Sore itu, aku bergegas menyeberang ke kantor Rina untuk menjemputnya, seperti biasa setelah seharian kerja. Kami berencana makan bakso di warung langganan, tapi begitu sampai di lantai 8, aku dapat pesan dari Rina: “Dod, maaf, rapat dadakan, tunggu bentar ya.” Aku mengangguk sendiri, membalas, “Oke, Say, aku di depan ruanganmu.” Ruang rapatnya berdinding kaca, jadi aku bisa melihat Rina dengan jelas dari koridor, duduk di kursi sambil menunggu. Dia tampak anggun, jilbab satinnya sedikit berkilau di bawah lampu, tapi rok span ketat berwarna mengkilat yang dia pakai hari ini bikin jantungku berdegup. Aku bersandar di dinding, berusaha santai, tapi pikiranku sudah mulai gelisah. “Cantik banget, sih, Say,” gumamku, setengah bangga, setengah cemas.
7949Please respect copyright.PENANASnfoMlWWVV
Rina memimpin rapat dengan penuh percaya diri, suaranya tegas tapi lembut, seperti biasa. Aku bisa lihat dia berdiri, menunjuk papan tulis, dan setiap gerakannya bikin rok ketatnya memperlihatkan lekuk pinggulnya yang aduhai. “Jadi, kita perlu percepat timeline ini, Pak Hadi, apa pendapat Bapak?” tanyanya ke salah satu direktur, suaranya profesional tapi ramah. Pak Hadi, pria paruh baya yang selalu memuji Rina, mengangguk, tapi matanya jelas nggak fokus ke papan tulis. Saat Rina membungkuk sedikit untuk menulis, bongkahan pantatnya—yang sering aku elus tiap malam Jumat—terlihat menonjol, dan garis celana dalamnya menyepel jelas. Aku menelan ludah, tapi cemburu mulai menggerogoti saat aku lihat Pak Hadi dan direktur lain, Pak Budi, juga menelan ludah. “Sabar, Dod, dia cuma kerja,” batinku, meski tanganku sudah gatal pengen ketuk kaca.
7949Please respect copyright.PENANAstnGl7WPax
Bawahan Rina, seperti Fajar dan Reza, juga ada di rapat itu, duduk dengan kertas di tangan tapi mata mereka jelas nggak ke dokumen. Rina, dengan baju rajut yang melar di bagian dada, bikin payudaranya yang gondal-gandul terlihat makin menonjol setiap dia bergerak. Aku tahu mereka sulit fokus; beberapa kali aku lihat Fajar merapatkan kakinya, seolah menyembunyikan sesuatu. “Anak muda itu pasti ereksi,” gumamku, kesal tapi juga nggak bisa ngapa-ngapain. Rina sepertinya nggak sadar efeknya, masih sibuk menjelaskan grafik dengan tangan yang anggun. “Fajar, tolong catat ini untuk laporan mingguan,” katanya, dan Fajar cuma mengangguk, matanya nyaris nggak berkedip menatap Rina. Aku mengepalkan tangan, berusaha nggak lebay, tapi cemburu ini susah dikontrol.
7949Please respect copyright.PENANAA6SYpyQQWo
Rina memang punya pesona yang sulit diabaikan, apalagi hari ini dengan penampilan yang ekstra memikat. Rok span mengkilat itu seolah menempel di pinggul dan pantatnya, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang pulen dan berisi. Aku tahu dia nggak sengaja menggoda, tapi jilbabnya yang belum syar’i dan baju rajut yang ketat bikin aku deg-degan. Saat dia membungkuk lagi untuk mengambil pena yang jatuh, pantatnya menonjol sempurna, dan aku lihat Pak Budi buru-buru menunduk, seolah menyembunyikan ekspresi. “Ya Tuhan, Say, kenapa sih pake rok gini?” batinku, setengah kesal, setengah kagum. Aku tahu mereka semua sadar aku, suami Rina, berdiri di depan ruangan kaca, tapi itu nggak menghentikan mata mereka menikmati “aset-aset surgawi” istriku. Aku cuma bisa menarik napas panjang, berusaha tenang.
Rapat berjalan sekitar setengah jam, dan aku masih berdiri di koridor, sesekali melirik ponsel untuk menyibukkan diri. Rina sekarang duduk lagi, menyilangkan kaki, dan rok ketatnya naik sedikit, memperlihatkan paha yang mulus. Aku lihat Reza, yang duduk di seberangnya, menatap dengan mata yang jelas-jelas penuh nafsu. “Reza, kamu setuju dengan poin ini?” tanya Rina, suaranya tetap kalem, tapi Reza cuma mengangguk buru-buru, seolah ketahuan. Aku hampir ketawa, tapi cemburu bikin aku cuma nyengir kecut. “Anak itu pasti nggak dengar apa-apa,” gumamku, membayangkan betapa susahnya jadi bawahan Rina. Tapi, di sisi lain, aku bangga punya istri secantik dan seanggun ini.
7949Please respect copyright.PENANAkVE71W3dAE
Aku tahu Rina profesional, tapi penampilannya hari ini benar-benar ujian buatku. Baju rajutnya yang melar bikin payudaranya terlihat seperti “pepaya lonjong” yang selalu aku kagumi, tapi sekarang juga dikagumi orang lain. Saat dia mengangguk mendengar saran Pak Hadi, dadanya sedikit bergoyang, dan aku lihat direktur itu menelan ludah lagi. “Pak Hadi, serius, loh, sudah punya istri, kok,” batinku, kesal tapi nggak bisa ngapa-ngapain. Aku cuma bisa berdiri di depan kaca, berusaha terlihat santai meski hati panas. Rina sesekali melirik ke arahku, tahu aku menunggu, dan dia mengedipkan mata, bikin aku nyengir meski masih cemburu. “Kamu ini, Say, bikin aku deg-degan mulu,” gumamku, sambil membalas lambaian kecilnya.
7949Please respect copyright.PENANAdm6PQEC7gW
Fajar, si fresh graduate, tiba-tiba bangkit untuk menyerahkan dokumen ke Rina. “Bu, ini revisi yang kemarin, sudah saya perbaiki,” katanya, suaranya sopan tapi matanya jelas nggak ke dokumen. Rina mengangguk, “Bagus, Fajar, nanti aku cek, thanks ya.” Dia tersenyum, senyum profesional yang aku tahu cuma formalitas, tapi Fajar sepertinya salah paham, berdiri agak lama di dekatnya. Aku mengepalkan tangan lagi, berusaha nggak terbawa emosi. “Anak ini kalau nggak ingat aku suaminya, pasti sudah macam-macam,” batinku, kesal. Aku ketuk pelan kaca, berharap Rina lihat aku dan cepetan selesai.
7949Please respect copyright.PENANA4aasJMejio
Rina akhirnya menoleh, tersenyum lebar, dan melambai kecil lagi. “Sebentar ya, Dod,” katanya pelan, meski aku cuma bisa baca gerak bibirnya dari balik kaca. Aku mengangguk, tapi mataku masih waspada ke arah Pak Hadi dan bawahan-bawahan itu. Rapat sepertinya mendekati akhir, karena Rina mulai merapikan kertas-kertasnya. Saat dia berdiri lagi, pinggulnya yang terbalut rok span itu bergerak anggun, dan aku lihat Reza buru-buru menunduk, merapatkan kakinya. “Pasti ereksi, anak itu,” gumamku, setengah kesal, setengah pengen ketawa. Aku bersyukur dalam hati, bahwa meski mereka bisa menikmati pemandangan, hanya aku yang bisa menyentuh Rina.
7949Please respect copyright.PENANA2VGgIeb3ry
Aku coba alihkan perhatian ke ponsel, tapi susah fokus saat Rina masih di dalam sana, jadi pusat perhatian. Aku tahu mereka sadar aku suaminya, berdiri persis di depan ruangan kaca, tapi itu nggak menghentikan mata mereka menjelajahi tubuh Rina. “Dod, sabun mata mereka nanti kalau ketahuan,” gumamku, bercanda sendiri untuk meredakan cemburu. Tapi, dalam hati, aku juga bangga punya istri yang begitu memikat. Rina, dengan jilbabnya yang sedikit licin dan baju rajut yang ketat, adalah perpaduan sempurna antara anggun dan seksi. Aku cuma bisa menarik napas panjang, berdoa rapat ini cepat selesai. “Cepetan, Say, baksonya nunggu,” batinku, sambil nyengir.
7949Please respect copyright.PENANANIKOpHNWw7
Akhirnya, rapat selesai, dan Rina keluar dari ruangan dengan tas di bahu. “Maaf, Dod, dadakan banget tadi,” katanya, suaranya lembut tapi ada senyum genit di wajahnya. Aku cuma nyengir, “Nggak apa, Say, tapi lain kali pake rok longgar dong, aku cemburu.” Dia ketawa kecil, mencubit lenganku, “Cemburu mulu, padahal aku cuma kerja.” Aku tarik dia pelan ke pelukanku, “Iya, tapi kamu kelewat cantik, susah tenang.” Dia cuma menggeleng, tapi matanya lentik menggoda, bikin cemburuku sedikit reda. Kami berjalan menuju lift, tangannya menggenggam tanganku erat.
7949Please respect copyright.PENANAdbffd7oMHs
Di lift, aku nggak bisa nahan diri untuk komentar. “Say, tadi Fajar sama Reza ngeliatin kamu kayak nggak berkedip,” kataku, setengah bercanda. Rina memutar mata, “Dod, mereka cuma dengerin presentasi, kok lebay.” Aku nyengir, “Presentasi atau pemandangan, Say?” Dia ketawa ngakak, lalu mencium pipiku pelan, “Kamu aja yang boleh nikmatin pemandangan, tenang.” Aku tersenyum, hatiku hangat meski cemburu tadi masih meninggalkan jejak. Kami keluar dari gedung, menuju warung bakso, dan aku bersyukur lagi bahwa Rina, dengan segala pesonanya, adalah milikku.
7949Please respect copyright.PENANAyXnyYVI6Gh
Sore itu, di warung bakso, Rina masih menggoda dengan senyumnya. “Dod, kamu tadi ngintip aku terus, ya, dari kaca?” tanyanya, sambil menyeruput kuah bakso. Aku nyengir, “Gimana nggak ngintip, rokmu kayak nyanyi ‘Cikini ke Gondangdia’ sendiri.” Dia ketawa lepas, “Kamu ini, cemburu mulu, untung aku sayang.” Aku mengangguk, meremas tangannya pelan di bawah meja. Meski cemburu bikin aku deg-degan, aku tahu Rina cuma punya hati buat aku. Dan malam Jumat nanti, aku berjanji bakal “balas dendam” dengan cara kami sendiri.
7949Please respect copyright.PENANANVFfzadjBz
Aku lihat Rina menyantap baksonya dengan lahap, jilbabnya sedikit miring, memperlihatkan lehernya yang mulus. “Say, besok pake jilbab yang lebih lebar, ya,” kataku, setengah serius. Dia cuma nyengir, “Asal kamu nggak cemburu berlebihan, aku pikirin.” Kami ketawa bareng, dan sore itu terasa ringan meski cemburu tadi sempat bikin panas. Aku tahu, di depan kaca ruang rapat atau di mana pun, Rina adalah bintang yang cuma bersinar untuk aku. Aku bersyukur, meski harus berbagi “pemandangan” dengan mata-mata nakal di kantornya. Dan aku janji, lain kali aku bakal nunggu di lobi, biar cemburuku nggak kebanyakan.
Kami pulang sore itu dengan motor, Rina memeluk pinggangku erat dari belakang. “Dod, aku suka sih kamu cemburu, tapi jangan lebay, ya,” katanya, suaranya lembut di telingaku. Aku cuma ketawa, “Gimana nggak cemburu, Say, kamu kan istriku yang paling cantik.” Dia mencubit pinggangku pelan, “Gombal, tapi aku suka.” Aku tersenyum, merasa cemburu tadi reda sepenuhnya. Rumah kami menanti, begitu juga Raka dan malam Jumat berikutnya. Dan aku tahu, meski banyak mata yang mengagumi, hanya aku yang bisa menikmati Rina, sepenuhnya, di setiap malam mesra kami.
ns216.73.216.216da2


