Malam Jumat adalah waktu yang selalu kutunggu-tunggu, seperti ritual suci yang cuma aku dan Rina pahami. Di rumah kecil kami, setelah Raka tidur pulas dengan headset game-nya, suasana jadi milik kami berdua. Seminggu sekali, aku selalu yang memulai, dengan kode-kode kecil seperti memeluk Rina dari belakang saat dia cuci piring. “Malam ini Jumat, Say,” kataku pelan, sambil nyengir nakal, dan Rina cuma mendengus sambil menoleh, matanya lentik menggoda. Sebagai istri yang taat, dia selalu melayaniku, nggak pernah menolak, meski kadang dia bilang, “Dod, capek nih, rapat tadi panjang banget.” Tapi, begitu aku merayu dengan ciuman di lehernya, dia luluh, dan malam kami pun dimulai. Rina tahu caranya bikin aku lupa dunia, dan aku nggak pernah bosan sama dia.
8626Please respect copyright.PENANAkYCUuaGltU
Rina, dengan jilbabnya yang belum syar’i, sering bikin aku makin tergila-gila. Kadang, aku minta dia tetap pakai jilbab saat kami berduaan di kamar, karena entah kenapa, itu bikin dia terlihat makin misterius. “Serius, Dod? Jilbab lagi?” tanyanya sambil tertawa kecil, tapi dia nurut, menata jilbab satinnya yang sedikit licin di kepala. Lekuk tubuhnya yang seperti pepaya lonjong itu masih terlihat jelas di balik kain, dan aku cuma bisa menelan ludah. Dia tahu efeknya ke aku, makanya kadang dia sengaja bergerak pelan, seolah menggoda. “Kamu ini, nafsu banget, ya,” candanya, tapi dia tetap mendekat, tangannya merangkul leherku. Malam Jumat kami selalu penuh chemistry, mesra sekaligus nakal.
8626Please respect copyright.PENANADQzDOGvSXc
Ada kalanya aku minta Rina pakai cadar, sesuatu yang bikin jantungku berdegup kencang. Awalnya, dia bingung, “Cadar? Buat apa, Dod? Kan cuma kita berdua.” Tapi, setelah aku jelasin betapa aku suka sisi misteriusnya, dia cuma geleng-geleng kepala sambil nyengir. Dia ambil cadar hitam dari lemari, yang biasanya cuma dipakai ke acara pengajian, dan memakainya dengan anggun. Hanya matanya yang terlihat, lentik dan penuh godaan, bikin aku merasa kayak jatuh cinta lagi. “Gimana? Jadi kayak bidadari, nggak?” tanyanya, suaranya lembut di balik cadar. Aku cuma bisa mengangguk, terpana, dan malam itu jadi lebih panas dari biasanya.
8626Please respect copyright.PENANAlNNeWj9PVa
Kamar kami, dengan lampu temaram dan kasur tua yang sedikit berderit, jadi saksi malam-malam mesra kami. Rina selalu tahu cara bikin aku merasa istimewa, nurut pada setiap keinginanku tanpa keluhan. Aku suka menggodanya, “Kamu ini istri idaman, Say, taat banget.” Dia cuma nyengir, “Taat sama suami kan wajib, tapi jangan kebanyakan minta, ya!” Kami tertawa, dan candaan itu bikin suasana makin hangat. Aku suka saat dia memanjakan aku, tangannya lembut menyentuh pundakku, dan bibirnya yang selalu wangi lipstik mendarat pelan di pipiku. Malam Jumat kami adalah pelarian dari rutinitas kantor dan kekhawatiranku soal pria-pria di kantornya.
8626Please respect copyright.PENANAEoM4V9FGe4
“Dod, kamu kok suka banget sih aku pakai jilbab pas gini?” tanyanya suatu malam, sambil merapikan jilbabnya yang sedikit miring. Aku cuma nyengir, “Entah kenapa, bikin kamu kelihatan beda, lebih… seksi.” Dia memutar bola mata, tapi senyumnya nggak bisa bohong, dia menikmati pujianku. Kadang, aku sengaja memintanya bergerak pelan, seolah menari, dan dia nurut meski sambil ketawa. “Kamu ini, kayak sutradara film, deh,” katanya, tapi tetap mengikuti permenanku. Aku suka sisi nurutnya, yang bikin aku merasa dia benar-benar milikku. Malam itu, kami berdua larut dalam tawa dan gairah, lupa sama dunia di luar kamar.
Cadar, oh, cadar itu punya efek magis buatku. Saat Rina memakainya, dia kayak perpaduan antara kesucian dan godaan, bikin aku nggak bisa berhenti menatapnya. “Dod, jangan ngeliatin gitu, aku malu,” katanya, tapi matanya malah menggoda dari balik cadar. Aku tarik dia pelan ke pelukanku, “Malu apa, kan cuma aku yang lihat.” Dia cuma tertawa kecil, lalu membiarkan aku memimpin. Gairah kami malam itu seperti api yang menyala pelan tapi pasti, penuh keintiman. Rina, dengan kepatuhannya, bikin aku merasa seperti raja di kamar kecil kami.
8626Please respect copyright.PENANA8KnEgEJASw
Malam Jumat selalu jadi momen kami untuk reconnect, melupakan stress kantor dan kekhawatiranku soal pria lain yang mengagumi Rina. Dia tahu aku cemburuan, makanya dia selalu bilang, “Dod, aku cuma punya kamu, kok, tenang aja.” Aku percaya, tapi cemburu itu kadang datang tanpa diundang. Untungnya, malam-malam kami penuh tawa dan kehangatan, bikin aku lupa sama satpam Mas Yanto atau bosnya, Pak Hadi. Rina suka menggodaku, “Kamu cemburu, tapi tiap Jumat minta jatah, ya?” Aku cuma nyengir, “Kan suami punya hak, Say.” Dia cuma mencubit lenganku, lalu kami larut lagi dalam canda dan pelukan.
Keintiman kami nggak cuma soal fisik, tapi juga soal hati. Rina selalu bisa bikin aku merasa dicintai, meski kadang dia capek habis rapat atau ngurus bawahan di kantor. “Kamu tahu nggak, Dod, aku nurut gini cuma buat kamu,” katanya suatu malam, sambil bersandar di dadaku. Aku cium keningnya, “Aku tahu, Say, makanya aku nggak pernah bosan sama kamu.” Dia tersenyum, dan kami berbagi cerita kecil sebelum akhirnya larut dalam gairah lagi. Jilbab atau cadar, Rina selalu tahu cara bikin aku merasa dia hanya milikku. Malam itu, kami tidur dalam pelukan, dengan jantungan yang pelan-pelan tenang.
8626Please respect copyright.PENANAhzQ6P9DxnA
Ada kalanya aku minta sesuatu yang lebih nakal, seperti saat aku menyuruhnya berpose di depan cermin dengan jilbabnya. “Dod, ini apaan sih, kayak photoshoot murahan,” keluhnya, tapi dia tetap nurut, sambil ketawa ngakak. Aku suka melihatnya tertawa, wajahnya berseri di bawah lampu temaram. “Kamu cantik banget, Say, apalagi gini,” kataku, dan dia cuma menggeleng, “Gombal mulu, suami aku ini.” Tapi dia mendekat, menciumku pelan, dan malam kami berlanjut dengan penuh kehangatan. Rina tahu caranya menyeimbangkan kepatuhan dan godaan, bikin aku selalu kangen malam Jumat. Kamar kami jadi dunia kecil kami, tempat aku lupa semua cemburu.
8626Please respect copyright.PENANAlmno3TmnnS
Malam Jumat lain, aku coba rayu dengan cara berbeda, pura-pura serius, “Say, pakai cadar dong, biar kayak pengantin baru.” Rina menatapku dengan alis terangkat, “Pengantin baru? Kamu mau kawin lagi, ya?” Aku buru-buru geleng, “Bukan gitu, cuma pengen lihat kamu beda.” Dia tertawa, lalu mengambil cadar dan memakainya dengan gerakan anggun. “Gimana, Mas Dodi, puas?” tanyanya, suaranya genit di balik cadar. Aku cuma bisa mengangguk, terpana sama pesonanya yang nggak pernah pudar. Malam itu, kami larut dalam canda dan gairah, seperti biasa, tapi selalu terasa baru.
8626Please respect copyright.PENANAh0GT7sflRw
Rina punya cara bikin setiap malam Jumat spesial, meski rutinitas kami sederhana. Dia selalu bilang, “Dod, aku nurut karena aku sayang, tapi jangan manja banget, ya.” Aku cuma nyengir, tahu dia cuma bercanda. Aku suka sisi taatnya, tapi juga sisi nakalnya yang keluar saat dia menggoda balik. “Kamu yang minta jilbab, aku yang capek benahin,” katanya sambil memperbaiki jilbab yang melorot. Aku tarik dia ke pelukanku, “Biar aku yang benahin, Say.” Dan kami tertawa, sebelum malam kami berlanjut dengan mesra.
8626Please respect copyright.PENANAvXsJNzQ7z8
Keintiman kami adalah perpaduan canda, gairah, dan cinta yang nggak pernah pudar. Rina, dengan jilbab atau cadarnya, selalu bikin aku merasa dia wanita paling sempurna di dunia. “Dod, kamu kok nggak pernah bosan, sih?” tanyanya suatu malam, sambil bersandar di dadaku. “Karena kamu nggak pernah bikin aku bosan, Say,” jawabku, dan dia cuma tersenyum. Malam Jumat kami adalah bukti bahwa setelah 15 tahun, kami masih bisa saling jatuh cinta. Jilbabnya yang longgar atau cadar yang sesekali dia pakai cuma tambahan, yang utama adalah dia, Rina, istriku yang selalu nurut dan penuh pesona. Dan aku, Dodi, cuma bisa bersyukur punya dia di sisiku.
8626Please respect copyright.PENANA4CnIBWEjsV
Malam-malam kami selalu ditutup dengan pelukan, kadang sambil ngobrol soal Raka atau rencana akhir pekan. “Dod, besok ajak Raka main, ya, kasihan dia cuma main game,” katanya, suaranya pelan di sela-sela dengkurku yang mulai terdengar. Aku mengangguk, “Iya, Say, besok kita ke taman.” Rina mencium pipiku, “Good boy, suami idaman.” Kami tertawa pelan, dan aku memeluknya lebih erat. Malam Jumat adalah milik kami, tempat kami membangun kembali ikatan di tengah hiruk-pikuk hidup. Dan aku tahu, meski cemburu kadang mengintip, Rina adalah milikku, sepenuhnya, di setiap malam mesra kami.
ns216.73.216.66da2


