkan baginya—dari perjaka polos yang bahkan tak pernah berciuman, kini ia berada di dalam tubuh wanita dewasa yang penuh pengalaman, yang memandu setiap detiknya dengan sabar dan penuh hasrat.
Dan di tengah semua itu, konflik batinnya masih bergema pelan: *Ini enak banget… tapi aku sudah jatuh… Ya Allah, ampuni hamba…* Tapi suara itu semakin kecil, tertutup oleh desahan dan gerakan Anisa yang semakin cepat, membawa Rifky ke puncak pertama yang tak akan pernah ia lupakan.
Dalam posisi Anisa mengangkang di pangkuan Rifky, gerakan pinggulnya semakin cepat, naik-turun dengan ritme yang terukur, dinding vaginanya memeluk erat penis Rifky yang sudah tak lagi terkendali. Setiap dorongan membuat Rifky mendesah lebih keras, tubuhnya mengejang-ngejang seperti orang yang kehabisan napas.
“Bu… aku… aku mau…” gumamnya lirih, suaranya nyaris pecah. Matanya terpejam rapat, tangannya mencengkeram pinggul Anisa erat-erat hingga meninggalkan bekas merah. Anisa tersenyum penuh kemenangan, mempercepat gerakannya lagi, pinggulnya berputar kecil untuk menambah sensasi.
“Keluarin aja di dalam, Rif… Ibu aman kok…” bisik Anisa di telinga Rifky, suaranya manja dan penuh hasrat.
Dan itulah pemicunya.
Tubuh Rifky mengejang hebat, punggungnya melengkung, kepalanya terdongak hingga membentur dinding bata dengan pelan. Penisnya berdenyut-denyut keras di dalam Anisa, menyemprotkan cairan panas berkali-kali dalam ledakan yang terlalu kuat untuk ditahan.
“Aaaaaalllaaaaah….!” Rifky menjerit kecil, suara yang tertahan di tenggorokan, campuran antara nikmat luar biasa dan kejutan atas apa yang baru saja terjadi.
“Aaahhh… Buuuu…!” desahnya panjang, tubuhnya bergetar seperti orang kesurupan. Ini klimaks pertamanya, bukan dari tangan sendiri di kamar mandi pesantren, tapi dari dalam tubuh wanita sungguhan, wanita yang selama ini ia hormati sebagai ‘Bu Ustadzah.’
Anisa memeluknya erat, merasakan setiap denyutan itu dengan puas. Ia menggoyang pinggulnya pelan lagi, memeras sisa-sisa kenikmatan Rifky hingga anak muda itu ambruk lemas di pelukannya, napasnya tersengal-sengal seperti habis berlari jauh.
Beberapa detik berlalu dalam diam, hanya suara air yang menetes dari dinding dan napas mereka yang perlahan tenang.
Tiba-tiba, mata Rifky terbuka lebar.
“Astagfirullah!” serunya keras. Kesadaran datang seperti tamparan keras.
‘Ya ALLAH APA YANG BARU SAJA AKU LAKUKAN?’ terikanya dalam hati.
Wajahnya langsung pucat. Rasa nikmat yang tadi membakar seluruh tubuhnya kini lenyap seketika, digantikan oleh gelombang rasa bersalah yang jauh lebih besar. Ia baru saja berzina. Dengan istri ustadz. Dengan ibu tiri sahabatnya sendiri. Di MCK umum. Di hari yang seharusnya ia pakai untuk shalat Dhuha atau mengaji.
Tubuhnya bergerak refleks. Ia mendorong Anisa pelan tapi tegas, membuat wanita itu terkejut dan hampir terjatuh ke belakang.
“Rifky, kamu kenapa—” Anisa mencoba meraih lengannya, tapi Rifky sudah bangkit dengan panik, kakinya tergelincir di lantai basah.
“Maaf, Bu… maaf… aku… aku nggak bisa…” gumamnya cepat, suaranya bergetar hebat. Matanya tak berani menatap Anisa lagi. Ia bergegas mencari kain sarungnya yang tergeletak basah kuyup di sudut bilik, meraihnya dengan tangan gemetar, lalu melilitkannya di pinggang dengan buru-buru, ikatannya pun tak rapi, hampir lepas lagi.
“Rifky, tunggu! Kita belum selesai… kamu nggak usah takut, ini rahasia kita—” Anisa bangkit, mencoba mendekat, tangannya terulur ingin menahan. Tubuhnya masih telanjang, air dan cairan Rifky menetes dari belahan pahanya, tapi Rifky tak lagi melihat itu sebagai godaan, melainkan sebagai bukti dosa yang baru saja ia lakukan.
“Jangan, Bu! Aku… aku harus pulang!” suara Rifky nyaris berteriak, tapi tertahan karena takut ada orang mendengar. Ia menyingkirkan tangan Anisa, lalu bergegas ke pintu, menyingkap pintu usang itu dengan kasar dan melangkah keluar.
“Rifky!” panggil Anisa lagi, suaranya kini campur antara kesal dan kecewa. Tapi Rifky tak menoleh lagi.
Begitu keluar dari MCK, udara pagi yang segar menyapa wajahnya, tapi terasa seperti cambuk. Ia mulai berlari kecil, lalu semakin cepat, setengah berlari menyusuri jalan setapak menuju kampung. Kakinya terasa berat, sarung basahnya menempel dingin di kulit, tapi ia tak peduli. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena hasrat, tapi karena rasa takut yang mencekik: takut ketahuan, takut dosanya terbongkar, takut menghadap Allah nanti.
‘Ya Allah… ampuni hamba… hamba khilaf… hamba baru saja berzina…’ Doanya berulang-ulang dalam hati, tapi air mata sudah menggenang di sudut matanya. Ia merasa ada sesuatu yang mengejarnya dari belakang—bukan Anisa, bukan orang kampung, tapi rasa bersalah itu sendiri, seperti bayangan hitam yang tak bisa ia tinggalkan.
Sampai di rumahnya yang kecil di ujung kampung, Rifky langsung masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu ambruk di atas sajadah. Tubuhnya masih gemetar. Ia duduk memeluk lutut, menangis tanpa suara.
Di belakangnya, MCK kecil itu kini sunyi kembali. Anisa, masih di dalam, hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan.
“Kabur ya kamu… tapi besok kamu pasti balik lagi,” gumamnya sendirian, sambil mulai mengenakan pakaiannya kembali dengan tenang.
Anisa berdiri sendirian di tengah genangan air yang mulai mengering. Pintu masih bergoyang pelan bekas kepergian Rifky yang tergesa. Napasnya masih berat, tubuhnya panas, dan hasrat yang tadi hampir mencapai puncak kini menggantung begitu saja—meninggalkan rasa gelisah yang menyiksa.
“Ish… bocah satu itu,” gumamnya kesal sekaligus gemas, bibirnya manyun. “Baru masuk sudah keluar. Kabur pula.”
Ia melirik ke arah pintu, memastikan tak ada siapa-siapa, lalu bersandar ke dinding bata yang dingin. Tangan kanannya tanpa ragu turun ke selangkangan yang masih basah, campuran antara air mandi, cairan sendiri, dan sisa-sisa Rifky yang hangat. Jemarinya mulai bergerak pelan, melingkar di klitoris yang sudah bengkak karena rangsangan tadi, sementara tangan kirinya meremas payudara sendiri dengan kasar.
Bayangan Rifky yang gemetar, wajah polosnya yang memerah, penis mudanya yang keras dan tebal itu, kembali memenuhi pikirannya. Ia mempercepat gerakan jemarinya, dua jari masuk ke dalam, mengocok ritme yang sama seperti saat Rifky di dalamnya tadi. Desahannya kini tak lagi ditahan, ruang sepi itu menjadi saksi bisik manja yang keluar dari bibirnya.
“Aah… Rifky… kontol kamu enak banget… besar… keras… aaahh…”
Tak butuh lama. Dalam beberapa menit, tubuhnya mengejang hebat. Pinggulnya terangkat sendiri, cairan hangat menyemprot ke lantai beton saat orgasme yang ditunda akhirnya meledak. Anisa meringis nikmat, kepalanya terdongak, napas tersengal panjang hingga dadanya naik-turun cepat.
Setelah beberapa saat, ia tersenyum puas. Rasa lega menyebar ke seluruh tubuh. Ia mengambil gayung terakhir, membasuh dirinya sekilas agar tak terlalu lengket, lalu mulai berpakaian dengan tenang: daster tipis dulu, lalu gamis, dan terakhir jilbab yang disemat rapi kembali.
Sambil mengikat jilbab di depan cermin kecil yang retak di sudut bilik, pikirannya sudah melayang jauh.
“Aku suka sama kamu, Rifky,” gumamnya pada bayangan sendiri di cermin. “Wajahmu tampan, badanmu kekar, dan… astaga, kontolmu juga… beda banget sama Hafiz. Lebih tebal, lebih panjang sedikit, dan kerasnya… Masya Allah.” Ia terkekeh kecil, pipinya bersemu merah mengingat sensasi tadi.
“Punya Hafiz lebih ramping, lebih… artistik gitu. Tapi kamu, Rifky, lebih buas meski masih polos.”
Ia mengemas tas kreseknya, lalu melangkah keluar dari MCK dengan langkah ringan, seolah tak ada apa-apa.
Matahari sudah naik lebih tinggi, kampung masih sepi. Sepanjang jalan pulang menyusuri setapak kecil, sejuta rencana berputar di kepalanya.
“Aku harus ajari dia pelan-pelan. Jangan buru-buru. Biar dia nyaman dulu. Besok aku suruh ke rumah lagi, alasan bantu angkat beras atau apa gitu. Terus kuajak ke kamar belakang, bilang mau istirahat sebentar. Pasti dia grogi lagi, tapi aku yang pegang kendali. Aku ajarin posisi yang bikin dia tahan lama, ajarin cara gerak, cara sentuh biar wanitanya puas. Dia masih perjaka, mudah dibentuk.”
Anisa tersenyum lebar sendiri di bawah jilbabnya.
“Dan kalau Rifky sudah benar-benar takluk, sudah ketagihan, sudah tak bisa lepas dariku, maka Hafiz… ah, Hafiz pasti jauh lebih mudah. Bocah itu sudah pernah kujajal godanya, dia cuma pura-pura kuat nolak. Kalau dia tahu sahabatnya sendiri sudah “belajar” sama aku, rasa penasaran dan cemburunya pasti meledak. Aku tinggal bisik-bisik sedikit, kasih lihat sedikit, dia pasti luluh juga.”
Sampai di rumah, Anisa masuk lewat pintu belakang, langsung ke kamar. Ia berdiri di depan cermin besar, membuka jilbab sebentar, merapikan rambut, lalu tersenyum pada pantulannya.
“Tunggu saja, kalian berdua. Aku akan buat kalian berdua jadi laki-laki sejati… milikku selamanya, budak nafsuku dan tentu saja teman-temanmu juga akan dapat jatahnya, heheheh…..”
Di luar, angin siang mulai bertiup, membawa aroma padi muda dari sawah. Kampung tetap tenang seperti biasa. Tapi di balik ketenangan itu, hasrat Anisa semakin membara, dan rencana liciknya baru saja dimulai.
^*^
ns216.73.216.147da2


