Pagi itu, kampung masih diselimuti kabut tipis. Ustadz Basri sudah berangkat sejak fajar menyingsing, naik sepeda ontelnya ke kebun kecil di pinggir desa untuk memeriksa tanaman jagungnya. Rumah terasa hening, hanya suara ayam berkokok samar dan angin yang menggoyang daun pisang di halaman belakang.
Anisa duduk di ruang tamu, mengenakan gamis panjang berwarna ungu muda dan jilbab senada yang menutupi dada dengan rapi. Di luar tampak shalihah seperti biasa, tapi di dalam, jantungnya berdegup penuh rencana. Ia sesekali melirik ponselnya, menunggu tanda-tanda kedatangan Rifky.
Tak lama, terdengar ketukan pelan di pintu depan.
“Assalamu’alaikum, Bu Ustadzah…” suara Rifky terdengar dari luar, agak ragu.
“Wa’alaikumsalam! Masuk aja, Rif, pintunya nggak dikunci,” jawab Anisa cepat, suaranya lembut tapi ada nada gembira yang tersembunyi.
Pintu terbuka perlahan. Rifky masuk dengan langkah hati-hati, mengenakan kaos oblong lengan pendek dan sarung batik cokelat. Rambutnya masih agak basah, sepertinya baru saja wudhu. Matanya langsung menunduk saat melihat Anisa, tangannya memegang ujung sarung dengan gelisah.
“Saya datang sesuai pesan tadi malam… ada apa ya yang mau dibantu?” tanyanya pelan, suaranya hampir seperti bisik. Ia berdiri di ambang ruang tamu, tak berani duduk sebelum diundang atau dipersilakan.
Anisa tersenyum manis, berdiri dan mendekat sedikit, jarak yang masih sopan, tapi cukup membuat Rifky menelan ludah. “Alhamdulillah kamu datang, Rif. Duduk dulu sini, nggak usah grogi gitu.”
Rifky akhirnya duduk di kursi tamu kayu, badannya tegak seperti santri yang sedang diuji hafalan. Anisa duduk di seberangnya, tangannya menyilang di pangkuan.
“Begini, Rif… Ibu mau mandi pagi ini, tapi kaki masih agak nyeri dari kemarin. Mau ke sungai kok jauh, takut jatuh lagi. Jadi ibu mau ke MCK umum di ujung kampung aja. Tapi… Ibu takut sendirian. Katanya pernah ada yang ngintip waktu ada ibu-ibu mandi di sana. Kamu… mau nemenin Ibu nggak? Cukup jaga di luar aja, biar ibu tenang.”
Wajah Rifky langsung memerah. Ia menunduk lebih dalam, jari-jarinya saling mengait gelisah. “E-eh… iya, Bu. Kalau cuma jaga di luar, insya Allah bisa. Tapi… yakin nggak apa-apa? Nanti kalau ada yang lihat, bisa jadi fitnah…”
Anisa tertawa kecil, suaranya lembut seperti merayu. “Kampung lagi sepi kok pagi ini. Bapak-bapak ke sawah, ibu-ibu ke pasar, anak-anak sekolah. Lagian kamu kan anak baik, santri pula. Ibu percaya sama kamu. Jangan bilang siapa-siapa ya, termasuk Hafiz.”
Rifky mengangguk pelan, meski jantungnya sudah berdegup kencang sejak tadi. Ia tahu ini aneh, tahu ini berbahaya, tapi kata ‘Ibu percaya sama kamu’ entah kenapa membuatnya tak bisa menolak. “I-iya, Bu. Saya jaga rahasia ini.”
Anisa bangkit, mengambil tas kresek kecil yang sudah disiapkan di sudut ruangan. “Nah, gitu dong. Kamu bawa handuk dan sabun belum? Kalau belum, ambil dulu di rumah sana, sekalian mandi juga kalau mau. Ibu tunggu di sini, nggak apa-apa kok.”
Rifky berdiri cepat, hampir tersandung karpet kecil. “Eh, belum bawa, Bu. Saya ambil dulu ya, sebentar aja. Lima menit.”
“Tenang aja, ibu juga nggak buru-buru,” kata Anisa sambil tersenyum, matanya mengikuti Rifky yang buru-buru keluar dan berlari kecil menuju rumahnya yang tak jauh dari situ.
Saat pintu tertutup kembali, Anisa menghela napas panjang, bibirnya melengkung licik. Bagus. Dia datang. Dan dia nggak bisa nolak. ‘Hafiz, kamu tolak aku, sekarang temenmu sendiri yang akan aku ajak main. Setelah itu tentu saja kamu juga akan bertekuk lutut.’
Tak sampai sepuluh menit, Rifky kembali dengan napas tersengal, tas kecil digantung di bahu. “Sudah, Bu. Saya siap.”
Anisa mengangguk puas. “Ayo berangkat sekarang, sebelum ada yang curiga.”
Mereka berdua keluar rumah lewat pintu belakang, menyusuri jalan setapak kecil yang jarang dilalui orang. Anisa berjalan di depan, Rifky mengikuti beberapa langkah di belakang, matanya berusaha fokus ke tanah tapi sesekali melirik gamis Anisa yang bergoyang pelan mengikuti langkahnya.
Sampai di MCK umum yang sepi di pinggir sungai, angin pagi menjelang siang masih dingin menyapa kulit. Anisa berhenti di depan pintu, menoleh ke Rifky yang kini berdiri kaku seperti patung.
“Rif, kamu jaga di luar ya. Jangan pergi kemana-mana. Kalau ada orang lewat, kasih tahu Ibu.”
“I-iya, Bu. Saya di sini aja,” jawab Rifky cepat, suaranya bergetar.
Anisa masuk ke dalam, menutup pintu dengan pelan. Tak lama, suara air mulai terdengar dari dalam, pelan, teratur, tapi sengaja dibuat agak lama setiap gayungnya.
Rifky berdiri di luar, punggung menempel ke dinding bata. Napasnya berat. Ia mencoba membaca doa dalam hati, tapi suara air itu, bayangan yang samar-samar terlihat dari celah atas dinding, dan ingatan akan sentuhan kemarin… semuanya bercampur menjadi satu.
‘Ya Allah, ini ujian berat banget…’ gumamnya dalam hati.
Dan di dalam, Anisa sudah mulai membuka jilbabnya perlahan, tersenyum sendiri.
Permainan baru saja dimulai.
Di dalam bilik MCK yang cukup luas, dinding bata setinggi dada orang dewasa, atasnya terbuka lebar tanpa atap—Anisa merasa benar-benar bebas. Ia sudah melucuti seluruh pakaiannya: gamis, jilbab, daster tipis, bahkan dalaman yang memang tidak ia pakai sejak pagi. Semua tergantung rapi di pengait besi berkarat di sudut bilik.
Air dari gayung ia tuang pelan-pelan, mulai dari kepala hingga ujung kaki. Rambutnya yang panjang basah menempel di punggung dan dada, menutupi sebagian payudaranya yang penuh. Ia bersenandung kecil, lagu dangdut lawas yang lirih tapi cukup jelas terdengar sampai luar:
“Air mengalir… basah sudah badan ini…”
Sengaja ia pilih lagu itu, nada manja dan berirama lambat, seolah-olah hanya untuk menghibur diri sendiri. Tapi sebenarnya ia tahu suara itu pasti sampai ke telinga Rifky yang sedang menjaga di depan.
Di luar, Rifky sudah tak lagi berdiri tegak. Punggungnya menempel ke dinding, napasnya pendek-pendek. Setiap gayung air yang dituang, setiap senandung kecil Anisa, membuat imajinasinya semakin liar. Ia teringat jelas tangan Anisa yang memegang handuk kemarin, lekuk paha yang tersingkap, bulu-bulu halus yang sempat terlihat sekilas.
Kini, mengetahui Anisa benar-benar telanjang di dalam sana, hanya terpisah dinding bata tipis… penisnya langsung mencuat keras di balik sarung, menekan kain hingga terasa sakit.
Rifky menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. ‘Astagfirullah… astagfirullah…’ Doanya terputus-putus, tak lagi khusyuk. Tangan kanannya tanpa sadar meraba tonjolan itu, mencoba menekannya agar reda, tapi malah membuat sensasi semakin kuat.
Dan entah setan apa yang mencubit kewarasannya pagi itu.
Langkahnya pelan sekali, hampir tak bersuara. Ia menyusuri sisi MCK, melewati semak belukar kecil, sampai ke bagian belakang yang memang lebih terbuka. Di sana, tembok hanya setinggi dada, dan di atasnya kosong, hanya seng rapuh dan langit juga pohon jati tua yang menaungi. Space itu cukup luas untuk satu orang berdiri nyaman, bahkan dua orang jika mau berdesakan.
Rifky naik ke batu besar yang sudah tertutup lumut, posisinya pas agar bisa mengintip ke dalam, tanpa harus terlalu menjulurkan kepala. Napasnya tertahan. Matanya perlahan naik…
Dan di sana…
Anisa berdiri membelakangi arahnya, tepat di bawah pancuran air dari gayung yang baru saja ia angkat lagi. Air mengalir deras membasahi punggungnya yang mulus, turun melewati lekuk pinggang, lalu ke bokong yang bulat dan kencang. Ia menggosok sabun di lengannya pelan-pelan, busa putih menyelimuti kulitnya yang sawo matang. Rambut basah menempel di bahu dan punggung, sesekali ia menyibaknya ke belakang dengan gerakan lambat, memperlihatkan leher jenjang dan bahu putihnya.
Rifky membeku. Matanya tak berkedip. Ini pertama kalinya ia melihat tubuh wanita telanjang secara langsung—bukan dari video atau foto yang pernah tanpa sengaja ia lihat di ponsel teman. Ini nyata. Hangat. Bergerak pelan di depannya, hanya berjarak beberapa meter.
Anisa seolah tahu. Ia memutar badan perlahan, kini menghadap sisi yang membuat payudaranya yang besar dan berisi terlihat jelas dari samping. Putingnya yang cokelat tua tegak karena dingin air pagi. Ia menuang air lagi ke dada, membiarkan air mengalir turun ke perut, lalu ke selangkangan yang ditumbuhi rambut hitam lebat tapi rapi. Tangan kirinya memijat pelan payudaranya sendiri, seolah hanya membersihkan sabun, tapi gerakannya terlalu lama, terlalu lembut untuk sekadar mandi.
Rifky menelan ludah keras. Tangan kanannya kini sudah masuk ke dalam sarung, menggenggam batangnya yang berdenyut keras. Ia tak lagi berdoa. Hanya napas tersengal pelan yang terdengar di telinganya sendiri.
Anisa tiba-tiba menoleh sedikit ke arah belakang, bukan langsung ke Rifky, tapi cukup dekat hingga Rifky buru-buru menunduk, jantungnya hampir copot. Tapi Anisa hanya tersenyum kecil, seolah tahu ada yang mengawasi.
Ia melanjutkan mandinya, kali ini lebih berani: tangannya turun ke bawah, membersihkan bagian paling intimnya dengan gerakan melingkar pelan, sesekali mendesah kecil.
“Aah… enaknya air siang… ini…” gumamnya cukup keras, suaranya menggantung di udara.
Rifky tak tahan lagi. Ia tetap di posisinya, mengintip dengan hati-hati, tangannya kini bergerak pelan di dalam sarung. Rasa bersalah menusuk-nusuk, tapi rasa penasaran dan birahi itu jauh lebih kuat. Ia tahu ini salah besar. Ia tahu kalau ketahuan bisa hancur segalanya. Tapi pagi itu, di balik dinding MCK yang sepi, Rifky untuk pertama kalinya benar-benar kalah oleh nafsunya.
Sementara Anisa, dengan senyum licik yang semakin lebar, melanjutkan “pertunjukannya”. Ia tahu Rifky ada di sana. Ia bisa mendengar napas anak muda itu yang tersengal pelan. Dan ia tahu, sebentar lagi anak itu takkan bisa hanya mengintip dari kejauhan.
Permainan semakin dekat ke puncaknya.
Air yang mengucur dari gayung terakhir jatuh perlahan ke lantai beton, membentuk genangan kecil di kaki Anisa. Ia berdiri tegak, tanpa malu-malu, membiarkan tubuhnya yang telanjang basah kuyup terpapar udara pagi. Tangan kanannya menyibak rambut basah dari wajah, lalu ia tengadah, perlahan, sengaja.
Saat itu juga, pandangannya bertemu langsung dengan mata Rifky yang mengintip dari atas tembok belakang.
ns216.73.216.147da2


