Pagi setelah malam Jumat selalu terasa berbeda, seperti ada kehangatan sisa yang masih menyelimuti rumah kami. Aku dan Rina bangun lebih pagi, sibuk menyiapkan sarapan sambil sesekali saling lempar senyum genit. Raka, anak kami yang masih kelas 2 SMP, belum masuk masa puber dan polosnya bikin kami kadang nggak tahu harus ketawa atau malu. Di meja makan, aroma telur dadar dan kopi tubruk mengisi udara, sementara Raka sudah asyik mengunyah roti bakar. Aku lihat Rina, dengan jilbab paginya yang sedikit acak-acakan, masih cantik meski wajahnya sedikit lelah. “Dod, bantuin dong iris tomat,” katanya, suaranya lembut tapi ada nada genit sisa malam tadi. Aku cuma nyengir, mengambil pisau, dan mulai membantu, sambil berharap Raka nggak nanya apa-apa soal semalam.
7988Please respect copyright.PENANAucmS1kGf2V
Malam Jumat kami memang selalu penuh gairah, kadang terlalu penuh sampai kami lupa menjaga volume. Rina, dengan kepatuhannya yang bikin aku tergila-gila, sering mendesah keras, bahkan menjerit kecil saat kami larut dalam keintiman. Aku juga nggak kalah, suaraku kadang ikut membahana, meski aku coba tahan supaya nggak kebangetan. Tapi, kamar kami cuma dipisah dinding tipis dari kamar Raka, dan anak itu ternyata nggak selalu tidur pulas seperti yang kami kira. Pagi ini, aku sudah punya firasat buruk saat Raka menatap kami dengan mata polosnya yang penuh tanya. Rina, yang sedang menuang kopi, sepertinya juga merasakan hal yang sama. “Raka, makan yang banyak, nanti ke sekolah kuat,” kataku, berusaha mengalihkan perhatian.
7988Please respect copyright.PENANA8hmRymEzRt
Raka, dengan kaus game favoritnya, tiba-tiba berhenti mengunyah dan menatapku. “Pa, Ma, semalem kalian ngapain sih? Kok berisik banget?” tanyanya, suaranya polos tapi bikin aku dan Rina langsung salting. Aku hampir tersedak kopi, sementara Rina buru-buru menoleh ke arah kompor, pura-pura sibuk. “Berisik? Maksudnya apa, Ka?” tanyaku, berusaha santai meski wajahku sudah panas. Raka mengerutkan kening, “Ya, kayak orang teriak-teriak, trus kayak ketawa juga.” Rina, yang masih memunggungi kami, cuma bisa menutup mulut, bahunya gemetar menahan tawa atau malu—aku nggak yakin.
7988Please respect copyright.PENANANaIusWHwTm
Aku dan Rina memang sering lupa diri saat malam Jumat, terutama karena chemistry kami yang selalu nyala. Desahan Rina, yang kadang berubah jadi jeritan kecil, bikin aku susah nahan diri, dan aku pun ikut larut. “Dod, pelan-pelan dong, nanti Raka denger,” Rina pernah mengingatkan di tengah malam, tapi aku cuma nyengir dan bilang, “Raka kan tidur, Say.” Ternyata, anak itu nggak selalu tidur lelap, dan sekarang kami kena batunya. Aku lihat Rina akhirnya berbalik, wajahnya merona tapi berusaha kalem. “Ka, itu cuma… Mama sama Papa ngobrol seru, makanya agak keras,” katanya, suaranya bergetar menahan tawa. Aku cuma bisa mengangguk, berharap Raka nggak nanya lebih lanjut.
7988Please respect copyright.PENANAs1C9Q9gKUF
Tapi Raka, dengan kepolosannya, nggak gampang dik wool. “Ngobrol apa sih sampe teriak gitu? Kayak Mama sakit, tapi kok ketawa juga,” katanya, sambil memandang Rina dengan rasa ingin tahu. Aku hampir nyemprotin kopi dari mulut, dan Rina langsung memukul lenganku pelan. “Raka, jangan kepo, dong, itu urusan orang tua,” katanya, nada suaranya campur antara tegas dan malu. Aku cuma bisa nyengir kecut, berusaha nyari alasan yang masuk akal. “Iya, Ka, Papa sama Mama cuma… ehm, latihan nyanyi, kan Mama suka dangdut,” kataku, meski tahu itu alasan paling ngaco yang pernah aku buat. Raka cuma menatapku dengan ekspresi bingung, tapi untungnya dia balik fokus ke roti bakarnya.
7988Please respect copyright.PENANAMzulauk5TW
Rina, yang sekarang duduk di sebelahku, mencubit pahaku di bawah meja. “Latihan nyanyi? Serius, Dod?” bisiknya, matanya melotot tapi bibirnya nyengir. Aku cuma mengedikkan bahu, “Lah, daripada aku bilang apa, Say?” Kami berdua nyaris ketawa, tapi buru-buru menahan diri biar Raka nggak curiga. Pagi ini, suasana meja makan jadi campur aduk antara canggung dan lucu. Rina, dengan jilbab paginya yang sedikit miring, masih terlihat cantik meski wajahnya merona karena salting. Aku suka banget lihat dia gini, campuran antara genit dan malu-malu, bikin aku pengen nyanyi “Cikini ke Gondangdia” kayak satpam kantornya.
Raka, yang polosnya bikin kami selalu kewalahan, nggak berhenti di situ. “Tapi, Pa, nyanyi apa sih? Kok nggak jelas lagunya?” tanyanya lagi, sambil mengoles selai ke roti dengan serius. Aku dan Rina saling pandang, panik tapi juga nggak bisa nahan tawa. “Ka, itu lagu… lagu spesial, cuma buat orang tua,” kata Rina, suaranya berusaha tegas tapi nada tawanya bocor. Aku buru-buru nyamber, “Iya, lagu cinta, Ka, nanti kamu besar juga ngerti.” Raka cuma mengangguk, tapi matanya masih penuh tanya, seolah nggak yakin sama jawaban kami. Aku cuma bisa berdoa dalam hati, semoga anak ini nggak nanya lagi sampai dia masuk SMA.
7988Please respect copyright.PENANAYF2JnGlYvH
Malam Jumat kami memang selalu intens, dan aku akui, kami kadang kelewatan. Rina, dengan jilbab atau kadang cadar yang aku minta, bikin malam kami kayak adegan film romansa yang nggak pernah membosankan. Tapi, desahan dan jeritan kecilnya—yang aku suka banget—ternyata punya efek samping: Raka yang kepo. “Lain kali kita pelan-pelan, Say,” bisikku ke Rina saat Raka ke kamar mandi. Dia cuma mencubitku lagi, “Kamu yang bilang pelan, tapi malah ngegas, Dod!” Aku ketawa pelan, tapi dalam hati janji bakal lebih hati-hati. Tapi, entah kenapa, aku tahu malam Jumat depan pasti bakal sama gairahnya.
Sarapan pagi ini akhirnya berlanjut dengan Rina bercerita soal rencana akhir pekan. “Ka, besok kita ke taman, ya, main sepeda bareng,” katanya, berusaha mengalihkan topik. Raka antusias mengangguk, “Asal Papa nggak nyanyi lagi, ya, soalnya berisik.” Aku dan Rina nyaris tersedak, saling pandang, lalu ketawa ngakak. “Iya, Ka, Papa janji nggak nyanyi keras-keras lagi,” kataku, meski tahu itu janji yang susah ditepati. Rina cuma menggeleng kepala, tapi matanya penuh kasih sayang. Pagi ini, meski canggung, penuh tawa yang bikin rumah kami terasa hangat.
7988Please respect copyright.PENANAvvOOLzTsGi
Rina bangkit untuk nyiapin bekal Raka, jilbabnya sedikit melorot, memperlihatkan lehernya yang mulus. Aku menahan diri buat nggak komentar, takut Raka nanya lagi soal “nyanyi”. “Dod, bantu angkat piring dong,” katanya, suaranya kembali normal, meski ada senyum kecil di bibirnya. Aku bangkit, membantu sambil mencuri kesempatan nyenggol tangannya. “Kamu sih, Say, bikin Papa susah nahan suara,” bisikku, dan dia cuma nyengir sambil mencubitku lagi. Raka, yang balik dari kamar mandi, cuma menatap kami dengan bingung. “Kalian aneh deh, ketawa mulu,” katanya, lalu buru-buru ambil tas sekolahnya.
7988Please respect copyright.PENANA5FuimoPHdr
Kami memang pasangan yang nggak bisa lepas dari canda, bahkan di tengah situasi canggung kayak gini. Rina, dengan pesonanya yang nggak pernah pudar, selalu bikin aku merasa beruntung, meski cemburu dan kekhawatiran kadang mengintip. “Dod, lain kali kita kunci pintu kamar rapet-rapet, ya,” katanya pelan saat kami berdua di dapur. Aku nyengir, “Atau kita beli peredam suara, Say.” Dia ketawa, lalu memelukku sebentar sebelum kami lanjut beres-beres. Malam Jumat kami memang penuh gairah, tapi pagi ini mengajarkan kami untuk lebih hati-hati. Tapi, entah kenapa, aku tahu kami bakal tetap “bernyanyi” dengan cara kami sendiri.
7988Please respect copyright.PENANAVwhccHyy3d
Raka, dengan kepolosannya, adalah pengingat bahwa kami nggak cuma suami istri, tapi juga orang tua. “Pa, Ma, aku berangkat dulu, ya!” teriaknya dari pintu, tas sekolahnya sudah di punggung. “Hati-hati, Ka!” jawab Rina, sambil melambai dari dapur. Aku ikut melambai, tapi pikiranku masih ke semalam, dan ke candaan Raka soal “berisik”. Rina mendekat, mencium pipiku pelan, “Jangan overthinking, Dod, Raka cuma kepo.” Aku mengangguk, tapi dalam hati berjanji untuk beli peredam suara—atau setidaknya coba nahan desahan minggu depan. Pagi ini, rumah kami penuh tawa, canggung, dan cinta yang nggak pernah surut.
Sebelum berangkat ke kantor, aku dan Rina duduk sebentar di teras, menikmati sisa kopi. “Say, kita harus ajarin Raka soal privasi, nih,” kataku, setengah serius. Rina nyengir, “Atau kita yang belajar nahan suara, Dod.” Kami ketawa lagi, dan aku tarik dia ke pelukanku. “Kamu sih, terlalu seksi, bikin aku lupa diri,” kataku, dan dia cuma mencubit lenganku sambil tersenyum. Pagi setelah malam Jumat selalu begini: penuh canda, sedikit salting, tapi selalu hangat. Dan aku tahu, meski Raka bikin kami canggung, cinta kami tetap jadi melodi yang nggak pernah sumbang, meski kadang terlalu keras didengar tetangga—atau anak kami sendiri.
ns216.73.216.66da2


