Pagi di kantor selalu dimulai dengan rutinitas yang sama: aku duduk di meja di lantai 8, menyeruput kopi instan, dan sesekali melirik ke jendela kaca besar yang menghadap kantor Rina di seberang jalan. Dari sini, aku bisa melihat ruang kerjanya, yang juga di lantai 8, dengan meja rapi dan papan tulis penuh catatan. Rina, istriku yang berusia 36 tahun, tampak sibuk pagi ini, sedang memimpin rapat dengan beberapa bawahannya. Aku membuka tirai jendela sedikit, berusaha nggak terlihat seperti suami cemburuan yang ngintip. Dia duduk di ujung meja, jilbab satinnya sedikit licin, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang semok dan padat. “Cantik banget, Say,” gumamku dalam hati, sambil bersyukur bahwa hanya aku yang bisa menikmati pesonanya sepenuhnya. Tapi, saat aku melihat bawahannya yang laki-laki, pikiranku mulai lari ke arah yang nggak perlu.
7538Please respect copyright.PENANAsnxtIKgc6H
Rina adalah manager yang tegas tapi lembut, tipe pemimpin yang disegani tapi disukai. Aku bisa lihat dari jendela bagaimana dia menjelaskan sesuatu dengan tangan yang bergerak anggun, sesekali tersenyum saat bawahan menjawab pertanyaannya. “Bagus, Fajar, ini sudah on track, tinggal revisi sedikit,” katanya, suaranya samar terdengar lewat jendela yang sedikit terbuka. Fajar, anak fresh graduate yang usianya terpaut belasan tahun dari Rina, mengangguk antusias, tapi matanya jelas nggak cuma fokus ke papan tulis. Aku memperhatikan tatapannya yang sesekali melirik ke arah dada Rina, dan jantungku langsung deg-degan. Jilbab Rina yang belum syar’i nggak banyak membantu menutupi lekuk “pepaya lonjong” itu, dan aku cuma bisa menarik napas panjang. “Sabar, Dod, dia cuma kerja,” batinku, meski cemburu mulai mengintip.
7538Please respect copyright.PENANAbUCgI0bRNp
Bawahan Rina sebagian besar adalah anak-anak muda, beberapa di antaranya fresh graduate yang baru masuk dunia kerja. Mereka, terutama yang laki-laki, sering menatap Rina dengan cara yang bikin bulu kudukku berdiri. Wajah Rina, yang kini makin cantik sebagai ibu-ibu dengan tubuh berisi dan pulen, seolah magnet buat mereka. Aku tahu dia nggak sengaja mengundang perhatian, tapi pakaiannya—blazer ketat dan rok span—ditambah jilbab yang kadang melorot, bikin aku susah tenang. Dari jendela, aku lihat seorang bawahan lain, mungkin bernama Reza, tersenyum lebar saat Rina memujinya, “Reza, laporanmu rapi banget, teruskan ya!” Aku membatin, “Rapi laporan atau rapi ngeliatin istriku, sih?” Tapi aku cuma bisa menghela napas, berusaha fokus ke dokumen di mejaku.
7538Please respect copyright.PENANAL2VPIXTazo
Rina punya kebiasaan memuji bawahannya tanpa ragu kalau mereka kerja sesuai target. “Kalau gini, proyek kita bisa selesai sebelum deadline, good job, tim!” katanya dengan senyum lebar, dan aku bisa lihat dari sini betapa bawahannya berseri-seri. Tapi, senyum Fajar dan Reza, yang jelas-jelas lebih muda dan belum berkeluarga, terlihat nggak cuma karena pujian. Aku memperhatikan bagaimana mereka sesekali mencuri pandang ke arah Rina, terutama saat dia berdiri dan berjalan ke papan tulis. Tubuhnya yang padat dan anggun bikin aku bangga, tapi juga cemas. “Ya Tuhan, kenapa istriku secantik ini?” gumamku, setengah bersyukur, setengah panik. Aku tahu Rina setia, tapi mata laki-laki di kantornya itu bikin aku pengen nyebrang dan narik tirai ruang rapat mereka.
7538Please respect copyright.PENANAwwBaMTzDW9
Aku membuka tirai lebih lebar, berusaha terlihat santai sambil menyesap kopi yang sudah dingin. Rina sekarang berdiri, menunjuk grafik di papan tulis, dan gerakannya bikin blazernya sedikit merenggang, memperlihatkan lekuk pinggulnya. Aku nggak bisa dengar semua percakapan, tapi aku lihat Fajar menatapnya dengan mata yang jelas-jelas penuh nafsu. “Fajar, catat ini ya, kita perlu tambah data di bagian ini,” kata Rina, suaranya tegas tapi ramah. Fajar mengangguk, tapi matanya nggak ke kertas, melainkan ke arah Rina yang sekarang duduk lagi. Aku mengepalkan tangan, berusaha nggak overthinking. “Dia cuma anak bawang, Dod, tenang,” batinku, tapi cemburu itu kayak semute yang merayap di kepala.
7538Please respect copyright.PENANAkvjLn90NvY
Rina, dengan wajahnya yang semakin cantik setelah jadi ibu, memang punya aura yang sulit diabaikan. Kulitnya yang mulus, mata lentik, dan senyum yang selalu hangat bikin dia terlihat seperti bintang di antara bawahannya. Aku ingat betul bagaimana dia dulu bikin aku jatuh cinta di kampus, dan sekarang, pesonanya malah makin kuat dengan tubuh yang berisi dan pulen. Dari jendela, aku lihat dia tertawa kecil saat salah satu bawahan perempuan, mungkin bernama Lisa, bercanda soal sesuatu. “Lisa, kamu ini kalau nggak bercanda, nggak bisa kerja, ya?” katanya, dan tawa mereka menggema samar. Tapi, Reza, yang duduk di sudut, malah menatap Rina dengan pandangan yang bikin aku pengen lempar stapler dari sini. Aku bersyukur dalam hati, “Untung cuma aku yang bisa nikmatin dia sepenuhnya.”
7538Please respect copyright.PENANA0Io7olq0Jl
Rapat sepertinya selesai, karena Rina mulai mengumpulkan kertas-kertas di mejanya. Aku lihat Fajar mendekat, menyerahkan dokumen sambil tersenyum lebar. “Bu, ini draft terbaru, tolong cek ya,” katanya, suaranya sopan tapi ada nada genit yang bikin aku curiga. Rina mengangguk, “Oke, Fajar, nanti aku review, thanks ya, kerja bagus.” Dia tersenyum, tapi aku tahu itu senyum profesional, bukan yang genit seperti yang dia kasih aku malam Jumat. Tapi, melihat Fajar yang masih berdiri di dekatnya, aku nggak bisa nahan diri. Aku ambil ponsel, ketik cepat, “Say, rapatnya udah selesai? Liat ke jendela dong, kangen.”
7538Please respect copyright.PENANAVAIm0n3zm9
Rina, yang sedang mengecek dokumen, tiba-tiba menoleh ke arah ponselnya dan tersenyum. Dia melirik ke jendela, tahu aku sedang ngintip, lalu mengedipkan mata sambil nyengir nakal. “Dod, fokus kerja, jangan ngintipin aku mulu,” balasnya lewat pesan, diikuti emoticon ketawa. Aku nyengir sendiri, tapi cemburu tadi masih meninggalkan jejak. Aku lihat Fajar akhirnya balik ke mejanya, tapi pandangannya ke Rina masih bikin aku gelisah. “Anak muda sekarang, nggak tahu diri,” gumamku, meski tahu Rina nggak akan tergoda. Aku tutup tirai sedikit, berusaha balik fokus ke laporanku yang sudah menumpuk.
7538Please respect copyright.PENANAzSRFjVbSVi
Di kantorku, temen sebelah meja, Budi, tiba-tiba nyanyi pelan, “Cikini ke Gondangdia…” dan aku langsung teringat satpam kantor Rina, Mas Yanto. “Bud, jangan nyanyi lagu itu, dong, bikin kepala pusing,” kataku, setengah bercanda. Budi ketawa, “Lah, kan lagu viral, Dod. Eh, ngintip Rina lagi, ya?” Aku cuma nyengir kecut, nggak mau cerita soal cemburuku. Aku buka tirai lagi, lihat Rina sekarang sedang ngetik di komputernya, jilbabnya sedikit miring, bikin aku pengen nyebrang dan benahin sendiri. Dia terlihat fokus, tapi sesekali melirik ke jendela, tahu aku masih memperhatikan. “Kamu ini, Say, bikin aku susah konsen,” gumamku, sambil tersenyum kecil.
7538Please respect copyright.PENANA3kb60HsDgT
Cemburu memang kadang datang tanpa diundang, apalagi melihat anak-anak muda seperti Fajar dan Reza yang jelas terpikat sama Rina. Tapi, aku tahu Rina adalah milikku, dan malam Jumat kami adalah bukti bahwa dia cuma punya mata buat aku. “Dod, nanti makan siang bareng, ya, aku kangen,” pesannya masuk lagi, bikin hatiku langsung hangat. Aku balas, “Pasti, Say, asal jangan ngobrol lama sama Fajar.” Dia cuma balas emoticon ketawa, dan aku bisa bayangin dia geleng-geleng kepala di seberang sana. Aku tarik napas, berusaha rileks. Rina memang cantik, tapi hatinya cuma buat aku dan Raka.
Aku kembali ke dokumenku, tapi pikiranku masih ke Rina yang sekarang ngobrol sama Lisa di ruangannya. Dia tertawa, tangannya menyentuh jilbabnya yang sedikit melorot, dan aku cuma bisa menghela napas. “Cantik banget, sih, istriku,” batinku lagi, bangga tapi juga cemas. Aku tahu dia nggak sengaja menarik perhatian, tapi tubuhnya yang berisi dan pulen itu seolah punya kekuatan sendiri. Dari jendela, aku lihat Reza lewat di depan meja Rina, melirik sebentar sebelum keluar ruangan. Aku mengepalkan tangan, tapi buru-buru mengingatkan diri sendiri untuk nggak lebay. “Dia cuma kerja, Dod, tenang,” kataku dalam hati, berusaha fokus.
7538Please respect copyright.PENANAkySg6Tq7V9
Rina tiba-tiba berdiri, berjalan ke jendela, dan melambai kecil ke arahku. Aku buru-buru balas lambaian, meski tahu muka aku pasti merah karena ketahuan ngintip. “Dod, kerja apa ngelamun?” pesannya masuk lagi, dan aku cuma bisa ketawa. Aku balas, “Ngelamunin kamu, boleh kan?” Dia cuma balas emoticon genit, bikin jantungku deg-degan lagi. Aku tutup tirai sepenuhnya, berusaha balik ke laporan, tapi wajah Rina yang cantik dan tubuhnya yang semok nggak bisa lepas dari pikiranku. Aku bersyukur, dalam hati, bahwa meski banyak mata yang mengagumi, hanya aku yang bisa menikmati Rina sepenuhnya.
7538Please respect copyright.PENANAe6GY0SmtUW
Pagi ini, kantor terasa lebih hidup karena aku bisa melihat Rina dari jendela. Tapi, cemburu itu kayak bayangan yang selalu ikut, apalagi dengan anak-anak muda seperti Fajar dan Reza di sekitarnya. Aku tahu Rina profesional, tegas, dan setia, tapi mata laki-laki itu bikin aku kadang lupa logika. “Nanti malam Jumat lagi, Say, aku pastiin kamu lupa sama Fajar,” gumamku, sambil nyengir sendiri. Aku buka laptop, berusaha fokus, tapi sesekali tetap melirik jendela, memastikan Rina masih di mejanya. Dia sekarang mengetik lagi, dan aku cuma bisa tersenyum, bersyukur bahwa wanita secantik itu adalah istriku. Dan aku berjanji, suatu hari aku harus ajak dia makan siang jauh dari Fajar dan Reza, biar hatiku tenang.
7538Please respect copyright.PENANAKPf2GgVCen
Sebelum jam makan siang, aku kirim pesan lagi, “Say, nanti aku jemput di kantor, ya, kita makan bakso favoritmu.” Rina balas cepat, “Asyik, Dod, tapi jangan cemburuan mulu, aku kan cuma punya kamu.” Aku ketawa membaca pesannya, merasa cemburu tadi sedikit reda. Aku lihat dia dari jendela, sekarang sedang ngobrol sama Lisa lagi, tertawa lepas. Aku tarik napas panjang, mengingatkan diri sendiri bahwa Rina adalah milikku, dan cemburu ini cuma bumbu kecil dalam cinta kami. Aku tutup dokumen, bersiap untuk makan siang, dan berjanji untuk nggak terlalu sering buka tirai lagi—setidaknya sampai cemburuku reda. Tapi, dengan Rina yang secantik itu, aku tahu itu janji yang susah ditepati.
ns216.73.216.216da2


