Pagi itu, setelah Ustadz Basri berangkat mengajar ngaji di masjid kampung sebelah, Anisa mengunci pintu kamar. Ia duduk di lantai, ponsel di pangkuan, tangan gemetar membuka browser. Jarinya mengetik cepat di kolom pencarian: “cara melacak nomor HP pengirim pesan anonim Indonesia”.
Hasil pertama yang muncul adalah Truecaller. Ia langsung download aplikasinya dari Play Store, meski jantungnya berdegup kencang takut aplikasi itu justru mencuri data dirinya. Setelah install, ia memasukkan nomor misterius itu—lengkap dengan +62 di depan. Aplikasi berputar sebentar, lalu muncul pesan: “No information found” atau hanya nama operator dan lokasi registrasi umum: Jakarta atau sekitarnya. Tidak ada nama, tidak ada tag dari pengguna lain. Hampa.
Ia coba aplikasi lain yang sering disebut-sebut di forum-forum: GetContact. Download lagi. Masukkan nomor. Kali ini muncul beberapa tag samar dari pengguna lain—kebanyakan “Penipu”, “Sales”, atau “Unknown”—tapi tak ada yang spesifik. Tak ada nama asli. Hanya tag generik yang tak membantu.
Anisa semakin kalut. Ia buka situs-situs seperti Kredibel atau WhoCalls dari Kaspersky, memasukkan nomor yang sama. Hasilnya sama: operator Telkomsel atau XL (sulit dipastikan karena nomor prabayar), wilayah Jawa Barat, dan status “tidak terdaftar sebagai spam resmi”. Tapi tak ada identitas pemilik.
Ia ingat satu metode yang pernah dibaca di artikel lama: menggunakan WhatsApp Web untuk melacak IP. Dengan tangan bergetar, ia buka laptop tua milik suaminya yang jarang dipakai, login WhatsApp Web, lalu membuka chat dengan nomor itu, meski pesan terakhir tak dibaca. Ia buka Command Prompt di laptop, ketik “netstat -an”, mencari koneksi terkait WhatsApp. Tapi nihil. Nomor itu tak pernah online saat ia coba. Tak ada IP yang muncul.
“Ya Allah… ini pasti orang yang pintar,” gumamnya sendiri, air mata menetes lagi.
Malam harinya, ketika rumah sudah sepi, Anisa nekat mencari cara lain. Ia buka Google lagi, kali ini ketik: “melacak nomor HP tidak aktif Indonesia”. Hasilnya mengecewakan. Hampir semua artikel bilang sulit—bahkan mustahil—bagi orang biasa. Hanya polisi atau operator seluler dengan surat resmi yang bisa mengakses data NIK pemilik kartu prabayar. Dan operator tak akan memberi info tanpa proses hukum.
Ia hampir menyerah, tapi tiba-tiba ingat sesuatu: dulu pernah mendengar ada jasa “detektif online” atau orang yang bisa melacak nomor dengan bayaran. Di grup Telegram atau Facebook, katanya ada yang menawarkan layanan itu. Tapi Anisa langsung menggeleng sendiri.
“Tidak… kalau sampai ketahuan, malah tambah runyam. Bisa-bisa orang itu malah minta lebih banyak uang, atau sebarkan video itu.”
Ia kembali ke kamar, duduk di sajadah, tapi tak bisa shalat. Pikirannya penuh bayangan: siapa orang ini? Apakah benar ada video? Kalau ada, dari mana? Dari celah jendela MCK? Atau… Rifky yang merekam diam-diam? Pikiran itu membuatnya mual.
Tiba-tiba ponsel bergetar lagi.
Pesan baru dari nomor yang sama:
[Jangan coba-coba cari tahu siapa aku. Lebih baik kamu diam dan tunggu instruksi selanjutnya. Kalau kamu cerita ke siapa pun, video ini langsung tersebar ke grup pengajian kampung besok pagi.]
Anisa menjerit pelan, menutup mulutnya sendiri agar tak membangunkan suami. Ponselnya jatuh ke lantai. Ia merangkak ke sudut kamar, memeluk lutut, tubuhnya berguncang hebat.
Ia tak lagi berani membalas. Tak lagi berani mencari tahu. Satu-satunya yang ia lakukan adalah mematikan ponsel, lalu menyembunyikannya di dalam lemari baju, di antara tumpukan gamis yang jarang dipakai.
Tapi ketakutan itu tak hilang. Malah semakin dalam.
Kini, setiap kali ada orang mengetuk pintu, setiap kali ada panggilan dari nomor tak dikenal, setiap kali ia melihat Hafiz atau Rifky dalam mimpi, Anisa hanya bisa berbisik dalam hati: “Sudah… cukup… hentikan… aku tak sanggup lagi…”
Dan di balik semua teror itu, rahasia di MCK semakin terasa seperti belati yang tertancap di dadanya, semakin ia coba cabut, semakin dalam menusuk.
Seminggu berlalu seperti kabut tebal yang menyelimuti seluruh hidup Anisa. Ponselnya kini tergeletak mati di dalam laci paling bawah lemari baju, dibungkus kain lap lama, seolah-olah dengan menyembunyikannya ia bisa menyembunyikan dosa itu juga.
Baterai sudah dikosongkan, SIM card dicabut dan disembunyikan di tempat lain, di antara tumpukan Al-Qur'an kecil yang jarang disentuh. Setiap kali ada yang bertanya, “Bu Ustadzah Ani, kok HP-nya mati terus? Kok nggak bisa dihubungi?”, ia hanya tersenyum tipis, menggeleng pelan, dan menjawab dengan suara yang dibuat-buat tenang:
“Rusak, Bu. Layarnya pecah kemarin pas jatuh. Masih nunggu dibenerin.”
Tak ada yang curiga. Ustadz Basri pun hanya mengangguk, “Nanti Abi antar ke tukang servis kalau sudah ada waktu.” Anisa hanya mengiyakan, tapi dalam hati ia tahu: ponsel itu tak akan pernah dibawa ke tukang servis. Ia tak mau lagi membuka aplikasi apa pun, tak mau lagi melihat notifikasi apa pun. Lebih baik tak tahu kapan bom itu meledak.
Ia mulai menghindari dunia maya sepenuhnya. Lebih sering menerima tamu di rumah, tetangga yang mampir pinjam gula, ibu-ibu yang datang ngobrol sambil ngupas bawang, atau anak-anak yang main di teras. Di depan mereka ia tetap Ustadzah Anisa yang ramah, yang selalu menyuguhkan teh hangat dan senyum lembut.
Tapi matanya selalu menghindari kontak lama. Ia takut mereka membaca sesuatu di balik tatapannya—takut mereka sudah tahu. Lambat laun, pikirannya mulai pasrah. Bukan pasrah yang damai seperti orang yang tawakal, tapi pasrah yang lelah, yang sudah kehabisan tenaga melawan.
Di malam-malam sunyi, ketika Ustadz Basri sudah mendengkur pelan di sebelahnya, Anisa sering terjaga menatap kegelapan. Ia sudah membayangkan skenario terburuk: video itu tersebar di grup WA pengajian, di status WA tetangga, bahkan mungkin sampai ke grup keluarga besar.
Ia sudah membayangkan tatapan sinis Bu RT, bisik-bisik di belakang masjid, anak-anaknya yang datang dengan mata sembab karena diejek teman. Ia sudah membayangkan Ustadz Basri duduk di ruang tamu dengan wajah pucat, berkata pelan, “Kita cerai saja, Bu.”
Dan anehnya, setelah semua bayangan itu, ia tak lagi menangis histeris. Hanya air mata diam yang mengalir pelan ke bantal. Ia sudah memikirkan jalan keluar: kalau memang harus bercerai, ia akan pulang ke rumah orang tuanya di kampung, meski sudah bertahun-tahun tak pulang. Ia akan minta maaf pada anak-anaknya yang sudah dewasa dari pernikahan sebelumnya, akan bilang bahwa ibu mereka memang manusia biasa yang jatuh.
Ia bahkan sudah membayangkan hidup baru: tinggal di rumah sederhana, mengajar ngaji anak-anak kampung secara gratis, mencari nafkah dengan menjahit atau jualan kue. Tak lagi ustadzah terpandang, tapi cukup hidup tenang dengan dosa yang sudah terbongkar.
Di pengajian mingguan, Anisa kini lebih banyak diam. Dulu ia yang paling aktif bertanya, memberikan tafsir, atau sekadar menimpali dengan “Betul sekali, Mbak”.
Kini ia duduk di pojok, tangan memegang buku kecil, mata tertunduk. Ketika diminta membaca ayat, suaranya pelan, hampir bergetar. Tetangga mulai bertanya-tanya, “Ustadzah Ani kok akhir-akhir ini pendiam ya? Sakit?”
Ia hanya tersenyum tipis, “Capek aja, Bu. Banyak pemikiran.”
Ia merasa semua orang sudah tahu. Setiap kali ada yang menatapnya lebih lama dari biasa, setiap kali ada jeda canggung dalam obrolan, setiap kali ada yang tiba-tiba diam saat ia masuk ruangan, Anisa yakin: mereka sudah tahu. Aibnya sudah menyebar seperti asap, meski belum ada yang berani bicara langsung.
Pernah sekali, di tengah malam, ia hampir saja mengambil tas kecil, memasukkan beberapa baju, Al-Qur'an, dan sedikit uang tabungan. Ia membayangkan naik angkot subuh-subuh ke terminal, lalu naik bus ke kota lain—entah ke mana, asal jauh dari kampung ini.
Jauh dari tatapan, jauh dari ancaman, jauh dari Rifky yang mungkin juga sedang tersiksa di pesantrennya. Tapi setiap kali tangannya menyentuh gagang pintu, ia selalu mundur. “Ke mana? Lari dari dosa? Dosa itu ikut di dalam hati,” gumamnya pada diri sendiri. Ia kembali ke kamar, menangis tanpa suara, dan memeluk bantal sampai pagi.
Pagi-pagi, ketika matahari mulai menyelinap lewat celah jendela, Anisa bangun dengan tubuh lelah tapi pikiran yang sedikit lebih jernih. Ia sudah tak lagi berharap keajaiban. Tak lagi berharap pesan itu hanya gertak sambal. Ia sudah siap, atau setidaknya ia meyakinkan diri bahwa ia siap, menerima apa pun yang akan datang.
Tapi di sudut hati yang paling dalam, masih ada secercah harapan kecil yang tak pernah ia akui: kalau memang video itu ada, kalau memang rahasia ini terbongkar… mungkin Rifky akan datang. Mungkin anak itu akan muncul di depan pintu, dengan mata merah karena menangis, dan berkata, “Bu… aku juga tak bisa lupain. Kita tanggung bareng.”
Harapan itu konyol. Bodoh. Tapi tetap ada.
Dan Anisa hanya bisa menunggu, dengan pasrah yang semakin dalam, dengan hati yang semakin rapuh, menanti hari ketika semua ini benar-benar meledak. Atau, dengan keajaiban kecil yang tak pernah ia harapkan lagi, hari ketika semuanya ternyata hanya mimpi buruk yang panjang.
^*^
ns216.73.216.147da2


