Rifky membeku. Napasnya terhenti di tenggorokan. Tubuhnya seperti dipaku di tempatnya berdiri di atas batu lumut itu. Matanya tak bisa lagi berpaling, terpaku pada wajah Anisa yang kini tersenyum tipis, penuh kemenangan. Senyum yang bukan marah, bukan terkejut, tapi justru… mengundang.
Anisa tidak menjerit. Tidak menutupi tubuhnya. Malah ia mengangkat tangan kanannya pelan, telapak terbuka, jemari bergerak kecil memanggil, seperti memanggil anak kecil yang nakal tapi disayangi.
“Rif…” panggilnya lirih, suaranya lembut tapi tegas, terbawa angin hingga sampai ke telinga Rifky. “Masuk sini. Ibu nggak marah, kok.”
Rifky masih tak bergerak. Wajahnya memerah hebat, keringat dingin bercucur di pelipis meski udara pagi sejuk. Tangan kanannya yang tadi berada di dalam sarung kini tergantung kaku di sisi tubuh. Penisnya masih tegang, tapi kini rasa takut dan malu bercampur jadi satu.
Anisa mengulang lagi, kali ini suaranya lebih manja. “Ayo, Rif… di luar dingin. Masuk dulu. Ibu janji nggak bilang siapa-siapa.”
Rifky menoleh kanan-kiri dengan cepat, memastikan tak ada satu pun orang di sekitar MCK. Sawah masih kosong, sungai mengalir tenang, hanya burung-burung yang berkicau jauh di pohon jati. Kampung benar-benar sepi siang itu.
Dengan tubuh gemetar hebat, ia turun dari batu itu. Kakinya terasa lemas, hampir tersandung semak kecil. Ia berjalan mengitari bangunan MCK, melewati pintu depan MCk berupa tripleks dan karung beras yang sedikit usang. Tangan kanannya ragu-ragu menyentuh kain itu, lalu dengan napas tertahan, ia menyingkapnya pelan dan melangkah masuk.
Anisa sudah menunggu di dalam bilik, berdiri di tengah genangan air, telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Rambut basahnya menempel di bahu dan dada, air masih menetes dari ujung putingnya yang mengeras karena dingin… atau karena hasrat.
Rifky berdiri di ambang bilik, tak berani melangkah lebih jauh. Matanya menunduk ke lantai, tapi sesekali melirik ke atas—ke tubuh Anisa yang kini begitu dekat, begitu nyata.
“Tutup pintunya, Rif, kunci sekalian,” bisik Anisa lembut. “Biar aman.”
Dengan tangan gemetar, Rifky menarik pintu usang itu dan menguncinya hingga menutup rapat. Kini mereka benar-benar berdua saja di dalam ruang sempit yang basah dan beruap.
Anisa melangkah mendekat satu langkah. Air di kakinya berdesir pelan. “Kamu sudah lama di belakang sana ya?” tanyanya, suaranya penuh godaan. “Ibu tahu kok dari tadi. Napas kamu keras banget.”
Rifky tak bisa menjawab. Hanya mengangguk kecil, wajahnya panas membara.
Anisa tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. Ia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Rifky yang kaku. “Jangan takut. Ibu nggak akan bilang ke siapa-siapa. Hafiz pun nggak akan tahu. Ini… rahasia kita berdua.”
Jemari Anisa turun pelan ke pergelangan tangan Rifky, lalu menariknya lembut hingga remaja kelas dua SMA itu melangkah masuk lebih dalam. Kini jarak mereka tinggal setengah meter. Aroma sabun murah dan tubuh basah Anisa memenuhi hidung Rifky.
“Kamu mau lihat lebih dekat, kan?” bisik Anisa lagi, suaranya hampir seperti desahan. Tangan kirinya kini naik ke dada sendiri, memijat pelan payudaranya yang basah, seolah memperagakan apa yang tadi dilihat Rifky dari kejauhan.
Rifky menelan ludah keras. Tubuhnya gemetar lebih hebat, tapi kali ini bukan hanya karena takut, melainkan karena hasrat yang sudah tak bisa lagi ditahan.
Anisa tahu. Ia tahu saat ini Rifky sudah tak bisa mundur lagi.
Ia menarik tangan Rifky lebih kuat, meletakkannya di pinggangnya yang basah. Kulit Anisa hangat meski air dingin baru saja membasahinya.
“Sini… pegang Ibu. Kamu mau kan, dari kemarin?”
Rifky tak lagi bicara. Napasnya saja sudah tersengal. Tangan kanannya, dengan ragu tapi tak bisa menolak, mulai bergerak pelan di pinggang Anisa, merasakan kelembutan kulit yang selama ini hanya ia bayangkan.
Di luar, angin pagi masih bertiup pelan. Sungai mengalir tenang. Kampung tetap sepi. Tapi di dalam MCK kecil di ujung kampung itu, batas antara santri polos dan hasrat terlarang seorang istri Ustadz akhirnya runtuh sepenuhnya.
Bilik MCK yang lembab dan sempit, terasa semakin berat bagi Rifky. Tubuhnya masih kaku, seperti patung kayu yang dipaksa bergerak oleh tangan Anisa yang hangat dan tegas. Tangan kirinya kini meremas payudara Anisa dengan ragu-ragu, pertama hanya menyentuh kulit basah itu, lalu memijat pelan, mengikuti panduan jemari Anisa yang menuntunnya.
Sensasi kelembutan dan kehangatan itu membuat darahnya berdesir, tapi di saat yang sama, hati kecilnya berteriak keras, ‘Ini dosa besar, Rifky! Kamu santri, hafal banyak ayat-ayat, tapi sekarang apa ini?’
Konflik batin Rifky seperti badai yang tak henti-hentinya. Sebagai anak pesantren sejak kecil, ia dibesarkan dengan nasihat kiai yang tegas: "Jaga pandangan, jaga hati, jaga anggota tubuh dari yang haram."
Ia ingat betul bagaimana ia selalu menghindar dari obrolan mesum teman-temannya di sawah, bagaimana ia memilih membaca wirid daripada melirik gadis kampung yang lewat.
Pacaran? Belum pernah.
Ciuman? Hanya dalam mimpi buruk yang membuatnya bangun dengan istighfar berulang.
Tapi sekarang, di depannya ada Bu Ustadzah Anisa, istri Ustadz Basri, ibu tiri sahabatnya sendiri, telanjang bulat, basah kuyup, dan mengundangnya dengan senyum yang seolah menjanjikan surga duniawi.
‘Ya Allah, kenapa aku nggak lari?’ gumamnya dalam hati, matanya sesekali menutup rapat seolah ingin menghapus pemandangan itu. Tapi tubuhnya tak patuh. Penisnya yang sudah tegang sejak mengintip tadi kini berdenyut lebih keras, menekan kain sarung hingga terasa sakit.
Rasa penasaran itu seperti racun yang merembes pelan. ‘Hanya sekali ini, kan? Bu Ustadzah yang mulai duluan. Aku cuma... penasaran. Hafiz nggak akan tahu. Kyai juga nggak akan tahu. Semua santri dan warga kampung juga ngak akan tahu.’ Ia mencoba membenarkan diri, tapi rasa bersalah langsung menyergap kembali: ‘Ini zina mata, zina tangan, zina hati! Gimana nanti aku shalat? Gimana aku menghadap Allah?’
Anisa, yang peka akan kegelisahan itu, mendekat lebih lagi. Dada mereka kini bersentuhan, putingnya yang keras menggesek dada telanjang Rifky.
"Sshh... jangan takut, Rif," bisiknya di telinga anak muda itu, suaranya seperti hembusan angin yang menenangkan tapi sekaligus membakar.
Tangan Anisa turun ke sarung Rifky, membuka ikatannya pelan hingga kain itu jatuh ke lantai basah. Penis Rifky mencuat bebas, panjang dan tegang, membuat Anisa tersenyum puas. Ia menggenggamnya lembut, mengocok pelan, gerakan yang membuat Rifky mendesah tanpa sadar, tubuhnya gemetar hebat.
"Aduh... Bu... ini... salah..." gumam Rifky lagi, suaranya nyaris menangis. Tapi tangannya tak lagi kaku; ia meremas payudara Anisa lebih kuat, jempolnya menyentuh puting yang mengeras itu, membuat Anisa mendesah kecil.
Konfliknya semakin dalam: di satu sisi, hasrat muda yang selama ini ia tekan, hasrat yang muncul dari mimpi basah malam-malam di pesantren, dari cerita teman yang diam-diam ia dengar, kini meledak. Rasanya enak, terlalu enak untuk ditolak.
Di sisi lain, bayangan ayahnya yang keras mendidik agama, wajah Hafiz yang polos dan setia sebagai sahabat, membuat dadanya sesak. ‘Aku khianati Pak Ustadz Basri? Hafiz? Dia sahabatku sejak kecil, main bola bareng, shalat bareng. Kalau dia tahu, aku apa? Pengkhianat?’
Tapi Anisa tak memberi waktu untuk berpikir lebih jauh. Ia mendorong Rifky ke dinding, berlutut pelan di depannya, mulutnya mendekat ke penis yang berdenyut itu. "Biarkan Ibu yang urus, Rif. Kamu santai aja. Ini... hadiah buat kamu yang baik."
Bibirnya menyentuh ujungnya, lidahnya berputar pelan, sensasi yang membuat Rifky menjerit kecil, tangannya mencengkeram rambut basah Anisa.
Rifky menyerah total. Matanya terpejam, tubuhnya menurut pada setiap sentuhan. Tapi di dalam hatinya, konflik itu tetap bergolak: Ini nikmat, tapi besok? Besok aku harus istighfar berapa kali? Aku masih bisa balik ke jalan lurus? Atau aku sudah jatuh terlalu dalam?
Rasa bersalah itu seperti duri yang menusuk, tapi hasrat membuatnya tak bisa berhenti. Ia membalas, tangannya turun ke selangkangan Anisa, menyentuh bulu lebat yang basah itu untuk pertama kalinya—ragu, tapi penasaran.
Anisa bangkit, menarik Rifky ke bawah hingga mereka berlutut berhadapan di lantai basah. "Sekarang giliran kamu, Rif. Pegang punya Ibu seperti ini..." Ia memandu lagi, dan Rifky mengikuti, masih kaku, masih gemetar, tapi semakin berani.
Konflik batinnya tak hilang; malah semakin dalam, seperti lubang yang ia gali sendiri. Tapi pagi itu, di antara desahan dan air yang menetes, Rifky memilih menikmati—setidaknya untuk saat ini—sambil berjanji dalam hati: Ini terakhir kali. Besok aku tobat.
Di luar, matahari mulai naik lebih tinggi, tapi di dalam MCK, waktu seolah berhenti untuk Rifky yang terjebak antara iman dan nafsu.
Di dalam bilik MCK yang semakin panas meski udara pagi masih dingin, Rifky sudah tak lagi berdiri tegak. Lututnya lemas, tubuhnya gemetar hebat saat Anisa mendorongnya perlahan hingga punggungnya menyandar ke dinding bata yang basah. Napasnya tersengal-sengal, matanya terpejam rapat seolah tak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Anisa berlutut di depannya sebentar lagi, mulutnya memanjakan Rifky hingga anak muda itu hampir tak bisa berdiri. Desahan kecil Rifky yang tertahan, campuran antara nikmat dan rasa bersalah, membuat Anisa semakin puas. Ia bangkit pelan, tangannya memandu Rifky turun hingga mereka berdua duduk di lantai beton yang licin karena air dan busa sabun.
“Rif… sekarang giliran kamu masuk ke Ibu,” bisik Anisa lembut tapi tegas, suaranya penuh hasrat yang sudah tak tertahankan lagi.
Ia duduk mengangkang di pangkuan Rifky, posisi yang membuat penis Rifky yang tegang dan basah karena air liurnya kini tepat menyentuh pintu masuk kewanitaannya yang sudah licin dan siap.
Rifky membuka mata perlahan, wajahnya pucat pasi. “Bu… aku… aku takut… aku nggak pernah…” gumamnya lirih, suaranya bergetar seperti orang yang akan menangis. Tangannya mencengkeram pinggang Anisa erat-erat, bukan karena berani, tapi karena takut kehilangan pegangan di tengah badai perasaan itu.
Anisa tersenyum menenangkan, tangannya membelai pipi Rifky yang basah keringat. “Tenang, sayang… Ibu yang gerak duluan. Kamu diam aja, rasakan aja. Pelan-pelan ya…” Ia mengangkat pinggulnya sedikit, memposisikan ujung penis Rifky tepat di bibir vaginanya yang hangat dan basah. Hanya sentuhan itu saja sudah membuat Rifky mendesah keras, tubuhnya menegang seperti busur yang ditarik penuh.
^*^
ns216.73.216.147da2


