Setelah cukup lama merenung, Anisa kembali lagi pada kegiatannya sebagai ibu rumah tangga. Ia baru selesai mencuci piring di dapurnya.
Dengan tubuh hanya berkemben handuk hijau, ia bersiap masuk kamar mandi untuk mandi. Namun ia teringat, kain panjang yang biasa ia kenakan setelah mandi masih tergantung di jemuran belakang rumah.
Dengan langkah cepat dan hati-hati, ia berjalan keluar dapur, menyusuri jalur sempit menuju jemuran. Matahari sore masih menggantung rendah, menyorotkan cahaya hangat di sela-sela dedaunan pisang dan pagar bambu.
Saat ia menjulurkan tangan hendak meraih kain panjang itu, pandangannya tanpa sengaja tertumbuk pada sosok Rifky—lelaki muda anak tetangganya dan berteman dekat sejak masih kecil dengan Hafiz.
Rifky berdiri membelakanginya, memandangi hamparan sawah milik Pak RW yang terbentang luas di depannya. Sehabis shalat dia memang sering nongkrong di sana, sendirian kadang juga bersama beberapa temannya.
Anisa langsung panik. Ia reflek membalikkan badan hendak kembali masuk ke dapur. Namun langkahnya justru tergelincir. Entah karena batu licin atau tanah basah, hingga tubuhnya terhempas ke tanah.
“Aduuuuh!” serunya spontan, tangan kanan buru-buru menahan dada, memegangi handuk yang nyaris melorot dari tubuhnya. Rasa sakit dan malu bercampur menjadi satu.
Rifky sontak menoleh, matanya melebar melihat Anisa tergeletak sambil meringis kesakitan. Beberapa bagian tubuhnya tampak terbuka karena handuknya tersingkap, untung saja tidak sampai terlepas.
“Bu Ustadzah!” Rifky yang berkaos dan bersarung, langsung berlari mendekat. “Astagfirullah, jatuh ya, Bu? Sini, saya bantu...”
Anisa tidak langsung bangkit. Pergelangan kaki dan lututnya terasa perih. Pahanya juga nyeri karena terbentur batu kecil.
“Aduh... aduh... sakit, Rif,” keluhnya pelan, napasnya tersendat menahan rasa sakit. Ia masih memegangi handuknya erat-erat, tak berani menatap Rifky yang kini bersimpuh di sebelahnya.
Rifky, dengan gugup dan canggung, mengulurkan tangan untuk membantu. Anisa pun, dengan ragu dan agal malu, menerima bantuan itu. Sementara dada dan hatinya terasa sama-sama berdebar tak karuan.
Dengan hati-hati, Rifky membimbing Anisa berdiri. Tangannya menyangga punggung perempuan itu, sementara sebelah tangan Anisa bertumpu di lengan kekar Rifky. Dan sebelahnya lagi menahan handuknya agar jangan sampai melorot. Dia sama sekali tidak mengenakan dalaman, karena memang seperti itu jika akan mandi.
Langkah mereka pelan dan pendek-pendek—Anisa meringis tiap kali menapakkan kaki kanannya yang terasa ngilu.
“Pelan-pelan aja, Bu, nggak usah dipaksa,” bisik Rifky, suaranya rendah, nyaris seperti gumaman tertahan.
Anisa hanya mengangguk kecil, napasnya sesekali tercekat menahan rasa sakit, juga rasa malu. Handuk yang ia pegang kini makin terasa ringkih, seolah bisa terlepas kapan saja bila lengah. Tapi Rifky tampak menjaga matanya, tak berani menatap lebih dari yang diperlukan.
Begitu sampai di dapur, Rifky membantu Anisa duduk di bangku kayu panjang dekat dinding. Ia lalu jongkok di depannya, memastikan kaki Anisa dalam posisi nyaman.
“Sini saya lihat, Bu... bagian mana yang sakit?”
“Enggak usah, Rif... nanti juga sembuh sendiri...” Anisa menggeleng pelan, pipinya memerah, matanya menunduk.
Namun Rifky tetap diam di situ, sejenak tertegun. Matanya menatap tangan Anisa yang erat memegangi handuk, wajahnya yang berkeringat, dan helaian anak rambut yang menempel di pelipisnya. Seketika suasana terasa sunyi, hanya suara angin sore yang menyusup lewat celah dinding dapur yang menemani.
“Maaf ya, Bu… saya nggak sengaja,” ucap Rifky lirih.
Anisa mengangguk lagi, pelan. Tapi entah kenapa, hatinya justru terasa hangat, walau nyeri masih terasa di kakinya. Di balik ketidaknyamanan siang itu, ada sesuatu yang lembut dan asing menyelinap. Entah perhatian, atau mungkin... hasrat birahi yang sejak tadi belum terlampiaskan.
“Pak Ustadz belum pulang, Bu?” tanya Rifky hati-hati
“Belum, mungkin sebentar lagi. Anak-anak juga lagi main di rumah Ustadzah Aida.”
“Beneran ibu gak sakit?” Rifky kembali memastikan.
“Sakiit banget, Rif,” jawab Anisa sambil meringis.
Mata Rifky kembali menatap ke bawah, ia mendapati sebuah bukit kecil yang ditumbuhi rambut lebat terselip begitu indah. Berulang kali, remaja berusia setahun lebih tua dari Hafiz itu menelan ludah dan menahan gejolak birahi di dada dan di balik kain sarung yang dikenakannya.
“Biar saya bantu. Ibu istriahat di kamar aja, ya,” ujar Rifky.
Anisa mengangguk dan Rifky kembali membantu Anisa berjalan menuju kamarnya. Sebenarnya Anisa merasa sangat risih, namun bagaimana lagi, karena dia merasakan kaki kanannya sangat sakit. Kebetulan tidak ada orang lain yang bisa dimintai tolong.
Setibanya di kamar Anisa duduk di pinggir ranjang dengan masih berkemben handuknya.
“Sepertinya kaki ibu keseleo, biar saya periksa dulu,” ucap Rifky datar sambil berusaha mati-matian menahan gejolak dalam dirinya.
“Aduh!” ringis Anisa, ketika Rifky menyentuh pergelangan kakinya. “Pelan-pelan Rif!” pinta Anisa sembari terus meringis menahan sakit di kakinya.
Tangan Rifky mulai mengusap-usap kaki kanan Anisa beberapa lama, sampai Anisa merasa sedikit lebih baik. Lantas Rifky menarik sedikit kaki Anisa, memperbaiki posisi uratnya dengan gerakan yang agak cepat dan menyakitkan.
“Auuww… Sakiiiit, Rif!” jerit Anisa.
Telapak tangan Rifky naik ke atas, ke bagian belakang lutut Anisa. Rasa geli yang dirasakan Anisa sedikit mengurangi rasa sakitnya. Dan perasaan geli itu perlahan mulai menimbulkan gairah dalam dirinya, apa lagi ketika telapak tangan Rifky naik menuju pahanya dan sekilas dia melihat gunudkan besar di balik kain sarung Rifky. Anisa bahkan menduga jika Rifky tidak memakai celana dalam.
Rifky memijit kaki Anisa dengan pelan, menyentuh bagian-bagian sensitif seorang wanita yang ia dapatkan dari teman lamanya. Dan cara itu memang sangat berhasil membangkitkan birahi Anisa yang memang selalu menggebu-gebu.
“Kalau pake minyak gimana, Bu,” usal Rifky.
“Pake handbody aja, Rif.”
Rifky membalikan wajahnya lalu mengambil botol handbody yang berada tepat di belakangnya, di meja rias. Lalu kembali menghadap Anisa, matanya nanar menatap sepasang payudara Anisa di balik handuk yang naik turun mengikuti irama napasnya. Rifky berhayal bisa meremas dan menghisap putingnya.
Menyadari tatapan Rifky tak biasa, Anisa jadi salah tingkah. Putingnya terasa makin keras dan area kewanitaannya pun mulai berdenyut-denyut.
Rifky menaburkan lotion pada kedua telapak tangannya.
“Maaf ya, Bu,” ucapnya sopan, sebelum tangannya masuk lebih dalam. Ia menyentuh bagian bawah pergelangan dan betis Anisa dengan sedikit mengangkat kaki itu.
“Ough,” desah lembut Anisa tak terelakan lagi.
Rifky tersenyum tipis, ia tahu kalau ibu tiri temannya ini tengah dilanda sesuatu yang membuatnya gelisah.
“Sakit ya, Bu?” tanya Rifky, sambil terus memijit lembut paha belakang Anisa.
“Eng-eng-enggak terlalu,” jawab Anisa terbata, wajahnya mulai bersemu merah karena menahan malu juga birahi.
Rifky kembali melanjutkan pijatannya di kedua kaki Anisa. Ia memijatnya secara bergantian kiri dan kanan. Selama itu juga Anisa sangat tersiksa karena gairahnya kian menggebu-gebu menuntut penuntasannya.
“Masih mau dilanjut pijatnya, Bu?” tanya Rifky memastikan lagi.
Karena sudah kepalang tanggung, Anisa mengangguk memberi izin. Masih ada sedikit rasa nyeri di kakinya membuat Anisa memejamkan matanya. Rifky yang melihat hal tersebut sedikit merasa kasihan, namun juga ngos-ngosan karena jembut di selangkangan Anisa makin terlihat jelas.
“Tahan ya, Bu. Ini hanya sebentar,” bisik Rifky.
Setelah merasa cukup memijat di bagian belakang lutut, jemari Rifky naik sedikit ke atas menyingkap ujung handuk yang dikenakan Anisa.
“Tahan sedikit ya, Bu!” Rifky kembali berucap.
Anisa menganggukan kepalanya. Ia mengepal kedua tangannya hendak menahan rasa sakit. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ketika Rifky memijit bagian belakang pahanya, Rasa nikmat dan geli semakin menjadi-jadi membuat birahinya nendang hingga ke ubun-ubun.
Bayangan Hafiz yang sedang ngocok di kamar mandi, kembali memenuhi isi kepalanya. Tubuh Rifky memang lebih kecil, tapi bisa saja senjata andalannya sama besarnya, pikir Anisa.
Napas Anisa mulai tersengal, pikirannya makin berkecamuk tidak fokus. Telapak tangan Rifky makin naik ke atas, memijit bagian belakang pahanya.
“Aduh, aah…” Anisa kembali mendesah tanpa sadar.
“Sakit ya, Bu?” tanya Rifky, pura-pura khawatir.
Anisa mengangguk lemah. Ia merasa sangat malu kalau sampai Rifky tahu dirinya sedang diamuk gelombang birahi. Sentuhan Rifky semakin naik ke atas, menyingkap lebih banyak handuk yang ia kenakan hingga sebatas pahanya. Anisa berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia.
Hatinya mulai merasa bimbang. Sentuhan Rifky terasa sangat nikmat, bahkan bisa membuatnya terbuai. Tetapi masih tersisa rasa malu jika harus memulai.
Sebagai seorang santri dan juga teman dekat Hafiz, selama ini Rifky senantiasa bersikap hormat pada Anisa juga Ustadz Basri. Dia tidak pernah berani kurang ajar kepada siapapun, atau bahkan hanya dengan tatapan nakal. Anisa sangat berpengalaman dalam membedakan tatapan lelaki yang ikhlas atau penuh nafsu.
“Maaf Bu, uratnya gak dapet! Boleh saya urut lebih ke atas.” Rifky meminta izin, dan Anisa menganguk tak mampu menolaknya. Geli dan nikmat itu terlalu sayang untuk dilewatkan.
Tak dapat si Hafiz, Rifky pun jadi, begitu pikirnya.
Tangan Rifky menyibak handuk yang dikenakan Anisa hingga berada di atas paha. Sementara tangannya berada di balik handuk. Jemari kasar Rifky memijit dan membelai paha bagian dalamnya, hingga tubuh Anisa mulia sedikit gemetar.
Dengan satu dorongan, tangan Rifky mulai masuk lebih dalam mendekati selangkangan Anisa, hingga handuk yang dikenakannya tertarik makin ke atas bahkan mulai dengan bebas memperlihatkan belahan kemaluan yang dihiasi bulu-bulu indah. Perlahan-lahan Anisa membuka pahanya seolah memberi jalan pada tangan Rifky untuk lebih dekat lagi.
“Sakit gak, Bu?” tanya Rifky sok polos.
Anisa mengangguk seraya menahan gejolaknya.
Anisa mengangkat wajahnya menatap Rifky yang sedang menatapnya nanar penuh gairah. Zakunnya begerak-gerak menelan air liurnya. Dengan sedikit kesadaran Anisa berpura-pura menarik ke bawah ujung handuknya, tapi tidak menyingkirkan tangan Rifky yang nakal bermain di balik handuk itu.
‘Ternyata nakal juga kamu, Rifky,’ gumam Anisa dalam hati.
Aksi Rifky semakin berani, dua jemarinya bersamaan menyelinap masuk ke celah kewanitaan Anisa yang sudah makin basah. Mata Anisa membeliak menatap Rifky tak percaya, tapi dengan tenang Rifky malah tersenyum tipis.
Sekuat tenaga Anisa menahan gejolak itu, dia masih belum mau mengakui jika dirinya sangat berharap Rifky membuka kain sarungnya dan memperlihatkan apa yang ada di selangkangannya.
Namun tiba-tiba Rifky menarik tangannya.
“Sudah selesai ya, Bu Ustadzah!” ujarnya tenang.
“Iya, terima kasih, Dan.” Jawab Anisa lirih.
“Sama-sama. Saya permisi dulu, Bu. Sebentar lagi saya juga mau berangkat lagi ke pesantren, lagian takut Pak Ustadz nanti jadi fitnah.” Rifky berpamitan.
Anisa hanya mengangguk lemah, sedikit kecewa karena Rifky berpamitan. Padahal sedikit lagi dia akan mencampai orgasmenya…. Kini hanya menggantung.
Hasrat Anisa untuk menikmati daun muda pun harus tertunda kembali.
“Sialan!” makinya dalam hati.
Siapa sebenarnya Ustadzah Anisa?
Anisa Nuraeni, 31 tahun, kini dikenal sebagai ‘Ustadzah Ani’ di lingkungannya. Sebutan yang lahir karena status pernikahannya, bukan karena kedalaman ilmu agamanya. Ia bukan lulusan pesantren, tak hafal banyak ayat atau hadits. Hanya memang pakaiannya selalu tertutup rapi. Terlebih lagi setelah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Ustadz Basri. Seorang guru agama dan penceramah yang sederhana.
Sejak dulu Anisa belajar cepat, bukan dari kitab, tapi dari pergaulan dan kebiasaan di lingkarannya. Kapan harus menundukkan pandangan, menyelipkan “Masya Allah”, atau diam untuk terlihat shalihah. Peran itu ia lakoni laksana panggung sandiwara yang menutupi siapa dirinya yang sebenarnya. Dalam beberapa tahun ini Anisa sukses bertranformasi.
Anisa tak jahat, hanya belum kuat. Ilmu agamanya masih dangkal, keteguhan imannya masih setipis ari dan hatinya masih mudah tergoda oleh bayang-bayang masa lalunya yang terasa kelam. Tapi status barunya sebagai istri Ustadz, memaksanya tetap berdiri sebagai wanita salihah, seolah benar-benar telah hijrah. Bersama Ustadz Basri dia tidak dikarunia anak, sengaja karena sudah punya tiga anak yang walau ketiganya tidak tinggal bersama mereka.
Namun, di balik pakaian syar’i, sikap lemah lembut dan ucapan ramah nan santun pada semua tetangganya, ada sisi lain yang tak diduga oleh semua orang yang dengan mudahnya memanggilnya ‘Bu Ustadzah Ani’ hanya karena pakaian dan menyandang status sebagai istri seorang guru agama alias Ustadz.
Pada awalnya Anisa merasa risih dengan julukan tersebut namun entah mengapa, lama-lama dia justru merasa senang. Merasa lebih seksi dan bisa berkamuplase dengan sempurna, setidaknya dia bisa mengubur dalam-dalam sisi liar dalam dirinya. Tak heran jika ada yang menjulukinya ‘Ustadzah Ketela’
Namun dalam beberapa bulan terakhir, sisi gelap itu muncul kembali seperti jamur di musim hujan. Sebenarnya Anisa senantiasa menekan gairah liar itu, agar tidak sampai khilaf apalagi ketahuan suami dan keluarganya. Namun Hafiz, anak tirinya yang gagah dan tampan terlalu sukar untuk diabaikan.
ns216.73.216.147da2


