Malam itu, rumah Ustadz Basri terasa lebih sepi dari biasanya. Sang Ustadz, suami Anisa, baru saja pulang dari pengajian malam di masjid kampung. Ia langsung menuju kamar, meletakkan tasbih dan pecinya di meja kecil, lalu merebahkan diri di ranjang tanpa banyak bicara.
Anisa, yang sudah berganti pakaian tidur syar'I, gamis panjang berwarna pastel, duduk di depan cermin, menyisir rambutnya yang lepas dari jilbab. Wajahnya tampak tenang, tapi pikirannya bergolak.
“Kenapa malam ini diam saja, Bu?” tanya Ustadz Basri pelan, suaranya lelah tapi penuh perhatian.
Anisa menoleh, tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Pak. Capek aja habis ngurus rumah seharian.” Jawabannya manis, tapi di balik itu, ia memikirkan Hafiz. Anak tiri yang tolol itu, pikirnya geram.
‘Bagaimana bisa dia menolak begitu tegas? Sudah kuberikan kesempatan, malah mengusirku seperti sampah. Tunggu saja, Hafiz. Aku akan buat kamu menyesal.’
Ustadz Basri mengangguk, lalu memejamkan mata. Tak lama, dengkurnya pelan terdengar. Anisa mematikan lampu, tapi matanya tetap terbuka lebar dalam gelap. Hasrat yang menggantung sejak siang tadi membuat tubuhnya panas.
Anisa berguling, tangannya tanpa sadar merayap ke bawah perutnya, mencoba meredakan gejolak itu sendiri. Tapi pikirannya melayang ke Rifky. Anak muda itu... tatapannya tadi siang, tangannya yang kasar tapi lembut saat memijat. Dia pasti penasaran, tapi pura-pura sopan seperti santri baik-baik. Aku harus mendekatinya lagi, gumamnya dalam hati.
Keesokan harinya, matahari pagi menyinari kampung dengan hangat. Anisa bangun lebih awal, memasak sarapan untuk suaminya sebelum Ustadz Basri berangkat ke kebun dan sawah. Setelah rumah kembali sepi, ia memutuskan untuk keluar. Alasannya sederhana: mencuci pakaian di sungai belakang kampung, tempat yang sering dikunjungi warga. Tapi sebenarnya, ia tahu Rifky biasa lewat sana sepulang dari sawah atau pesantren kecil di ujung kampung.
Dengan keranjang cucian di tangan, Anisa berjalan pelan menyusuri jalan setapak. Ia mengenakan gamis hitam panjang dan jilbab lebar, tapi di bawahnya, ia sengaja memilih dalaman yang tipis, mudah disingkap jika kesempatan datang. Di sungai, air mengalir jernih, dan tak ada orang lain selain burung-burung yang bernyanyi. Anisa mulai mencuci, tapi matanya sesekali melirik ke arah jalan.
Tak lama, sosok Rifky muncul. Ia berjalan sendirian, membawa cangkul di bahu, keringat membasahi kaos oblongnya yang ketat, memperlihatkan otot lengan yang terbentuk dari kerja keras di sawah. Rifky terlihat terkejut melihat Anisa, tapi cepat menyapa dengan hormat.
“Assalamu’alaikum, Bu Ustadzah. Lagi nyuci ya?”
“Wa’alaikumsalam, Rif. Iya, nih. Kamu dari mana pagi-pagi gini?” balas Anisa dengan senyum manis, matanya menatap Rifky dari atas ke bawah. Ia notice bagaimana celana Rifky sedikit longgar, dan ingatan kemarin siang membuat jantungnya berdegup.
“Dari kebun, Bu. Bantu bapak panen jagung kecil-kecilan.” Rifky mendekat, meletakkan cangkulnya di tanah. Ia jongkok di tepi sungai, mencuci tangan dan wajahnya.
Anisa memperhatikan gerakannya, air yang menetes dari dagunya, membuatnya semakin haus akan sentuhan.
“Eh, Rif... kaki Ibu kemarin masih agak nyeri nih. Kamu pintar mijit ya? Mau bantu lagi nggak?” tanya Anisa tiba-tiba, suaranya lirih tapi menggoda. Ia duduk di batu besar, mengangkat sedikit gamisnya hingga memperlihatkan betisnya yang mulus.
Rifky menoleh, matanya melebar sebentar sebelum cepat dialihkan. “Eh, iya Bu? Tapi... di sini terbuka, nanti dilihat orang.” Jawabannya sopan, tapi Anisa bisa lihat bagaimana ia menelan ludah, tatapannya sesekali melirik ke arah kakinya. Pura-pura suci, tapi penasaran banget, pikir Anisa, senyumnya semakin lebar.
Maaf ada bagian yang tertinggal, bab sebelum ke MCK
“Tenang, Rif. Kampung lagi sepi. Lagian, kamu kan temen deket Hafiz. Anggap aja bantu Ibu yang lagi sakit.” Anisa maju selangkah, tangannya menyentuh lengan Rifky pelan. Rifky diam, tubuhnya kaku, tapi tidak mundur. Ia pura-pura fokus mencuci tangan, tapi napasnya mulai berat.
“Bu... ini nggak baik. Pak Ustadz gimana?” gumam Rifky, suaranya rendah, tapi ada nada ragu yang Anisa kenali sebagai tanda penasaran.
Anisa tertawa kecil. “Pak Ustadz lagi ngajar. Lagian, ini cuma mijit, Rif. Kamu kan santri baik, pasti bisa jaga rahasia.” Tangannya naik ke bahu Rifky, memijat pelan sebagai balasan.
Rifky gemetar sedikit, matanya sekarang tak bisa lepas dari dada Anisa yang naik turun di balik gamis.
Di dalam hati Rifky, gejolak muncul. Sejak kemarin, gambar tubuh Anisa di balik handuk itu tak hilang dari pikirannya. Ia tahu ini salah, Anisa istri Ustadz Basri, ibu tiri Hafiz yang adalah sahabatnya. Tapi rasa penasaran itu... seperti api kecil yang semakin membesar.
‘Kenapa Bu Ustadzah Anisa sekarang jadi begini? Apa dia beneran butuh?’ Pikirnya bingung, tapi tubuhnya bereaksi sendiri, ada tonjolan di balik sarungnya yang ia coba sembunyikan.
Anisa semakin berani. “Rif, duduk sini. Biar Ibu cerita sedikit.” Ia menarik Rifky duduk di sampingnya.
“Hafiz kemarin bikin ibu kesel banget. Dia... nggak ngerti perasaan orang tua.” Kata-katanya penuh dendam, matanya menyipit mengingat penolakan Hafiz. Aku akan balas, Hafiz. Mungkin dengan temenmu sendiri, gumamnya geram.
Rifky mendengarkan, tapi pikirannya melayang. Tangan Anisa sekarang di pahanya, memijat pelan. “Ibu... jangan gini. Aku takut.” Katanya pura-pura, tapi tangannya tak menepis.
Anisa tersenyum licik. “Takut apa? Atau... penasaran?” bisiknya dekat telinga Rifky. Angin sungai berhembus, menyibak jilbabnya sedikit, memperlihatkan leher putihnya. Situasi semakin tegang, hasrat Anisa membara, sementara Rifky berjuang antara iman dan nafsu.
Malam berikutnya, Anisa tak bisa tidur lagi. Ia bangun diam-diam, mengirim pesan ke nomor Rifky yang ia dapat dari Hafiz dulu.
[Rif, besok pagi ke rumah ya? Ada yang mau Ibu minta tolong. Jangan bilang siapa-siapa.]
Pesan itu terkirim, dan Anisa tersenyum.
Malam itu, rumah Rifky sunyi senyap. Ayah dan ibunya sudah tidur sejak habis Isya, hanya suara jangkrik di luar dan hembusan angin malam yang menyusup lewat celah jendela kayu. Rifky berbaring telentang di kamar kecilnya, matanya terbuka lebar menatap langit-langit gelap yang berbintik-bintik cahaya lampu tembus dari luar.
Pikirannya tak bisa diam.
Kembali lagi ke siang kemarin di tepi sungai. Tangan Anisa yang memijat bahunya pelan, napasnya yang hangat di dekat telinga, dada yang naik-turun di balik gamis ungu itu… dan yang lebih parah, ingatan saat memijat kaki Anisa di rumah, handuk yang tersingkap, bulu-bulu halus di selangkangan yang samar-samar terlihat, desahan kecil Anisa saat tangannya naik ke paha dalam.
Rifky menelan ludah keras. Tubuhnya bereaksi lagi. Penisnya mengeras di balik sarung tipis yang jadi selimut malam ini, berdenyut pelan setiap kali bayangan itu muncul. Ia mencoba membalikkan badan, memeluk guling, membaca doa dalam hati—tapi sia-sia. Gambar Anisa terus datang: senyumnya yang manis, suara lembutnya yang memanggil “Rif…”, tangan yang menyentuh pahanya di tepi sungai.
“Ya Allah… kenapa aku gini terus…” gumamnya pelan, tangannya tanpa sadar merayap ke bawah, menyentuh tonjolan itu sekilas, tapi ia cepat menarik tangan kembali, malu pada diri sendiri. “Aku santri… aku nggak boleh mikirin yang haram…”
Tapi semakin ia larang, semakin gambar itu hidup. Ia membayangkan kalau tadi di sungai ia tak menahan diri—kalau tangannya ikut naik ke balik gamis Anisa, kalau ia balas memijat lebih dalam, kalau…
Ponselnya yang tua di samping bantal tiba-tiba bergetar pelan.
Rifky tersentak, hampir melonjak dari kasur. Ia buru-buru meraih ponsel, layar menyala terang di kegelapan kamar.
Pesan masuk dari nomor yang tersimpan sebagai “Bu Ustadzah Anisa”.
[Rif, besok pagi ke rumah ya? Ada yang mau Ibu minta tolong. Jangan bilang siapa-siapa.]
Jantung Rifky langsung berdegup kencang, seperti drum yang dipukul keras. Ia duduk tegak, napasnya tersengal. Matanya membaca ulang pesan itu berkali-kali, seolah tak percaya.
“Apaan ini… malam-malam gini…” gumamnya pelan, tapi tangannya gemetar saat memegang ponsel. Rasa kaget bercampur heran—dan yang paling ia benci, rasa penasaran yang langsung membuncah lagi. Apa yang mau diminta? Bantu angkat beras? Perbaiki atap? Atau… seperti kemarin lagi?
Ia mencoba menenangkan diri, tapi bayangan Anisa kembali datang lebih kuat. Penisnya yang tadi sempat reda kini mencuat lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Dengan jari gemetar, ia mengetik balasan:
[Ada apa, Bu?]
Tak sampai satu menit, balasan datang.
[Pokoknya besok aja ketemu di rumah ibu ��]
Smiley itu, senyum kecil yang polos—tapi bagi Rifky terasa seperti godaan setan. Ia membayangkan Anisa sedang berbaring di kamarnya sekarang, mungkin hanya pakai daster tipis, tersenyum indah saat mengetik pesan itu.
Rifky meletakkan ponsel di samping, tapi tak bisa tidur lagi. Ia berguling kesana-kemari, gelisah luar biasa. Setiap kali memejamkan mata, wajah Anisa muncul, senyumnya terus terputar berulang-ulang. Penisnya makin tegang, berdenyut-denut, membuatnya semakin susah tidur.
“Besok… aku harus nolak… aku nggak boleh datang…” gumamnya pada diri sendiri, tapi suaranya tak yakin. Di dalam hatinya, rasa penasaran itu sudah terlalu besar, seperti api kecil yang tadi sore hampir padam, kini kembali menyala terang karena pesan malam itu.
Malam semakin larut, tapi Rifky masih terjaga. Di antara doa istighfar yang terputus-putus, pikirannya terus bertanya: apa yang sebenarnya diinginkan Bu Ustadzah Anisa besok pagi?
Dan jauh di rumah sebelah, Anisa sudah tertidur pulas dengan senyum tipis di bibirnya, tahu bahwa umpan yang ia lempar malam itu sudah pasti ditelan bulat-bulat oleh Rifky.
^*^
ns216.73.216.147da2


